:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

(Studi kasus NU dan Muhammadiyah di Desa Wisata Mlangi)

Skripsi
Diajukan sebagai syarat mendapatkan gelar Sarjana Komunikasi Islam
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh :
ILZAMUL WAFIK
NPM: 20070710006

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH :
Di Indonesia terdapat sejumlah agama dan aliran kepercayaan. Dalam interaksi sosial kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dihadapkan dengan kenyataan beragam perbedaan. Kusmadewi(2010), menyatakan bahwa kemajemukan masyarakat Indonesia termasuk faham agama dapat menjadi salah satu pemicu perbedaan /konflik.
Disisi lain perbedaan dapat juga memicu terjadinya persatuan/integrasi. Adanya berbagai wadah persatuan antar umat beragama menunjukan bukti kompromi, dimana kesemua agama menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Namun karena terdapat pemahaman agama yang berbeda-beda, konflik antarumat beragama maupun intern umat beragama selalu dapat muncul.
Ismail(dalam Mukaddimah, 2006), memaparkan bahwa maraknya konflik antarumat beragama di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari konstribusi penguasa Orde Baru. Sebab melalui politik SARA-nya penguasa, telah menekan semua perbedaan yang berbau kesukuan, keagamaan, ras, dan antargolongan. Semuanya dimasukkan dalam bingkai kesatuan, dan stabilitas politik dan kcamanan demi pertumbuhan ekonomi. Setelah Orde baru yakni era reformasi, potensi konflik lebih memungkinkan untuk terjadi.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kasus konflik antarumat beragama dan intern umat beragama terjadi diberbagai wilayah. Beberapa kasus berikut akan penulis sebutkan sebagai bukti, diantara konflik antarumat beragama yaitu; kasus konflik Islam-Kisten di Irian Jaya, kasus gereja di Jakarta, kasus pembakaran gereja di Wonosobo. Adapun beberapa konflik intern umat beragama yang terjadi yaitu; kasus dugaan sesat Ahamdiyah disejumlah wilayah, kasus penyerbuan markas FPI, kasus aliran sesat, misalnya pengakuan nabi dan lain-lain.
Kasus intern umat beragama yang disebutkan di atas semuanya terjadi pada internal umat Islam. Sebenarnya pada agama selain Islam juga terjadi konflik, seperti masalah sekte dan aliran Kristen. Salah satu faktor terjadinya konflik semacam ini adalah terjadinya pemahaman yang berbeda dan interpretasi yang beraneka ragam terhadap sumber-sumber ajaran agama/ teks suci, terutama sumber ajara Islam.
Islam di Indonesia tidak dapat terlepas dari Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama). Kedua ormas ini turut mewarnai sejarah Indonesia terutama pada masa pra-kemerdekaan. Sepanjang perjalanan kedua organisasi Islam terbesar ini, senantiasa diwarnai koorporasi, kompetisi, sekaligus konfrontasi. Kajian Muhammadiyah dan NU di Indonesia selalu melibatkan harapan dan kekhawatiran lama yang mencekam, karena wilayah pembahasan ini penuh romantisme masa lalu yang sarat emosi dan sentimen historis yang amat sensitif. Sekedar contoh, sering dinyatakan, kelahiran NU tahun 1926 merupakan reaksi defensif atas berbagai aktivitas kelompok reformis, Muhammadiyah (dan Serekat Islam), meski bukan satu-satunya alasan(Qodir, 2001).
Pandangan masyarakat pada umumnya terhadap warga Muhammadiyah dan NU di desa adalah terjadi polarisasi diantara keduanya. Bahkan ada beberapa data yang menyebutkan konflik diantara keduanya. Di Jogjakarta, kita dapat melihat interaksi sosial NU-Muhammadiyah di beberapa tempat. Salah satu tempat berinteraksi antar warga kedua ormas ini adalah Desa Wisata Mlangi .
Di Desa Wisata Mlangi telah lama hidup berdampingan antara Muhammadiyah dan NU. Keduanya telah mempunyai perangkat dakwah seperti tempat ibadah pendidikan dan berbagai usaha warga setempat yang lain. Perangkat dakwah yang ada di Mlangi berhubungan secara langsung dengan individu-individu masyarakat. Berbagai interaksi antar individu menyebabkan gejala polarisasi tidak begitu tampak. Kegiatan bersama antar warga yang sebenarnya berlainan organisasi kelompok Islam di Desa Wisata Mlangi, merupakan bukti adanya interaksi sosial antar kelompok.
Sejumlah peneliti tertarik untuk melakukan kajian dan penelitian di Mlangi. Ketertarikan mereka karena Mlangi termasuk tempat yang memiliki tingkat religiusitas tinggi, terdapat kaum yang menurut Gezt tergolong santri tradisionalis sekaligus berbaur dengan santri modernis. Daya tarik tersebut lebih didasari oleh keterkaitan Mlangi dengan Kraton Jogjakarta dalam hal menjadi pusat penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh salah seorang keluarga kraton bernama BPH. Sandiyo(Mbah Nur Iman).
Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan pokok untuk mengetahui betuk konflik maupun integrasi yang sudah terjadi dan kemungkinannya pada masa akan datang, kemudian setelah diketahui karakterisitik konfliknya maka akan memudahkan upaya yang mungkin dapat dilakukan untuk meredam dan menyelesaiakn konflik intern umat beragama khususnya Muhamadiyah-NU, sehingga tujuan dan upaya dakwah antara keduanya dapat tercapai bersama.

B. RUMUSAN MASALAH:
1. Bagaimana bentuk interaksi sosial warga NU dan Muhammadiyah yang ada di Desa wisata Mlangi?
2. Mengapa terjadi bentuk interaksi sosial tertentu dari warga NU dan Muhammadiyah di Desa wisata Mlangi?

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN:
Tujuan Penelitian ini adalah:
1. Mengetahui bentuk interaksi sosial warga NU dan Muhammadiyah yang ada di Desa wisata Mlangi.
2. Mengetahui penyebab terjadinya interaksi sosial tertentu dari warga NU dan Muhammadiyah di Desa wisata Mlangi.
Kegunaan Penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat menambah khasanah keilmuan, khususnya berkaitan dengan sosiologi dakwah.
2. Kegunaan secara praktis, sebagai acuan dalam melakukan kegiatan dakwah antar kelompok/organisasi Islam.

D. TINJAUAN PUSTAKA
Untuk mencapai suatu hasil penelitian ilmiah diharapkan data-data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini dapat menjawab secara komprehensif terhadap semua masalah yang ada. Hal ini dilakukan agar tidak ada duplikasi karya ilmiah atau pengulangan penelitian yang sudah pernah diteliti oleh pihak lain dengan permasalahan yang sama.
Penelitian tentang interaksi social antar ummat beragama, khususnya internal ummat islam sudah banyak dilakuakn oleh beberapa peneliti. Saifudin (1986) misalnya meneliti tentang konflik dan integrasi warga NU dan muhammadiyah di masyarakat Alabio Kalimantan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa konflik antara warga NU dan muhammadiyah di Masyarakat Alabio terjadi karena perbedaan intepretasi mengenai perangkat-perangkat ajaran agama.
Sementara itu Abidin(dalam Harmoni, Vol.VIII 2009), meneliti tindakan anarkis terhadap kelompok salafi dan non salafi di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor penyebab konflik antara kelompok Salafi dan Non Salafi adalah gerak dakwah eksklusif Salafi yang menyalahkan faham kelompok lain dan kurang menghargai perbedaan pendapat.
Kemudian Ismail(dalam Mukaddimah, Th. XII/2006), melakukan penelitian berkaitan dengan profil konflik antar ummat beragama studi kasus di lima daerah. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan sumber dan faktor penyebab konflik pada level budaya dan sosial pada tingkat lokal dan aturan perundangan. Hasil dari penelitin ter sebut menyatakan bahwa sumber konflik ada tiga aspek yaitu kesalahpahaman antar budaya, adanya identitas kelompok yang terancam dan karena adanya perjuangan pemenuhan kelompok dan penguasaan akses sumber daya maupun kesempatan.
Dilain kesempatan Syaukani(dalam Harmoni, Vol.VIII 2009), memfokuskan penelitiannya pertama, bagaimana posisi peristiwa resistensi sebagian masyarakat terhadap IJABI Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI). IJABI adalah orgaisasi sunni yang didirikan oleh Jalaludin Rakmat di Bondowoso. Fokus Kedua adalah mengapa terjadi resistensi sebagian masyarakat terhadap IJABI di Kab.Bondowoso. hasilnya bahwa perbedaan paham tentang Syiah antara pihak yang anti Syiah dan IJABI adalah salah satu sebab terjadinya konflik.

E. KERANGKA TEORI

1. INTERAKSI SOSIAL
Sebagai makhluk sosial manusia selalu hidup berkelompok atau senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lain, makhluk yang mampu berpikir untuk melakukan sesuatu, makhluk yang harus diajarkan sesuatu agar mampu melakukan sesuatu (sosialisasi). Dari proses berfikir muncul perilaku ataupun tindakan sosial. Kalau perilaku dan tindak sosial tersebut dilakukan dalam hubungan dengan orang lain maka terjadilah interaksi sosial(Tarik, 2002).
Upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya dilaksanakan melalui suatu proses sosial yang disebut interaksi sosial, yakni hubungan timbal balik antara orang perorangan, antara orang perorangan dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat. Di dalam bukunya Psychologi Social, Gerungan, mengutip H. Bonner dalam karyanya Social Psychology, mengemukakan interaksi sosial ialah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, di mana kelakuan Individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan mdividu yang lain, atau sebaliknya. Rumusan ini dengan tepat menggambarkan kelangsungan timbal baliknya interaksi sosial antara dua atau lebih manusia(Ishomudin, 2005).
Setiap komunitas memiliki struktur sosial yaitu jalinan hubungan antar individu atau kelompok sosial dalam masyarakat sesuai status dan peranan yang dimilikinya. Bentuk struktur sosial tersebut dapat berupa proses konflik dan integrasi dalam masyarakat. Hidup rukun-tidak rukun menunjukkan adanya interaksi sosial positif-negatif. Interaksi sosial positif merupakan proses interaksi yang menuju pada penyatuan. Interaksi tesebut dapat berupa akomodasi, kerja sama dan akhirnya integrasi. Apabila terjadi pertikaian dan konflik, munculah apa yang disebut Interaksi sosial negatif(Ismail, 2009).
Konflik dan integrasi merupakan sebuah pasangan yang melekat dalam kehidupan masyarakat (Simmel dalam Saifuddin, 1986). Jadi walaupun konflik merupakan bentuk kontradiktif dari integrasi, namun tidak selamanya kedua hal tersebut harus dipertentangkan. Dalam kehidupan nyata integrasi bisa saja hidup bersebelahan dengan konflik, bahkan melalui konflik, hubungan keseimbangan sebenarnya dapat ditata kembali. Karena itu mengkaji konflik pasti berhubungan dengan integrasi.

2. INTEGRASI SOSIAL
Integrasi sosial adalah penyatuan antar satuan atau kelompok yang tadinya terpisah satu sama lain dengan mengesampingkan perbedaan sosial dan kebudayaan yang ada. Bentuk integrasi sosial ada dua jenis, yaitu Akomodasi dan Kerja sama. Integrasi Akomodasi dapat dilihat sebagai suatu keadaan dan proses. Sebagai suatu keadaan artinya, kenyataan adanya keseimbangan dalam interaksi antar aktor/kelompok. Sedangkan sebagai suatu proses artinya, tindakan penyesuaian dengan saling memberikan imbalan tertentu antar aktor dari kelompok yang berbeda, baik berupa materi maupun sosial. Penyesuaian dan kerja sama dari aktor atau kelompok yang berbeda itu dimungkinkan walaupun diantara mereka ada perbedaan gender, suku-ras, kelas, agama dan kepercayaan, dan persaingan atau permusuhan tersembunyi(Ismail, 2009).
a. Akomodasi
Dalam sebuah masyarakat akomodasi biasanya tidak selamanya berlangsung, karena ada potensi konflik seperti prasangka atau stereotif dari tiap kelompok, sehingga melahirkan konflik.
Akomodasi adalah suatu proses dimana orang-orang atau kelompok yang saling bertentangan, berusaha mengadakan penyesuaian diri untuk meredakan atau mengatasi ketegangan (Tarik, 2002). Beberapa bentuk akomodasi dalam masyarakat dijelaskan berikut ini :
1) Toleransi, yaitu bentuk akomodasi, dimana masing-masing pihak yang berlawanan menerima perbedaan tanpa mempermasalahkan perbedaan yang dialami.
Seorang pemeluk agama x tentu mempunyai konsep yang berbeda dengan pemeluk agama y. Kedua pemeluk agama itu jelas mempunyai beberapa perbedaan, tetapi masing-masing individu tidak mempermasalahkan perbedaan agamanya. Mereka tetap bergaul dengan baik tanpa mempermasalahkan agama yang dianut. Oleh karena itu di Indonesia dikenal dengan istilah toleransi beragama.
Sebenarnya, toleransi tidak hanya dalam bentuk kehidupan beragama. Kehidupan antar etnis, antar parpol, organisasi, cita-cita, dan lain-lain bisa dijalankan dengan konsep toleransi.

2) Kompromi, yaitu suatu bentuk akomodasi di mana masing-masing pihak yang terlibat pertentangan saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
Sekelompok petani misalnya, yang bersengketa dengan sekelompok lain tentang iuran irigasi, kemudian masing-masing kelompok mengurangi tuntutan agar tercapai kesepakatan merupakan contoh proses kompromi. Kelompok petani berlahan luas menginginkan iuran irigasi sebesar Rp 20.000,-/bulan. Sementara sekelompok petani berlahan sempit menginginkan iuran irigasi hanya Rp10.000,-/bulan. Setelah melalui proses musyawarah disepakati agar masing-masing mengurangi tuntutannya. Usul petani luas dan petani sempit diambil jalan tengahnya yaitu hanya Rp 15.000,-/bulan.
3) Arbitrasi (perwasitan), yaitu suatu cara untuk mencapai penyelesaian antara dua pihak yang berselisih, dimana pihak-pihak yang berselisih tidak sanggup mencapai penyelesaian sendiri. Pertentangan kemudian diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua pihak atau suatu badan yang kedudukannya lebih tinggi dari kedua belah pihak yang bertentangan. itu.
Misalnya, kita menemui beberapa keluarga yang saling bertentangan karena masalah warisan (gono-gini). Bila keluarga-keluarga yang bertikai itu tidak dapat menyelesaikan secara musyawarah antar keluarga sendiri, maka mereka akan mencoba menyelesaikannya lewat proses pengadilan secara perdata. Penunjukan pengadilan sebagai pihak ketiga yang berkedudukan lebih tinggi dari keluarga, merupakan proses arbitrasi yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
4) Mediasi adalah cara yang dipakai untuk menyelesaikan perselisihan dengan menunjuk pihak ketiga untuk memberikan saran pernikiran bagi terselesaikannya perselisihan tadi. Pihak ketiga tidak mempunyai wewenang untuk memberikan keputusan penyelesaian akhir dari perselisihan yang terjadi.
Misalnya, sepasang suami isteri yang ingin bercerai karena suatu masalah meminta petunjuk BP4 untuk membantu mencarikan jalan keluar terbaik bagi keluarganya. BP4 tentu akan memberikan saran-saran dan pernikiran saja, ia tidak dapat memutuskan apakah suami istri tersebut perlu bercerai atau tidak.
b. Kerja sama
Sebenarnya para pelaku selalu berada dalam konflik dan kooperatif. Keduanya bagaikan dua sisi dalam satu keping uang logam. Pada hakikatnya dalam kerja sama tidak pernah ditemui betul-betul kerja sama yang menghilangkan kepentingan masing-masing, tersirat atapun tersurat. Artinya, dalam situasi kerja sama pun antarpihak akan ada upaya untuk lebih mempengaruhi pihak lain yang menjadi mitra kerja samanya. Jadi dalam situasi kerja sama itupun ada ruang persaingan juga, ini dapat dinamakan dengan ‘persaingan dalam kerja sama(Ismail, 2009).
Dalam situasi persaingan dalam kerja sama tersebut pada suatu waktu dan dalam aspek-aspek tertentu akan ada tindakan untuk saling mempengaruhi dan ‘menang’. Jadi, dalam kerja sama itu akan ada yang dominan (dominasi) juga di lingkungan internal pihak yang bekerja sama, seberapapun intensitasnya.
Dalam situasi apapun (konflik ataupun kooperatif) akan ada persaingan dan tindakan untuk mendominasi, dan karenanya ada ketidaksetaraan dalam relasi kuasa. Antara konflik dan kooperatif sangat tipis batasannya dan keduanya tidak bersifat statis karena kepentingan manusia yang juga tidak statis.
Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya integrasi adalah

3. KONFLIK SOSIAL

a. Pengertian
Konflik sosial adalah pertentangan antar satuan atau kelompok sosial atau lebih, atau potensialitas yang menyebabkan pertentangan. Pengertian ini berarti mencakup kasus konflik (konflik yang sudah terjadi) dan potensialitas konflik(Ismail, 2009).
Dengan demikian konflik dilihat dari bentuk penampakannya dapat dipilah ke dalam potensi konflik dan kasus konflik. Potensi konflik merupakan semua aspek atau kondisi yang dapat menjadi sumber munculnya kasus konflik, sedangkan kasus ‘konflik’ merupakan konflik yang sudah terjadi dan muncul ke permukaan dalam bentuk pemyataan atau tindakan nyata pihak-pihak yang berkonflik.
b. Bentuk-bentuk konflik
d
c. Sumber konflik
Pada hakikatnya semua sumber dan faktor muncuinya konflik merupakan bentuk dari potensi konflik. Sumber dan faktor tersebut meningkat menjadi konflik karena ketidakmampuan satu dan atau kedua belah pihak dalam mengendalikannya. Sumber dan potensi tersebut tetap akan menjadi potensi konflik jika tidak ada suatu individu atau kelompok yang bergerak secara aktif atau radikal serta adanya pengendalian yang dilakukan oleh berbagai pihak yang ada dalam masyarakat tersebut(Ismail, 2009).
Sebab-musabab atau akar-akar dari pertentangan antara lain sebagai berikut;
1) Perbedaan antara individu-individu
Perbedaan pendirian dan perasaan mungkin akan melahirkan bentrokan antara mereka
2) Perbedaan kebudayaan
Perbedaan kepribadian dari orang perorangan tergantung pula dari pola-pola kebudayaan yang menjadi latar belakang pembentukan serta perkembangan kepribadian tersebut. Seorang secara sadar maupun tidak sadar, sedikit banyak akan terpengaruh oleh pola-pola pemikiran dan pola-pola pendirian dari kelompoknya. Selanjutnya, keadaan tersebut dapat pula menyebabkan terjadinya pertentangan antara kelompok manusia.
3) Perbedaan kepentingan
Perbedaan kepentingan antarindividu maupun kelompok termasuk merupakan sumber pertentangan. Wujud kepentingan dapat bermacam-macam; ada kepentingan ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Majikan dan buruh, misalnya, mungkin bertentangan karena yang satu menginginkan upah kerja yang rendah, sedangkan buruh menginginkan sebaliknya.
4) Perubahan sosial
Perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Dan ini menyebabkan terjadinya golongan-golongan yang berbeda pendiriannya, umpama mengenai reorganisasi sistem nilai. Sebagaimana diketahui perubahan sosial mengakibatkan terjadinya disorganisasi pada struktur.

d. Akibat konflik

F. METODE PENELITIAN
1. Pemilihan Lokasi
Desa wisata Mlangi Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penelitian karena daerah ini menjadi tempat pengembangan dan pembaharuan yang dilakukan oleh kelompok organisasi Islam terutama NU dan juga Muhammadiyah.
2. Informan
Informasi dijaring dari informan yang paling banyak mengetahui masalah yang diteliti dan terlibat langsung sebagai pelaku dan tokoh organisasi kelompok Islam, seperti pimpinan ranting dan takmir masjid, para pengajar/guru, masyarakat, serta beberapa kyai pesantren di Mlangi. Informasi juga diperoleh melalui studi bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan kegiatan dakwah setempat.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan tiga teknik pengumpul data yaitu:
a. Teknik wawancara, yaitu penulis mengumpulkan data melalui wawancara dengan pihak-pihak yang bersangkutan yaitu perangkat desa/dusun, pimpinan ranting Muhammadiyah dan NU, takmir masjid, para pengajar/guru, masyarakat, serta beberapa kyai pesantren di Mlangi dengan menggunakan pedoman wawancara. Pedoman wawancara dimaksudkan untuk mengarahkan dan mempermudah pokok-pokok permasalahan yang diwawancarakan dengan sumber data langsung.
b. Observasi yaitu penulis secara langsung mengamati dan mengikuti kegiatan atau acara yang terkait dengan masalah penelitian ini.
c. Dokumentasi, yakni membuat dokumentasi data yang terkumpul, seperti data kondisi masyarakat, organisasi, kegiatan dakwah masjid dan sebagainya dalam bentuk gambar, monograf, arsip dan lain-lain.
4. Keabsahan Data
Dalam hal validitas data, penulis menganggap absah suatu data bila didukung paling kurang tiga sumber. Jadi maslah keabsahan data, penulis menggunakan teknik Tri angulasi.
5. Analisis Data
Analisis kualitatif.

G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Penyusunan skripsi ini terdiri dari empat Bab. Masing-masing Bab ini terdiri dari sub-sub pembahasan. Pembagian ini dimaksudkan untuk mempermudah penulisan ilmiah yang sistematis dan konsisten, terdiri dari pembahasan, analisis masalah, dan pemaparan bentuk-bentuk interaksi sosial antar kelompok Islam. Sebelum memasuki halaman pembahasan skripsi ini diawali dengan halaman judul, halaman nota dinas, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, dan daftar isi. Kemudian setelah Bab terakhir, disertakan pula daftar pustaka, curriculum vitae, dan lampiran-lampiran.
Adapun sistematika pembahasan skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab pertama, berisi tentang pendahuluan yang meliputi : Latar belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Kerangka Teoritik, Metode Penelitian, dan Sistematika Pembahasan.
Bab Kedua, berisi tentang gambaran umum masyarakat Mlangi Yogyakarta yang memuat letak geografis dan kependudukan, agama, ekonomi dan matapencaharian, lembaga pendidikan, tradisi dan budaya. Dalam bab ini juga membahas tentang Muhammadiyah dan NU di Mlangi
Bab ketiga. Bab ini merupakan tema yang menjadi kajian terpusat di mana pada bab ini akan disajikan deskripsi data yang diperoleh dan akan diadakan analisis data. Yaitu tentang integrasi sosial antara ummat Islam warga NU dan Muhammadiyah di Desa Wisata Mlangi Yogyakarta.
Bab Keempat, Bab ini menjadi Bab penutup yang menyangkut kesimpulan, saran-saran, daftar pustaka, curriculum vitae dan lampiran-lampiran.

BAB II
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT MLANGI YOGYAKARTA

A. Letak Geografis dan Kependudukan
Mlangi terletak di sebelah barat laut kota Yogyakarta tepatnya 48Lu 70 Ls. Secara administratif, Mlangi berada di desa Nogotirto, kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Seseorang dapat disebut sebagai orang Mlangi apabila ia tidak hanya tinggal di wilayah itu, melainkan karena masih memiliki hubungan genealogic dengan Mbah Kyai Nur Iman, atau anak keturunannya. Masyarakat Mlangi memaksudkan wilayah Mlangi terdiri dari dua dusun, yakni Mlangi dan Sawahan.
Selain dua dusun tersebut, desa Nogotirto memiliki beberapa dusun lain yakni: Cambahan, Nogosaren, Ponowaren, Karang Tengah, Kwarasan dan Kajor. Desa Nogotirto memiliki luas wilayah 349.000 ha, yang terdiri dari tanah sawah 210.119 ha, tanah pekarangan dan perumahan 134.281 ha, tanah kering 0, 98 ha, kolam 1,10 ha. Selebihnya digunakan untuk lapangan olah raga 1,43 ha, dan kuburan 3,02 ha. Tanah yang diperuntukkan bagi kuburan tersebar dibeberapa tempat, termasuk di daerah Ledok, Sawahan, namun sebagian besar terdapat disekitar masjid jami, atau lebih popular masjid patok negoro.
Penduduk desa ini berjumlah 11.361 jiwa, terdiri dari lakilaki 5.655 jiwa dan perempuan 5.706 jiwa. Jumlah penduduk tersebut tercakup ke dalam 2.191 kepala keluarga (KK), yang terdiri dari 1.751 KK laki-laki dan 440 KK perempuan.
Data-data diatas didapat dari dokumen desa nogotirto, penulis mengaksesnya melalui Pak Dukuh yang bertugas di wilayah Malngi bagian selatan.

B. Lembaga Pendidikan
1. Lembaga Pendidikan Formal
Di desa wisata Mlangi terdapat berbagai lembaga pendidikan formal dan non-formal, khususnya Pesantren. Lembaga pendidikan formal meliputi taman kanak-kanak (TK), berjumlah dua buah, yakni TK Bustanul Athfal dan Masyitoh, yang pertama milik organisasi Muhammadiyah, sedang berikutnya adalah milik NU. Selain TK di dusun yang sama masih ada sekolah dasar (SD) Muhammadiyah, yang didirikan awal 60-an, dengan tokoh perintisnya adalah H. Muhammad Yusuf, H. Yunad. SD Muhammadiyah Mlangi ini telah mencetak lulusan yang berasal dari keluarga kyai dan tokoh-tokoh agama di desa wisata Mlangi, berkat memperkenalkan pemikiran dan gerakan keagaman Muhammadiyah kepada masyarakat yang proporsi jumlah penduduknya lebih didominasi NU.
Ada dua Madrasah Ibtidaiyah di Mlangi. Pertama MI An-Nasyath yang didirikan pada tahun 2009. Sekolah ini berada dibawah naungan pondok pesantren An-Nasyath yang diasuh oleh K.H. sami’an. Kedua MI Al-Falahiyah yang didirikan pada tahun yang sama. Sekolah ini berada dibawah naungan pondok pesantren Al-Falahiyah.
Selain lembaga pendidikan formal yang telah disebut di atas, terdapat juga sekolah menengah pertama (SMP) Ma’arif yang bernaung di bawah yayasan pendidikan NU.

2. Lembaga Pendidikan Non Formal
Lembaga pendidikan non formal yang berupa pondok pesantren (ponpes) sangat menonjol di Mlangi, bahkan di wilayah Yogyakarta kampung ini cukup terkenal sebagai kampung pesantren. Jumlah keseluruhan pondok pesantren yang terdapat di desa wisata Mlangi adalah 16 pondok, yakni:
a. Pondok Pesantren Al-miftah. Menurut keterangan Ky. Hasan, pondok ini adalah pondok pesntren tertua di Mlangi. Sebutan awalnya adalah langgar Lor. Pondok Al-Miftah, dikelola oleh (alm) Kyai Serrudin yang masih memiliki hubungan saudara dengan Kyai Muhtar Dawam, pemilik pondok pesantren Al-Huda. Pondok ini didirikan pada tahun. 1950. dan dikelola oleh Kyai Munahar
b. Pondok Pesantren Assalafiyyah. Pondok ini berdiri tahun 1932 dan merupakan pondok yang sudah berusia tua setelah Al-miftah, sebutan untuk ponpes ini adalah Langgar Kidul. Awalnya diasuh Kyai Masduqi (alm), dan kini digantikan puteranya, Kyai Suja’i, yang dikenal sebagai mursyid tarekat Qodariyah-Naqsabandiyah.
c. Pondok Pesantren An-nasyath, diasuh Kyai Samingan, istrinya merupakan adik kandung Kyai Suja’i, pengasuh ponpes As-Salafiyah yang sekaligus mursyid tarekat Qadariyah-Naqsabandiyah, Mlangi .
d. Pondok Pesantren Hujjatul Islam, yang dikelola Kyai Qodrul Aziz. Dahulu Kyai Qodrul Aziz dikenal sebagai pengusaha batik yang sukses, dan ia pernah menjadi ketua takmir masjid Jami’, sebelum akhirnya digantikan kepengurusannya oleh para kyai yang diketuai oleh Kyai Muhtar Dawam. Kini ta’mir masjidnya adalah KH. Abdulloh.
e. Pondok Ar-Risalah, diasuh oleh KH. Abdullah. Pondok pesantren ini relatif masih muda usianya, dan pada saat ini jumlah santrinya baru mencapai 60 orang. H. Abdullah sebelum mendedikasikan waktunya untuk mengajar di ponpes yang didirikannya, ia dahulu dikenal sebagai pengusaha sukses.
f. Pondok Pesantren Al-Quran, pondok pesantren ini khusus puteri, diasuh oleh Kyai. Abdul Qorim. Selain fokus terhadap Tahfizdul-Qur’an, ponpes ini menjadi tempat ngaji bagi anak-anak kecil seusia TPA.
g. Pondok pesantren Al-Huda, diasuh oleh Kyai Mukhtar Dawam(Alm). Kyai Mukhtar Dawam adalah sosok kyai yang memiliki hubungan dengan sejumlah elit kekuasaan dan partai Golkar di jaman orde baru. Setelah beliau wafat, pondok pesantren ini kurang begitu terkelola.
h. Pondok Hidayatul Muttadiin, merupakan ponpes yang dimiliki oleh H. Nuriman Mukim.
i. Pondok Pesantren Al-Mahbubiyah.
j. Pondok Pesantren Darussalam. Ponpes ini diasuh oleh Ky. Wirdanudin.
k. Pondok Ledok, dahulu diasuh oleh (alm) Kyai Yamah Sari.
l. Pondok Pesantren Al-Falahiyyah. Dipintu masuk ke arah masjid Mlangi terdapat pondok pesantren Al-Falahiyyah, didirikan sekitar tahun 1965, milik (alm) Kyai. Zamroddin, di pesantren ini cukup banyak santri yang menghafalkan Al-Quran, selain mengaji kitab. Nyai Rubiyah, istri almarhum dikenal sebagai seorang penghafal Qur’an (hafizah), dan sekarang pondok tersebut dikelola putera-putera almarhum.
m. Pondok Pesantren Kuno, bertempat di Mbalong, dikelola oleh Kyai Asrori. Pondok Kuno sangat megah, dan memiliki bangunan berlantai tiga. Selain itu. Kyai Asrori dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat dengan BPH Joyokusumo, pengurus Golkar, dan adik Sri Sultan ke X. Selain itu sejumlah fungsionaris partai Golkar se-ring berkunjung ke rumah sang kyai.
n. Pondok Pesantren Kuno Mambaul irfan,berlokasi di belakang Ponpes Al-Falahiyyah.
o. Pondok Pesantren Al-Ikhsan, terletak di Pundung, dikelola oleh H. Baha’udin seorang tokoh muhammadiyah Mlangi. Menurut beberpa informan, pondok ini adalah satu-satunya pondok di Mlangi yang berfaham muhammadiyah.
p. Pondok Pesantren Al-Salimi, diasuh oleh Kyai Salimi. Meskipun letak pondok beberapa ratus meter di sebelah selatan Mlangi, namun Kyai Salimi adalah orang Mlangi

Seluruh pondok pesantren di atas bercorak tradisional, atau salafiyah yang mengajarkan kitab-kitab Islam kuning klasik sebagai ciri utamanya. Kitab klasik tersebut meliputi 8 kelompok: a. nahwu (syntax) dan saraf (morfologi); 2. fiqh; 3. usul fiqh; 4. hadis; 5. tafsir; 6. tauhid; 7. tasawuf dan etika, dan 8. cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghah.7
Dari seluruh pesantren yang tersebut di atas, ada beberapa yang mengelola Pendidikan kesetaraan Wajar Dikdas(setara SLTP) dan PAKET C (setara SLTA). Disamping sebagai bekal santri untuk diterima di masyarakat, pengelolaan ini merupakan wujud mensukseskan Pendidikan Nasional, karena banyak santri yang ternyata tidak sekolah di lembaga formal. Santri yang mengikuti program tersebut akan mendapatkan ijazah yang diakui Negara. Ijazah tersebut biasanya digunakan santri untuk memenuhi persaratan dan tuntutan kerja, namun ada beberapa sampel juga yang menggunakanya untuk melakukan studi lanjut ke Perguruan Tinggi baik memperoleh beasiswa maupun swadana.

C. Tradisi dan budaya
Tradisi dan budaya agamis dan amalan yang masih dilestarikan hingga saat ini, antara lain :
1. Jenang manggul
Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul. Tradisi ini bermula sejak Hamnegkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. Artinya sageto manggul ayahandanipun kyai Nur Iman dalam hajatnya menyebarkan ajaran slam. Semangat inilah yang terus menggelora. Menurut Kyai Nur Iman, dalam memperjuangkan Islam kita harus bersungguh-sungguh. Sebab itu, radisi “jenang manggul”, yang dilakukan dengan memasak bubur dalam jumlah umlah besar, dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini.
2. Merconan
Daerah ini juga dikenal dengan budaya mercon khususnya pada saat bulan Romadhon. Saat memasuki bulan romadhon, para pemuda akan membunyikan petasan. Pesta mercon yang paling ramai pada malam 17 ramadhan dan sebelum shalat Idul Fitri. Budaya ini diyakini oleh masyarakat Mlangi sebagai sarana minta maaf.”Unine mercon kanggo sarono njaluk ngapuro” (suara mercon sebagai sarana untuk meminta maaf). Semakin keras suara mercon dan jumlahnya banyak maka dosa yang diampuni juga semakin banyak. Kebiasaan ini memang telah berlangsung sejak dulu, hingga kini masih berlanjut. Namun mengingat resiko bahaya yang mungkin ditimbulkan, budaya ini pernah sedikit berkurang dan mulai tahun 2010 sudah tumbuh lagi bahkan lebih meriah.
3. Obat tradisional Singgul
Jamu singgul merupakan jamu khas Mlangi. Jamu ini berbahan dasar tanaman obat tradisional dlingo-bengle. Jamu ini memiliki beragam khasiat, diantaranya adalah obat sawan manten dan kepaten, sakit gatal, encok, biduran dan lain-lain.
4. Gladen
Gladen adalah kegiatan membaca kitab maulud dengan diiringi tabuhan rebana. Pelaksanya adalah sekumpulan warga yang ahli “Ngelik”. Kegiatan ini dilakukan pada acara-acara bahagia seperti pernikahan, sunatan dan Aqiqoh.
5. Ziaroh/ngirim Ahli Qubur dengan cara membaca tahlil dan Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas.
Kegiatan seperti ini rutin dilakukan mayoritas penduduk mlangi yang berfaham NU. Ziaroh warga di pemakaman dapat dilihat setiap usai sholat jum’at, malam jum’at terutama hari pasaran kliwon. Makam yang paling sering dikunjungi adalah Makam Mbah Kyai Nur Iman. Seperti makam para auliya’ dan ulama besar yang lain, Makam Mbah Kyai Nur Iman sebagai sentral wisata religi banyak dikunjungi tamu-tamu yang berziarah dari luar daerah, bahkan dari luar Pulau Jawa. Para Peziarah ada yang perorangan maupun berombongan.

6. Membaca Sholawat Tunjina (untuk memohon keselamatan di dalam hajatan-hajatan).
Membaca sholawat kepada nabi bagi warga NU di Mlangi dipercayai sebagai perantaraan untuk menjalani hidup baik disaat suka atau duka.
Disaat mereka dilanda kesusahan, membaca sholawat dapat memberikan ketentraman. Sedangkan disaat bahagia, membaca sholawat merupakan wujud syukur terhadap nikmat Alloh. Para kyai akan selalu membaca sholawat ini diawal do’a pada setiap akhir acara hajatan.

7. Membaca sholawat Nariyah (untuk selamatan orang hajat seperti orang hamil, dan lain-lain).
Pembacaan Sholawat Nariyah ini, bagi warga NU Mlangi lebih khusus dari pada Membaca Sholawat Tunjina. Mereka membaca sholawat ini biasanya untuk keselamatan isteri hamil, anggota keluarga yang sedang sakit, pencalonan kerja/jabatan seperti pilihan lurah dan juga sebagai sarana do’a untuk lepas dari jeratan hukum di peradilan.

8. Membaca Tibbil Qulub
Bagi warga, membaca tibbil sebagai upaya pegobatan sakit. Pembacaan do’a yang termasuk solawat ini kadang-kadang menggunakan tulisan yang difotokopi dan dibagikan kepada jamaah yang belum hafal.
9. Membaca Kalimah Thoyyibah Tahlil Pitung Lekso (Khususnya jika diperlukan untuk obat / tombo sapu jagad).
Tahlil Pitung Lekso artinya tahlil 70.000 kali. Hitungan sebanyak ini akan dibagi sejumlah jamaah yang hadir, sehingga saat dimulai kyai yang memandu acara akan menyampaikan jumlah jamaah dan kyai yang memimpin tahlil akan bertahlil bersama jamaah dan berhenti kira-kira setelah mencapai 70.000 kali totalnya. Acara seperti ini dilakukan saat ada warga yang sakit parah. Tahlil ini dipercayai sebagai penentu, jika memang Allah menghendaki masih hidup, maka diharapkan akan segera sembuh dari sakit. Sebaliknya jika Allah menghendaki untuk meninggal dunia, maka diharapkan segera mencabut nyawanya.
Awal kemunculan tahlil ini, karena dahulu di Mlangi pernah terjangkit wabah penyakit ganas. Atas petunjuk kyai, agar wabah tersebut reda, sejumlah warga harus melakukan “priatinan”dengan cara berjalan mengelilingi Mlangi sambil membaca tahlil 70.000 kali.
Pada tahun tahun 90-an, sebelum bacaan tahlil bersama selesai, dapat dilihat hasilnya di majlis itu. Kalau sampai akhir acara orang yang sakit parah masih hidup, berarti dia akan segera sembuh dan harus melaksanakan nazdarnya untuk meningkatkan ketakwaanya kepada Alloh. Sebaliknya, orang tersebut akan meninggal di majlis itu atau tidak lama setelah selesai pembacaan do’a. Kematian ini diharapkan sebagai kematian khusnul khotimah, karena diakhir khayat orang tersebut tertuntun untuk membaca kalimat Tahlil.
Pada tahun-tahun ini(2011), paling lama jarak kematian(jika meninggal) dan tahlil pitung lekso menurut kebanyakan santri adalah tiga hari.

10. Manaqiban / Abdul Qodiran.
Acara ini berisi pembacaan kitab biografi ulama terkenal, Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jailany. Biasanya acara tersebut dilakukan untuk do’a selamatan, sehari sebelum acara hajatan perikahan/khitanan. Harapan dari acara ini, agar acara yang diselenggarakan lancar, terutama agar tidak hujan pada saat acara.
Pembacaan kitab seperti dalam acara ini, dilakukan dengan lebih meriah pada saat sewelasan yaitu tanggal 11 Robiul Akhir tiap tahun oleh kumpulan jamaah Tarikat Qodiriyah An-Naqsabandiyah di Mlangi.

11. Membaca Maulud Syarful Anam
Biasanya pembacaan dilakukan saat seseorang ulang tahun atau hari kelahiran serta pasarannya. Tidak jarang acara ini juga dilakukan untuk syukuran, agar memperlancar rizqi.

12. Dalam bentuk kesenian :
o Barzanji / Rodadan
o Sholawatan / Kojan dan lain-lain.
BAB III
INTERAKSI SOSIAL ANTAR KELOMPOK ISLAM
DI DESA WISATA MLANGI NOGOTIRTO

A. Bentuk-bentuk integrasi sosial dan konflik warga NU dan Muhammadiyah
Setelah mengadakan wawancara dan pencarian data, penulis mendapatkan beberapa bentuk integrasi yang terjadi antara warga NU dan Muhammadiyah sebagai berikut;
1. Solat di majid Al-Awwab
Masjid awwab merupakan masjid muhammadiyah sejak mulai berdiri sekitar tahun 1987. Masjid ini menjadi pusat dakwah muhammadiyah di Mlangi. Sebelum ada masjid ini central muhammadiyah diawal kemunculanya adalah di masjid Ledok. Ummat islam yang melakukan solat di masjid ini bukan hanya warga muhammadiyah, tetapi justru warga NU lebih banyak. Hal ini karena muhammadiyah termasuk minoritas, sedangkan NU adalah mayoritas.
Berbeda dengan masjid Jami’ Mlangi, masjid Al-Awwab disetiap solat lima waktu, jumlah jamaah yang hadir seimbang antara kaum lelaki dan wanita, dan sering lebih banyak jamaah wanita. Apabila dibandingkan dengan masjid Mlangi yang tidak pernah ada penduduk kaum wanita sekitar yang berjamaah lima waktu. Jika ada jamaah wanita bisa dipastikan musafir atau peziarah kubur.

2. Acara Mauludan di Masjid Al-Awwab
Sebelum ada masjid Al-Awwab, seluruh penduduk Mlangi melaksanakan tradisi Mauludan di masjid Jami’ Mlangi. Mauludan yang dimaksud disini adalah tradisi membaca kitab yang bercerita seputar kelahiran nabi deangan cara dinyanyikan dengan gaya jawa pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Tiap kepala keluarga membuat sepuluh ‘besek makanan’, setelah selesai pembacaan kitab maulud ‘besek makanan’ tersebut dibagikan kepada seluruh orang yang hadir dan diprioritaskan kaum lelaki.
Setelah dibangunya masjid Al-Awwab, perayaan tradisi maulud ini terpisah menjadi dua. Yaitu penduduk Mlangi bagian Utara merayakan di Masjid Jami’ Mlangi. Sedangkan penduduk Mlangi bagian selatan merayakannya di Masjid Al-Awwab. Beberapa penduduk yang berdomisili di tengah-tengah membuat ‘besek makanan’ untuk perayaan kedua-duanya.
Pada perayaan ini, warga Muhammadiyah maupun NU melaksanakan kegiatan bersama-sama. Acara ini menghilangkan sekat antara golongan masyarakat yang merayakanya.

3. Sripah kematian
Kematian seseorang akan mengundang empati orang lain, terutama tetangga dekat dan kerabat. Secara tidak disadari keadaan ini merupakan ajang interaksi sosial antar warga. Pada saat-saat berkabung seperti ini orang tidak terlalu memikirkan tentang golongan termasuk Muhammadiyah atau NU. Kalaupun masih memikirkan golongannya, keadaan berkabung tetap lebih menonjol, sehingga antara warga Muhammadiyah dan NU nyaris tak terpisahkan.
Contoh nyata, pada tanggal 21 Maret 2011 Bapak Abdullah Wahab meninggal dunia. Beliau adalah seorang ustazd pesantren NU. Salah satu anaknya sekolah di SD Muhammadiyah Mlangi. Mulai dari orang yang membantu keluarga, berkunjung(layat) samapai acara pemberangkatan dan pemakaman jenazah, terjadi pembauran antara warga Muhammadiyah dan NU.
4. Sekolah Dasar Muhammadiyah Mlangi
SD Muhammadiyah, yang didirikan awal 60-an, dengan tokoh perintisnya adalah H. Muhammad Yusuf dan H. Yunad. SD Muhammadiyah Mlangi ini telah mencetak lulusan yang berasal dari keluarga kyai dan tokoh-tokoh agama di desa wisata Mlangi. H. Muhammad Yusuf dan H. Yunad telah memperkenalkan pemikiran dan gerakan keagaman Muhammadiyah kepada masyarakat yang proporsi jumlah penduduknya lebih didominasi NU.

5. Bisnis mori dan konveksi
Bisnis kain mori yang ditekuni oleh Gus Zar’an bekerja sama dengan Bapak Haji Mahrus telah berjalan kurang lebih tiga tahun(wawancara dengan karyawan kain mori,Syahir pada 10 mei 2011). Tujuan pasar kain ini adalah daerah Tuban Jawa Timur.
Bisnis yang dilakukan bersama antara warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi berjalan lancar. Sebagian bersar warga pengusaha di Mlangi melakukan bisnis kerja sama seperti ini. Mereka tidak mempermasalahkan perbedaan ormas.

Adapun bentuk-bentuk konflik yang terjadi penulis mendapatkan data beberapa kasus sebagai berikut;
a. Konflik takmir
Sekitar tahun 1980 dalam forum takmir Masjid Jami’ Mlangi mulai terjadi semacam persetruan antar takmir. Perbedaan pendapat dalam masalah bilangan sholat tarwih menjadikan pergolakan dan perkelahian di areal masjid. Melihat kondisi ini, para kyai sepuh memberikan solusi berupa pendirian masjid ledok sebagai tempat bagi jamaah tarwih 8 rokaat. Peletakan batu pertama pembangunan masjid itu dilakukan oleh Kyai Masduqi .
b. Penentuan Hari Raya
Pada tahun 1987 antara warga NU dan Muhammadiyah terjadi perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri. Takmir Masjid Jami’ Mlangi yang pada tahun ini afiliasi ormas Islamnya jelas NU berpatokan dengan hisab . Berbeda dengan Masjid Ledok yang afiliasinya Muhammadiyah, berpatokan dengan rukyat pada saat itu. Perbedaan ini memicu konflik antar warga, akan tetapi tidak sampai pada adu fisik.
c. Tanah wakaf
Setelah mempunyai cukup anggota perserikatan sekitar tahun 1985, tersebar isu bahwa Muhammadiyah di Mlangi berencana untuk mendirikan kantor Cabang Muhammadiyah, tepatnya di sebidang tanah depan Masjid Jami’ Mlangi. Kemunculan isu tersebut memicu sikap warga NU yang merupakan bentuk ungkapan menolak dengan dibangunya kantor Muhammadiyah. Tanah tersebut sampai sekarang terbengkelai.
d. Jum’atan Masjid Ledok
Berpisahnya jamaah tarwih di Masjid Jami’ Mlangi menumbuhkan sikap-sikap fanatik golongan. Khutbah jum’at yang dilakukan di Masjid Ledok beberapa kali pada tahun 1987 dan tahun-tahun berikutnya menyuarakan pendapat-pendapat yang dapat menyinggung warga NU. Dari kejadian inilah bentrok antar pemuda antar Ledok dan Mlangi mudah memanas dan acap kali menimbulkan aksi pelemparan batu .
e. Pemilu 1999
Pada Pemilu 1999 terjadi konflik antar warga NU dan Muhammadiyah. Konflik ini dapat dikatakan bersumber pada masalah perbedaan partai politik . Warga NU mayoritas mendukung PKB, sedangkan Muhammadiyah mendukung PAN.

B. Sebab-sebab integrasi sosial dan konflik warga NU dan Muhammadiyah
Setelah melakukan pengamatan, mengadakan wawancara dan pencarian data pendukung, penulis mendapatkan temuan beberapa sebab terrjadinya integrasi yang terjadi antara warga NU dan Muhammadiyah sebagai berikut;
1. Sebab integrasi dalam hal Solat di majid Al-Awwab
• Kedekatan warga NU dengan masjid itu
• Adanya kekerabatan antar pengikut dua ormas itu.
2. Sebab integrasi dalam hal Acara Sripah Kematian
• Berupa human interes
• Kegiatan berupa social yang tidak mengangkat masalah faham, walaupun men gunakan symbol-simbol tradisi yang menengarahi tradisi NU.
3. Acara Maulud di masjid Awwab
• Bingkai budaya dan tradisi yang sudah mengakar akan mudah sebagai media persatuan.
• Kegiatan ini dapat diartikan sebagai kegiatan tandingan dengan kegiatan serupa di Masjid Jami’ Mlangi
4. dff

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah mengadakan analisis terhadap masalah yang penulis teliti, dapat ditarik kesimpulan secara umum mengenai integrasi sosial antara ummat Islam warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil analisis tentang integrasi, pada umumnya relasi yang terjadi termasuk Integrasi sosial Akomodasi. Yaitu pada kegiatn acara yang bersifat umum seperti pernikahan dan kematian.
2. Berdasarkan analisis kebutuhan (weber), antara warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi memang ternyata saling membutuhkan terutama dalam hal ekonomi, pendidikan dan sosial.
3. Tidak terjadinya konflik antar kelompok islam khususnya Muhammadiyah dan NU di Mlangi adalah lebih karena globalisasi.

B. Saran
Berdasarkan hasil analisis masalah dan kesimpulan bahwa antara warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi ternyata saling membutuhkan terutama dalam hal ekonomi, pendidikan dan sosial, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai masukan dalam melakukan kegiatan bersama antar warga NU dan Muhammadiyah , sebagai berikut:
1. Memaksimalkan kerjasama dibidang Ekonomi. Apabila bisnis antara warga NU dan Muhammadiyah berjalan lancar, maka kemungkinan konflik antara keduanya kecil. Hal ini akan memperkuat Integrasi.
2. Meningkatkan faktor-faktor lain selain dibidang Ekonomi, yaitu faktor keta’miran masjid dengan cara membagi jatah imam rowatib dan khutbah di masjid Al-Awwab, faktor kekerabatan dengan mempertalikan warga NU dan Muhammadiyah untuk dinikahkan. Kedua faktor ini sangat signifikan untuk memperkuat integrasi antara warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi.
3. Terus-menerus melakukan kegiatan bersama di tengah masayarakat dengan menentukan pendekatan yang tepat sesuai dengan kondisi dan tingkat kecerdasan kelompok sasaran sehingga akan meningkatkan pemahaman tentang wawasan organisasi dan kehadirannya di tengah-tengah mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Fedyani Saifudin, Konflik dan Integrasi, Jakarta: CV. Rajawali, 1986.
Ishomudin, Sosiologi Perspektif Islam, Malang: UMM Press, 2005.
Jabal Tarik Ibrahim, Sosiologi Pedesaan, Malang: UMM Press, 2002.
Lucia Ratih Kusmadewi, Relasi Sosial antar Kelompok Agama di Indonesia, FISIP UI: Bahan Ajar Mata Kuliah Sistem Sosial Indonesia, Semester Genap 2009/2010.
Nawari Ismail, Interaksi Sosial, KPI UMY: Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Dakwah, Semester Genap 2009/2010.
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: CV. Rajawali, 1982.
Zuly Qodir, “Mempersempit Jarak Muhammdiyah dan NU”, Jakarta: Artikel Kompas, 6 Juli 2001.
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA
Ke tokoh masyarakat Umum
1. Kapan dan siapa tokoh islam yang pertama mengembangkan islam di Mlangi?
2. Bagaimana Sejarah dan perkembanganya?
Ke tokoh dan warga Muhammadiyah
1. Menurut anda, dahulu mana antara muhammadiyah dan NU di Mlangi?
2. Pada tahun berapa kira-kira muhammadiyah mulai bergerak di mlangi dan bagaimana perkembanganya?
3. Pernah terjadi konflik antara muhammadiyah dan NU. Tapi akhir akhir ini terlihat warga Muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan bersama. Pernahkah bersosialisasi/bekerja sama dengan warga NU?
4. Pada Acara/hal apa saja antara orang Muhammadiyah dan NU dapat berjalan bersama?
5. Menurut anda, Apa sebabnya antara orang muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan tersebut secara bersama?
Ke tokoh dan warga NU
1. Menurut anda, dahulu mana antara muhammadiyah dan NU di Mlangi?
2. NU sulit dilihat, tapi kalau bisa disebutkan kira-kira pernah ada kantor cabang atau ranting NU di Mlangi. Bagaimana menurut anda kemunculan dan perkembangan NU di Mlangi?
3. Pernah terjadi konflik antara muhammadiyah dan NU. Tapi akhir akhir ini terlihat warga Muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan bersama. Pernahkah bersosialisasi/bekerja sama dengan warga Muhammadiyah?
4. Pada Acara/hal apa saja antara orang Muhammadiyah dan NU dapat berjalan bersama?
5. Menurut anda, Apa sebabnya antara orang muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan tersebut secara bersama?

Ke wali murid dan Guru SD Muhammadiyah
1. Apa alasan menyekolahkan anak anda di SD Muhammadiyah tidak di Negeri atau MI yang ada di Mlangi?
2. Pak/Bu Guru, kira-kira apa sebab orang NU menyekolahkan di sini?
Ke Murid dan Alumni SD Muhammadiyah
1. Bagaimana keakraban anda dengan teman sekolah anda yang Muhammadiyah?
Ke Intelek di Mlangi
1. Teori apa yang mungkin dapat digunakan untuk menganalisa depolarisasi NU dan Muhammadiyah yang sekarang terlihat terjadi di Mlangi?
2. Menurut anda, Apa sebabnya antara orang muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan bersama dalam ritual/acara tertentu?
Ke dukuh Mlangi dan Sawahan
1. Berapa jumlah peduduk, terus yang laki-lakinya dan perempuanya berapa?
2. Kira-kira kalau diprosentase, berapa PNS, wiraswasta, buruh?
3. Siapakah tokoh-tokoh organisasi/kelompok islam khususnya NU-Muhammadiyah?
4. Sebelum masa jabatan anda pernah terjadi konflik di Mlangi, misalnya tawuran mlangi-ledok, tawuran saat peletakan batu pertama tanah wakaf Muhammadiyah, tawuran masalah bilangan solat tarwih di Masjid Pathok Nagari. Adakah peristiwa konflik selain itu dan apakah ada proses damai dan hukum?
5. Selama masa jabatan anda pernahkah terjadi konflik di Mlangi, kalau ada berupa apa?
6. Apa saja kegiatan yang melibatkan kedua ormas dan terjadual secara rutin, atau barangkali pernah ada izin-izin kedukuh dari ormas islam dalam hal kegiatan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: