:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Syaikh Muhammad Nazim Adil al Qubrusi al Haqqani

“Sebagaimana kalian mempercayai Mursyid, dia juga harus mempercayai kalian agar kalian dapat menjaga apa yang telah diamanahkan” “Yang lebih penting daripada ilmu ialah pemindahan ilmu tersebut dari hati ke hati ”

“KedaulatanNya adalah Melalui KekekalanNya” “Kita tidak minta untuk dikenali dan menjadi sesuatu, karena selagi kita menginginkannya, maka kita masih belum lagi sempurna” Perjumpaan dengan para awliya meringankan beban kita dan kita akan merasa ringan dan gembira” , “Adalah mustahil untuk kita memahami diri kita. Sekurang-kurangnya kita perlu melihat cermin, karena tiada siapapun yang dapat mengenali kepincangan di dalam dirinya ”

“Saya tidak berkata, “Ikut saya,” karena saya tahu siapa yang akan ikut ”

“Keikhlasan dan politik tidak serasi sebagaimana iman dan penipuan ”

“Perbedaan kamu dengan mursyidmu ialah kamu bermegah-megahan”

“Urusan tariqat adalah serius, kami ingin membuat kamu bertanggungjawab”

“Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wa aalihi wasallam dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya sholawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau yang untuk ini Allah mendukung kita!”

“Murid yang sesungguhnya dalam Tariqah Naqshbandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, dan adalah tugas kita untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu, karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqshbandi atau bukan”.

“Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara Rijal-Allah, Para Kekasih Allah, bahwa keragaman jalan ini adalah “diperuntukkan bagi” mereka yang belum terhubungkan dan mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, dan belum mendapatkan ‘amanat’-nya, sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain”.

“Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari Kebangkitan. “Karena itu, kita, para Murid dari jalan-jalan Tariqah mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan Allah dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan masuk dalam lingkaran tertinggi dari suhba (persahabatan) dan jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan”.

“Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci. Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita Cinta”.

“Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang dicintai. ITTIBA’ bermakna untuk mencintai dan mengikuti, sementara ITA’AT bermakna [hanya] untuk mengikuti. Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tapi tidaklah selalu karena cinta.”

“ Allah Ta’ala menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah Ta’ala mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya. Dan setiap orang yang mencintai Awliya’ dan Anbiya’, melalui Awliya’ mereka akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah Ta’ala.” “Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi. Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah Ta’ala akan mencintai kalian?”

“Namun manusia kini sudah seperti kayu kering, mereka menyangkal cinta. Mereka adalah orang-orang yang kering – tak ada kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, bersemi dan berbunga di kala musim semi”. “Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, mereka tak akan pernah berbunga. Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia.

Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya.” “Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari iman. Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!”

Kata-Kata Mutiara Hikmah Syaikh Muhammad Effendi al Yaraghi

“Berjanjilah Wahai Manusia, untuk menghentikan semua kebiasan buruk dan selanjutnya menjauhi perbuatan dosa. Gunakan waktumu siang dan malam di Masjid. Beribadalah kepada Tuhan dengan semangat dan memohonlah ampunan dengan meratap kepadaNya”.

“Kapankah Allah SWT tidak senang kepada hambaNya? Yaitu ketika seorang hamba merasa terganggu dengan lamanya berdzikir secara kolektif. Jika cintanya pada Allah swt adalah Cinta Sejati, maka itu akan terasa seperti sekejap mata”.

“Depresi dalam hati berasal dari tiga macam penyakit, yaitu : Kehilangan keharmonisan dengan alam, Mengikuti kebiasaan yang menyimpang dari sunah Rasulullah saw dan Mengikuti orang-orang yang korup dan fasik”.

“Para Pencari dan Murid tidak menginginkan apapun bagi diri mereka, kecuali yang Allah SWT telah tetapkan baginya. Dan tidak membutuhkan apapun dari alam semesta ini, kecuali Tuhannya”. “Ketika hati sangat mendambakan untuk menyaksikan Zat Allah Azza wa Jalla, maka Allah SWT akan mengirimkan Sifat-SifatNya, sehingga mereka akan menjadi tenang , tentram dan merasa sangat bahagia”.

“Cinta seorang beriman bagaikan sebuah cahaya dalam hatinya”. “Islam berarti menyerahkan hatimu kepada Tuhanmu dan tidak menyakiti orang lain, baik dengan perkataaan maupun perbuatan”. “ Allah tidak akan pernah mengangkat seseorang yang yang mencintai Uang”

“Barangsiapa mendatangi Allah swt dengan hatinya, maka Allah swt akan mengirimkan hati seluruh hambaNya kepadanya” “Jika para pecinta mengungkapkan cinta mereka kepadaNya, maka dari deskripsinya itu setiap pecinta akan meninggal”“Kalian bukan Muslim, bukan Kristen dan bukan pula Atheis… Rasulullah saw bersabda,” Dia yang mematuhi Al-Quran dan menyebarkan Syariahku adalah seorang muslim sejati” “Dia yang bertindak menurut perintahku akan berdiri di surga lebih tinggi daripada semua Awliya yang telah mendahuluiku”

Kata-Kata Mutiara Hikmah Syaikh Syarafuddin Ad Daghestani

“Melalui pemahaman akal saja, manusia tidak mungkin bisa memanen buah dari Rahasia-Rahasia Allah. Tubuh manusia tidak dapat mencangkup Realitas Makna mengenai Allah swt. Tubuh manusia mustahil mencapai Kerajaan Yang Tersembunyi dari Yang Maha Unik”

“Jika Para Pencari terus melakukan Dzikr dengan Nama “Allah” Yang Maha Suci maka dia akan mulai berjalan ditempat Dzikir itu yang jumlahnya ada 7 tingkatan. Setiap pencari yang terus melakukan Dzikr “ Allah” dalam hati, mulai dari 5000 hingga 48.000 setiap harinya, akan mencapai tingkat kesempurnaan dalam dzikr itu. Pada saat itu dia akan menemukan bahwa hatinya terus mengucapkan nama “ Allah, Allah, Allah” tanpa perlu menggerakkan lidah. Dia akan membangun kekuatan internal dengan membakar kotoran didalamnya, karena api dzikr melalap semua pengotor hati. Tidak ada yang tersisa kecuali Permata yang Bersinar dengan Kekuatan Spiritual”.

“Beliau tidak pernah menyebutkan sesuatu yang telah berlalu. Beliau tidak pernah menerima suatu gunjingan dan akan mengusir pelakunya dari asosiasi. Setiap orang yang duduk dalam asosiasinya, mereka akan merasakan bahwa kecintaan akan dunia akan lenyap dari hati mereka, beliau mengatakan, Jangan Duduk tanpa berdzikir, karena kematian selalu mengikutimu”.

“Beliau berkata,”Peristiwa yang paling membahagiakan bagi umat manusia adalah ketika dia meninggal, karena ketika dia meninggal dosanya juga ikut mati bersamanya”. “Setiap pencari yang tidak membiasakan diri dan melatih dirinya untuk berpuasa disiang hari dan bangun dimalam hari untuk beribadah dan melayani saudaranya, tidak akan memperoleh kebaikan dalam tareqat ini” “Setiap orang mempunyai karakter baik yang bercampur dengan karakter buruk. Ketika kamu melakukan bay’at, seluruh perbuatan buruk yang telah engkau lakukan sebelumnya, aku ganti dengan perbuatan baik. Kecuali dua hal, yaitu keinginan seksual dan kemarahan”

“Beliau berkata,”Wahai anakku, kita adalah hamba-hamba yang berada didepan pintu Rasulullah saw dan didepan pintu Allah SWT. Apapun yang kita minta dari Mereka, Mereka akan menerima permintaan kita, karena kita berada dalam kehadiratNya dan kita adalah satu. Apa yang kami inginkan darimu adalah agar kamu senantiasa melakukan dzikr Tarekat Naqsbandi”

Mawlana Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri

“Beliau berkata, “Aku tidak tergantung pada upaya murid, tetapi Aku bergantung kepada cahaya yang Allah berikan kepadaku untuk murid itu. Aku mengangkatnya dengan cahaya itu, karena Aku tahu tidak mungkin muridku itu meraih Maqam Tanpa Sekat dengan usahanya sendiri” .“Itulah arti dari do’a Rasulullah saw, “Ya Allah, jangan tinggalkan aku kepada egoku walau hanya sekejap.”

“Allah swt telah menyediakan rezeki bagi hamba-hamba-Nya. Siapapun yang tidak mengetahui hikmah mengenai rezeki hariannya yang Allah berikan kepadanya, dia akan dianggap lalai dalam Thariqat Naqshbandi kita.” “Orang yang dapat mencapai Realitas Thariqat ini sangat jarang. Dengan kekuatan Realitas itu, orang dapat meraih semua Wali di dunia ini, dan dengan Kekuatan Ilahi yang dianugerahkan ketika kalian mencapai Realitas dari Thariqat ini, kalian dapat meraih semua malaikat, satu demi satu.”

“Cahaya spiritual yang Allah swt berikan kepadamu di jalan ini adalah Penunjuk Jalan yang menerangi Jalan menuju Kehadirat Ilahi tanpa rasa takut.” “Dalam thariqat ini, memuliakan sesuatu selain Allah swt adalah kafir.”

“Sufi adalah orang yang telah meninggalkan dunianya, Hari Akhiratnya, dan Kehadirat Ilahi di belakang dan mereka yang hidup menyatu dengan-Nya” “Aku tidak ingin dikenal di dunia ini setelah Aku meninggalkannya, karena Aku tidak mengharapkan diriku mempunyai suatu eksistensi”

“Kesombongan tidak pernah memasuki hati seseorang tanpa mengakibatkan penurunan derajat pikirannya setara dengan meningkatnya jumlah kesombongan dalam hatinya”. “Kesulitan mungkin akan menyentuh orang-orang yang beriman, tetapi kesulitan itu tidak akan mempengaruhi orang yang berdzikir.”

“Sudah tentu engkau akan mendengar kami, bahkan binatang buas di hutan pun mendengarkan kami ketika kami pergi ke sana untuk berdzikir. Kuda-kuda ini pun mendengarkan kami dan tidak akan bergerak kecuali atas perintah kami”

“Setiap orang yang berjuang di jalan Allah akan disediakan rezeki baginya. Dan itulah yang Allah katakan dalam al-Qur’an, “Setiap kali Zakariyya masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, dia mendapati makanan di sisinya.” [3:37].

Abu Bakar ash-Shiddiq ra

“Tolonglah Aku, jika Aku benar dan koreksilah Aku jika Aku salah. Orang-orang yang lemah di antara kalian harus menjadi kuat bersamaku sampai atas Kehendak Allah , haknya telah disyahkan. Orang-orang yang kuat di antara kalian harus menjadi lemah bersamaku sampai, jika Allah menghendaki, Aku akan mengambil apa yang harus dibayarnya”

“Patuhilah Aku selama Aku patuh kepada Allah dan Rasulullah, bila Aku tidak mematuhi Allah dan Rasulullah, jangan patuhi Aku lagi.” “Tidak ada pembicaraan yang baik, jika tidak diarahkan untuk memperoleh ridha Allah swt”. “Tidak ada manfaat dari uang jika tidak dibelanjakan di jalan Allah. Tidak ada kebaikan dalam diri seseorang jika kebodohannya mengalahkan kesabarannya. Dan tidak akan jika seseorang tertarik dengan pesona dunianya yang rendah, Allah ridha kepadanya selama dia masih menyimpan hal itu dalam hatinya.”

“Kita menemukan kedermawanan dalam Taqwa (kesadaran akan Allah), kekayaan dalam Yaqin (kepastian), dan kemuliaan dalam kerendahan hati.” “Waspadalah terhadap kebanggaan sebab kalian akan kembali ke tanah dan tubuhmu akan dimakan oleh cacing.”

“Ketika beliau dipuji oleh orang-orang, beliau akan berdo’a kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, Engkau mengenalku lebih baik dari diriku sendiri, dan Aku lebih mengenal diriku daripada orang-orang yang memujiku. Jadikanlah Aku lebih baik daripada yang dipikirkan oleh orang-orang ini mengenai diriku, maafkanlah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui, dan janganlah jadikan Aku bertanggung jawab atas apa yang mereka katakan.”

“Jika kalian mengharapkan berkah Allah , berbuatlah baik terhadap hamba-hamba-Nya.”

“Suatu hari beliau memanggil ‘Umar ra dan menasihatinya sampai ‘Umar menangis. Abu Bakar berkata kepadanya,“Jika engkau memegang nasihatku, engkau akan selamat, dan nasihatku adalah ‘Harapkan kematian selalu dan hidup sesuai dengannya”

“Mahasuci Allah yang tidak memberi hamba-hamba-Nya jalan untuk mendapat pengetahuan mengenai-Nya kecuali dengan jalan ketidak berdayaan mereka dan tidak ada harapan untuk meraih pencapaian itu”

Ala’uddin al-Bukhari al-Attar

“Dalam keadaan depresi, engkau harus banyak beristighfar (memohon ampunan Allah), dan dalam keadaan bergembira, harus banyak bersyukur kepada Allah swt”

“Sebagai pertimbangan kedua keadaan ini, kontraksi (menciut) dan ekspansi (mengembang), adalah arti dari wuquf zamani”.

“Aku diberi kekuatan oleh Syaikhku, Syah Naqsyband, sedemikian rupa sehingga bila Aku ingin memfokuskan setiap orang di alam semesta ini, Aku akan mengangkat mereka semua ke tingkat ihsan.” “Niat dalam berkhalwat adalah untuk meninggalkan segala hubungan duniawi dan mengarahkan diri kepada Kebenaran Surgawi”

“Dikatakan bahwa para pencari dalam pengetahuan eksternal harus memegang teguh Tali Allah , sedangkan para pencari pengetahuan internal harus terikat kuat kepada Allah”

Tingkat Kefanaan

“Ketika Allah membuatmu lupa akan kekuatan duniawi maupun Kerajaan Surgawi, itu adalah Kefanaan yang Mutlak. Dan Jika Dia membuatmu lupa akan Kefanaan yang Mutlak itu, itu adalah Inti dari Kefanaan yang Mutlak.”

Perilaku yang Benar

“Kalian harus berada pada tingkat yang sesuai dengan orang-orang disekitarmu dan menyembunyikan keadaanmu yang sebenarnya dari mereka, karena Rasulullah bersabda, ‘Aku telah diperintahkan untuk berbicara kepada orang-orang sesuai dengan apa yang bisa dimengerti oleh hati mereka.’” “Waspadalah dalam menyakiti hari para Sufi.

Jika engkau menginginkan persahabatan mereka, pertama kalian harus belajar bagaimana bertingkah laku di hadapan mereka. Kalau tidak kalian akan menyakiti diri sendiri, karena jalan mereka adalah jalan yang paling lembut. Disebutkan bahwa, ‘Tidak ada tempat di Jalan Kami bagi orang-orang yang tidak mempunyai perilaku yang baik.’”

“Jika kalian berpikir bahwa kalian telah berperilaku baik berarti engkau salah, karena memandang dirimu baik adalah suatu kesombongan.”

Mengenai Ziarah Kubur

“Manfaat yang dapat dipetik dari ziarah ke makam Syaikh kalian tergantung dari pengetahuanmu tentang mereka.” “Berada di dekat makam orang-orang yang shaleh mempunyai pengaruh yang baik terhadap dirimu, walaupun lebih baik untuk mengarahkan dirimu kepada jiwa mereka dan hal itu bisa membawa pengaruh spiritual yang tinggi”

“ Rasulullah saw bersabda, ‘Kirimkanlah do’a kepadaku di mana pun engkau berada.’ Ini menunjukkan bahwa kalian dapat mencapai Rasulullah saw di mana pun kalian berada, dan itu juga berlaku untuk semua Walinya, karena mereka mendapat kekuatan dari Rasulullah saw”

“Adab, atau perilaku yang benar dalam berziarah adalah dengan mengarahkan dirimu kepada Allah dan membuat jiwa-jiwa ini sebagai jalanmu (wasilah) menuju Allah, merendahkan hatimu kepada Ciptaan-Nya”

“ Kalian merendahkan hati secara eksternal kepada mereka dan secara internal kepada Allah. Menunduk di hadapan orang lain tidak diizinkan kecuali kalian memandang mereka sebagai perwujudan Tuhan. Dengan demikian kerendahan hati itu tidak diarahkan kepada mereka, tetapi diarahkan kepada Tuhan yang tampak dalam diri mereka, dan itulah Tuhan.”

Dzikir yang Terbaik

“Jalan untuk berkontemplasi (merenung) dan meditasi lebih tinggi dan lebih sempurna daripada berdzikir dengan kalimat la ilaha illallah. Para pencari, melalui kontemplasi dan meditasi (muraqabat), dapat meraih pengetahuan internal dan mampu memasuki Kerajaan Surgawi. Dia akan diberi kekuasaan untuk melihat Makhluk Allah dan mengetahui apa yang terlintas dalam benak mereka, bahkan gosip atau bisikan terkecil dalam hatinya pun dapat diketahuinya. Dia akan diberi kekuasaan untuk mencerahkan hati mereka dengan cahaya inti dari inti tingkat Ke-Esaan”

Melindungi Hati

“Diam adalah keadaan terbaik, kecuali dalam tiga kondisi: kalian tidak boleh berdiam diri dalam menghadapi gosip buruk yang menyerang hatimu, kalian tidak boleh berdiam diri dalam mengarahkan dirimu untuk mengingat Allah, dan kalian tidak boleh berdiam diri ketika pandangan spiritual dalam hatimu memerintahkan untuk bicara”

“Melindungi hatimu dari pikiran jahat sangatlah sulit, dan Aku melindungi hatiku selama 20 tahun dengan tidak membiarkan ada satu godaan pun yang memasukinya”

“Amalan terbaik dalam Thariqat ini adalah menghukum godaan dan gosip di dalam hati”

“Aku tidak senang terhadap beberapa murid, karena mereka tidak berusaha untuk menjaga keadaan pandangan spiritual yang muncul kepada mereka”

Cinta terhadap Syaikh

“Jika hati para pengikut (murid) dipenuhi dengan cinta terhadap Syaikh, maka cinta ini mengalahkan semua cinta dalam hatinya, sehingga hati itu dapat menerima transmisi Pengetahuan Ilahi, yang tidak berawal dan tidak berakhir”

“Murid harus menceritakan semua keadaannya kepada Syaikhnya, dan dia harus merasa yakin bahwa dia tidak akan mencapai tujuannya kecuali melalui kepuasan dan cinta Syaikhnya”

“Dia harus mencari kepuasan itu dan dia harus tahu bahwa semua pintu telah terkunci, internal dan eksternal, kecuali satu pintu, yaitu Syaikhnya. Dia harus mengorbankan dirinya demi Syaikhnya”

“Walaupun dia telah mempunyai pengetahuan tertinggi dan mujahada (kapasitas untuk berusaha) yang paling tinggi, dia harus meninggalkan semuanya dan sadar bahwa dia tidak ada artinya di hadapan Syaikhnya”

“ Para pencari harus memberikan otoritas penuh kepada Syaikh dalam segala urusannya, baik religius maupun duniawi, sedemikian sehingga dia tidak mempunyai keinginan selain keinginan Syaikhnya” “Tugas Syaikh adalah melihat aktivitas murid sehari-hari, memberi nasihat dan memperbaiki dirinya dalam kehidupan dan agamanya serta menolong mereka untuk menemukan jalan terbaik untuk mencapai realitasnya”

“Mengunjungi Awliya adalah suatu Sunnah Wajiba, yaitu suatu kewajiban setiap pencari, paling tidak setiap hari, atau setiap hari lainnya, dan senantiasa menjaga batas dan kehormatan antara dirimu dengan Syaikh”

“Jika jarak antara kalian dengan Syaikh cukup jauh, kunjungilah beliau paling tidak sekali sebulan atau dua bulan sekali agar hubungan kalian tidak terputus, Janganlah kalian puas hanya tergantung pada koneksi antara hatimu dengan hati mereka”

“Aku memberi jaminan kepada setiap pencari dalam thariqat ini, jika dia meniru Syaikh dengan hati yang tulus, pada akhirnya dia akan menemukan realitasnya”

“Syah Naqsyband memerintahkan Aku untuk meniru beliau dan apa pun yang Aku lakukan untuk meniru beliau, sehingga dengan segera Aku dapat memetik hasilnya.”

“Namun demikian beliau juga memperingatkan, Para Guru dalam thariqat kita tidak dapat dikenali kecuali dalam Maqam yang Penuh Warna dan Perubahan (Maqam at-Talwin). Siapa pun yang meniru tingkah laku mereka dalam maqam itu, dia akan berhasil, namun demikian, barang siapa yang meniru tingkah laku mereka dalam Maqam Ihsan, maqam yang penuh kesempurnaan, dia akan tersesat. Dan dia hanya akan selamat dari penyimpangan itu jika gurunya memberi rahmat dan mengungkapkan Realitas dari Maqam itu kepadanya.”

“Maqam yang Penuh Warna dan Perubahan adalah tempat di mana para pencari berjuang keras dengan puasa, ibadah, khalwat, dan dengan mempertahankan cinta dan penghormatannya kepada gurunya dari satu kesulitan kepada kesulitan yang lain”

“Meniru gurunya dalam tahap ini akan mendatangkan keberhasilan, karena gurunya sangat ahli dalam semua urusan ini. Namun, jika dia meniru gurunya ketika sedang berada dalam Maqam Kesempurnaan, dia akan berada dalam bahaya, seperti halnya ketika dia ingin terbang tanpa mengembangkan sayapnya lebih dahulu”

Perjalanan Pencarian

“ Penting sekali bagi para pencari untuk mendaki gunung sebelum dia menikmati pemandangan di puncak. Untuk mendaki gunung, para pencari harus melakukan perjalanan dari dunia yang rendah menuju Kehadirat Ilahi. Dia harus menempuh perjalanan dari dunia ego yang penuh realitas sensual menuju kesadaran jiwa akan Realitas Ilahi”

“ Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, para pencari harus membawa gambaran mengenai Syaikhnya (tasawwur) ke dalam hatinya, karena itu merupakan jalan terkuat untuk melepaskan seseorang dari genggaman rasa”

“Dalam hatinya Syaikh menjelma menjadi cerminan dari Inti yang Mutlak. Jika dia berhasil, maka ia akan tiba dalam keadaan ghayba atau “absen” dari dunia yang penuh rasa, dan akan tampak pada dirinya. Untuk mengukur bahwa keadaan ini semakin meningkat dalam dirinya,

murid merasakan ketertarikan terhadap rasa duniawi akan melemah dan hilang, lalu pada dirinya mulai tampak Maqam Kehampaan Mutlak dalam merasakan hal-hal yang lain selain Allah” “Tingkat paling tinggi dari maqam ini disebut Maqam Pemusnahan (fana’). Syah Naqsyband menasihati muridnya, “Ketika Aku mengalami keadaan tanpa kesadaran, tinggalkanlah Aku sendiri dan serahkan dirimu pada keadaan itu dan terimalah haknya atas diri kita”

“Mengenai perjalanan ini, Syaikh Alauddin berkata kepada muridnya, Jalur terpendek menuju sasaran kita yaitu Allah, adalah saat Allah menghilangkan sekat dari Inti Wujud Ke-Esaan-Nya yang tampak pada semua makhluk ciptaan-Nya”

“Dia melakukan hal ini dengan Maqam Penghapusan (ghayba) dan Peleburan dalam Ke-Esaan-Nya yang Mutlak (fana’), sampai Inti Kemegahan-Nya mulai tampak dan menghilangkan kesadaran akan segala hal selain Dia Ini adalah akhir dari Perjalanan Mencari Allah dan awal dari Perjalanan yang lain” “Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Keadaan yang Penuh Daya Tarik muncullah Keadaan Tanpa Kesadaran dan Pemusnahan. Inilah yang menjadi target semua ummat manusia sebagaimana Allah swt berfirman dalam al-Qur’an, “Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Ibadah di sini maksudnya adalah Pengetahuan Yang Sempurna (Ma’rifat)”

Wafatnya

“Pada tanggal 2 Rajab 802 H, Syaikh Alauddin berkata, “Aku akan meninggalkan kalian menuju kehidupan yang lain dan tak seorang pun yang dapat menghentikan Aku.”

Shaikh Muhammad Baba as-Samasi

“Para pencari harus selalu berusaha untuk mematuhi Perintah Allah, dan dia harus selalu berada dalam keadaan suci. Pertama dia harus mempunyai hati yang bersih sehingga tidak akan berpaling kepada apa pun kecuali Allah. Selanjutnya dia harus menjaga agar bagian dalam tubuhnya tetap suci, dan tidak diperlihatkan kepada orang lain, Yaitu dengan cara melihat dengan pandangan yang benar”

“Kesucian dada (sadr), terdiri atas harapan dan kepuasan terhadap Kehendak Ilahi. Kemudian kesucian jiwa, yang terdiri atas kesederhanaan dan penghormatan yang tinggi. Kemudian kesucian perut dengan hanya memakan makanan yang halal dan pantangan.

Diikuti dengan kesucian badan yaitu dengan meninggalkan keinginan. Diikuti dengan kesucian tangan yang terdiri atas keshalehan dan ikhtiar. Kemudian kesucian dari dosa yaitu dengan menyesali kesalahan yang telah dilakukan. Selanjutnya kesucian lidah, yang terdiri atas dzikir dan istighfar. Kemudian dia harus mensucikan dirinya dari kelalaian dan kealfaan, dengan mengembangkan ketakutan terhadap Akhirat”

“Kita harus selalu beristighfar, berhati-hati dalam segala urusan, mengikuti langkah orang-orang yang shaleh, mengikuti ajaran internalnya, dan menjaga hati dari segala godaan”
“Jadilah orang yang terbimbing dengan ajaran Syaikhmu, sebab ajaran itu dapat menyembuhkanmu secara langsung dan lebih efektif daripada membaca buku”

Ketika bersama Syaikhmu

“Kalian harus menjaga asosiasi dengan seorang Wali. Dalam asosiasi itu kalian harus menjaga hatimu dari gosip dan tidak boleh berbicara di tengah kehadirannya dengan suara yang keras, kalian juga tidak perlu menyibukkan diri dengan shalat dan ibadah sunnah ketika sedang bersamanya”

“Jagalah kebersamaanya dalam segala hal. Jangan berbicara ketika mereka sedang berbicara. Dengarkan apa yang mereka katakan. Jangan melihat apa yang mereka miliki di rumah, terutama di kamar dan dapurnya”

“Jangan berpaling kepada Syaikh yang lain tetapi yakinlah bahwa Syaikhmu akan membuatmu tiba di tujuanmu. Jangan menyambungkan hatimu dengan Syaikh yang lain, bisa saja kalian akan terluka karena melakukan hal itu”

“ Tinggalkan apa pun yang telah kalian kumpulkan semasa kanak-kanakmu.”

“Dalam menjaga kehadirat Syaikhmu, kalian tidak boleh menyimpan sesuatu dalam hatimu kecuali Allah SWT dan Nama-Nya”

“Suatu ketika Aku bertemu dengan Syaikhku, Syaikh ‘Ali ar-Ramitani.

Ketika Aku memasuki kehadiratnya, beliau berkata kepadaku,‘Wahai anakku, Aku kirimkan keinginan mi’raj ke dalam hatimu’ Segera setelah beliau mengatakan hal itu beliau menempatkan diriku ke dalam keadaan dengan panorama spiritual, di mana Aku melihat diriku berjalan siang dan malam, dari negriku menuju Masjid al-Aqsa, Aku memasuki masjid dan Aku melihat seseorang yang bepakaian serba hijau di sana. Beliau berkata kepadaku, ‘Selamat datang, kami telah menantimu sejak lama »

Aku berkata, ‘Wahai Syaikhku, Aku meninggalkan negriku pada tanggal sekian. Tanggal berapa sekarang?’ Beliau menjawab, ‘Hari ini adalah 27 Rajab.’ Aku sadar bahwa Aku telah melakukan perjalanan selama 3 bulan untuk mencapai masjid itu, dan yang membuatku terkejut adalah bahwa Aku tiba di malam yang sama dengan malam isra mi’raj Rasulullah

“Beliau berkata kepadaku, ‘Syaikhmu, Sayyid ‘Ali ar-Ramitani telah menantimu sejak lama di sini.’ Aku masuk ke dalam, dan Syaikhku sudah siap untuk menjadi Imam dalam rangkaian shalat malam. Setelah menyelesaikan shalatnya beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Wahai anakku, Aku telah diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk menemanimu dari Masjid Kubah ke Sidratul Muntaha, tempat yang sama di mana beliau mengalami mi’raj.’ Ketika beliau selesai berbicara orang yang serba hijau itu membawa dua makhluk yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kami menunggangi kedua makhluk tersebut dan mengangkasa. Setiap kali kami naik, kami mendapatkan pengetahuan yang terdapat di tingkat antara Bumi dan Surga itu.”

“Mustahil melukiskan apa yang kami lihat dan kami pelajari dalam mi’raj itu, karena kata-kata tidak bisa mengekspresikan apa yang berhubungan dengan hati, kata-kata tidak bisa mengungkapkannya kecuali dengan merasakan dan mengalaminya sendiri. Kami melanjutkan mi’raj kami sampai tiba di maqam Realitas Rasulullah saw (al-haqiqat al-Muhammadiyya), yang berada di Kehadirat Ilahi. Setelah kami memasuki tingkatan ini, Syaikhku lenyap, Aku pun lenyap. Kami melihat bahwa tidak ada lagi yang eksis di alam semesta ini kecuali Rasulullah saw sendiri. Kami rasa tidak ada yang berada di maqam selanjutnya kecuali Allah swt sendiri “

“Kemudian Aku mendengar suara Rasulullah saw berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad Baba as-Samasi, Wahai anakku, jalur tempat engkau berada adalah jalur yang paling mulia, dan orang-orang yang telah terpilih untuk menjadi bintang dan penunjuk bagi ummat manusia akan diterima di jalur tersebut. Kembalilah, dan Aku akan mendukungmu dengan segala kekuatanku, dan Allah mendukungku dengan Kekuatan-Nya. Layanilah Syaikhmu.”

“Ketika suara Rasulullah saw menghilang, Aku menemukan diriku berdiri di tengah Syaikhku. Itu adalah sebuah karunia yang besar, berada dekat dengan Syaikh yang sangat kuat, yang bisa membawamu ke Kehadirat Ilahi”

Syaikh Syarafuddin ad-Daghestani

Mengenai Sultan adz-Dzikr (Dzikr dalam Hati)

Beliau berkata sehubungan dengan posisi Dzikir dalam Hati:”Siapa pun yang memasuki Posisi itu, dia akan mengalami dan mencapai Inti dari Nama “Allah”. Nama itu adalah Sultan dari seluruh Nama-NamaNya, karena Dia mencakup seluruh makna Nama-Nama tersebut dan kepada-Nyalah seluruh Atribut Ilahi kembali”. “Nama ‘Allah’ bagaikan Kata yang berlaku untuk semua Atribut ini dan itulah sebabnya mengapa Dia disebut Ism al-Jalala, Nama Yang Paling Mulia karena Dia Yang Mahatinggi, Mahasuci, dan Mahabesar.”

“Melalui pemahaman akal saja tidak mungkin bisa memanen buah dari rahasia-rahasia ini. Tubuh manusia tidak dapat mencakup Realitas Makna mengenai Tuhan. Tubuh manusia mustahil mencapai Kerajaan yang Tersembunyi dari Yang Maha Unik. Karena bagi Orang-orang dalam Inti, yang mereka miliki hanya kekaguman dan ketakjuban, sekali mereka memasuki posisi Pengetahuan Yang Tersembunyi, mereka akan tersesat, pergi ke mana-mana. Lalu bagaimana dengan Orang-orang dalam Atribut-Nya, yaitu mereka yang mempunyai kualitas tinggi dan masing-masing menunjukkan sebuah Attribut Ilahi yang disandangkan dan menghiasi mereka? Tetap saja mereka tidak bisa dihiasi dengan Inti dari Nama yang mencakup seluruh Nama, kecuali dengan memasuki Rahasia Yang Tersembunyi dari 99 Nama tersebut. Pada saat itu mereka baru diizinkan untuk meraih posisi Tanpa Sekat terhadap Cahaya dari Nama yang Mencakup seluruh Nama dan Atribut, nama Allah.”

“Jika para pencari terus melakukan Dzikir dengan Nama yang Mahasuci ‘Allah’, dia akan mulai berjalan di tempat Dzikir itu, yang jumlahnya ada tujuh. Setiap pencari yang terus melakukan Dzikir Allah dalam hati, dari 5000 sampai 48.000 kali sehari, akan mencapai tingkat kesempurnaan sehingga dia akan menjadi sempurna dalam Dzikir itu. Pada saat itu dia akan menemukan bahwa hatinya terus mengucapkan nama ‘Allah, Allah. Allah’ tanpa perlu menggerakkan lidah. Dia akan membangun kekuatan internal dengan membakar kotoran di dalamnya karena Api Dzikir melalap semua pengotor. Tidak ada yang tersisa kecuali permata yang bersinar dengan kekuatan spiritual”

“Begitu Dzikir memasuki dan menjadi kokoh dalam hatinya, dia akan meningkat lagi mencapai keadaan di mana dia bisa mengetahui Dzikir yang dilakukan oleh seluruh ciptaan Allah. Dia akan mendengar seluruh makhluk mengucapkan kalimat Dzikir dengan cara yang telah ditetapkan oleh Allah kepadanya. Dia mendengar setiap makhluk berdzikir dengan nada masing-masing dan irama yang berbeda satu sama lain.

Pendengarannya terhadap yang satu tidak mempengaruhi pendengarannya terhadap yang lain, dia mampu mendengar semua secara simultan dan dia bisa membedakan masing-masing jenis Dzikir”

“Ketika para pencari melewati tingkat itu, dia akan mengalami peningkatan lebih jauh dalam Dzikirnya, dia akan melihat bahwa setiap orang yang diciptakan oleh Allah melakukan Dzikir yang sama dengan dirinya. Pada saat itu dia akan menyadari bahwa dia telah mencapai Kesatuan Yang Unik dan Sempurna. Semua melakukan dzikir yang sama dan menggunakan kata-kata yang sama. Segala macam perbedaan akan terhapus dari pandangannya, dan dia akan melihat semua orang yang bersamanya mempunyai tingkatan yang sama dengan Dzikir yang sama pula. Ini adalah Tingkat Penyatuan Setiap Orang dalam Satu Kesatuan. Di sini dia akan menarik semua bentuk Syirik yang tersembunyi sampai ke akar-akarnya dan semua makhluk akan tampak sebagai Satu Kesatuan. Ini adalah langkah pertama dari tujuh langkah dalam perjalanannya”

“Dari Tingkat Kesatuan dia akan menuju ke Tingkat Inti dari Kesatuan, di mana setiap orang yang Ada menjadi Tidak Ada, dan hanya Kesatuan Allah saja yang tampak”

“Kemudian dia akan menuju Tingkat Primordial dari Kesederhanaan Yang Sempurna, di mana dia bisa tampil dalam wujud apa saja Dari sana dia akan menuju Tingkat Kunci dari Rahasia, yang dikenal dengan Tingkat Nama-Nama, di mana tipe asli dari setiap makhluk ditunjukkan kepadanya dari alam ghaib menuju dunia yang nyata. Ini akan membuatnya berenang dalam orbit Nama-Nama dan Segala Atribut dan dia akan mengetahui semua Pengetahuan Yang Tersembunyi”

“Selanjutnya dia akan menuju Tingkat Yang Tersembunyi dari Yang Tersembunyi, Inti dari semua Yang Tersembunyi. Dia akan mengatahui semua Yang Tersembunyi melalui Kesatuan yang Unik dari Inti. Dia akan melihat semua kekuatan dan bentuknya”

“Dari sana dia menuju tingkat Realitas Sempurna dari Inti Nama-Nama dan Semua Aksi. Dia akan muncul di dalamnya, dalam atom mereka dan dalam totalitas mereka. Dia akan disandangkan dengan Nama Yang Paling Agung dan dia akan diagungkan dan dimahkotai dengan Tingkat Kebesaran”

“Kemudian dia akan menuju ke Tingkat Turunnya Allah (munazala) dari Tingkatan-Nya yang Agung ke Tingkat Surga Dunia. Dia sampai pada Tingkat itu, yang terdekat dengan Tingkat Keduniaan, di luar itu para Pembaca Dzikir tidak mempunyai Tingkat lain untuk dicapai melalui bacaannya”

“Fajar datang ke dalam dirinya dan Mentari Kesempurnaan tampak dalam diri dan tubuhnya, karena hal itu telah tampak melalui Dzikir yang dilakukan dalam hati dan jiwanya. Sebagai hasilnya, ketika Mentari Kesempurnaan tampak pada tubuh dan seluruh anggota tubuhnya, dia akan berada di Tingkat yang telah disebutkan dalam sabda Rasulullah saw, “Allah swt akan menjadi Telinga yang dipakainya untuk mendengar, Mata yang dipakainya untuk melihat, Lidah untuk berbicara, Tangan untuk menggenggam, dan Kaki untuk melangkah.” Kemudian dia akan mendapati dirinya dan menyatakan kepada dirinya bahwa, ‘Aku tidak berdaya dan sungguh lemah.’ Karena pada saat itu dia telah memahami makna Kekuatan Ilahi”

“Setiap beliau dimintai nasihat jika beliau berkata, ‘Lakukan apa yang kamu suka’, maka orang itu tidak akan pernah berhasil. Tetapi bila beliau berkata, ‘Lakukan ini dan lakukan itu’, maka orang tersebut akan berhasil” “Konon beliau tidak pernah menyebutkan sesuatu yang telah berlalu. Beliau tidak pernah menerima suatu gunjingan dan akan mengusir para pelaku dari asosiasinya. Dilaporkan pula bahwa setiap kali orang duduk dalam asosiasinya, mereka akan merasakan bahwa kecintaan terhadap dunia akan lenyap dari hati mereka. Beliau sering mengatakan, “Jangan duduk tanpa berdzikir, karena kematian selalu mengikutimu”

“Beliau berkata, ‘Peristiwa yang paling membahagiakan bagi ummat manusia adalah ketika dia meninggal, karena ketika dia meninggal, dosanya juga ikut mati bersamanya” “Bagaimana mungkin aku memotong pohon yang masih hijau ketika dia sedang berdzikir, mengucapkan la ilaha illallah? Aku lebih suka mengumpulkan dahan-dahan mati, dan tidak membakar cabang-cabang pohon yang sedang berdzikir.” “Beliau berkata, ‘Setiap pencari yang tidak membiasakan diri dan melatih dirinya untuk berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk beribadah dan melayani saudaranya, dia tidak akan memperoleh kebaikan dalam Thariqat ini”

Menghilangkan Karakter Buruk

“Ketika kamu pertama kali datang kepadaku, Aku melihatmu dan menemukan karakter buruk dalam dirimu. Setiap orang mempunyai karakter baik yang bercampur dengan karakter buruk. Ketika kamu melakukan bay’at seluruh perbuatan buruk yang telah kamu lakukan sebelumnya, Aku ganti dengan perbuatan baik. Kecuali dua hal, yaitu keinginan seksual dan kemarahan. Minggu lalu kami hilangkan kedua karakter buruk itu dari dirimu.’ Ketika beliau mengucapkan hal itu, Aku sadar bahwa beliau telah duduk bersamaku dan melihat keinginan seksual dan kemarahanku, Aku mulai menangis, menangis, dan menangis. Setelah dua jam aku menangis, beliau berkata, ‘Cukup! Allah swt telah mengampunimu, Rasulullah saw juga telah mengampunimu.’ Aku berkata, ‘Wahai Syaikhku, apakah engkau benar-benar mengampuniku? Apakah Rasulullah telah mengampuniku? Apakah Allah telah mengampuniku? Apakah para Masyaikh yang matanya selalu mengawasiku telah mengampuniku? Dulu Aku berpikir bahwa Aku melakukan perbuatan itu sendirian, tetapi sekarang Aku tahu bahwa engkau semua melihatku”

“Beliau berkata, ‘Wahai anakku, kita adalah hamba-hamba yang berada di depan pintu Rasulullah saw dan di depan pintu Allah swt. Apapun yang kita minta dari Mereka, Mereka akan menerima permintaan kita karena kita berada dalam kehadiratnya dan kita adalah Satu.’ Aku berkata, ‘Sebagai suatu itikad baik, karena Aku telah diampuni, bagaimana Aku bisa bersyukur kepada Allah dan memberi kehormatan kepadamu dan kepada Rasulullah saw? Apakah dengan jalan merayakan mawlid (Kelahiran Rasulullah saw), atau berkurban, atau mengeluarkan sedekah lainnya?’ Beliau berkata, ‘Apa yang kami inginkan darimu adalah agar kamu senantiasa melakukan dzikir thariqat Naqsybandi”

Nasehat beliau Ketika Didalam Penjara

“Aku diutus ke sini untuk membawa rahasia orang banyak, orang-orang yang dipenjarakan tanpa sebab. Aku memberi dukungan kepada orang-orang ini. Allah swt mengutusku ke sini, karena kamu semua berkumpul di sini, dan sangat sulit mencapai kalian. Saya berada di sini untuk mengucapkan salam perpisahan kepadamu, karena kami segera akan meninggalkan dunia ini. Kami akan mengantarkan kepadamu rahasia-rahasia kamu. Bagi kami tidak ada istilah penjara, kami selalu berada dalam Kehadirat-Nya dan kami tidak pernah terpengaruh dengan penjara. Kalian semua akan meninggal beberapa saat lagi tetapi kalian akan bertemu lagi, ketika seorang tokoh penting meninggal barulah kalian semua akan bertemu kembali”

Rahasia Surat al-An’am

“Selama tiga bulan Aku telah menyelami Samudera Surat al-An’am untuk mengeluarkan seluruh nama dari Thariqat Naqsyabandi yang berjumlah 7007 dari salah satu ayatnya. Alhamdulillah, Aku berhasil mendapatkan nama-nama mereka beserta seluruh gelarnya dan Aku telah mencatatnya pada catatan harianku yang Aku berikan kepada penerusku, Syaikh ‘Abdullah Faiz ad Daghestani. Dia berisikan nama-nama seluruh Wali dari beragam kelompok yang akan ada pada masanya Imam Mahdi as”

Wasiat

“Wahai anakku, inilah wasiatku. Aku akan pergi dalam dua hari ini.Atas perintah Rasulullah saw, Aku menunjukmu sebagai penerusku dalam Thariqat Naqsyabandi, bersamaan dengan lima thariqat lain yang telah Aku terima dari pamanku. Seluruh rahasia yang pernah diberikan padaku dan seluruh kekuatan yang telah disandangkan kepadaku dari para pendahuluku di Thariqat Naqsyabandi dan kelima thariqat lainnya, kini kusandangkan kepadamu. Seluruh pengikut yang engkau bay’at di Thariqat Naqsyabandi, juga dengan sendirinya akan di-bay’at di lima thariqat lainnya dan juga akan mendapatkan rahasia mereka. Segera, akan datang kepadamu perintah untuk meninggalkan Turki dan pergi menuju Damaskus (Syam asy-Syarif) [yang pada saat itu amatlah sulit untuk dicapai karena peperangan yang dahsyat]”

Qutb al Tariqa Mawlana Shaykh Bahaudin Naqshabandi Muhammad Uwaysil Bukhari

Kemajuan dan Perjuangannya dalam Thariqat Syah Naqsyband menyatakan, “Suatu saat Aku sedang mengalami ekstase dan tanpa akal pikiran (tidak sadar), berpindah dari sini ke sana, tak menyadari apa yang tengah kulakukan. Kakiku robek dan berdarah karena duri pada saat gelap. Aku merasa diriku ditarik ke rumah Syaikhku, Sayyid Amir Kulal. Saat itu malam sungguh gelap tanpa bulan dan bintang. Udara amat dingin dan Aku tak memiliki apapun kecuali sebuat jubah kulit yang sudah usang. Ketika Aku tiba di rumahnya, Aku menemukan beliau sedang duduk bersama para sahabatnya. Ketika beliau melihatku, beliau berkata kepada para pengikutnya, ’Bawa dia keluar, Aku tak menginginkan dia berada di rumahku.’ Mereka lalu mengeluarkan aku dan aku merasakan ego berusaha menguasaiku, mencoba meracuni kepercayaanku kepada Syaikhku. Pada saat itu hanya Perlindungan Allah dan Rahmat-Nya-lah satu-satunya pendukungku dalam menerima penghinaan ini Demi Allah dan Demi Syaikhku. Lalu Aku berkata pada egoku, ‘Aku tak memperkenankanmu untuk meracuni kepercayaanku terhadap Syaikhku.”

“Aku begitu lelah dan tertekan sehingga Aku merendahkan hati di depan pintu kesombongan, meletakkan kepalaku di bawah pintu rumah guruku, dan bersumpah dengan Nama Allah bahwa Aku tak akan pindah sampai beliau menerimaku kembali. Salju mulai turun dan udara yang begitu dingin menembus tulangku, membuatku gemetar dalam gelapnya malam. Bahkan cahaya rembulan pun tak ada untuk sedikit membuatku merasa nyaman. Aku ingat keadaan tersebut, hingga Aku membeku. Namun cinta akan pintu Ilahi Syaikhku yang ada dalam hatiku, membuatku tetap hangat”

“ Subuh pun datang dan Syaikhku keluar dari pintu tanpa melihatku secara fisik. Beliau menginjak kepalaku, yang masih berada di bawah pintunya. Merasakan adanya kepalaku, dengan segera beliau menarik kakinya, membawaku ke dalam rumahnya dan berkata kepadaku, ’Wahai anakku, kau telah dihiasi dengan pakaian kebahagiaan. Kau telah dihiasi dengan pakaian Cinta Ilahi. Kau telah dihiasi dengan pakaian yang tidak pernah Aku dan Syaikhku kenakan. Allah senang denganmu, Rasulullah senang denganmu, semua Syaikh dari Matarantai Emas senang denganmu”

”Kemudian dengan telaten dan sangat hati-hati beliau mencabuti duri-duri dari kakiku dan membasuh lukaku. Pada saat yang sama beliau menuangkan ilmu pada hatiku yang tak pernah aku alami sebelumnya. Hal ini membukakan suatu pandangan di mana Aku melihat diriku memasuki rahasia Muhammadun Rasul-Allah . Aku melihat diriku memasuki rahasia ayat yang merupakan Haqiqa Muhammadiyya (Realitas Muhammad saw). Hal ini mengantarkan aku untuk memasuki rahasia dari LAA ILAHA ILLALLAH yang merupakan rahasia dari wahdaniyyah (Keunikan Allah swt). Hal ini lalu mengantar aku untuk memasuki rahasia Asma’ Allah dan Atribut-Nya yang dinyatakan dengan rahasia ahadiyya (Ke-Esa-an Allah ). Keadaan-keadaan tersebut tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya dapat diketahui lewat rasa di dalam hati”

“Di awal perjalananku di thariqat ini, Aku biasa berkeliaran di malam hari dari satu tempat ke tempat lainnya di pinggiran kota Bukhara. Sendirian di gelapnya malam, khususnya di musim dingin, Aku mengunjungi pemakaman untuk memetik pelajaran dari yang telah meninggal”

Tentang Berdoa

“Aku akan bangun lebih awal, tiga jam sebelum shalat Fajar, berwudhu, dan setelah melaksanakan shalat sunnah, Aku akan bersujud, memohon pada Tuhan dengan do’a berikut, ‘Wahai Tuhanku, berilah hamba kekuatan untuk menjalankan kesulitan-kesulitan dan rasa sakit dari Cinta-Mu.’ Lalu Aku akan shalat Fajar bersama dengan Syaikh. Ketika Syaikhku keluar, beliau melihat ke arahku dan berkata, seolah-olah beliau telah bersamaku ketika Aku berdo’a tadi, ‘Wahai anakku, kau harus mengubah cara berdo’amu. Daripada berdoa seperti doamu tadi lebih baik engkau berdoa, ‘Ya Allah swt Anugerahkanlah ridha-Mu pada hamba yang lemah ini”

“Tuhan tidak senang hamba-Nya berada dalam kesulitan. Walau Tuhan dalam Kearifan-Nya mungkin memberikan kesulitan pada hamba-Nya untuk mengujinya, sang hamba tak boleh meminta untuk berada dalam kesulitan. Hal ini berarti tidak menghormati Tuhanmu”

“Ketika Syah Naqsyband mendapat pakaian baru, beliau akan memberikannya kepada orang lain untuk dipakai. Setelah mereka memakainya, beliau akan meminjamnya kembali”

Ketika seorang Syaikh Memintanya untuk menjadi muridnya, beliau menjawab “Wahai Syaikhku, Aku adalah anak dari orang lain dan Aku adalah pengikutnya. Bahkan bila kau tawarkan untuk merawatku dengan susu dari maqam yang lebih tinggi, Aku tak dapat menerimanya, kecuali dari seseorang yang kepadanya Aku berikan hidupku dan daripadanya Aku mengambil bay’at “

Ketika Khalwat

“Aku duduk bersama seorang teman, dalam pengasingan (khalwat), tiba-tiba langit terbuka dan suatu pemandangan yang agung datang padaku dan Aku mendengar sebuah suara yang berkata, ‘Tidakkah cukup bagimu meninggalkan setiap orang dan datang ke Hadirat Kami sendirian saja?’ Suara ini membuatku gemetar dan lari dari rumah itu. Aku berlari ke sebuah sungai di mana Aku lalu menyeburkan diri. Aku mencuci pakaianku lalu shalat dua rakaat dengan cara yang belum pernah Aku lakukan sebelumnya, Aku merasa seolah-olah sedang shalat dalam Hadirat-Nya. Segalanya begitu terbuka ke dalam hatiku dalam bentuk tanpa sekat (kashf). Seluruh semesta lenyap dan Aku tak menghiraukan apa pun kecuali berdo’a ke Hadirat-Nya” ”Bila aku menemukan sesuatu aku bersyukur kepada Allah, dan bila tidak, Aku bersabar ”

“Jangan abaikan hal sekecil apapun dari kebaikan dan perbuatan-perbuatan mulia yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw” “Untuk menyangkal keberadaanmu dan untuk mengacuhkan dan mengabaikan egomu adalah yang berlaku dalam thariqat ini” “Aku melihat bahwa setiap orang menyediakan suatu manfaat dan hanya Akulah yang tak memberikannya”

‘Ya Allah, anugerahilah aku dengan setetes dari Samudra Rahmat dan Berkah-Mu.’ Dan jawabannya datang, ‘Kau hanya meminta setetes dari Ke-Maha Pemurahan Kami?’ Hal ini laksana jutaan tamparan keras di wajahku dan sengatannya tersisa di pipiku selama berhari-hari. Kemudian suatu hari Aku berkata, ‘Ya, Allah anugerahilah hamba dari Samudra Rahmat dan Berkah-Mu, Kekuatan untuk membawanya.

Tentang Berjalan dalam Jalur ini

”Apakah di balik cerita Rasulullah saw, ‘Sebagian dari iman adalah memindahkan apa-apa yang membahayakan dari Jalan?’ Yang Beliau maksud dengan ‘yang membahayakan’ itu adalah ego, dan yang Beliau maksud dengan ‘Jalan’ adalah Jalan Menuju Allah swt, sebagaimana Dia berfirman kepada Bayazid al-Bistami , ‘Tinggalkan egomu dan datanglah pada Kami”

”Suatu ketika beliau ditanya, ‘Apa yang dimaksud dengan Berjalan dalam Jalur? Beliau berkata, Detailnya dalam pengetahuan spiritual” “Mereka bertanya, ‘Apakah detail dalam pengetahuan spiritual itu?’ Beliau menjawab,Orang yang mengetahui dan menerima apa yang dia ketahui akan diangkat dari keadaan bukti nyata kepada keadaan pengelihatan”

Mencintai Allah dan Rasululullah saw

“Barang siapa yang meminta untuk berada di Jalan Allah maka dia telah meminta jalan penderitaan. Diriwayatkan oleh Rasulullah saw, ‘Barang siapa yang mencintaiku maka aku akan membebaninya.’ Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Wahai Nabi saw, Aku mencintaimu,’ dan Nabi saw berkata, ‘Maka bersiaplah untuk menjadi miskin.’ Lain waktu orang lain lagi datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Ya, Rasulullah, Aku mencintai Allah,’ dan Rasulullah berkata, ‘Maka siapkanlah dirimu untuk penderitaan”

“Beliau membaca sebuah ayat, Setiap orang mendambakan kebaikan,Namun tak seorang pun telah meraih kenaikan, Melainkan dengan mencintai Sang Pencipta kebaikan”

“Beliau berkata, ‘Barang siapa yang mencintai dirinya sendiri, harus menyangkal dirinya, dan barang siapa yang menginginkan yang lain selain dirinya sendiri, sesungguhnya yang diinginkannya hanyalah dirinya sendiri”

Tentang Pelatihan Spiritual

Ada tiga jalan di mana para murid meraih pengetahuannya, Muraqaba-Perenungan (kontemplasi) Musyahada-Pengelihatan, Muhasaba-Penghitungan. “Dalam keadaan perenungan, si pencari melupakan mahkluk dan hanya mengingat Sang Khalik saja. Dalam keadaan pengelihatan, ilham dari Yang Ghaib mendatangi hati si pencari dengan disertai dua keadaan: penciutan dan pengembangan. Pada keadaan penciutan, pengelihatan adalah tentang Ke-MahaKuasa-an, dan pada keadaan pengembangan pengelihatan adalah tentang Ke-Maha-Indahan. Pada keadaan penghitungan, si Pencari mengevaluasi setiap jam yang telah lewat: apakah dia berada seluruhnya bersama Allah ataukah berada seluruhnya bersama dunia? ”

”Si pencari dalam thariqat ini pastilah amat sibuk menolak bisikan Setan dan godaan egonya. Dia mungkin menolaknya bahkan sebelum mereka mencapainya; atau dia mungkin menolaknya setelah mereka mencapainya namun sebelum mereka memegang kendali atasnya, pencari lain, mungkin saja tidak menolaknya hingga mereka mencapainya dan mengendalikannya.

Dia tak akan mendapatkan buahnya, karena pada saat seperti itu adalah mustahil untuk mengeluarkan bisikan-bisikan itu dari hatinya”

Tentang Maqam Spiritual

“Bagaimanakah hamba-hamba Allah melihat perbuatan yang tersembunyi dan bisikan-bisikan hati? Beliau menjawab, Dengan cahaya pengelihatan yang dianugerahkan Allah pada mereka, seperti yang tertera dalam Hadits suci, ‘Waspadalah dengan pengelihatan orang-orang yang beriman, karena dia melihat dengan Cahaya Allah swt”

“Beliau diminta untuk memperlihatkan kekuatan ajaibnya. Beliau berkata, Keajaiban apakah yang lebih dahsyat yang ingin kau lihat daripada kenyataan bahwa kita masih berjalan di muka bumi ini dengan semua dosa di atas dan sekeliling kita”

“Beliau ditanya, ‘Siapakah para pembaca dan siapakah gerangan sang Sufi yang dimaksud oleh Junayd dengan kata-kata, ”Putuskanlah dirimu dari para pembaca kitab-kitab, dan bergabunglah dengan para Sufi? Beliau berkata, ‘Para pembaca adalah orang yang sibuk dengan kata-kata dan nama-nama, dan Sufi adalah seseorang yang sibuk dengan inti sari dari nama-nama tersebut”

“Beliau memperingatkan, ‘Bila seorang murid, seorang Syaikh atau siapa pun bicara tentang suatu keadaan yang belum didapatkannya, Allah swt akan mencegahnya dari mencapai keadaan tersebut. Beliau berkata, ’Cermin dari setiap Syaikh memiliki dua arah. Namun cermin kita memiliki enam arah”

“Apa yang dimaksudkan dengan al-Hadits, ‘Aku beserta orang-orang yang mengingat-Ku,’ merupakan bukti nyata yang mendukung orang-orang yang di dalam hatinya senantiasa mengingat-Nya”

“Dan sabda Nabi yang lainnya berbicara atas Nama Allah , ‘Puasa itu adalah bagi-Ku’ merupakan suatu pernyataan bahwa sebenar-benarnya puasa adalah puasa dari segala sesuatu selain Allah”

Tentang Kemiskinan Spiritual

Beliau ditanya, “Mengapa mereka disebut al-fuqara (orang yang miskin)?” Beliau menjawab, karena mereka miskin, namun mereka tak perlu memohon. Seperti halnya Nabi Ibrahim as, ketika beliau dilemparkan ke dalam api dan Jibril as datang dan bertanya ‘Apakah kau perlu pertolongan?,’ dijawabnya, ‘Aku tak perlu meminta sesuatu, Dia Maha Tahu keadaanku”

“Kemiskinan merupakan pertanda penghancuran dan penghapusan atribut-atribut kebendaan”

“Beliau pernah ditanya, ‘Siapakah si miskin itu?’ Tak seorang pun menjawabnya. Beliau berkata, ‘Si miskin adalah orang yang di dalamnya selalu berjuang dan di luarnya selalu berada dalam ketenangan”

Tentang Adab terhadap Syaikh Seseorang

“Amatlah penting bagi para pengikut, bila dia merasa bingung terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan Syaikhnya dan tak dapat memahami alasannya, untuk bersabar dan menjalankannya, dan tak menjadi curiga. Bila dia seorang pemula, dia mungkin bertanya; namun bila dia seorang murid, dia tak punya alasan untuk bertanya dan harus tetap bersabar dengan apa yang belum dia pahami”

“Adalah tak mungkin untuk meraih cinta dari hamba-hamba Allah swt hingga engkau keluar dari dirimu sendiri”

“Dalam Thariqat kita, terdapat tiga kategori adab: Adab karimah terhadap Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi, mengharuskan murid untuk menyempurnakan ibadahnya baik secara eksternal maupun internal, menjauhi semua larangan-Nya dan menjalankan segala apa yang telah diperintahkan-Nya dan meninggalkan segala sesuatu selain Allah“

“Adab karimah terhadap Nabi Muhammad saw, mengharuskan murid untuk membumbung tinggi pada keadaan yang disebutkan dalam ayat in kuntum tuhibbun Allah fattabi’unii (bila kamu ingin mencintai Allah, maka ikutilah aku) [3:31]. Dia harus mengikuti semua keadaan Rasulullah. Dia harus tahu bahwa Rasulullah adalah jembatan antara Allah dengan mahkluk-Nya dan bahwa segala sesuatu di bumi ini berada di bawah perintahnya yang mulia”

“Adab karimah terhadap para Syaikh merupakan suatu keharusan bagi setiap pencari. Para Syaikh merupakan penyebab dan alat untuk mengikuti jejak Rasulullah saw. Adalah suatu kewajiban bagi para pencari, baik dalam kehadiran mereka maupun dalam ketidakhadirannya, untuk menjalankan perintah-perintah dari Syaikh tersebut”

Tentang Niat

“Sangatlah penting untuk meluruskan niat, karena niat itu dari dunia ghaib, bukan dari dunia materi. Untuk alasan tersebut, Ibnu Sirin (penulis buku tabir mimpi) tidak berdo’a pada shalat jenazah Hasan al-Basri . Beliau berkata, ‘Bagaimana Aku dapat berdo’a ketika niatku belum mencapaiku dan menghubungkanku dengan yang ghaib?”

“ Niat (niyyah) sangat penting, karena dia terdiri atas 3 huruf, yaitu: Nun, yang melambangkan nur Allah, Cahaya Allah ; Ya, yang melambangkan yad Allah, Tangan Allah ; dan Ha, yang

melambangkan hidayat Allah, Bimbingan Allah . Niat adalah hembusan jiwa”

Tentang Tugas-Tugas Para Awliya

“Allah swt menciptakan aku untuk menghancurkan kehidupan materialistik, tetapi orang-orang menginginkan aku untuk membangun kehidupan materialistik mereka”

“Hamba-hamba Allah menanggung beban penciptaan agar semua ciptaan belajar darinya. Allah swt melihat pada hati Awliya-Nya dengan cahaya-cahaya-Nya, dan siapa pun yang berada di sekeliling wali itu dia akan mendapat berkah dari cahaya tersebut”

“Syaikh harus mengetahui tingkatan muridnya dalam tiga kategori, yaitu: di masa lalu, masa kini, dan masa depan agar dia dapat menaikkan (maqam)-nya”

“Siapa pun yang melakukan bay’at dengan kita dan mengikuti kita dan mencintai kita, apakah dia dekat atau jauh, di mana pun dia berada, bahkan jika dia berada di Timur dan kami di Barat, kami memeliharanya dengan aliran cinta dan memberinya cahaya dalam kehidupan sehari-harinya”

Tentang Dzikir Keras (Zahar) dan Dzikir Dalam Hati (Khafi)

“Dari kehadiran al-Azizan ada dua metode dzikir, yaitu dzikir khafi (dalam hati) dan dzikir zahar (keras). Aku menyukai dzikir dalam hati karena dia lebih kuat dan lebih bijaksana” “Izin untuk melakukan dzikir harus diberikan oleh orang yang sempurna, agar bisa mempengaruhi orang yang menggunakannya, sebagaimana halnya panah dari seorang yang ahli memanah lebih baik daripada

panah yang dilepaskan dari busur orang biasa”

Kesadaran akan Waktu (wuquf zamani)

“Kesadaran akan waktu berarti memperhatikan ketenangan seseorang dan mengecek kecenderungan seseorang kepada kelalaian. Para pencari harus mengetahui berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk bergerak menuju kematangan spiritual dan harus mengenal di tempat apa dia telah sampai dalam perjalannya menuju Hadirat Ilahi”

“ Para pencari harus membuat kemajuan dengan segala usahanya. Dia harus menghabiskan seluruh waktunya untuk satu tujuan yaitu sampai di maqam Cinta Ilahi dan Hadirat Ilahi. Dia harus menjadi sadar bahwa dalam segala usahanya dan dalam segala tindakannya Allah menyaksikan sampai sedetail-detailnya. Para pencari harus membuat catatan mengenai tindakan dan niatnya setiap hari dan setiap malam dan menganalisa tindakannya setiap jam, setiap detik, dan setiap saat. Jika semuanya baik, dia bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut. Jika tindakannya buruk, dia harus bertaubat dan memohon ampun kepada Allah swt”

Pandangan Syaikh Sarafuddin tentang Syaikh Bahaudin Naqshbandi

“Penerus beliau, Grandsyaikh kita, Syaikh `Abdullah ad-Daghestani, menceritakan hal berikut dalam ceramahnya: Suatu ketika, dalam salah satu meditasiku, Syaikh Syarafuddin mendatangiku dan berkata mengenai kebesaran dan keistimewaan Shah Naqsyaband. Beliau memujinya dan mengatakan bagaimana Shah Naqsyaband akan memberikan perantaraan di Hari Pembalasan. Beliau berkata, ‘Jika seseorang melihat mata Shah Naqsyaband, dia akan melihat mata beliau berputar, bagian yang putih di hitam dan yang hitam di putih. Beliau bermaksud menyimpan kekuatan spiritualnya untuk Hari Pembalasan dan tidak menggunakannya di dunia ini”

“Pada Hari Pembalasan Syaikh Naqshbandi akan mengeluarkan cahaya dari mata kanannya, cahaya itu lalu mengelilingi banyak orang dalam perkumpulannya dan masuk kembali ke mata kirinya. Siapa pun yang berada dalam lingkaran itu akan masuk Surga dan terhindar dari Neraka. Beliau akan mengisi keempat Surga dengan perantaraannya itu”

“Ketika beliau sedang melukiskan peristiwa besar itu, Aku menyaksikan panorama yang kuat di mana Aku menyaksikan Peristiwa Hari Pembalasan dan melihat Shah Naqsyaband mengeluarkan cahaya, dan menyelamatkan orang-orang. Ketika Aku sedang mengamati hal itu, Aku merasakan cinta yang sangat dalam kepada Shah Naqsyaband, lalu Aku berlari menuju beliau dan mencium tangannya. Kemudian panorama itu menghilang dan Syaikhku pergi”

“Aku melanjutkan meditasiku pada hari itu dengan berdzikir, membaca al-Qur’an dan melakukan shalat. Di malam harinya, setelah melaksanakan shalat ‘Isya, Aku mengalami keadaan tidak sadarkan diri dan menempatkan Aku ke dalam keadaan panorama spiritual. Aku melihat Shah Naqsyaband memasuki ruangan. Beliau berkata kepadaku, ‘Anakku, datanglah kepadaku.’ Kemudian rohku meninggalkan jasad dan Aku melihat tubuhku berada di bawahku dan tidak bergerak. Aku lalu menemani Shah Naqsyaband, Kami menjelajahi ruang dan waktu, bukan dengan kekuatan melihat, lalu mencapai tempat yang dilihat itu, tetapi dengan kekuatan dimana ketika kami baru memikirkan suatu tempat, kami tiba di tempat itu. Selama tiga malam dan empat hari non-stop, kami melakukan perjalanan dengan cara ini”

“Sudah menjadi kebiasaan dalam meditasiku, ketika Aku menginginkan makanan dan minuman sehari-hari, Aku tinggal mengetuk pintu. Mendengar ketukan dari lantai bawah, istriku akan membawakan makanan dan minuman untukku. Hari pertama dia tidak mendengar ketukan, hari kedua juga begitu. Akhirnya dia merasa sangat khawatir dan membuka pintu dan menemukan Aku terbaring di sana tanpa gerakan. Dia berlari menuju Syaikh Syarafuddin dan berkata, ‘Mari dan lihatlah anakmu. Dia terlihat seperti orang yang sudah meninggal. Beliau berkata kepadanya, ‘Dia tidak meninggal. Kembalilah, dan jangan berbicara kepada siapa pun. Dia akan kembali”

“Setelah tiga hari dan empat malam menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, Shah Naqsyaband berhenti. Beliau berkata, ‘Tahukah kamu siapa yang tampak di cakrawala itu?’ Tentu saja aku tahu, tetapi untuk menghormati Guru, aku berkata, ‘Wahai Guruku, engkau paling tahu.’ Lalu ketika orang itu mendekat beliau berkata, ‘Sekarang apakah kamu mengenalinya?’ Aku berkata lagi, ‘Engkau lebih tahu, wahai Guruku,’ walaupun Aku melihat itu adalah Syaikhku Sarafuddin. Beliau berkata, ‘Itu adalah Syaikhmu, Syaikh Syarafuddin, Tahukah kamu siapa makhluk yang berada di belakangnya?’ menunjuk kepada suatu makhluk raksasa yang lebih besar daripada gunung yang paling tinggi di bumi ini, yang beliau tarik dengan sebuah tali. Untuk menghormatinya aku berkata lagi, ‘Engkau paling tahu, wahai Syaikhku.’ Beliau berkata, ‘Itu adalah Setan, dan Syaikhmu diberi kekuasaan atasnya, belum ada orang yang diberi otorisasi semacam itu sebelumnya. Sebagaimana setiap Wali diberi kekuasaan atas sesuatu yang khusus, begitu pula Syaikhmu. Bidang khususnya adalah bahwa setiap hari dan setiap malam, atas nama seluruh orang yang telah melakukan dosa karena pengaruh Setan, Syaikhmu diberi otorisasi untuk membersihkan orang-orang itu atas dosa-dosa mereka, mengembalikan dosa itu kepada Setan, dan membawa orang-orang itu dalam keadaan bersih kepada Rasulullah.

Kemudian dengan kekuatan spiritualnya, beliau mengangkat hati mereka, mempersiapkan mereka agar bisa masuk ke dalam lingkaran cahaya yang akan Aku sebarkan di Hari Pembalasan nanti. Aku akan mengisi empat surga dengan cara ini. Inilah yang menjadi spesialisasi Syaikh Syarafuddin. Selain itu, orang-orang yang tidak termasuk dalam keempat Surga tersebut akan memasuki Perantaraan Syaikh Syarafuddin, dengan seizin Rasulullah yang telah diberi kekuatan ini oleh Allah. Ini adalah kekuasaan yang luar biasa yang telah diberikan kepada Syaikh Syarafuddin. Ketika beliau merantai leher Setan, beliau membatasi pengaruh dosa di bumi ini.”

Jangan bagi Cinta Terhadap Syaikhmu

“Kemudian beliau berkata, kamu menanam benih cinta yang ada di hatimu. seperti halnya kincir air yang mengairi sepetak sawah tetapi tidak bisa mengairi dua petak sawah, cinta yang kamu tumbuhkan terhadap Syaikhmu seharusnya hanya untuk Syaikhmu. Jika kamu membaginya untuk dua orang Syaikh, mungkin cinta itu tidak akan mencukupi, seperti halnya kincir air yang tidak bisa mengairi dua petak sawah. Jangan berikan hatimu kebebasan untuk pergi ke sana ke mari. Cintamu akan mencapaiku melalui Mata Rantai Emas dan akan berlanjut kepada Rasulullah. Jangan membagi dua cintamu untuk kami berdua. Sebelumnya tak seorang Wali pun yang diberi otorisasi seperti yang diberikan kepada Syaikhmu untuk ummat Muhammad saw, untuk seluruh ummat manusia”

“Engkau harus menjadi awas akan dirimu. Jika engkau mengikuti syari’ah maka engkau harus bersyukur kepada Allah swt , bila tidak maka engkau harus memohon ampun” “Yang penting bagi seorang pencari dalam keadaan ini adalah menjaga periode waktu terkecil agar tetap aman. Dia harus menjaga dirinya dan menilai apakah dia dalam Hadirat Allah atau dalam hadirat egonya, setiap saat dalam hidupnya. Syah Naqsyband berkata, ‘Engkau harus mengevaluasi bagaimana engkau menghabiskan waktumu: dalam Kehadiran atau dalam Kelalaian”

Kesadaran akan Jumlah (wuquf `adadi)

“Kesadaran akan jumlah hitungan dzikir, berarti para pencari yang sedang berdzikir harus memperhatikan bilangan dzikir yang tepat yang diperlukan dalam dzikir khafi. Menjaga hitungan dzikir ini bukan untuk perhitungan itu sendiri tetapi demi menjaga hati agar tetap aman dari pikiran buruk dan untuk meningkatkan konsentrasi dalam usaha mencapai jumlah pengulangan yang telah ditetapkan oleh Syaikh secepat mungkin”

“ Pilar dzikir melalui perhitungan adalah untuk membawa hati kepada Hadirat Ilahi yang disebutkan dalam dzikir tersebut dan tetap menghitung, satu demi satu, untuk membawa perhatian seseorang kepada realitas bahwa setiap orang membutuhkan Dia Yang Maha Esa yang tanda-tanda KebesaranNya tampak pada setiap makhluk”

“Syah Naqsyband berkata, ‘Memperhatikan jumlah dzikir adalah langkah pertama dalam tahap mendapatkan Pengetahuan Surgawi (`ilm ul-ladunni).” Ini berarti perhitungan itu mengantarkan seseorang untuk mengenali bahwa hanya Satu yang dibutuhkan dalam hidup. Semua persamaan matematis memerlukan nomor Satu. Semua makhluk membutuhkan Zat Yang Maha Esa”

Kesadaran akan Hati (wuquf qalbi)

“Kesadaran akan hati berarti mengarahkan hati para pencari menuju Hadirat Ilahi, di mana dia tidak akan melihat yang lain kecuali Yang Paling Dicintainya. Hal itu berarti untuk mengalami manifestasi-Nya (tajjali) dalam semua keadaan. Ubayd Allah al-Ahrar berkata, “Tingkat Kesadaran Hati adalah tingkatan untuk hadir dalam Hadirat Ilahi sedemikian rupa sehingga engkau tidak bisa melihat yang lain selain Dia. Dalam situasi demikian seseorang memusatkan tempat dzikirnya dalam hati sebab inilah pusat kekuatan.

Semua pikiran dan inspirasi, baik maupun buruk, jatuh dan muncul satu demi satu, berputar dan mengalir, bergerak di antara terang dan gelap, dalam perputaran yang konstan, di dalam hati. Dzikir diperlukan untuk mengontrol dan mengurangi gejolak dalam hati”

Makna dari Ummat Muhammad saw

“Syah Naqsyband berkata,’ Ketika Rasulullah bersabda, ‘Porsi ummatku yang ditakdirkan untuk api neraka adalah seperti porsi Ibrahim as yang ditakdirkan untuk api Namrud,’ beliau memberi kabar gembira tentang penyelamatan bagi ummatnya sebagaimana Allah swt telah menggariskan penyelamatan untuk Ibrahim as, Ya naru kunii bardan wa salaman ‘ala Ibrahiim (‘Wahai api, jadilah ’) [21:69]”udingin dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.

“Ini dikarenakan Rasulullah saw bersabda, ‘Ummatku tidak akan setuju dengan suatu kesalahan,’ menegaskan bahwa Ummat tidak akan menerima perbuatan yang salah, dan dengan demikian Allah swt akan menyelamatkan ummat Muhammad saw dari api neraka.”

“Syaikh Ahmad Faruqi mengatakan bahwa Syah Naqsyband berkata, Ummat Muhammad saw meliputi semua orang yang muncul setelah Rasulullah Dia terdiri atas 3 macam ummat, yaitu:
1. Ummatu-d-Da’wah: yaitu setiap orang yang benar-benar muncul setelah Rasulullah dan mendengar pesannya. Dari berbagai ayat dalam al-Quran, sudah jelas bahwa Rasulullah datang kepada semua manusia tanpa kecuali, lebih jauh lagi ummatnya cukup menjadi saksi bagi ummat-ummat yang lain, dan Rasulullah adalah orang yang menjadi saksi bagi setiap orang, termasuk ummat-ummat yang lain dan saksi-saksi yang mewakili mereka masing-masing.

2. Ummatu-l-Ijaba: yaitu orang-orang yang menerima pesannya.

3. Ummatu-l-Mutaba’a: yaitu orang-orang yang menerima pesan dan mengikuti jejak Rasulullah saw”

“Semua golongan ummat Rasulullah saw tersebut akan selamat. Jika mereka tidak diselamatkan melalui amalnya, mereka akan diselamatkan melalui Perantaraan Rasulullah saw, menurut sabdanya, ‘Perantaraanku adalah untuk para pendosa besar di antara Ummatku”

Dalam Mencapai Hadirat Ilahi

”Beliau berkata, Apa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah, as-shalatu mi’raj ul-mu’min (‘Shalat adalah mi’raj bagi orang yang beriman’), adalah indikasi yang jelas mengenai tingkatan Shalat yang sejati, di mana orang-orang yang shalat naik ke Hadirat Ilahi dan padanya terdapat manifestasi rasa hormat yang mendalam, kepatuhan dan kerendahan hati, di mana hatinya mencapai keadaan kontemplasi melalui shalatnya”

”Ini akan mengantarkannya kepada suatu panorama dari Rahasia Ilahi. Hal ini adalah deskripsi mengenai shalatnya Rasulullah saw dalam sirah (sejarah hidupnya). Dikatakan bahwa ketika Rasulullah mencapai keadaan tersebut, orang-orang di luar kota pun dapat mendengar suara yang berasal dari dadanya yang menyerupai dengungan lebah”

“Salah satu ulama di Bukhara bertanya kepada beliau, “Bagaimana seorang hamba mencapai Hadirat Ilahi dalam shalatnya?” Beliau menjawab, Dengan memakan dari hasil jerih payahmu dan dengan mengingat Allah dalam shalat dan di luar shalatmu, dalam setiap penyucian diri dan dalam setiap peristiwa hidupmu”

Tentang Politheisme Tersembunyi – Syirik

“Syaikh Salah, seorang pelayannya melaporkan, Suatu ketika Syah Naqsyband berkata kepada para pengikutnya, ‘Suatu hubungan antara hatimu dengan sesuatu selain Allah adalah hijab terbesar bagi seorang pencari,’ setelah itu beliau membaca bait puisi berikut, ‘Hubungan dengan selain Allah , ’Adalah hijab (sekat) terkuat, ’Dan meninggalkannya, ’Adalah Jalan Pembuka bagi suatu Pencapaian”

Tentang al-Hallaj

“Segera setelah beliau membacakan bait tersebut, terlintas dalam benakku bahwa beliau merujuk pada hubungan antara Iman dan penyerahan diri pada Kehendak Ilahi. Beliau menoleh kepadaku, tertawa dan berkata, ‘Apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Hallaj? “Aku menolak agama Allah, dan penolakan itu adalah wajib bagiku meskipun tampak menyeramkan bagi kebanyakan Muslim”

“Wahai Syaikh Salah, apa yang terlintas dalam benakmu, bahwa hubungan itu adalah dengan Iman dan Islam, bukanlah hal yang penting. Yang penting adalah Iman Sejati, dan Iman Sejati bagi Orang yang Benar adalah membuat hatinya menyangkal apapun selain Allah. Itulah yang membuat Hallaj berkata, “Aku menyangkal agama-Mu dan penyangkalan itu adalah wajib bagiku, meskipun tampak menyeramkan bagi Muslim”

“ Hatinya Hallaj tidak menginginkan yang lain kecuali Allah. ‘Tentu saja Hallaj tidak menyangkal Imannya dalam Islam, tetapi beliau menekankan bahwa hatinya hanya terkait kepada Allah saja. Jika Hallaj tidak menerima segala sesuatu selain Allah, bagaimana mungkin orang mengatakan bahwa sebenarnya beliau menyangkal agama Allah ? Pernyataannya tentang realitas Kesaksiannya mencakup segalanya dan membuat kesaksian Muslim yang awam menjadi mainan anak-anak”

“Syaikh Salah melanjutkan, Syah Naqsyband berkata, ‘Hamba-hamba Allah tidak bangga dengan apa yang mereka lakukan, mereka melakukannya karena cinta kepada Allah semata”
“Rabi’a al-‘Adawiyya berkata, “Ya Allah, Aku tidak beribadah untuk mencari balasan Surga-Mu, tidak pula karena takut akan siksa-Mu, tetapi Aku menyembah-Mu hanya untuk Cinta-Mu.’ Jika ibadahmu untuk menyelamatkan dirimu sendiri atau untuk mendapat balasan tertentu bagi dirimu sendiri, maka itu adalah syirik yang tersembunyi, karena engkau telah menyekutukan Allah baik dengan pahala maupun azab. Inilah yang dimaksud oleh Hallaj”

“Syaikh Arslan ad-Dimasyqi berkata sebagaimana yang diceritakan oleh Syah Naqsyband, ‘Ya Allah, agama-Mu bukanlah apa-apa, melainkan syirik yang tersembunyi, dan untuk tidak beriman kepadanya adalah wajib bagi seluruh hamba yang benar. Orang-orang yang beragama tidak menyembah-Mu, mereka hanya beribadah untuk mendapat Surga atau agar selamat dari Neraka. Mereka menyembah keduanya sebagai berhala, dan itulah seburuk-buruknya kemusyrikan. Engkau telah berkata, man yakfur bi-t-taghuti wa yu’min billahi faqad istamsaka bil-‘urwati-l-wutsqa (“Barangsiapa yang ingkar terhadap Taghut (berhala) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada Pegangan (Tali) yang Kokoh”) [2:256]. Untuk ingkar kepada berhala-berhala ini dan beriman kepada-Mu adalah wajib bagi orang-orang yang benar”

“Syaikh Abul-Hasan asy-Syadzili, salah seorang Syaikh Sufi agung pernah ditanya oleh Syaikhnya, “Wahai anakku, dengan apa engkau akan bertemu Tuhanmu?” Beliau berkata, “Aku datang kepada-Nya dengan kemiskinanku Syaikhnya menjawab, Wahai anakku, jangan kau ulangi lagi hal ini. Ini adalah berhala terbesar, karena engkau masih mendatangi-Nya dengan sesuatu Bebaskan dirimu terhadap segala sesuatu baru kemudian engkau datang kepada-Nya”

”Para fuqaha (ahli hukum) dan pemegang ilmu eksternal memegang teguh pada perbuatan mereka dan dengan dasar tersebut mereka mengembangkan konsep pahala dan azab. Jika mereka baik, mereka akan mendapat kebaikan dan bila mereka buruk mereka menemukan keburukan, apa yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah perbuatannya dan apa yang menyakitinya adalah perbuatannya juga. Bagi penganut thariqat, hal ini adalah syirik tersembunyi, karena seseorang menyekutukan sesuatu dengan Allah. Meskipun untuk melakukan (perbuatan baik) adalah suatu kewajiban, tetap saja hati tidak boleh terikat dengan perbuatan tersebut. Perbuatan itu hanya dilakukan karena Allah dan untuk Cinta-Nya, tanpa pamrih apa pun”

Tentang Thariqat Naqshbandi

“Syah Naqsyband berkata, Thariqat kita sangat langka dan sangat berharga. Ini adalah ‘urwati-l-wutsqa (‘Memegang Teguh’), jalan untuk memegang jejak Rasulullah saw dan para Sahabatnya dengan teguh dan kokoh. Mereka membawaku ke jalan ini dari pintu Nikmat, karena pada awal dan akhirnya, Aku tidak melihat apapun kecuali Nikmat Allah. Di jalan ini pintu-pintu besar dari Pengetahuan Surgawi akan dibukakan bagi para pencari yang mengikuti jejak Rasulullah saw”

”Untuk mengikuti Sunnah Rasulullah saw adalah jalan terpenting yang akan membukakan pintu kepadamu. Barangsiapa yang tidak datang ke jalan kita, maka agamanya berada dalam bahaya”
“Beliau pernah ditanya, ‘Bagaimana seseorang datang ke jalanmu?’ Beliau menjawab, ‘Dengan mengikuti Sunnah Rasulullah saw” “Kami telah membawa penghinaan dalam Jalan ini, dan sebagai balasannya Allah swt memberkati kita dengan Kemuliaan-Nya”

“Beberapa orang berkata tentang beliau bahwa kadang-kadang beliau terlihat arogan. Beliau berkata, ‘Kami bangga karena Dia, karena Dia adalah Tuhan kami, yang memberi kami Dukungan-Nya!” “Beliau berkata, ’Untuk mencapai Rahasia Ke-Esaan kadang-kadang mungkin, tetapi untuk meraih Rahasia Pengetahuan Spiritual (ma’rifat) adalah sangat sulit sekali”

“Pengetahuan Spiritual bagaikan air, dia mengambil warna dan bentuk cangkirnya. Pengetahuan Allah swt begitu luar biasa, sehingga berapa pun yang kita ambil, itu hanya seperti sebuah tetes dalam Samudra yang Mahaluas. Dia bagaikan taman yang sangat luas, berapa pun yang kita pangkas, seolah-olah kita hanya memangkas sekuntum bunga saja”

Pandangannya terhadap Makanan

“Syah Naqsyband berada dalam tingkatan tertinggi dalam menolak keinginan terhadap dunia ini. Beliau mengikuti jalan yang shaleh, terutama dalam hal tata cara makannya. Beliau mengambil segala jenis pencegahan sehubungan dengan makanannya. Beliau hanya mau makan dari barley yang ditanamnya sendiri. Beliau akan memanennya, menggilingnya, membuat adonan, menanak dan memanggangnya sendiri. Semua ulama dan para pencari di masanya membuat jalan mereka menuju rumahnya, agar bisa makan di mejanya dan mendapatkan berkah dari makanannya”

“Beliau mencapai suatu kesempurnaan dalam hal penghematan; di musim dingin, beliau hanya meletakkan selembar karpet tua di lantai rumahnya dan ini tidak memberi perlindungan dari udara dingin yang menusuk. Di musim panas beliau meletakkan tikar yang sangat tipis di lantai”

“ Beliau mencintai orang yang miskin dan membutuhkan. Beliau mendorong para pengikutnya untuk mencari nafkah dengan cara yang halal, yaitu dengan membanting tulang. Beliau mendorong mereka untuk membagikan uangnya kepada fakir miskin. Beliau memasak untuk fakir miskin dan mengundang mereka untuk makan bersama. Beliau melayani mereka dengan tangannya sendiri yang suci dan mendorong mereka agar tetap berada di Hadirat Allah”

“Jika salah seorang di antara mereka memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan cara yang tidak baik, beliau akan menegurnya, melalui pandangan spiritualnya terhadap apa yang telah mereka lakukan dan mendorong mereka untuk tetap ingat kepada Allah ketika sedang makan”

“Beliau mengajarkan bahwa, Salah satu pintu yang paling penting menuju ke Hadirat Allah adalah makan dengan Kesadaran. Makanan memberikan kekuatan bagi tubuh, dan makan dengan kesadaran memberikan kesucian bagi tubuh”

“Suatu saat beliau diundang ke sebuah kota bernama Ghaziat di mana salah seorang muridnya telah menyiapkan makanan baginya. Ketika mereka duduk untuk makan, beliau tidak menyentuh makanannya. Tuan rumah menjadi terkejut. Syah Naqsyband berkata, “Wahai anakku, Aku ingin tahu bagaimana engkau menyiapkan makanan ini. Sejak engkau membuat adonan dan memasaknya sampai engkau menyajikannya, engkau berada dalam keadaan marah. Makanan in bercampur dengan kemarahan itu. Jika kita memakan makanan itu, Setan akan menemukan jalan untuk masuk melaluinya dan menyebarkan seluruh sifat buruknya ke seluruh tubuh kita”

“Ketika diundang makan oleh Raja, semua orang makan kecuali Syah Naqsyband, hal ini mendorong Syaikh ul-Islam pada saat itu, Qutb ad-din, untuk bertanya, “Wahai Syaikh kami, mengapa engkau tidak makan?” Syah Naqsyband berkata, “Aku mempunyai seorang hakim tempat Aku berkonsultasi. Aku bertanya kepadanya dan hakim itu berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, mengenai makanan ini terdapat dua kemungkinan. Jika makanan ini tidak halal dan engkau tidak makan, bila engkau ditanya engkau dapat mengatakan Aku datang ke meja seorang raja tetapi Aku tidak makan. Maka engkau akan selamat karena engkau tidak makan. Tetapi bila engkau makan dan engkau ditanya, maka apa yang akan kau katakan? Maka engkau tidak akan selamat.’ Pada saat itu, Qutb ad-Din begitu terkesan dengan kata-kata ini dan tubuhnya mulai bergetar. Beliau harus meminta izin kepada raja untuk menghentikan makannya. Raja sangat heran dan bertanya, “Apa yang harus kita lakukan dengan semua makanan ini?” Syah Naqsyband berkata, “Jika ada keraguan mengenai kesucian makanan ini, lebih baik berikan kepada fakir miskin. Kebutuhan mereka akan makanan akan membuatnya halal bagi mereka”

Tentang Puasa Sunnah

“Sebagian besar hari-harinya dijalani dengan berpuasa. Jika seorang tamu mendatanginya dan beliau mempunyai sesuatu yang bisa ditawarkan kepadanya, maka beliau akan duduk menemaninya, membatalkan puasanya dan makan bersamanya. Beliau berkata kepada para pengikutnya bahwa para Sahabat Rasulullah saw biasa melakukan hal yang sama”

“Syaikh Abul Hasan al-Kharqani berkata dalam bukunya, Prinsip-Prinsip Thariqat dan Prinsip-Prinsip dalam Meraih Makrifat, Jagalah keharmonisan dengan para sahabat, tetapi tidak dalam berbuat dosa. Ini berarti bahwa jika engkau sedang berpuasa, lalu ada seseorang yang berkunjung sebagai teman, maka engkau harus duduk bersamanya dan makan bersamanya demi menjaga adab dalam berteman dengannya. Salah satu prinsip dalam puasa, atau ibadah lainnya adalah menyembunyikan apa yang dilakukan oleh seseorang. Jika seseorang membukanya, misalnya dengan berkata kepada tamunya bahwa dia sedang berpuasa, maka kebanggaan bisa masuk ke dalam dirinya sehingga menghancurkan puasanya. Inilah alasan di balik prinsip tersebut”

“Suatu hari beliau diberikan seekor ikan yang telah dimasak sebagai hadiah. Disekitarnya terdapat banyak orang miskin, di antara mereka terdapat seorang anak yang sangat shaleh dan sedang berpuasa. Syah Naqsyband memberikan ikan itu kepada orang-orang miskin dan mengatakan kepada mereka, “Silakan duduk dan makan,” demikian pula kepada anak yang sedang berpuasa itu, “Duduk dan makanlah.” Anak itu menolak. Beliau berkata lagi, “Batalkan puasamu dan makanlah,“ lagi-lagi anak itu menolak. Beliau bertanya kepadanya, “Bagaimana jika Aku memberimu salah satu di antara hari-hariku di bulan Ramadhan? Maukah engkau duduk dan makan?” Sekali lagi dia menolak. Beliau berkata kepadanya, “Bagaimana jika Aku memberimu seluruh Ramadhanku?” Namun masih saja dia menolak. Beliau berkata, ‘Bayazid al-Bistami pernah suatu kali dibebani orang sepertimu’. Sejak saat itu anak itu terlihat berpaling untuk mengejar kehidupan duniawi. Dia tidak pernah berpuasa dan tidak pernah beribadah lagi”

“Insiden yang dirujuk oleh Syah Naqsyband terjadi ketika Syaikh Abu Turab an-Naqsybandi mengunjungi Bayazid al-Bistami. Pelayan beliau menawarkan makanan. Abu Turab berkata kepada pelayan itu, “Datanglah ke sini, duduk dan makan bersamaku.” Pelayan itu menolak, “Tidak, Aku sedang berpuasa.” Beliau berkata, “Makanlah, dan Allah akan memberimu pahala puasa selama satu tahun.” Dia tetap menolak. Beliau berkata lagi, “Ayo makan, Aku akan berdo’a kepada Allah agar Dia berkata, kmemberimu pahala dua tahun puasa.” Kemudian Hadrat Bayazid “Tinggalkan dia. Allah tidak lagi memeliharanya.” Hari-hari berikutnya kehidupannya semakin buruk dan dia akhirnya menjadi seorang pencuri”

Keajaiban-Keajaiban dan Kemurahannya

“Keadaan Syah Naqsyband berada di luar jangkauan untuk dilukiskan dan tingkat pengetahuannya pun tidak dapat dilukiskan. Salah satu keajaiban terbesarnya adalah eksistensinya itu sendiri. Beliau sering menyembunyikan tindakannya dengan tidak memperlihatkan kekuatan ajaibnya. Namun demikian banyak keajaibannya yang tercatat”

“Syah Naqsyband berkata, Suatu hari Aku pergi bersama Muhammad Zahid ke gurun. Beliau adalah seorang murid yang dapat dipercaya dan kami memiliki sebuah kapak beliung (pickaxe) yang kami gunakan untuk menggali. Ketika kami sedang bekerja dengan beliung itu, kami berdiskusi tentang tingkat pengetahuan yang dalam seperti itu di mana kami melempar beliung dan masuk lebih dalam ke dalam pengetahuan spiritual. Kami bergerak semakin dalam sampai pembicaraan kami mengantarkan kami pada asal maslah ibadah.

“Dia bertanya kepadaku, ‘Wahai Syaikhku, sampai batas mana yang bisa dicapai oleh ibadah?’ Aku berkata, ‘Ibadah mencapai tingkat kesempurnaan di mana orang yang beribadah dapat berkata kepada seseorang ‘meninggal’ dan orang itu akan meninggal.’ Tanpa sadar Aku menunjuk pada Muhammad Zahid . Dengan segera dia meninggal. Dia berada dalam keadaan meninggal sejak matahari terbit hingga tengah hari. Hari itu sangat panas. Aku merasa cemas karena tubuhnya menjadi rusak akibat panas yang berlebihan. Aku menariknya ke bawah bayangan pohon dan Aku duduk di sana merenungkan persoalan ini. Ketika Aku merenung sebuah inspirasi dari Hadirat Ilahi masuk ke dalam hatiku dan mengatakan kepadaku agar berkata kepadanya, ‘Wahai Muhammad, hiduplah!’ Aku mengucapkannya 3 kali. Hasilnya, jiwanya mulai memasuki tubuhnya, dan kehidupan mulai kembali lagi padanya. Secara perlahan dia kembali ke keadaan semula. Aku pergi ke Syaikhku dan menceritakan apa yang terjadi. Beliau berkata, ‘Wahai anakku, Allah memberimu suatu rahasia yang belum pernah diberikan kepada orang lain”

“Syaikh Alauddin al-‘Attar berkata, Suatu ketika raja Transoxiana, Sultan Abdullah Kazgan, datang ke Bukhara. Beliau memutuskan untuk berburu di sekitar Bukhara dan banyak orang yang menemaninya. Syah Baha’uddan Naqsyband berada di desa sekitar.

Ketika orang pergi berburu, Syah Naqsyband pergi ke puncak bukit dan duduk di sana. Ketika beliau sedang duduk di sana, dalam memberikan kemuliaan yang berlimpahIbenaknya terlintas pikiran bahwa Allah kepada para awliya. Karena kemuliaan itu, semua raja di dunia ini akan membungkuk kepada mereka. Belum lagi pikiran itu hilang dari hatinya, seorang penunggang kuda dengan mahkota di kepalanya seperti seorang raja, datang ke hadiratnya dan turun dari kudanya. Dengan rendah hati dia menyalami Syah Naqsyband dan berdiri di hadiratnya dengan sangat sopan. Dia membungkuk di hadapan Syaikh tetapi Syaikh tidak menoleh kepadanya. Beliau membiarkannya berdiri selama satu jam. Akhirnya, Syah Naqsyband melihatnya dan berkata, ‘Apa yang engkau lakukan di sini?’ Dia berkata, ‘Aku seorang raja, Sultan Kazgan. Aku sedang pergi berburu, dan Aku mencium aroma yang sangat indah. Aku mengikutinya ke sini dan Aku menemukan engkau duduk di tengah cahaya yang sangat kuat.’ Pikirannya yang tadi, ‘Semua raja di dunia ini akan membungkuk kepada para awliya’ langsung menjadi kenyataan. Itulah bagaimana Allah memuliakan pikiran para awliya-Nya”

“Salah satu pengikutnya yang melayaninya di kota Merv melaporkan, Suatu hari Aku ingin menemui keluargaku di Bukhara setelah mendengar bahwa saudaraku Syamsuddin meninggal. Aku membutuhkan izin dari Syaikhku untuk pergi. Aku berbicara dengan Amir Hussain, Pengeran dari Heart, untuk memintakan izin kepada Syah Naqsyband atas namaku. Dalam perjalanan sepulang shalat Jumat, Amir Hussain mengatakan kepadanya tentang kematian saudaraku dan bahwa Aku meminta izin untuk pergi menemui keluargaku. Beliau berkata, ‘Tidak, hal itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin engkau berkata bahwa dia telah meninggal karena Aku melihatnya masih hidup. Lebih dari itu, Aku bahkan dapat mencium wangi tubuhnya. Aku akan membawanya ke sini sekarang.’ Beliau baru saja mengakiri ucapannya ketika saudaraku muncul. Dia mendekati Syaikh, mencium tangannya dan menyalami Amir Hussain. Aku memeluk saudaraku dan itu adalah kebahagaiaan yang sangat besar di antara kami.

”Syaikh Alauddin Attar berkata, Syaikh Syah Naqsyband suatu kali duduk di sebuah asosiasi yang besar di Bukhara dan berbicara mengenai pembukaan tabir pandangan spiritual. Beliau berkata, ‘Sahabat terbaikku, Mawla ‘Arif, yang berada di Khwarazm, (400 mil dari Bukhara) telah meninggalkan Khwarazm untuk gedung pemerintah, dan beliau sampai di stasiun kereta berkuda. Ketika beliau sampai di stasiun tersebut beliau tinggal di sana untuk beberapa saat dan sekarang kembali lagi ke rumahnya di Khwarazm. Beliau tidak melanjutkan perjalanannya ke Saray. Inilah bagaimana seorang wali dapat melihat dalam maqam pengetahuannya spiritualnya.’ Setiap orang kaget mendengar cerita ini tetapi kami semua tahu bahwa beliau adalah seorang wali besar, maka kami mencatat waktu dan harinya. Suatu hari Mawla ‘Arif datang dari Khwarazm ke Bukhara dan kami memberitahu dia mengenai kejadian itu. Dia sangat kaget dan berkata, ‘Sebenarnya, itulah kejadian yang sesungguhnya”

“Syaikh Muhammad Zahid berkata, Di awal perjalananku dalam Thariqat ini, Aku duduk di sampingnya suatu hari di musim semi. Sebuah keinginan akan semangka masuk ke dalam hatiku. Beliau melihatku dan berkata, ‘Muhammad Zahid , pergilah ke sungai di dekat kita itu dan bawakan kepada kita apa yang engkau lihat dan kita akan memakannya.’ Dengan segera Aku pergi ke sungai itu. Airnya sangat dingin. Aku menyelam ke dalamnya dan menemukan sebuah semangka di bawah air, sangat segar, seolah-olah baru saja dipotong dari dahannya. Aku sangat bergembira dan Aku mengambilnya dan berkata, ‘Wahai Syaikhku terimalah aku”

“Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai saudaraku, bila engkau pergi mengunjungi Syaikh atau ketika engkau duduk di tengah kehadiran Syaikh, berhati-hatilah agar jangan meletakkan kakimu sedemikian rupa sehingga kakimu menghadap ke arahnya. Aku menemukan sebuah pohon dan berbaring di bawahnya dengan kaki berselonjor. Sayangnya seekor binatang datang dan menggigit kakiku. Kemudian aku tertidur lagi dengan rasa nyeri, dan ketika aku tertidur seekor binatang menggigitku lagi. Tiba-tiba aku sadar bahwa Aku telah membuat suatu kesalahan besar, Aku telah menghadapkan kakiku ke arah Syaikhku. Dengan segera Aku bertaubat dan binatang yang menggigitku itu pun pergi “

Syaikh Khalid al-Baghdadi

“Apa pun rahasia yang kumiliki, telah kuberikan kepada deputiku Isma`il ash-Shirwani. Siapa saja yang tidak menerimanya berarti bukan golonganku. Jangan berargumen tetapi satukanlah pikiranmu dan ikuti pendapat Syaikh Isma`il. Aku menjamin siapa pun yang mengikutinya akan bersamaku dan bersama Rasulullah”

“Beliau memerintahkan mereka untuk tidak menangisinya, dan meminta mereka untuk mengorbankan hewan dan memberi makan orang miskin demi kecintaan Allah dan kemuliaan Syaikh” “Beliau juga meminta mereka untuk mengirimkan hadiah berupa pembacaan Al-Qur’an dan bacaan dalam shalat. Beliau memerintahkan mereka untuk tidak menuliskan apapun di makamnya kecuali, “Ini adalah makam orang asing, Khalid”

“Setelah shalat ‘Isya Syaikh Khalid memasuki rumahnya, memanggil seluruh anggota keluarganya dan berkata kepada mereka, “Aku akan meninggal dunia pada hari Jumat.” Mereka tinggal bersamanya sepanjang malam. Sebelum Subuh beliau bangun, berwudhu dan melakukan shalat. Lalu beliau memasuki kamarnya dan berkata, “Tidak ada yang boleh memasuki kamarku kecuali orang yang telah kuperintahkan.” Beliau berbaring di sisi kanannya, menghadap kiblat dan berkata, “Aku telah terkena wabah penyakit. Aku membawa semua wabah yang menyerang Damaskus.” Beliau mengangkat tangannya dan berdo’a, “Siapa pun yang terkena wabah itu, biarkan wabah itu mengenaiku dan bebaskan orang-orang di Syam”

“Kamis tiba dan seluruh kalifahnya memasuki kamarnya. Sayyidina Isma`il ash-Shirwani bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Beliau berkata, “Allah telah menjawab doaku. Aku akan membawa semua wabah yang melanda orang-orang di Syam dan Aku sendiri akan meninggal dunia pada hari Jumat.” Mereka menawarkan air, namun beliau menolak dan berkata, “Aku meninggalkan dunia ini untuk bertemu Allah. Aku telah bersedia menanggung wabah dan membebaskan orang-orang di Syam yang telah terkena wabah itu. Aku akan meninggal dunia pada hari Jumat”

Syaikh Ismail ash-Shirwani

“Jika seseorang mengabdikan dirinya kepada Allah swt, kebaikan pertama yang ia dapatkan adalah bahwa ia tidak lagi membutuhkan manusia”

“Siapa pun yang mendengar kata-kata bijak namun tidak mengamalkannya, ia termasuk munafik.”

“Allah memberikan hamba-Nya kenikmatan dalam berdzikir. Jika seseorang bersyukur kepada Nya dan merasa sengan dengan hal itu, Allah akan membuatnya dekat dengan Nya. Jika orang itu tidak bersyukur kepada Nya dan senang dengan hal itu, dia akan menerima kenikmatan dari berdzikir itu tetapi hanya meninggalkannya di lidahnya.”

“Sufisme adalah kemurnian, dia bukan suatu deskripsi. Dia adalah Kebenaran tanpa akhir, bagaikan sungai mawar merah.” “Tasawwuf adalah berjalan dengan Rahasia Allah”

“Siapa pun yang memilih berteman dengan orang kaya dan meninggalkan orang miskin, Allah akan membuat hatinya mati.” “Suatu hari Syaikh Isma`il yang sedang berada di masjid mengamati seorang miskin yang belum makan, minum dan tidur. Beliau mendekatinya dan bertanya padanya, “Apa yang kamu inginkan?” Dia berkata, “Saya menginginkan roti hangat dan beberapa makanan.” Syaikh Isma`il mengangkat tangannya dan berdoa, “Yaa Allah, ini adalah hamba-Mu yang belum makan selama 3 hari. Aku mohon berilah ia makanan yang Engkau perkenankan untuknya.” Belum selesai beliau berdo’a seorang laki-laki memasuki masjid dan berkata, “Istri saya sakit dan saya bersumpah untuk memberi makan orang miskin agar istri saya diberkati. Saya telah membawa roti hangat dan beberapa makanan untuk diberikan kepada yang lapar.”

“Wahai egoku, Aku marah terhadapmu. Aku akan melemparkanmu ke dalam kesulitan.’ Beliau lalu pergi ke pegunungan di Daghestan dan berbaring di mulut gua di mana terdapat 2 ekor singa. Keduanya tidak bergerak, dan kita yang mengikutnya sangat heran. Lalu singa jantan mendekati beliau dengan sekerat daging yang besar di mulutnya dan duduk, jauh darinya, tidak mendekat namun hanya mengamatinya. Lalu singa betina mendekatinya dengan sedikit daging di mulutnya. Dia mulai menangis dan mengaum. Singa jantan mendekati si betina dan menghentikan tangisannya. Mereka berdua duduk memperhatikan Syaikh. Lalu singa jantan mengambil dua ekor anaknya dan menyerahkannya kepada ibunya, sementara itu dia mendekati Syaikh Isma’il”

“Wahai Abu Said, Allah mempunyai dua jalan pengajaran: jalan yang biasa dan yang istimewa. Jalan yang biasa adalah yang kamu dan pengikutmu kerjakan. Yang istimewa, mari ikutlah bersamaku dan Aku akan menunjukkannya. Mereka mengikutinya sampai tiba di sebuah sungai. Beliau berkata, “Ini adalah jalan Allah,” lalu beliau menyebrang sungai itu dan menghilang.
Aku akan datang padanya dan menanyakan hal yang sangat sulit untuk mengujinya apakah beliau sanggup menjawab atau tidak.’ Aku mendekatinya dan beliau melihatku. Ketika aku mendekat beliau berkata, ‘Wahai Abdur Rahman, Allah berfirman dalam al-Qur’an untuk menjauhi pikiran yang buruk. Janagan mencoba bertanya kepadaku. Itu bukan suatu perilaku yang baik.’ Aku berkata dalam hati, ‘Ajaib! Ini adalah keajaiban yang hebat! Bagaimana beliau bisa mengatahui pertanyaanku dan bagaimana beliau mengetahui namaku?”

Nabi Muhammad saw

“Rasulullah saw bersabda, “Allah akan menunjukkan Keagungan-Nya kepada orang-orang secara umum, tetapi Dia akan menunjukkannya secara khusus kepada Abu Bakar “

“Tidak pernah matahari menyinari seseorang lebih terang daripada Abu Bakar , kecuali dia seorang nabi.” “Tak satu pun yang diturunkan kepadaku yang tidak kuberikan ke dalam hati Abu Bakar”

“Tidak ada seseorang pun di mana aku mempunyai kewajiban tetapi tidak perlu membayar utangku kembali kecuali Abu Bakar, karena Aku berhutang banyak akan menggantinya di Hari Pembalasan nanti.” kepadanya dan Allah.

“Jika aku akan mengangkat seorang sahabat karib (khalil) selain Tuhanku, aku akan memilih Abu Bakar” “Abu Bakar tidak mendahuluimu karena banyak melakukan shalat atau puasa, tetapi karena rahasia yang ada dalam hatinya.”

“Jika seseorang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, Allah akan membuatnya berjalan di salah satu dari jalan-jalan Surga, dan para Malaikat akan merendahkan sayap mereka karena bahagia dan gembira pada ia yang mencari ilmu, dan para penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan di kedalaman lautan akan memohonkan ampunan bagi seorang pencari ilmu! Keutamaan dari seorang yang berilmu atas orang beriman kebanyakan adalah bagaikan terangnya bulan purnama di kegelapan malam atas segenap bintang-gemintang! Ulama adalah pewaris-pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah memiliki dinar maupun dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan; dan ia yang mengambilnya sungguh telah mengambil bagian yang banyak”

http://jalansufi.multiply.com/journal/item/84/KATA_KATA_MUTIARA_HIKMAH_MASYAIKH_NAQSYBANDI_HAQQANI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: