:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Archive for September, 2010

waktu untuk berdakwah

MANAJEMEN WAKTU DALAM ISLAM

  Dalam ajaran Islam, disampaikan bahwa ciri-ciri seorang Muslim yang
diharapkan adalah pribadi yang menghargai waktu. Seorang Muslim tidak patut
menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya, sebab sudah
merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Ajaran Islam menganggap pemahaman
terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan
bukti ketaqwaan, sebagaimana tersirat dalam surah Al-Furqan/25 ayat 62 yang
berbunyi “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi
orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”

  Syiar Islam menempatkan ibadah ritual pada bagian-bagian waktu dalam sehari
dari siang hingga malam dan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Sholat
lima waktu diwajibkan dari memulai hingga mengakhiri aktivitas dalam sehari,
dan waktu-waktunya selaras dengan perjalanan hari. Dalam syariat Islam
dinyatakan, bahwa malaikat Jibril diutus oleh Allah untuk menetapkan
waktu-waktu awal dan akhir pelaksanaan sholat lima waktu, agar menjadi panduan
dan sistem yang baku dan cermat dalam menata kehidupan islami. Di samping itu,
juga berfungsi untuk mengukur detik-detik sejak terbitnya fajar hingga
terbenamnya matahari.

  Menurut Yusuf Qardhawi, mengapa begitu pentingnya umat Islam mempelajari
manajemen waktu, adalah karena hal-hal sebagai berikut::

   Ajaran Islam begitu besar perhatiannya terhadap waktu, baik yang diamanatkan
dalam Al Qur’an maupun As Sunnah;
   Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka
sangat memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka
mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang
mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi;
   Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan
generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-buang waktu,
sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam menyejahterakan dunia
sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana
harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan
akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.

  Jika kita sadar bahwa pentingya manajemen waktu, maka tentu kita akan berbuat
untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk akhirat
seolah-olah akan mati esok hari, dan tentunya doa ini akan menjadi semboyan
dalam hidup kita:
  “… Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
perliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah/2:201) 

  Di samping itu perlu kita sadari, bahwa Allah SWT telah bersumpah dengan
menggunakan waktu untuk menegaskan pentingnya waktu dan keagungan nilainya,
seperti yang tersurat dan tersirat dalam Al Qur’an Surah Al-Lail/92:1-2,
Al-Fajr/89:1-2, Adh-Dhuha/93:1-2, dan Al-‘Ashr/103:1-2.

  Oleh karena itu, harus kita sadari betapa pentingnya mempelajari manajemen
waktu bagi seorang Muslim. Namun sebelum kita mempelajari manajemen waktu, maka
perlu kita sadari terlebih dahulu beberapa tabiat waktu agar kita benar-benar
dapat memahami esensi dari waktu tersebut, yakni: Cepat berlalu; Tidak Mungkin
kembali; Harta termahal. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa waktu adalah
modal yang paling unik yang tidak mungkin dapat diganti dan tidak mungkin dapat
disimpan tanpa digunakan, serta tidak mungkin mendapatkan waktu yang dibutuhkan
meskipun dengan mengeluarkan biaya.

  Mengelola waktu berarti menata diri dan merupakan salah satu tanda keunggulan
dan kesuksesan. Oleh karena itu, bimbingan untuk mendalami masalah ini adalah
hal yang sangat penting dalam kehidupan kita semua, apapun jabatan dan profesi
kita serta tidak memandang tinggi rendahnya kedudukan seseorang.

  Dengan demikian, marilah kita mulai mempelajari manajemen waktu, karena
memang ajaran Islam menghendaki demikian, sehingga dengan mempunyai bekal
pengetahuan tentang waktu, kita dapat terampil mengelolanya. Dengan keinginan
yang kuat, maka kita akan dapat menjadikan sebuah kebiasaan dalam pemanfaatan
waktu. Namun, sebelum kita mempelajari manajemen waktu lebih lanjut, maka kita
harus menyadari urgensi dan nilai waktu dengan tulus. Apabila tanpa mengakui
secara tulus kebutuhan untuk mengorganisir dan mengelola waktu, maka sama saja
dengan menyia-nyiakan waktu. Sebab, apalah manfaat rambu-rambu jalan bagi orang
yang tidak memiliki keinginan untuk melintasi jalan tersebut.

  Perlu kita fahami bahwa, apabila seorang Muslim mampu mengelola waktu dengan
baik, maka akan memperoleh optimalisasi dalam kehidupannya. Namun, apabila
tidak mampu, maka seseorang tidak akan mampu mengelola sesuatu apapun karena
waktu merupakan modal dasar bagi kehidupan seorang Muslim yang bertaqwa,
sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu
dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Yunus: 6)

  Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)
Advertisements

Hukum “Pedekate” dengan Facebook dan Alat Komunikasi Lainnya

BAHTSUL MASA’IL
Hukum “Pedekate” dengan Facebook dan Alat Komunikasi Lainnya
08/06/2009

Berikut ini adalah salah satu hasil bahtsul masail diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo Kediri 20-21 Mei 2009 lalu. Beberapa media massa sempat memberitakan bahwa forum ini mengharamkan Facebook, sebuah jaringan komunikasi dunia maya. Ternyata tidak sesederhana itu. ***(Teks Arab tidak disertakan. Redaksi)

Dewasa ini, perubahan yang paling ngetop dengan terciptanya fasilitas komunikasi ini adalah tren hubungan muda-mudi (ajnabi) via HP yang begitu akrab, dekat dan bahkan over intim. Dengan fasilitas audio call, video call, SMS, 3G, Chatting, Friendster, facebook, dan lain-lain. Jarak ruang dan waktu yang tadinya menjadi rintangan terjalinnya keakraban dan kedekatan hubungan lawan jenis nyaris hilang dengan hubungan via HP.

Lebih dari itu, nilai kesopanan dan keluguan seseorang bahkan ketabuan sekalipun akan sangat mudah ditawar menjadi suasana fair dan vulgar tanpa batas dalam hubungan ini. Tren hubungan via HP ini barangkali dimanfaatkan sebagai media menjalin hubungan lawan jenis untuk sekedar “main-main” atau justru lebih ekstrim dari itu. Sedangkan bagi mereka yang sudah mengidap “syndrome usia,” hubungan lawan jenis via HP sangat efektif untuk dimanfaatkan sebagai media PDKT (pendekatan) untuk menjajaki atau mengenali karakteristik kepribadian seseorang yang dihasrati yang pada gilirannya akan ia pilih sebagai pasangan hidup atau hanya berhenti pada hubungan sahabat.

Pertanyaan pertama:

Bagaimana hukum PDKT via HP (telpon, SMS, 3G, chatting, friendster, facebook, dan lain-lain) dengan lawan jenis dalam rangka mencari jodoh yang paling ideal atau untuk penjajakan dan pengenalan lebih intim tentang karakteristik kepribadian seseorang yang diminati untuk dijadikan pasangan hidup, baik sebelum atau pasca khitbah (pertunangan)?

Jawaban:

Komunikasi via HP pada dasarnya sama dengan komunikasi secara langsung. Hukum komunikasi dengan lawan jenis tidak diperbolehkan kecuali ada hajat seperti dalam rangka khitbah, muamalah, dan lain sebagainya.

Mengenai pengenalan karakter dan penjajakan lebih jauh terhadap lawan jenis seperti dalam deskipsi tidak dapat dikategorikan hajat karena belum ada ‘azm (keinginan kuat untuk menikahi orang tertentu). Sedang hubungan via 3G juga tidak diperbolehkan bila menimbulkan syahwat atau fitnah.

(Kitab-kitab rujukan: Bariqah Mahmudiyyah vol. IV hal. 7, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah vol. I hal. 12763,  Ihya ‘Ulumiddin vol. III hal. 99, Hasyiyah al-Jamal vol. IV hal. 120, Is’adur Rafiq vol. II hal. 105, Al-Fiqhul Islamy vol. IX  hal. 6292, I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209, I’anatut Thalibin vol. III hal. 260, Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. I hal. 203, Tausyih ‘ala ibn Qosim hal.197)

Pertanyaan kedua:

Mempertimbangkan ekses negatif yang ditimbulkan, kontak via HP (telpon, SMS, 3G, chatting, Friendster, facebook, dan lain-lain) dengan ajnaby (bukan muhrim), bisakah dikategorikan atau semakna dengan khalwah (mojok) jika dilakukan di tempat-tempat tertutup?

Jawaban:

Kontak via HP sebagaimana dalam deskripsi di atas yang dapat menimbulkan syahwat atau fitnah tidak dapat dikategorikan khalwah namun hukumnya haram.

(Beberapa kitab yang dirujuk: Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 125, Al-Qamus al-Fiqhy vol. I hal. 122, Bughyatul  Mustarsyidin hal. 200, Asnal Mathalib vol. IV hal. 179, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah vol. IXX hal. 267, Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 467, Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. IV hal. 107-107, Hasyiyah Jamal vol. IV hal. 121, Is’adur Rafiq vol. II hal. 93, dan Hasyiyah Al-Jamal vol. IV hal. 121 I’anatut Thalibin vol. III hal. 301, Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209)

« Kembali ke arsip Syariah | Print| // <![CDATA[// Share

Berita Terkait:


Komentar:


Ibnu Syatori menulis:
Bagaimana kalau dilakukan klarifikasi detail mengenai hasil Bahtsul Masail ini di beberapa media massa Nasional atau Jatim agar umat Islam baik Nahdliyyin terlebih mereka yang Islamnya ‘hitam putih’ bisa memahami.

Bagaimanapun juga pers adalah raja ‘dunia saat’ ini. Dan umumnya para pekerja pers hanya menampilkan sisi menarik dari sebuah berita bukan substansinya. Ya, seperti kasus Bahtsul masail ini.


Redaksi NU Online menulis:
Forum pembaca Yth.
Pelurusan berita tentang facebook sudah beberapa kali kita buat, seperti pada lingk berikut ini, silakan klik http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=17698

Kami juga telah mengirimkan rilis pers ke sejumlah media, dan alhamdulillah beberapa media sudah merubah alur pemberitaannya.

Terimakasih ats perhatiannya.

Wassalam,
NU Online