:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Archive for February, 2011

Membangun Generasi Pasca-NU dan Muhammadiyah

Membangun Generasi Pasca-NU dan Muhammadiyah
Oleh Zuly Qodir

Kompas: 26 Juli 2002

PEMILU 2004 masih menyisakan waktu, kira-kira dua tahun lagi jika dilangsungkan Juli 2004. Meski demikian, tidak berarti bangsa ini harus terpana dengan segala persiapan ritual lima tahunan semata, yang bersifat pengerahan massa, dan pembentukan tim sukses pemenangan pemilu. Ini semua memang penting, namun ada yang lebih penting lagi dipikirkan oleh semua elemen bangsa ini, yakni membina terwujudnya generasi yang tidak lagi berpikiran sektarian, parokial, dan fanatis organisasi sehingga tidak vested interest minded.

Generasi yang tidak berpikiran sektarian, parokial, dan fanatis organisasi inilah yang menurut hemat saya nanti akan menjadi kader-kader terbaik bangsa. Mereka itulah yang akan mampu mengemban amanat rakyat bila harus tampil menjadi seorang leader.

Pemimpin bangsa memang harus berwawasan luas, cerdas, tidak fanatis, sektarian, dan parokial. Ini penting karena pemimpin yang bermental fanatis, sektarian, dan parokial dengan mudah melakukan diskriminasi dan bertindak rasialis atas warganya. Karena itu, pemimpin semacam ini harus dihindarkan sejauh-jauhnya di masa depan.

Mungkinkah generasi pasca-Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah-bila istilah ini boleh saya gunakan untuk menamakan generasi yang tidak sektarian, parokial, dan fanatis-sebagai generasi yang akan mampu menyelamatkan bangsa ini dari kebangkrutan? Mungkin ada penamaan lain tentang hal ini, seperti generasi pascamodern, atau generasi pasca-Indonesia. Tetapi, dalam tulisan ini saya tidak akan memperdebatkan generasi-generasi itu. Saya ingin memfokuskan diri pada generasi yang saya namakan generasi pasca-NU dan Muhammadiyah.

Kondisi pendukung

Untuk mewujudkan tumbuhnya sebuah generasi yang tidak fanatis, sektarian, dan parokial, sekurang-kurangnya ada beberapa kondisi sebagai prasyarat pendukung.

Pertama, berkembangnya pemikiran keagamaan yang terus meluas. Perkembangan pemikiran keagamaan di dunia, pada akhirnya diakui atau tidak, langsung atau tidak, telah dirasakan pengaruhnya di Tanah Air. Perkembangan pemikiran keagamaan terutama berpengaruh di kalangan generasi muda, baik di kelompok Kristen, Katolik, maupun Islam.

Khusus di kalangan Islam, sampai sekarang telah berkembang jauh melampaui generasi-generasi pemikir sebelumnya, seperti kelompok Nurcholish Madjid dengan neomodernisme Islam (baca: mazhab Ciputat), generasi kelompok limited groups A Mukti Ali cs, generasi Islam transformatif Moeslim Abdurrahman, M Dawam Rahardjo, dan Kuntowidjoyo, serta generasi modernis kelompok Amien Rais, A Syafii Maarif, dan M Imadduddin Abdurrahim.

Generasi muda Islam telah mengelaborasi pemikiran-pemikiran bercorak liberal, dan post-tradisional dengan kiblat para pemikir-pemikir Muslim dan Kristen/Katolik. Apa yang terjadi di lingkungan Komunitas Utan Kayu (KUK) dengan Jaringan Islam Liberal (JIL)-nya merupakan fenomena kelompok generasi yang sungguh mampu memberi warna dan situasi baru peta pemikiran keagamaan (baca: keislaman Indonesia) mutakhir. Liberalisme Islam menjadi mazhab baru pemikiran Islam Indonesia.

Kedua, era pascadeideologisasi agama, era ideologisasi agama, Islam khususnya yang berlangsung sepanjang rezim Orde Baru, tampaknya perlahan-lahan mulai ditinggalkan para politisi yang datang berikutnya. Apabila era Orde Baru di bawah Soeharto, Islam sebagai basis utama legitimasi kekuasaannya, maka sejak BJ Habibie sampai sekarang ideologisasi Islam sedikit mengalami perubahan, terutama di kalangan politisi muda yang berpikiran kritis, bukan sekadar ingin meraih kekuasaan.

Era deideologisasi agama ini cukup relevan bagi perkembangan politik Indonesia guna menyiapkan Pemilu 2004, yang menurut beberapa pengamat akan tetap diwarnai isu agama. Pengamat Ichsan Malik dari Fakultas Psikologi UI, misalnya, mengatakan, Pemilu 2004 akan diwarnai isu agama sehingga memungkinkan terjadinya konflik horizontal.

Namun, pernyataan ini ditolak Rocky Gerung dari PIB karena potensi konflik Pemilu 2004 sebenarnya terletak pada adanya krisis konstitusi, dengan digulirkannya perubahan Pasal 29 UUD 1945 sehingga mengundang perdebatan sengit yang seakan-akan perdebatan agama. (Kompas, 29/6/02)

Kiranya, apa yang dikemukakan Ichsan Malik bahwa konflik pemilu akan berkait dengan isu agama secara implisit menunjukkan kalau agama tidak lagi menjadi variabel utama, apalagi untuk menggaet suara terbanyak dalam Pemilu 2004. Bukti tentang hal ini telah jelas pada kita, bagaimana nasib partai-partai politik berlebel agama pada Pemilu 1999. Mereka merana dalam meraih suara pemilih.

Partai-partai berlabel agama kalah jauh dibanding partai-partai non-agama, atau disebut partai “nasionalis” dan pluralis, seperti PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional. Partai yang berlabel agama hanya Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bulan Bintang, dan Partai Keadilan yang mampu merebut suara cukup signifikan dalam Pemilu 1999.

Ketiga, tumbuhnya kelompok-kelompok gerakan interfaith. Gerakan ini banyak bermunculan setelah bangsa ini dilanda krisis dahsyat pertengahan tahun 1997, dan kini masih subur. Gerakan interfaith muncul seakan hendak “menjawab” masalah bangsa yang demikian berat, seperti sedang sekarat. Keadaan bangsa yang amat sulit menyelesaikan masalahnya sendiri, apalagi negara terjerat utang demikian hebat dan skandal korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang menggurita, kian memperteguh munculnya kelompok alternatif menyelamatkan bangsanya dari kebangkrutan.

Gerakan interfaith muncul pada saat amat tepat. Memang tidak semua masalah bisa diselesaikan, namun paling tidak telah menumbuhkan semangat solidaritas di antara sesama warga negara dari berbagai agama, suku, etnis, dan jenis kelamin. Pergaulan lintas etnis dan lintas agama menjadi bagian tak terpisahkan gerakan interfaith.

Dengan demikian, intensifnya gerakan interfaith untuk bertemu, berdiskusi, berdebat, dan bertukar pikiran telah meletakkan dasar-dasar tumbuhnya sebuah generasi yang mampu menghargai perbedaan, berpikir kritis, berpikir multitrack, dan mampu membaca situasi secara dini. Kemampuan early warning system bisa dikatakan menjadi trade mark gerakan interfaith yang belakangan menjamur di Tanah Air.

Gerakan interfaith kebanyakan adalah generasi muda, rata-rata umurnya 20-35 tahun, tanpa mengabaikan beberapa aktivis yang sudah berumur di atas 40 tahun. Namun, yang ingin saya katakan adalah gerakan interfaith telah menumbuhkan satu komunitas yang amat penting dalam wacana pemikiran keagamaan di Tanah Air.

Salah satu keunikan gerakan interfaith adalah para aktivisnya kebanyakan berlatar belakang pendidikan ilmu-ilmu sosial, atau pernah di IAIN khususnya Fakultas Ushuluddin. Amat jarang yang berlatar belakang ilmu-ilmu eksakta. Yang lebih penting lagi dari gerakan interfaith adalah mereka berlatar belakang aktivis NGO, selain sebagai staf pengajar di universitas/perguruan tinggi.

Dengan latar belakang seperti itu, tidak heran bila wacana yang dikembangkan sebagai misi utamanya adalah kemanusiaan, bukan wacana doktrinal. Mereka bisa bertemu dalam soal-soal perbedaan agama, tetapi tetap memiliki komitmen kemanusiaan yang amat tinggi. Terutama saat melihat bangsanya sedang sekarat seperti sekarang.

Generasi pasca-NU dan Muhammadiyah

Dengan tiga instrumen pendukung itu, sebenarnya optimisme untuk tumbuh dan berkembangnya sebuah generasi pasca-NU dan Muhammadiyah bukanlah mustahil. Generasi pasca-NU dan Muhammadiyah bila boleh saya elaborasi lebih jauh, selain tidak berpikiran sektarian, parokial, dan fanatis, juga merupakan generasi yang secara cermat mampu merespons masalah-masalah bangsa dengan segera, jernih dan tidak hitam putih. Mereka tidak berpikiran formalis, syari’ah.

Generasi pasca-NU dan Muhammadiyah yang didambakan merupakan generasi yang bisa dibilang telah melampaui hal-hal yang sifatnya ritualisme, baik ritualisme agama, apalagi ritualisme organisasi dan politik. Ritualisme agama hanya dipandang sebagai instrumen mendekatkan diri pada Tuhan, bukan dipandang sebagai yang paling asasi dari agama itu sendiri. Sementara itu, ritualisme organisasi dan politik bahkan ditinggalkan karena hanya akan menjadikan dirinya sebagai manusia kerdil, ingin menang sendiri, tidak melihat ada komunitas lain yang mungkin lebih baik atau bisa diajak bekerja sama, dan sebagainya.

Apabila generasi pasca-NU dan Muhammadiyah benar-benar terwujud, maka apa yang pernah ditakutkan akan adanya “pertobatan” massal oleh Muhammadiyah atas kaum nahdliyin tidak akan terjadi. Demikian pula, ejekan-ejekan dari kaum nahdliyin bahwa Muhammadiyah itu kering kebudayaan/tradisi dan wirid, tidak akan muncul. Bahkan, yang akan muncul di tengah masyarakat kita adalah generasi yang benar-benar mampu memberi rasa aman, damai, dan selamat sentosa atas sesama, bukan menebarkan ancaman.

Dengan terkuburnya sikap fanatis, parokial, dan sektarian, secara pasti akan terkubur pula fanatisme ritual organisasi dan politik. Dari sana yang akan berkembang adalah kerja sama antargenerasi, baik dari komunitas NU maupun Muhammadiyah. Bahkan, mungkin akan tumbuh kesadaran bersama untuk meleburkan diri dalam dua komunitas sekaligus. Suatu saat menjadi NU, tetapi pada saat yang sama bisa menjadi Muhammadiyah. Pendek kata, organisasi tidak lagi menjadi wahana percekcokan yang dibungkus ritual agama.

Recokan-recokan antar-organisasi politik maupun keagamaan seperti pernah terjadi saat Abdurrahman Wahid lengser, sebenarnya menjadi bukti betapa rendahnya mentalitas kita dalam berorganisasi dan berpolitik. Berorganisasi dan berpolitik tetap tidak memiliki kedewasaan berpikir dan bersikap sehingga mengharapkan berkembangnya demokrasi dari para politisi semacam itu jauh api dari panggang, untuk tidak mengatakan tidak mungkin.

Apa yang menjadi bagian penting dari generasi pasca-NU dan Muhammadiyah adalah kerja sama itu sendiri, baik kerja sama kultural maupun kerja sama struktural. Antara satu dengan yang lain tidak saling menjungkalkan, atau saling meniadakan. Bila generasi semacam ini benar-benar tumbuh, agaknya ketakutan adanya ancaman konflik yang muncul dari isu agama dalam Pemilu 2004 akan terminimalisir.

Politisi-politisi yang tetap akan “memakai isu agama” dalam Pemilu 2004 bisa dikatakan dengan tegas sebagai politisi kampungan, dengan harga yang amat murah; mereka tidak ada lain kecuali haus kekuasaan, dan akan mengadu domba antarsesama warga negara demi ambisinya. Tetapi, bila bangunan generasi pasca-NU dan Muhammadiyah benar-benar mapan, politisi-politisi model seperti itu pasti akan gigit jari; tidak laku. Maka, bersiaplah membangun generasi pasca-NU dan Muhammadiyah sejak sekarang, menuju Pemilu 2004; demi membangun bangsa ini lebih cerah dan sejahtera.

Zuly Qodir Peneliti DIAN/Interfidei, Yogyakarta

Advertisements

Muludan Mlangi: Kojan dan Berjanjen

Pagi setelah subuh aku menyusuri mlangi tepatnya ke pundung, masjid awwab. ada dua orang jamaah yang masih berbincang. akupun turut larut dan asik mendengar secercah kisah agenda mauludan dari dulu sampai sekarang. ini adalah bagian penelitian karya ilmiahku.’ilmotz
mas nurul turut menulis: Muludan, Sebuah kata yang berasal dari kata Mulud, yaitu nama sebuah bulan dari 12 bulan yang ada pada hitungan kalender jawa tapi juga berasal dari bahasa Arab yang berarti kelahiran. Ada juga yang menamai bulan ini dengan bulan Sapar, Saphar, dan Robiul Awal….tapi itu semua tetep mengerucut dalam sebuah moment yang sangat indah….yaitu Bulan dimana Nabi Agung Muhammad SAW dilahirkan…
Dalam tradisi Islam sendiri hari kelahiran NAbi Muhammad menjadi moment yang sangat penting, Islam selalu merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad tentu sesuai dengan adat masing-masing dan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah yang berlaku.agar kita tidak keluar dari jalur yang sudah di tentukan…….
Di Yogyakarta bulan Mulud menjadi bulan yang sangat ramai, karena bulan tersebut menjadi tanda dimulainya sekatenan, atau pasar malem yang diadakan di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. Sekatenan berlangsung selama kurang lebih satu bulan, berbagai arena atau wahana permainan disediakan disana (tapi tetep mbayar lah…ora gratis) dari mulai Stream, Sangkar Burung, Sundul Puyuh, Tong Setan, Istana Hantu, dan yang paling di gandrungi anak-anak kecil adalah Arena Sirkus Lumba-Lumba(Saiki regane tiket Rp.35.000.-) yang berisi aneka tingkah polah hewan-hewan yang telah dilatih untuk tampil di arena sirkus.
Puncak dari acara tersebut tentunya adalah hari Grebeg. Keraton biasanya akan mengeluarkan seluruh bala tentaranya beserta pusaka-pusaka yang ada untuk di kirab, setelah itu prosesi Gunungan…nah disinilah hiruk pikuk mulai terjadi,,,karena memang dari seluruh prosesi acara muludan yang ada diKeraton Yogyakarta, prosesi Gunungan adalah prosesi yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga Yogyakarta. Gunungan adalah berupa Nasi Tumpeng super besar yang dilengkapi dengan segala macem makanan jadi satu, Gunungan itu sendiri dibawa dengan menggunakan tandu, dan memang Gunungan itu sendiri dibagi-bagikan untuk masyarakat yang ahadir di situ. Begitu Gunungan dibawa keluar masyarakat langsung menyerbu untuk memporak porandakan Gunungan tersebut, mereka akan mengambil apa yang bisa mereka ambil dari bagian-bagian yang ada diGunungan itu sendiri, ada yangdapat Apem,,,,ada yang dapat Telur…kacang panjang…seikat padi,,,kupat…dan lain-lain……(wuhhh Pokoke Udah Campur bawur kabeh…..)
Tidak beda dengan Keraton Yogyakarta, Desa Mlangi juga mempunyai agenda acara Muludan yang diselenggarakan untuk memeriahkan bulan Mulud bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masjid Mlangi merupakan salah satu Masjid yang dijadikan Masjid Pathok Negoro oleh Keraton Yogyakarta.
Agenda acara muludan di desa Mlangi dibagi menjadi dua Event. Event yang pertama adalah Sholawatan Ngelik. dan event yang kedua adalah Kojan dan Berjanjen.
Acara Sholawatan Ngelik ini diadakan pas atau bebarengan dengan acara Gunungan/Grebegan yang ada di Keraton. Acara ini diikuti oleh seluruh warga desa Mlangi mulai dari anak-anak, bapak-bapak, Para Pemuda, tapi yang jelas harus laki-laki….karena perempuan tidak di libatkan dalam acara di masjid ini. Acara Sholawatan Ngelik ini sendiri dimulai pada pagi hari sekitar pukul 06.30 wib-14.00 wib. Sholawatan itu berupa pujian-pujian untuk Nabi Muhammad SAW yang diberi irama dan dilantunkan oleh sejumlah laki-laki yang sudah dewasa dan memang bisa melantunkan sholawat itu sendiri. Karena sholawat ini dilantunkan dengan nada yang cukup tinggi dan dengan tempo yang cukup dinamis,mulai dari tempo pelan sampai tempo yang cepat..jadi tidak semua orang bisa melantukan sholawat ini, dan ada anggapan yang bilang bahwa orang yang bisa sholawatan ini sifatnya genetis, jadi yang bapaknya bisa sholawatan ngelik ini anaknya besar kemungkinan bisa ngelik, tapi kalo bapaknya tidak bisa sholawatan ngelik anaknya sedikit kemungkinan bisa sholawatan ngelik….pokoknya nadanya kayak orang teriak-teriak gitu deh……
Sembari sang ayah pada sholawatn di masjid, para ibu-ibu di rumah tidak mau ketinggalan dalam memeriahkan acara muludan ini, mereka masak masakan istimewa yang akan dibawa di masjid dan untuk dibagi-bagikan ke seluruh laki-laki yang berkunjung di masjid Mlangi. Makanan tersebut berisi nasi dan segala macam lauk pauk, mulai dari ayam, daging sapi, Ikan, Daging Kambing, dan semua dimasak serba enak dan istimewa, dan di masukkan dalam wadah yang sesuai dengan ukuran masing2, ada yang pakai besek (wadah anyaman dari bambu), Kardus, Baskom kecil, baskom besar, panci, dan ada juga yang dibentuk parcel. Dalam bungkusan tersebut sering ditambah dengan hadiah-hadiah dari pribadi pembuatnya ada yang diberi uang 50ribuan, Sarung, Baju Muslim, Sarung BHS, Magic Jar, Jam Dinding, Termos Air panas, dll…..pokoknya semua saling berlomba-lomba dalam menunjukkan kecintaan mereka terhadap Nabi Agung Muhammad SAW….(Saluuuuuutttt)…..
Adapun yang menerima bungksan2 tersebut juga tidak boleh sembarangan, kelas pertama atau bungkusan yang dinilai paling bagus biasanya diberikan untuk para kyai2 yang hadir di acara tersebut, kemudian yang kedua di berikan kepada yang bisa Sholawatan ngelik…dan yang seterusnya tergantung nasib anda masing2….karena setelah itu bungkusan akan dibagikan secara acak….acara ini biasanya dihadiri oleh ribuan orang, mulai dari warga Mlangi sendiri sampai warga sekitar kampung Mlangi.(Yang penting Laki-laki) karena kalo yang hadir perempuan tidak akan kebagian jatah bungkusan tersbut.
Acara atau Event yang kedua adalah Kojan dan Berjanjen. Acara ini diadakan pas malam harinya. acara ini diikuti oleh seluruh pemuda Warga Desa Mlangi. Sebenarnya acara ini juga berupa pujian-pujian untuk Nabi Muhammad, lafal yang diucapkan juga banyak yang sama dengan sholawatan ngelik. tapi sholawatan ini biasa dilakukan oleh anak muda dengan tempo yang sedang-cepat, dan jenis iringan gamelannya yang berbeda. kalau Sholawat ngelik menggunakan Gamelan berupa rebana yang besar2 dan bunyi yang dikeluarkan mirip gamelan keraton, tapi kalau sholawat kojan gamelannya berupa rebana ukuran sedang dan hanya 4 buah tanpa Gong. Adapun Kojan itu sendiri berupa gerakan-gerakan khusus yang dilakukan sambil bersholawat, mirip dengan gerakan tari Saman dari Aceh.
Acara sholawat Kojan dimulai dari jam 20.00-jam22.00.lebih singkat daripada sholawat ngelik.
Kedua tradisi tersebut merupakan tradisi yang turun-temurun dari para pendahulu desa Mlangi dalam memeriahkan dan menyambut hari lahir Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya keberagaman tradisi tersebut Desa Mlangi dijadikan salah satu daerah wisata oleh pemerintah setempat……..mari kita lestarikan kebudayaan daerah kita…karena negara yang maju adalah negara yang berbudaya………….http://nurulmasyriq.blogspot.com/2010/02/muludan.html

Program Wajib Belajar 9 Tahun

* Dr. Jayadi, M.Pd

Menggali potensi pesantren, baik dalam konteks Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun (selanjutnya wajar dikdas), maupun peningkatan akses pendidikan, menjadi sangat signifikan. Ini disebabkan, bukan hanya karena pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat di masyarakat, tetapi juga karena jumlahnya yang sangat besar, sebagaimana dalam data EMIS 2006, ada sekitar 16.015 buah pesantren. Dengan melihat potensi tersebut, maka target menaikkan daya serap program wajar dikdas 9 tahun dapat dipandang dengan penuh optimis, dan oleh karena itulah, maka pelibatan langsung institusi pesantren dalam akselerasi wajar dikdas 9 tahun menjadi sangat strategis.

Meratanya peluang belajar bagi setiap eksemplar bangsa ini merupakan hak yang tak dapat tergantikan dengan apapun. Pemerintah wajib menyiapkan seluruh perangkat lunak dan kerasnya pendidikan agar setiap orang dapat mengenyam dan menjangkau dunia pendidikan sekurang-kurangnya pada tingkat wajib belajar 9 tahun yang menjadi hajat seluruh bangsa. Berbagai pola pendidikan dasar telah diselenggarakan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat mengikuti pendidikan dasar, baik pada jalur pendidikan formal seperti SD/MI, SMP/MTs, maupun pada jalur pendidikan nonformal seperti program Paket A dan Paket B. Tetapi belum seluruh anak usia wajar dikdas tahun mendapat kesempatan memperoleh pendidikan dasar. Di tengah-tengah situasi itu, kiprah dunia pesantren patut kembali dirunut untuk melihat sejauh mana andilnya dalam memajukan bangsa ini di bidang pendidikan secara keseluruhan, khususnya dalam memenuhi program Wajar Dikdas 9 tahun.

Menteri Agama H. Muhammad Maftuh Basyuni, saat meresmikan Pondok Pesantren Perintis Gontor Puteri VII di Kendari, 7 Oktober 2005, menyatakan:

“…Terlepas dari itu semua, betapapun juga pesantren-pesantren yang jumlahnya amat besar itu mempunyai fungsi-fungsi tertentu, entah besar atau kecil dalam proses perkembangan kehidupan masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan.Anak-anak muda yang tidak mempunyai kesempatan masuk di sekolah, mereka yang tidak tertampung pada lembaga-lembaga pendidikan formal, yang karena kemiskinan tidak mempu bersekolah atau karena sikap orang tua mereka yang masih sederhana, menyebabkan mereka tidak bisa bersekolah. Maka lewat pendidikan tradisional di pesantren-pesantren inilah setidak-tidaknya mereka memperoleh dasar-dasar pendidikan yang rasa-rasanya cukup dan bermanfaat. Dengan kata lain, pesantren telah ikut berperan dalam dinamika masyrakat Indonesia. Karena itu pesantren harus mendapat pengakuan ..”

Pernyataan Menteri Agama periode 2004 – 2009 ini tidak berlebihan. Di antara mereka adalah santri yang berada pada pondok pesantren salafiyah. Sejak pencanangan gerakan wajib belajar 9 tahun pada tahun 1994, pondok pesantren salafiyah, telah ditetapkan sebagai salah satu pilar penyelenggara pendidikan dasar. Dalam Inpres Nomor 1 Tahun 1994 ditegaskan, bahwa PPS dimungkinkan menyelenggarakan program pendidikan dasar tersendiri yang penyetaraannya dengan pendidikan dasar disetujui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini semakin memberi payung yang memungkinkan perluasan akses Wajar Dikdas 9 tahun di seluruh Indonesia bagi kalangan pesantren, memberi akses mereka untuk memasuki gerbang pendidikan berikutnya ke segala arah tanpa ada diskriminasi dan hambatan.

Menurut Direktur Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Pekapontren), Departemen Agama, H. Amin Haedari, Program Wajar Dikdas 9 tahun pada Pondok Pesantren Salafiyah dikembangkan dalam keterkaitannya secara fungsional dengan berbagai bidang kehidupan yang memiliki persoalan dan tantangan yang semakin kompleks. Dalam dimensi sektoral tersebut, Program Wajar Dikdas 9 Tahun tidak cukup hanya berorientasi pada SDM dalam rangka menyiapkan tenaga kerja. Program Wajar Dikdas 9 tahun harus dilihat dalam perspektif pembangunan Insan Indonesia yang beriman, cerdas dan kompetitif. Dalam perspektif demikian, maka program wajar dikdas 9 tahun pada Pesantren Salafiyah harus lebih berperan dalam meletakkan landasan bagi pengembangan seluruh potensi manusia agar menjadi subyek yang berkembang secara optimal dan bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional. Potensi manusia Indonesia yang dikembangkan melalui: (1) Olah hati untuk memperteguh keimanan dan ketakwaan, meningkatkan akhlak mulia, budi pekerti, atau moral, membentuk kepribadian unggul, membangun kepemimpinan dan entrepreneurship; (2) Olah pikir untuk membangun kompetensi dan kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi; (3) Olah rasa untuk meningkatkan sensitifitas, daya apresiasi, daya kreasi, serta daya ekspresi seni dan budaya; dan (4) Olah raga untuk meningkatkan kesehatan, kebugaran, daya tahan, dan kesigapan fisik serta keterampilan kinestetis.

Baru Enam Tahun Kemudian

Meski pencanangan gerakan wajar dikdas 9 tahun sudah ditetapkan sejak tahun 1994, toh legalitas penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar di pondok pesantren baru memperoleh bentuknya pada tahun 2000 dan mulai terselenggara melalui program Wajib Belajar 9 Tahun pada Pondok Pesantren Salafiyah. Dasarnya Surat Kesepakatan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama Nomor : 1/U/KB/2000 dan Nomor: MA/86/2000, tentang Pondok Pesantren Salafiyah sebagai Pola wajib Belajar Pendidikan Dasar.

Pada level implementasi, hal itu dapat dilihat dengan kemunculan Surat Keputusan Bersama (SKB) Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Nomor : E/83/2000 dan Nomor : 166/c/Kep/DS/2000, tentang Pedoman Pelaksanaan Pondok Pesantren Salafiyah sebagai Pola Wajib Belajar Pendidikan Dasar.

Ada pula Keputusan Bersama Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional Nomor : Dj.II/526/2003 dan Nomor : 6016/C/HK/2003 Tahun 2003, tentang Ujian Akhir Nasional Program Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Pondok Pesantren Salafiyah. Serta Surat Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Nomor: E/239/2001 tentang panduan Teknis Penyelenggaraan Program wajib Belajar Pendidikan Dasar pada Pondok Pesantren Salafiyah.

Namun di masa Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni, keseriusan menjadikan pesantren sebagai lembaga pelaksana Wajardikdas semakin dibuktikan dengan lahirnya suatu Sub Direktorat tersendiri di bawah naungan Direktorat Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren, sehingga terasa semakin digarap intensif di suatu wadah yang lapang.

Betapa tidak harus digarap intensif! Menurut data tahun 2006, santri usia 7 – 15 tahun seluruhnya berjumlah 1.820.799 orang, tetapi yang tertampung dalam satuan pendidikan Wajardikdas formal (SD/MI, SMP/MTs, SMPT/MTs.T) baru 805.230 orang (44%). Dengan demikian ada 1.015.569 santri yang belum tertampung dalam satuan pendidikan wajib belajar pendidikan dasar formal. Sejak ditetapkannya pondok pesantren salafiyah sebagai penyelenggara program Wajib Belajar Pendidikan Dasar pada tahun 2000/2001 sampai tahun 2006, santri yang belum terserap dalam pendidikan formal itu sebagian telah terjaring dalam program wajib belajar pendidikan dasar pada Pondok Pesantren Salafiyah. Pada tahun 2006 ini ada 515629 santri yang belajar di 5263 Pondok Pesantren salafiyah penyelenggara Program wajar Dikdas, dengan jmlah santri 216272 tingkat ula; dan 299357 tingkat wustha.

Pendidikan Kesetaraan di Pesantren

Selain program wajib di atas, di pondok pesantren juga diselenggarakan pelayanan pendidikan nonformal melalui pendidikan kesetaraan paket A setara MI-SD, Paket B setara MTs-SMP dan paket C setara MA-SMA. Dengan pendidikan kesetaraan diupayakan perluasan akses terhadap wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, sekaligus memberikan layanan pendidikan menengah bagi mereka yang membutuhkan pendidikan lanjutan yang tidak memungkinkan melalui jalur pendidikan formal.

Menurut Kasubdit Pendidikan Kesetaraan dan Wajib Belajar, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Dr. Ahmad Zayadi, Program Pendidikan Kesetaraan diselenggarakan untuk memberikan layanan pendidikan bagi santri dan peserta didik yang berasal dari masyarakat yang kurang beruntung, tidak pernah sekolah, putus sekolah dan putus lanjut, serta usia produktif yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidupnya.
Dalam kaitan dengan Program wajar Dikdas 9 tahun melalui Penyelenggaraan pendidikan kesetaraan Paket A, paket B, ketentuannya diatur dalam Kesepakatan Bersama (SKB) Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Depdiknas dan Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama Nomor: 19/E/MS/2004 dan Nomor : Dj.II/166/04 tentang Penyelenggaraan Pendidikan

Kesetaraan pada Pondok Pesantren.
Pada tahun 2006 ini ada sekitar 10.412 warga belajar yang mengikuti Paket A di 296 pesantren; dan 21.535 mengikuti paket B di 899 pesantren. Jika jumlah peserta Paket B ini digabungkan dengan peserta Wajar Dikdas Salafiyah tingkat wustha sebanyak 299.357 orang, keseluruhannya berjumlah 320,892, jumlah ini merupakan bagian dari peserta didik wajib belajar tingkat SMP/MTs/sederajat yang secara nasional berjumlah 11.135.934 orang ( APK 85,22 %). Dengan demikian angka partisipasi kasar (APK) program wajib belajar pada pondok pesantren adalah 0,95 %.

Secara keseluruhan, capaian APK di atas memang masih di bawah target 95%. Sebagaimana dikatakan dalam laporan kinerja Menag tahun 2005 – 2006, penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Pondok Pesantren Salafiyah bertujuan untuk: pertama, menuntaskan semua santri pondok pesantren dalam kewajiban belajar sehingga mampu memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan APK nasional sebesar 95 %. Kedua, meningkatkan kemampuan pesantren salafiyah dalam melaksanakan program wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu melalui pengembangan sistem pembelajaran serta peningkatan sumber daya pendidikan secara kuantitatif dan kualitatif.

Angka di atas dipastikan bertambah untuk tahun-tahun berikutnya. Sebab pada tahun 2006, sebagaimana disampaikan kasubdit Pendidikan kesetaraan dan wajib belajar, Dr. Ahmad Zayadi, Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren mengambil kebijakan bahwa penuntasan wajar dikdas 9 tahun, dilakukan dengan memperluas akses pendidikan; peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan; serta kebijakan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik dalam penyelenggaran Program Wajar Dikdas di lingkungan Pondok Pesantren.

Selain program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dalam bentuk program Wajar Dikdas pada Pondok Pesantren salafiyah, dan Pendidikan Kesetaraan Paket A dan B, di pondok pesantren juga diselenggarakan pendidikan kesetaraan Paket C, yang pelaksanaannya didasarkan pada Kesepakatan Bersama Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Depdiknas dan Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama Nomor: 19/E/MS/2004 dan Nomor : Dj.II/166/04 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan pada Pondok Pesantren. Pada tahun 2006, warga belajar Program Paket C pada Pondok Pesantren sebanyak 29.101 warga belajar yang tersebar di 639 Pondok Pesantren.

Sesuai pasal 36 dan 38 UU No. 20 tahun 2003, kelembagaan program paket C di lingkungan pondok pesantren dikembangkan dengan mengacu pada standar nasional, dan Permendiknas RI no. 23 tahun 2006 yang mengisyaratkan tentang acuan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Dengan kerangka perubahan itulah, maka pengembangan Pendidikan Kesetaraan Paket C khususnya, diarahkan untuk memiliki relevansi dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku sekaligus memenuhi kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat, sekaligus pada sisi yang lain semakin mengokohkan eksistensi dan jati diri Pondok Pesantren sebagai satuan Pendidikan Islam yang secara integral menjadi bagian dari Sistem Pendidikan Nasional.

Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, Departemen Agama RI, memberikan bantuan pembiayaan Pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C, dalam bentuk BOP. Pada tahun 2006 Sumber dana BOP Paket A dan Paket B adalah dari APBN dan APBN-P dengan perincian sebagai berikut. Dari APBN 2006, jumlah sasaran program Paket A sebanyak 2997 org x Rp. 695.000 mengalokasikan Rp. 2.082.915.000; dan Paket B sebanyak 6513 org x Rp. 953 mengalokasikan Rp. 6.206.889.000; jumlah total dari APBN Rp.8.289.804.000,-(delapan milyar dua ratus delapan puluh sembilan juta delapan ratus empat ribu rupiah). Dari APBN-P 2006, jumlah sasaran program Paket A sebanyak 2158 orang x Rp. 695.000 mengalokasikan Rp. 1.499.810.000; dan Paket B sebanyak 2623 org x Rp. 953.000 mengalokasikan Rp. 2.499.719.000;jumlah total dari APBN-P Rp. 3.999.529.000 (tiga milyar sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta lima ratus dua puluh sembilan ribu rupiah).

Sedangkan Sumber dana BOP Paket C dari APBN dan APBN-P tahun 2006, rinciannya adalah: Dari APBN 2006, jumlah sasaran program Paket C sebanyak 100 lokasi x Rp. 10.000.000. mengalokasikan Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Dari APBN-P 2006, jumlah sasaran program Paket C sebanyak 350 lokasi x Rp. 10.000.000,- mengalokasikan Rp. 3.500.000.000,- (tiga milyar lima ratus juta rupiah), sehingga jumlah total dari APBN dan APBN-P Rp. 4.500.000.000 (empat milyar lima ratus juta rupiah).

Dana BOS dan Penuntasan Wajar Dikdas

Salah satu kunci peningkatan kualitas pendidikan adalah pada kebijakan alokasi anggaran. Anggaran pendidikan yang rendah kerap kali berbanding lurus dengan mutu pendidikan yang juga rendah. Karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satu jalan, harus ditunjang pemenuhan kebutuhan finansial yang kuat. Menteri Agama Maftuh Basyuni pernah menegaskan hal itu dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Jakarta, Senin, 10 Juli 2006.

Fenomena rendahnya mutu pendidikan akibat seretnya topangan finansial banyak dialami lembaga pendidikan di lingkungan Departemen Agama (Depag). “Rendahnya mutu lulusan lembaga pendidikan di lingkungan Depag, antara lain, disebabkan minimnya proporsi anggaran,” tandas Menteri Agama. Hingga kini realisasi anggaran pendidikan, secara umum, masih di bawah target 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Tapi, pada sisi lain, Menag mengacungi jempol adanya langkah terobosan untuk meningkatan kualitas pendidikan, lewat program BOS. Dalam kesempatan rapat kerja tersebut, Maftuh menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang membantu kelancaran pelaksanaan program BOS untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), juga Pondok Pesantren Salafiyah penyelenggara Wajar Dikdas tingkat ula dan wustha. Ini adalah terobosan kebijakan pendidikan di Indonesia yang perlu dikembangkan. Secara nominal, alokasi dana BOS untuk SD/MI/salafiyah ula sebesar Rp. 235 ribu per siswa per tahun dan untuk SMP/MTs/salafiyah wustha sebesar Rp 324,5 ribu per siswa per tahun.

Terkait program ini, Menteri Maftuh Basyuni ingin menjalankan prinsip penyelenggaraan pendidikan secara konsisten, sesuai pasal 4 ayat 1 UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pendidikan yang berada di lingkungan Depag harus diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajuan bangsa. Karena itu, Menag tidak sepakat dengan dikotomi antara sekolah negeri dan swasta, madrasah dan sekolah, atau lembaga pendidikan dan pesantren. “Semuanya harus tersentuh program ini,” katanya.

Mengapa harus merata? Sebab program ini hakikatnya ingin menyukseskan program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) 9 tahun. Diharapkan tak ada lagi anak yang tidak sekolah dengan dalih tak punya biaya. Pesan inti program BOS adalah membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu dan meringankan siswa lain yang mampu, agar mereka memperoleh layanan pendidikan dasar bermutu sampai tamat, selama sembilan tahun. Maka, target program BOS adalah menjamin lulusan SD/MI/salafiyah ula untuk melangsungkan pendidikannya hingga tingkat SMP/MTs. Tidak boleh ada siswa miskin yang tidak mampu melanjutkan ke SMP/MTs hanya karena mahalnya biaya sekolah.

Program BOS, yang digawangi Menag, juga bagian dari implementasi pemerataan mutu pendidikan di lingkungan Departemen Agama. Menteri Agama, pada program ini, berperan sebagai tim pelindung, bersama dengan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra), Ketua Badan Perencanaan Nasional (Bappenas), Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), dan Menteri Keuangan (Menkeu). Sedangkan yang berperan sebagai penangungjawab adalah Dirjen Dikdasmen Depdiknas dan Dirjen Pendidikan Islam Depag. Pelaksananya adalah sebuah Tim PKPS-BBM pada tingkat pusat, wilayah/propinsi, dan kabupaten/kota.

Kebijakan Menag untuk program BOS dirancang untuk pemberdayaan mutu lembaga pendidikan di lingkungan Depag, yaitu madrasah (MI dan MTs), pondok pesantren salafiyah tingkat Ula (setara dengan MI), Wustho (setara dengan MTs), dan sekolah keagamaan non-Islam penyelenggara Wajar Dikdas 9 tahun yang setara SD dan SMP.

Dalam program BOS, juga dikenal istilah Biaya Satuan Pendidikan (BSP).

Yakni besaran biaya yang diperlukan rata-rata per siswa per tahun, sehingga mampu menunjang proses belajar mengajar sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan. Jenis BSP ada dua. Pertama, BSP Investasi. Biaya untuk menyediakan sumberdaya yang tidak habis pakai yang digunakan dalam waktu lebih dari satu tahun. Misalnya untuk pengadaan tanah, bangunan, buku, alat peraga, media, perabot dan alat kantor. Kedua, BSP Operasional. Biaya untuk menyediakan sumber daya pendidikan yang habis pakai yang digunakan satu tahun atau kurang, mencakup biaya personil dan biaya non personil. Biaya personil meliputi: (1) Kesejahteraan. Seperti honor kelebihan jam mengajar, guru tidak tetap, dan uang lembur. (2) Pengembangan profesi guru. Seperti diklat guru, Musyawarah Guru Mata Pelajaran, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah, Kelompok Kerja Kepala Sekolah, Kelompok Kerja Guru, dan lain-lain. Sedangkan biaya non-personil meliputi: penunjang KBM, evaluasi/penilaian, perawatan/pemeliharaan, daya dan jasa, pembinaan kesiswaan, rumah tangga sekolah, dan supervisi.

Secara umum, gambaran BOS begitulah adanya. Tapi sejatinya, yang menjadi sasaran utama adalah biaya operasional non-personil. Dan yang penting diingat adalah BOS bukan biaya kesejahteraan guru. Bukan berarti Depag tidak peduli pada kesejahteraan guru. Justru di sinilah tempatnya berbagi peran antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah Propinsi, Kabupaten, dan Kota juga harus membantu mengalokasikan dana khusus untuk peningkatan kesejahteraan guru madrasah dan pesantren salafiyah. Karena mereka juga warga negara, sebagaimana guru sekolah pada umumnya, yang mendedikasikan diri untuk mendidik anak bangsa. Itulah pesan yang sering ditandaskan Menteri Maftuh Basyuni.
Kekhasan dan Tantangan

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa sistem pendidikan pesantren ini memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh sistem pendidikan lainnya, baik sebagai satuan pendidikan keagamaan Islam maupun sistem dan institusi kemasyarakatan. Kekhasan tersebut justeru merupakan potensi yang sangat mendukung terlaksananya Program Wajar Dikdas 9 tahun dan Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C.

Dengan kekhasan itu, pesantren telah berkembang menjadi kekuatan optimal untuk maju dan berkembang, memberdayakan diri dan masyarakat lingkungannya. Dan kekhasan tersebut, sebagaimana disampaikan Direktur Pekapontren H. Amin Haidary, ketika memaparkan pikiran-pikirannya mengenai Wajar Dikdas 9 tahun di Pesantren Salafiyah, bahwa Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang didirikan secara mandiri oleh dan untuk masyarakat. Menteri Pendidikan Belanda Keuchenius ketika akan merealisasikan Politik Etikanya di abad ke-19 dengan membangun sekolah-sekolah tertentu terutama bagi para calon pamong praja, memandang pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menguntungkan di satu sisi lantaran dibangun dan dibiayai oleh masyarakat itu sendiri.

Adanya figur ulama atau tokoh kharismatik pada pondok pesantren, sebagai sosok yang disegani dan menjadi panutan masyarakat sekitarnya, menjadi potensi berikutnya yang dapat memperlancar sistem pengajaran di sini tanpa ketakutan penolakan masyarakat. Ungkapan kyai sebagai cultural broker – sebagaimana dialamatkan Clifford Geartz – atau agen perubahan – sebagaimana disampaikan Hiroko Horikoshi – mempercepat pesan-pesan pembangunan kepada masyarakat dari pemerintah.

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang cukup memadai pada pondok pesantren, juga menjadi hitungan potensi tersebut. SDM ini seringkali sangat murah dan efektif. Mereka berjiwa mandiri, ikhlas, sederhana, sehingga mudah dimobilisir untuk tujuan positif dengan pendekatan keagamaan. Tersedianya lahan yang luas, karena pada umumnya pesantren berada di pedesaan. Hal ini menjadi modal murah bagi terselenggaranya pendidikan murah dan massif. Para santri pun memiliki cukup banyak waktu karena mereka mukim di asrama. Selanjutnya adanya jaringan yang kuat di kalangan pondok pesantren, khususnya pesantren sejenis yang dikembangkan oleh para alumninya dan minat masyarakat cukup besar terhadap pesantren, karena di samping diberikan pendidikan agama dan pelajaran umum juga bimbingan moral.

Dengan demikian, pesantren memiliki kekuatan besar untuk memajukan pendidikan di negeri ini, jauh lebih besar dari pendidikan apapun yang pernah dibuat. Hal ini terjadi bila ada keinginan politis ( political will) lebih besar yang memberi mandat kepada pesantren untuk bergerak dan berdaya guna secara optimal. Pesantren harus terlepas dari hambatan-hambatan politis yang tidak relevan dan artificial. Pemberian kepercayaan (trust) secara penuh untuk terus eksis menjalankan mission sacre-nya dan berada pada jalur utamanya yang tepat (on the track) merupakan upaya mengembalikan fungsi pesantren dan memulihkan suasana politik secara keseluruhan agar kembali kondusif. Namun keinginan itu harus dibarengi oleh pemberian fasilitas yang memadai dari berbagai aspek, agar pesantren memiliki modal kerja (dalam pengertian menyeluruh) yang cukup dan leluasa bergerak. Bagaimana pun pesantren adalah aset bangsa yang telah membuktikan kapasitasnya selama ratusan tahun di berbagai lapangan, wabil khusus pendidikan bagi masyarakat dengan mayoritas Muslim ini.

H. Amin Haidary, Direktur Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, menyebutkan trilogi pengembangan dan fungsi pesantren, yang meliputi pesantren sebagai institusi pendidikan, institusi keagamaan dan institusi sosial kemasyarakatan. Menurutnya, tiga fungsi itu merupakan produk dari suatu proses yang panjang yang terinternalisasi dan terinstitusionalisasi dalam kultur masyarakat secara sendirinya dan satu sama lain saling melengkapi.

sumberhttp://www.ditpdpontren.net
Dikirim oleh arifatul Saturday, 16 February 2008
Orientasi Kurikulum & Pembelajaran Wajar Diknas 9 Tahun
Orientasi Kurikulum & Pembelajaran Wajar Diknas 9 Tahun
Rabu, 20 Agustus 2008
Ada tiga kebijakan umum yang digariskan dalam pengembangan pendidikan Islam oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam tahun 2004-2009, Pertama, peningkatan akses untuk mengikuti pendidikan. Kedua, peningkatan kualitas pendidikan. Ketiga, tata kelola atau pengembangan tata kelola, akuntabilitas, transparansi dan pencitraan. Demikian disampaikan Prof. Dr. Muhammad Ali, MA, Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI, dalam sambutannya pada pembukaan Orientasi Kurikulum dan Pembelajaran Wajar Dikdas 9 Tahun di Hotel The Acacia Jakarta (19/08/’08).

Tentang peningkatan akses untuk mengikuti pendidikan, ia menjelaskan bahwa dalam rangka memberi kesempatan kepada warga negara Indonesia untuk mengikuti pendidikan, maka Direktorat Pendidikan Islam membangunkan ruang kelas baru untuk madrasah-madrasah negeri maupun swasta dengan tujuan agar lebih banyak yang bisa mengikuti pendidikan guna menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.

Berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan ada beberapa program, lanjut Muhammad Ali yang juga alumnus Pondok Pesantren Buntet Cirebon, diantaranya adalah dengan adanya program mu`adalah (kesetaraan ijazah). Sedangkan yang berkaitan dengan tata kelola, termasuk pelaksanaan program wajar dikdas 9 tahun, lanjut Ali yang pernah menjadi Dosen di UPI Bandung ini mengakui dan menyadari bahwa bukan hanya di pesantren tetapi di madrasah-madrasah, khususnya madrasah diniyah dan swasta, pengelolaan atau manajemen adalah barang asing. Artinya, apa yang dikerjakan para pengelola berjalan secara alami saja. “Manajemen adalah pengelolaan dan tata kelola adalah government”, tegas Ali.

Kegiatan yang diikuti oleh 80 peserta yang merupakan utusan dari berbagai pesantren se-Indonesia ini dilaksanakan selama 3 hari, 19-21 Agustus 2008, dibawah koordinasi Subdit Pendidikan Kesetaraan dan Wajib Belajar. Kegiatan yang bertema: “Dengan Orientasi Kurikulum Wajar Dikdas Kita Tingkatkan Mutu Pembelajaran Program Wajar Dikdas pada Pondok Pesantren” ini dimaksudkan untuk meningkatkan juga mutu pembelajaran wajar dikdas pada tahun 2008.

Sementara itu Direktur PD. Pontren, Drs. H. Amin Haedari, M.Pd, dalam sambutannya mengatakan bahwa “bagi pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan wajar dikdas salafiyah paket A dan paket B, kegiatan ini diarahkan kepada orientasi pengembangan ketrampilan fungsional, dimana pesantren-pesantren yang menyelenggarakan pendidikan wajar dikdas salafiyah ini, keunggulannya tidak pada penyelenggaraan wajar dikdas itu sendiri akan tetapi lebih menitikberatkan pada ketrampilan yang dikembangkan oleh para santrinya. Hal ini berbeda dengan pesantren yang menyelenggarakan pendidikan secara formal, dimana penyelenggaraan pendidikannya lebih berkonsentrasi pada pengembangan keilmuan yang lebih mendalam.” (pip) [sumber:www.pondokpesantren.net]

Pejuang 28 Oktober-Sekarang!

Aku dan Kamu
Adalah Generasi Negeri

Siapa lagi Selain Kita
Yang memulai untuk peduli Nusa

Hanya Aku dan Kamu
Harapan Bangsa

Pejuang,
28 Oktober-Sekarang!

“SOSOK PEMUDA HARAPAN BANGSA”

“SOSOK PEMUDA HARAPAN BANGSA”

Sumpah Pemuda adalah momen penting bagi perubahan bangsa Indonesia. Generasi muda saat itu menjadi pelopor persatuan nasional dalam simbol tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda. Sejarah bangsa ini selalu diwarnai oleh pemuda sebagai komponen utama. Pemuda memiliki semangat tinggi untuk melakukan perubahan. Energi positif itu terpancar ketika mereka melihat suatu kejanggalan pada bumi pertiwi. Pola pikir dan daya analisis yang tinggi terhadap masalah bangsa membuat mereka merasa terpanggil untuk melakukan percepatan perbaikan tanah air menuju ke arah yang lebih baik. Lalu, melihat realita sosial saat ini, apa yang bisa mereka lakukan?. Persaingan global yang semakin panas ditambah pesatnya perkembangan dunia teknologi membuat ekonomi kita semakin jauh tertinggal. Tayangan televisi yang tidak mendidik justru semakin marak disiarkan. Banyak generasi muda kita yang terjerumus ke dalam lembah kebodohan hanya karena tidak mampu memilah tayangan yang pantas ditonton.
Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, maka dibutuhkan sosok pemuda yang dapat melakukan akselerasi perbaikan bangsa. Akselerasi tersebut dapat terwujud melalui tindakan nyata dan peran yang dapat mereka berikan. Lalu, peran seperti apakah yang dapat membawa kita menuju ke gerbang kesejahteraan ?. Tidak adanya ekonom brilian yang bergerak bersama di negeri ini untuk dapat memahami, mencerna dan menemukan jalan keluar bagi krisis ekonomi merupakan salah satu penyebab kemunduran bumi pertiwi. Begitu juga dimensi-dimensi lain dimana masing-masing pribadi bergerak sendiri untuk memenuhi kebutuhan dan keuntungan pribadi. Mereka memang manusia-manusia brilian dan jenius tetapi seperti lidi yang berserakan, tidak terorganisasi menjadi kekuatan bangsa di bawah sebuah kepemimpinan yang solid. Kepemimpinan yang kuat dan baik tidaklah menjamin semua kesulitan kita selesai, tapi kepemimpinan yang kuat dan baik memastikan bahwa semua solusi strategis dan teknis yang kita rumuskan dapat bekerja secara benar dan efektif. Tapi, itu pulalah yang menjadi kunci masalah dimana semua berakar dari sana : krisis akhlak dan kepemimpinan.

Jika kita menyusuri sejarah bangsa ini, kita akan bertemu generasi 1900-an yang mempelopori kebangkitan nasional dengan terbentuknya Boedi Oetomo sebagai organisasi yang boleh dikatakan sebagai titik awal terbentuknya organisasi yang bersifat nasional. Dilanjutkan dengan perjuangan generasi 1928 yang berhasil mempelopori persatuan nasional melalui Sumpah Pemuda. Lalu, kita akan bertemu dengan generasi 1945 yang mempelopori perjuangan kemerdekaan dan generasi 1966 yang berhasil mengakhiri rezim Orde Lama. Semua angkatan itu silih berganti sampai datang angkatan 1998 yang mampu menumbangkan rezim Orde Baru. rangkaian sejarah ini membuktikan bahwa peran pemuda sangat dinantikan untuk percepatan perbaikan bangsa. Mereka bersatu dengan meluruskan akhlak dan niat untuk menuju perbaikan Indonesia. Mereka bergerak di bawah kepemimpinan yang jelas dan terarah. Mereka bersatu padu seperti seikat sapu lidi yang mampu membersihkan sampah-sampah yang berserakan.
Indonesia membutuhkan peran kita saat ini. Kita sebagai mahasiswa misalnya, menjadi profesional di bidang kita adalah salah satu cara yang paling efektif. Berkumpul bersama dengan pemuda lain yang memiliki visi searah lalu kita membentuk sebuah gerakan nonanarkis yang tersusun secara rapih. Lalu kita berusaha menuju ke sektor-sektor penting yang menjadi pusat pengambil keputusan atau sektor yang menguasai hayat hidup bangsa ini. Kita bergerak bersama dengan tujuan untuk memperbaiki bangsa ini. Kita bergerak dibawah arahan yang jelas. Karena itu kita butuh pemimpin yang mampu menjalankan fungsi pembangkit kekompakan agar pergerakan kita tidak mengalami perpecahan intern. Selain itu, kita butuh integritas akhlak dan kepribadian. Sikap-sikap ini dapat dilatih dengan cara aktif di organisasi seputar kampus atau lingkungan masyarakat. Banyak ilmu yang dapat ditimba di sana. Pendewasaan pikiran, peningkatan daya analisis, dan kemampuan untuk bekerja dalam tim dapat kita peroleh. Semakin strategis jabatan dalam organisasi maka semakin banyak hal yang dapat diperoleh untuk pengembangan diri dan wawasan.

Pemuda adalah harapan bangsa. Kelak mereka yang akan menahkodai bangsa ini. Semua tergantung dari seberapa besar pengorbanan yang akan mereka persembahkan. Kita hanya bisa berharap semoga mereka mampu memaksimalkan kinerja mereka masing-masing untuk memajukan bangsa ini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.
http://makhadi.wordpress.com/2007/12/17/%E2%80%9Csosok-pemuda-harapan-bangsa%E2%80%9D/

GENERASI MUDA HARAPAN BANGSA

GENERASI MUDA HARAPAN BANGSA

Oleh : NORHADI, SHI

Diakhir tahun 20009 kita dikejutkan data dari Departemen Kesehatan RI bahwa hampir lebih 20.000 penduduk Indonesia sekarang terjangkit penyakit HIV/IAID, dan menurut data bahwa peringkat satu/ rangking 1 terjangkitnya HIV/AID adalah propinsi PAPUA, peringkat 2 propinsi DKI, dan peringkat ke 3 proinsi BALI. Penyebaran penyakit HIV /AID ini menurut data juga 75% disebabkan oleh hubungan sex, dalam hal ini disebabkan ganti-ganti pasangan sex bebas, pelacuran dsb. Sisanya disebabkan oleh Narkotika dan transpusi darah.

Dan lebih memperihatinkan lagi bahwa pelaku sex bebas dan pelaku narkoba adalah didominasi oleh kalangan pemuda.

Dalam islam, Allah telah jelas-jelas melarang umatnya untuk melakukan sex bebas dalam hal ini adalah dikatagorikan perbuatan zina, disamping laknat dan azab Allah di akhirat, juga akan mendatangkan kemudharatan di dunia salah satunya tadi adalah keresahan masyarakat dan tentunya juga membawa dampak negative bagi pelakuknya, jauh berabad-abad yang lalu saat ayat Al-Qur’an tentang pelarangan berbuat zina diturunkan penyakit HIV/AiD tidak dikenal atau tidak ada. Pelarangan berbuat zina mempunyai hikmah tersendiri disamping menghindari azab Allah yang besar di hari kiamat juga menjaga kesehatan diri. Perbuatan zina mendorong perilaku kotor :

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al- Isra :

Artinya : Jangan kamu dekati zina,sesunggugnya itu adalah perbuatan kezi dan pekerjaan yang kotor.

Dalam ayat ini Allah swt melarang mendekati zina, apalagi melakukan perzinaan,

Zina adalah perbuatan kotor. Dan azab yang terang-terangan yang datang kepada

Pelaku zina adalah HIV/AID penyakit yang sampai sekarang tidak ada obatnya alias menunggu maut.

Faktor lain penyebab penyakit HIV/AID adalah Narkoba, dalam hal ini termasuk minum-minuman keras, orang yang minum-minuman keras kemudian mabuk akal warasnya hilang kemudian melakukan sex bebas,..Allah Swt telah memperingatkan hambanya agar tidak meminum-minuman keras karena itu adalah lebih mendekatkan diri pada syaithan.

Allah swt berfirman dalam surat Al-Maidah.

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minum-minuman khamar (keras) berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keburuntungan.

Itulah perintah Allah, agar selalu menjauhi segala-perbuatan syaitan termasuk adalah minum-minuman keras. Allah Swt melarang minum-minuman keras ternyata ada hikmah besar dibalik larangan tersebut.

Jadi intinya kita selalu kembali kepada ajaran agama sebagai benteng diri kita agar . kita jalankan ajaran-ajaran atau perintah Allah insya Allah kita akan terhindar dari hal-hal maksiat. Penanggulangan penyakit HIV/AID dengan bagi-bagi kondom gratis (kondomisasi) yang dilakukan oleh Pemerintah yang pernah di bagikan ditengan-tengah masyarakat menurut hemat saya tidak banyak membantu mengurangi penyebaran HIV/AID justru malah bisa menjadi alat kampanye melakukan sex bebas. Justru kita tetap menjalankan dan mengamalkan ajaran agama lah yang bisa mencegah penyebarannya, yaitu menghindari perzinaan, perselingkuhan, pergi kelokalisasi , mari kita tetap setia pada pasangan masin-masing, setia pada isteri atau setia pada suami,..itulah langkah kongkrit kita agar terhindar dari bahaya HIV/AID.

Mari kita sebagai orang tua berkewajiban selalu menjaga tingkah laku putra-putri kita jangan sampai kita lengah sedikitpun, karena sex bebas dan narkoba ada disekeliling kita, selalu mengincar orang-orang yang imannya lemah, selamatkan generasi muda kita dari bahaya narkoba.

Demikian yang dapat disampaikan mudah-mudahan ada manfaatnya, terimaksih.

http://www.pa-biak.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=269:generasi-muda-harapan-bangsa&catid=35:fikrah&Itemid=97

Khutbah Nikah

Khutbah Nikah
Alhamdulillah berkat kurnia dan limpahan rahmatNya lah di pagi hari yang penuh berkah ini
Minggu Pon 26 Rojab 1430 H , bertepatan dengan tgl, 19 Juli 2009,
kita dapat berkumpul pada acara akad nikah
…Riva Arisandi …….. dengan ……Fauziah Hapriyani…….
Semoga pertemuan ini akan mendapat rahmat dari padaNya ,… amiin Yaa Robbal alamiin
Baiklah untuk selanjutnya saya akan menyampaikan khutbah nikah

Bismillahirrochmanirrochim … Assalamu�alaikum wr wb

Ananda berdua, Alloh Swt telah menentukan mentakdirkan kalian pada hari ini Minggu pon 26 Rojab 1430 H (19 Juli 2009) menikah dengan pasangan yang telah dipertemukan olehNya Beberapa saat lagi kalian berdua akan resmi melaksanakan aqad nikah, perjanjian yang menyebabkan kalian berdua mempunyai status baru, sebagai pasangan suami istri secara sah menurut ketentuan agama. Dan diakui serta dicatat sehingga mempunyai kekuatan hokum oleh pemerintah sesuai dengan UU perkawinan no. 1 th 1974,

Ada beberapa hal yang perlu Ananda berdua selalu ingat mengenai status baru itu:

1) Pernikahan adalah ibadah,..>> ia tidak sekedar sebuah upacara untuk mengumumkan kepada publik mengenai status baru kalian. Oleh karena itu menjadi penting sekali bahwa sejak dari niatnya Ananda berdua harus selalu meletakkan peristiwa ini sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kalian kepada Allah SWT dan RasulNya. Jadi di dalam pernikahan ini ada sebuah amanah, langsung dari Allah dan RasulNya. Tekadkanlah dalam hati Ananda berdua, sejak dari awalnya, untuk menjaga amanah ini hingga akhir hayatmu nanti .. Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan Ananda berdua selanjutnya. Karena dengan menempatkan niat dan tekad itu, semoga kiranya Allah SWT selalu berkenan hadir dalam kehidupan Ananda selanjutnya, baik dikala gembira maupun disaat duka.

2) Pernikahan adalah Kasih sayang… >> Al-Qur’an mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnyalah terwujud suasana kasih sayang, sebuah kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia. Keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan bukan yang lain atau sebaliknya. Berkeluarga adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan. Sungguh tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, kelesuan, kegaluan dan sejenisnya.
Oleh karena ada 3 indikasi, dalam kontek hadirnya kebahagiaan dalam hidup seseorang yaitu

Ciri Pertama,…>> terhadap masa lalunya ia tidak pernah menyesali atau kecewa berkepanjangan; masa lalu selalu disikapi dengan istighfar dan syukur. Permohonan ampun didasari atas kelemahan manusiawi diiringi dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang; rasa syukur yang dilandasi atas kesadaran kuat bahwa betapapun beratnya cobaan & kesulitan, nikmat Tuhan selalu lebih banyak dibanding itu semua.
Ciri Kedua,..>> terhadap tantangan yang dihadapi saat ini selalu disikapi dengan antusiasme atau semangat pantang menyerah karena keyakinan bahwa terhadap setiap sebuah kesulitan selalu tersedia sekurang-kurangnya dua buah kemudahan. Cukuplah kesabaran dan ketekunan dalam usaha yang disertai dengan do’a dari kerendahan hati seorang hamba sebagai bekal, yang dalam bahasa Al-Qur’an: jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Ciri Ketiga … >>dari hadirnya kebahagiaan adalah bahwa terhadap ketidakpastian masa depan selalu disikapinya dengan optimisme. Jadikanlah kebahagiaan sebagai visi abadi Ananda berdua dalam membangun kehidupan keluarga.

3) Penikahan adalah Kebahagiaan. ..>> Ananda berdua, kebahagiaan adalah nuansa atau karakteristik surgawi dan oleh karenanya kepemilikannya oleh manusia amat tidak disukai oleh Iblis. Sebagai musuh abadi manusia, Iblis sang pewaris neraka akan terus merongrong kebahagiaan yang menjadi milik manusia, anak keturunan Adam, para calon pewaris surga. Dalam hal kehidupan berkeluarga, salah satu benteng terkuat untuk menjaga kebahagiaan dari rongrongan itu adalah kemaafan. Bukalah pintu kemaafan selebar-lebarnya dan selama-lamanya karena ia akan mencegah masuknya kemarahan, awal dari intervensi Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam.
Ini penting untuk selalu diingat karena kalian mempunyai karakteristik sendiri-sendiri yang unik, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing yang melalui pernikahan ini hendak dipersatukan dalam sebuah rumah tangga. Konsekuensinya adalah bahwa kesalahpahaman adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu membuka pintu kemaafan adalah salah satu resep abadi dan ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia. Lebih dari itu, kemaafan adalah jalan menuju taqwa: wa ‘anta’fu aqrobu littaqwa, dan kemaafan itu lebih dekat kepada taqwa.

4) Pernukahan adalah Rahmah ..>> Secara garis besar, berdasarkan fitrah manusia, agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi kalian masing-masing dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan kalian membangun rumah tangga yang semoga dengan demikian akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT. Menurut ketentuan agama, tanggung jawab sebagai kepala keluarga berada dipundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat adalah menjaga agar bahtera keluarga selalu berjalan menuju visi abadi: kebahagiaan dunia akherat dan terhindar dari siksa neraka abadi.
Teladan mulia bagi istri tentunya adalah Ibunda Khadijatul Kubra, yang selalu memberikan keteduhan, kelembutan, dan juga dorongan yang tiada henti kepada suami untuk tetap istiqomah sehingga betapapun beratnya tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat diatasi dengan baik dan penuh tanggung jawab. Ingatlah selalu oleh kalian berdua bahwa salah satu fungsi pasangan suami istri menurut Al-Qur’an [2:187] adalah seperti pakaian (hunna libaasullakum wa antum libaasullahun)..>>: mereka dalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka).
Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami istri harus saling menutupi kelemahan pasangannya. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian maka berdoalah agar dibalik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terduga. Ingatlah firman Allah SWT [4:19]: Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

5) Tingkatkanlah bakti kalian kepada ayah-bunda, yang telah dengan penuh kasih sayang dan kesabaran mengantar kalian hingga ke jenjang untuk memulai hidup baru, membangun rumah tangga sendiri. Perlu kalian ingat bahwa cinta dan kasih sayang beliau kepada kalian tidak akan pernah pudar walau kalian kini telah membangun rumah tangga sendiri.
Sebagai penutup di akhir khutbah pesan kami buat kedua mempelai Pengantin baru dan juga buat para pengantin bari
……………. “, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya, Allah memperbaiki bagimu adalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar.” (Al-Ahzaab:70-71).
……….. bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu meninggal dunia melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran:102).
ciptakanlah keluarga yang se iya sekata sehingga terbentuklak keluarga yang sakinah, mawaddah , warrohmah seperti kata KN. Muhammad SAW , .. Baiti Jannati ..>> Rumahku syurgaku,

Kemudian untuk saudara saudaraku lainya para jomblowan jomblowati bila kalian telah menemukan jodoh Jangan tergiur KECANTIKAN DAN KETAMPANANYA, Jangan terpengaruh karena HARTANYA, Jangan terpancing dari KETURUNANYA, Tapi kalian boleh tertarik karena AGAMA DAN KETAKWAANYA
Ananda …Riva Arisandi…… dan Fauziah Hapriyani……..yang berbahagia.
Ibu dan bapakmu, beserta keluargamu dan seluruh undangan yang hadir disini akan mendo’akan kalian berdua
“BAARAKALLAHU LAKUM WA BAARAKA’ALAIKUM
WAJAMA’ABAINAKUMAA FII KHOIR”
(mudah-mudahan Allah melimpahkan barakah kepada kamu dan menurunkan kebahagiaan atasmu, dan mempertemukan kamu berdua dalam kebaikan).”(Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1546, Ibnu Majah I:614 no:1905, dan lafadz ini milik Ibnu Majah, ‘Aunul Ma’bud VI:166 no:2116 dan Tirmidzi II:276 no:1097, namun menurut riwayat Abu Daud dan Tirmidzi menggunakan kata KA untuk orang dua tunggal).
Allohumma Allif Baina Riva Arisandi bin Muhdi Wa Fauziah Hapriyani Binti Abdul Haris Kama Allafta Baina Nabiyuka Adam wa Hawa wa Kama Allafta Baina Rosuulikal kariim Muhammad SAW wa Chodijah al Mukarromah
Kembangkanlah layar, BISMILLAHI MAJREHA WAMURSA INA ROBBI LA GHOFURURROHIIM.
Aqulu qauli haza wastaghfirulahl�azima li walakum walisairil muslimina walmuslimat, wal mu�minina wal mu�minat. Fastaghfiruhu, innahu hual ghafururrahim.
FATTAQULLAHA MASTATO�TUM. BILLAHI FII SABILIL HAQ
Wallohul muwaffiq Illa aqwammitoriq
WASSALAMUALAIKUM WR. WB