:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Serangkaian hikmah dan kisah di bawah ini disampaikan oleh seorang yang terkenal dengan nasehat- nasehatnya yang dikemas dalam bentuk Hikmah. Seorang ‘Alim yang telah berhasil mendidik murid-muridnya. Beliau adalah ‘Arif Al-Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, lahir pada tahun 1291 H di era abad ke-21 ini.

Beliau menggambarkan bahwa bagaimanapun juga rumitnya pengertian baik itu tentang ilmu agama, hikmah dan lain sebagainya, jika disampaikan dalam format kisah-kisah ringan akan lebih mudah dicerna. Beliau tak henti-hentinya mengingatkan khususnya kepada para pemuda untuk selalu rajin dalam menuntut ilmu agama dan tidak bermalas-malasan dalam mengerjakan amal ibadah dan taat kepada Allah SWT.

Suatu hari Habib Muhammad bin Hadi Assegaf menyalakan lampu, beliau berkata: Ini adalah cahaya lahiriyah. Jika lampu ini padam, kita tidak bisa melihat apa-apa dan akan berada dalam kegelapan. Adapun cahaya bathin adalah cahaya di hati yang dinyalakan oleh perasaan cinta dan irfan (ma’rifat). Cinta dan irfan diperoleh karena selalu taat kepada Allah Yang Maha Pengasih. Dalam diri orang yang memiliki cahaya ini akan muncul karomah. Kita ini bukannya berusaha mencari karomah-karomah tetapi malah mematikan cahaya di hati dengan banyak melakukan maksiat dan sedikit berbuat taat.

Sesunguhnya telah banyak cahaya muncul. Contohnya, Imam Abu Harbah jika keluar dari rumah muncul dari tubuhnya cahaya seperti menara.

Suatu hari ketika Imam Nawawi RA sedang belajar tiba-tiba lampunya mati kemudian dari ibu jari beliau muncul cahaya. Sedang karomah Imam Rafi’i RA ialah jika lampu mati, pepohonan menyinarinya.

Keramat yang agung ini tidak hanya untuk Imam Nawawi dan Imam Rafi’i saja, akan tetapi untuk semua orang termasuk kita. Ayah dan ibu mereka adalah Adam dan Hawa, mereka makan dan minum seperti kita. Akan tetapi kita tidak menempuh jalan mereka, kita terlalu cinta dunia padahal kita dituntut untuk meninggalkan dunia dan tidak sekali-kali meliriknya. Apa yang harus kita kerjakan justru kita tinggalkan.

Nasehat yang beliau sampaikan juga diantaranya, tanda-tanda cinta seseorang kepada

yang ia cintai adalah Shidq (berlaku benar dan jujur, serta sungguh-sungguh dalam meneladani orang yang ia cintai), baik dalam perbuatan, niat, keyakinan maupun ucapan. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh datuk beliau Al-Habib Umar bin Segaf Assegaf :

لاَ تَدَّعِي فَالصِّدْقُ لَهُ عَلاَئِمْ

“Janganlah engkau mengaku-aku, karena shidiq mempunyai tanda-tanda”

Sebagaimana diceritakan oleh beliau tentang seorang Syeikh yang bernama Sya’roni,

suatu ketika beliau hendak menguji kesungguhan cinta para Sahabat-sahabatnya (murid-muridnya). Syeikh Sya’roni menulis permintaan bantuan keuangan di atas lembaran-lembaran kertas. Kertas-kertas itu nanti akan dibagikan kepada para sahabat-sahabatnya dengan kemampuan keuangan mereka masing-masing, ada yang mendapat permintaan sebesar 50 dirham, ada yang 100 dirham, dan ada pula yang 200 dirham. Setelah sahabat-sahabat Syeikh Sya’roni datang, kertas-kertas tersebut dibagikan. Kemudian mereka membaca angka yang tertulis di kertas itu lalu saling pandang, seraya mengatakan :

“Syeikh meminta berapa dirham ?”, tanya salah satu di antara mereka.

“Ia minta 50 dirham”, jawab salah seorang.

‘Ia meminta 100 dirham”, jawab yang lain.

“Ia minta 200 dirham”, sahut yang lain.

Merekapun heran dengan perbuatan Sang Syeikh, akhirnya sebagian dari mereka memutuskan untuk pulang saja sambil mengatakan, ‘Syeikh kita ternyata cinta dunia’, lalu detik itu juga merekapun memutuskan persahabatannya dengan Sang Syeikh. Adapun sebagian yang lain dari mereka masih tetap berpegang teguh dan menjalin hubungan yang erat dengan Sang Syeikh. Selang beberapa waktu Syeikh Sya’roni merasa lega atas ujian yang telah diberikan kepada sahabat-sahabatnya sembari berkata ; “Jernihlah pikiranku dan tenanglah ibadahku”.

Kini telah terlihat siapa sesungguhanya seorang murid yang mengaku benar-benar tulus dan cinta kepada sosok figur teladannya.

Dan diantara wasiat-wasiat lain yang ditekankan Al-Habib Muhammad bin Hadi Assegaf kepada para penduduk akhir zaman sebagaimana telah disampaikan oleh Ibrahim bin Adham, yaitu :

Manusia hendaknya menghindari banyak tidur, karena hal itu akan menghapus keberkahan umur.

Manusia hendaknyamenghindari banyak bicara tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, karena itu menyebabkan meninggal dalam keadaan buruk (Su’ul Khotimah).

Manusia juga hendaknya menghindari banyak makan, karena hal itu menyebabkan seseorang tidak dapat merasakan nikmatnya Ibadah.

Manusia hendaknya tidak terlalu banyak bergaul dengan masyarakat luas, karena hal itu membuat tidak lurus dalam berpegang teguh terhadap masalah dan urusan agama.

Itulah sedikit nasehat dan hikmah yang telah disampaikan oleh Al-Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, bagi kita penduduk akhir zaman ini hendaknya berpegang teguh dan sungguh-sungguh terhadap nasehat dari kaum Salaf, karena jalan hidup dan sepak terjang mereka telah sesuai dengan jalan yang digariskan oleh Kakek Para Salaf yang Agung yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, kiranya yang sedikit ini dapat kita ambil manfaat, semoga dapat menggugah hati yang lalai, dan dapat menambah semangat kita untuk melakukan amal Ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Ust. Alwi Ali Alhabsyi

https://luckysw.wordpress.com/2011/04/10/wasiat-untuk-penduduk-akhir-zaman/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: