:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

MAULID NABI SAW

من عظم مو لدى كان فى الجنة معى

Hadis diatas merupakan pijakan dalam mengadakan maulid Nabi saw. dikalangan Umat Islam Indonesia. Dalam kajian sejarah pada bulan Rabi’ul Awwal memiliki arti sendiri, dimana hal tersebut Nabi Muhammad Saw dilahirkan, atau dengan kata Arab disebut maulud, sedang hari kelahirannya disebut maulid. Bulan maulid sangat dikenal dikalangan umat Islam Indonesia dibanding dengan Rabi’ul Awwal.

Jika bulan maulid ini tiba, banyak umat Islam Indonesia memperingati hari lahir Nabi tersebut. Peringatan ini tidak hanya di desa yang mengadakan acara, tapi di kalangan orang-orang kota juga demikian, bahkan Negara mencatat hari lahir Nabi sebagai hari besar Islam. Kegiatan lembaga-lembaga keagamaan dan pemerintahan libur semua, ini semua tidak lepas dari ungkapan para da’i tentang kemulyaan hari lahir Nabi terhadap umat Islam dengan hadis-hadis palsunya.

Maka kajian ini akan berarti jika dicermati dengan baik terkait dengan sejarah maulid dan hadis-hadis sebagai pijakan dalam acara-acara tersebut, sehingga sikap kita dalam menghadapi peringatan itu sangat di butuhkan, sebagai wujud dari ketaatan pada ajaran yang telah dicontohkan Nabi saw.

Asal-usul Perayaan Maulid Nabi Saw

Para tokoh sejarah menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan maulid Nabi Saw adalah al-Malik al-Mudhoffar, salah seorang panglima perang pada masa pemerintahan Sultan Sholahuddin al-Ayyubi. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang adil dan dermawan. Hal itu karena al-Malik al-Mudhoffar tidak hanya membantu orang-orang miskin, mendirikan rumah sakit, dan penginapan gratis, melainkan ia tercatat sebagai orang pertama yang menyediakan air ketika jama’ah haji kekurangan air pada waktu wukuf di Arafah.

Dalam catatan sejarah dimana perayaan maulid yang diadakan al-Malik al-Mudhofar pada saat itu bukan acara keagamaan, seperti layaknya pengajian, tetapi lebih tepat disebut pasar malam. Kota di Irak pada saat itu penuh sesak dibanjiri manusia yang datang dari segala penjuru kota dan daerah-daerah sekitarnya dengan membawa barang-barang dagangan dan hasil kerajinannya. Perayaan tersebut dimulai pada bulan Safar, sedang puncak acara diadakan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal atau tanggal yang mendekati bulan tersebut.

Pada puncak acara itu, ribuan binatang ternak di arak keliling dengan diiringi bunyi-bunyian genderang, terompet dan lainnya. Sementara orang-orang mengikutinya dari belakang sambil menyebarkan bendera bermacam-macam warna. Bahkan diantara binatang tersebut ada yang disembelih guna konsumsi acara maulid. Setelah shalat Isya’ al-Malik al-Mudhoffar keluar dari Istana dengan membawa lilin besar dengan diikuti para pengikutnya dan masyarakat dengan membawa obor.

Keesokan harinya, al-Malik al-Mudhoffar di panggung kehormatan bersama pejabat pemerintah lain. Acara perayaan dimulai dengan parade militer, kemudian berturut-turut disusul jama’ah kaum sufi, penyair, pelajar dan rakyat Islam. Setelah semua berkumpul dilapangan, para penceramah tampil berpidato, kemudian para penyair. Al-Malik al-Mudhoffar menyiapkan hadiah-hadiah menarik untuk mereka. Acara tersebut ditutup dengan makan bersama.

Hadis-hadis Maulid Nabi Saw

Tidak sedikit hadis penyelenggaraan maulid tersebut muncul dihadapan kita, antara lain :

من عظم مولدى كان فى الجنة معى.

“Barang siapa mengagungkan hari kelahiranku, ia akan masuk surga bersamaku”.

Jika di takhrij tidak didapatkan di kitab-kitab hadis standart seperti Kutubu al-Sittah, Shahih al-Bukhari Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’I, Ibn Majah dan kitab-kitab lainnya. Hal ini menunjukkan kepalsuan hadis.

Senada dengan hal tersebut diatas terdapat hadis yang lain yang sering digunakan sebagai landasan dalam mengadakan maulid Nabi, sebagaimana :

من انفق درهما فى مولدى فكأ نما انفق جبلا من الذهب فى سبيل الله.

“Barang siapa yang menginfakkan satu dirham untuk hari kelahiranku, maka seperti menginfakkan emas sebesar gunung dijalan Allah”.

Ungkapan-ungkapan tersebut jika dicermati mejelaskan pentingnya menyelenggarakan maulid Nabi Saw dalam rangka memperingati kelahirannya dan sangat popular dikalangan umat Islam Indonesia, bahkan sering diungkapkan para muballig dalam rangka menghidupkan kegiatan maulid.

Ungkapan tersebut jika dilihat dalam kitab hadis standart yang menjadi rujukan kajian ilmiyah tidak akan didapati, hal ini apakah disebabkan para penulis lupa sehingga tidak mencantumkan hadis tersebut di kitab-kitabnya, atau memang Nabi Muhammad Saw tidak pernah bersabda seperti itu ? jika Nabi Muhammad pernah bersabda demikian, maka hadis tersebut akan mudah ditemukan atau paling tidak ada catatan yang menunjukkan bahwa sahabat Nabi, para tabi’in dan ulama’ salaf pernah mengamalkan maksud hadis tersebut. Namun ternyata dalam sejarah tidak pernah ada Ulama’ atau tokoh agama yang mengamalkan hadis tersebut sampai awal abad ke 7 H.

Hadis-hadis diatas sering beredar dimasyarakat sehingga menimbulkan tanda tanya besar, apakah hadis tersebut produk orang-orang akhir ini, sehingga menurut ulama’ hadis disebut palsu atau hadis maudhu’, disebabkan Nabi tidak pernah bersabda sebagaimana tersebut di atas. Ungkapan ini bukan hanya muballig saja yang menyampaikan, tapi juga para penyanyi ikut serta membawakan hal tersebut dan dikatakan sebagai hadis.

Tidak cukup dengan ungkapan Nabi saja, tapi juga Ungkapan para Khulafa’ al-Rasyidin, sebagaimana Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin al-Khattab, usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Menurut para pencinta maulid, mereka menyatakan bahwa Abu Bakar pernah berkata :

من انفق درهما فى مولد النبى صلى الله عليه وسلم كان رفيقى فى الجنه.

“Siapa yang menginfaqkan satu dirham dalam maulid Nabi Saw, maka ia akan menjadi pendampingku di surga”.

Umar bin al-Khattab juga mengungkapkan :

من عظم مولد النبى صلى الله عليه وسلم فقداحيا الا سلام

“Siapa yang mengagungkan Maulid Nabi Saw, maka ia benar-benar telah menghidupkan Islam”.

Begitu pula Usman bin Affan mengatakan :

من انفق درهما فى فراءة مولد النبى صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد يوم وقعة بدر و حنين.

“Barang siapa yang menginfaqkan satu dirham untuk membaca maulid Nabi Saw, maka seakan akan ia syahid dalam perang Badar dan Hunain”.

Dan selanjutnya Ali bin Abi Thalib menyebutkan :

من انفق درهما فى قراءة مولد النبى صلى الله عليه وسلم لا يخرج من الدنيا الا با لايمان.

“Barang siapa mengagungkan maulid Nabi Saw, maka ia tidak akan meninggalkan dunia, kecuali dengan Iman”.

Tampaknya, dalam menggerakkan peringatan maulid Nabi tidak cukup dengan mengungkapkan hadis-hadis palsu, tetapi juga pendapat-pendapat sahabat Nabi, seperti Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dan ini semua jika dilacak di kitab-kitab hadis yang mu’tabar, tidak akan didapatkan hadis tersebut.

Pada dasarnya hadis-hadis tentang penyelenggaraan maulid Nabi merupakan hadis palsu yang tidak layak hujjah. Saat ini para ulama’ masih berbeda pendapat tentang hukum merayakan maulid Nabi tersebut. Ada pendapat yang mengatakan bahwa mengadakan maulid Nabi hukumnya haram, karena tidak pernah dicontohkan Nabi, para sahabat, tabi’in serta ulama’ salaf demikian penuturan Syeh Abdul Aziz bin Baz (w. 1421 H). Ada pendapat lain yang membolehkannya, sebagaimana Syeh Ali Tantawi begitu pula Ahmad Syurbashi dalam kitabnya Yasalunaka fi al-Din wa al-Hayat dengan alasan jika peringatan tersebut diisi dengan hal-hal yang positif dalam rangka mengingat perjuangan Nabi Saw.

Namun perlu diperhatikan, bahwa para ulama hadis sepakat, bahwa hadis yang digunakan dasar pijakan maulid itu dinisbahkan kepada Nabi, sedangkan Nabi saw tidak pernah mengungkapkannya berarti timbul pemalsuan, sedang hal tersebut dilarang oleh Nabi Saw, apakah kita akan mengadakan maulid dengan dasar-dasar hadis palsu tersebut yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Bahkan disebutkan dalam kitab Madarij al-Shu’ud, al-Imam Syafi’i (w. 204 H) berkata : “Siapa yang mengumpulkan kawan-kawannya untuk mengadakan perayaan maulid Nabi dan menyiapkan makanan untuk mereka, serta berbuat baik, maka Allah akan membangkitkannya bersama para siddiqin, syuhada’ dan shalihin pada hari qiyamat, dan ia akan disorga na’im”. Begitu juga Imam al-Sirri al-Saqti (w. 253 H) juga mengungkapkan ; “Barang siapa yang pergi menuju tempat dimana dibacakan maulid Nabi, maka ia akan diberi sebuah taman di surga, karena sesungguhnya ia tidak menuju tempat itu karena ia mencintai aku, maka ia bersamaku di surga”.

Hadis-hadis di atas dengan ungkapan para sahabat itu sulit dilacak dalam kitab-kitab standart, maka apalagi ungkapan ulama’ yang tidak ada rujukannya, lebih sulit lagi untuk diteliti. Untuk itu peringatan maulid Nabi tidak berhujjah dengan hadis-hadis nabi maupun ungkapan para sahabat dan ulama’ salaf, tetapi lebih cenderung berhujjah kepada hadis-hadis palsu atau ungkapan-ungkapan yang diungkapkan setelah abad awal ke 7 H.

http://adhas.wordpress.com/2010/04/04/maulid-nabi-saw/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: