:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Archive for September, 2011

Psikologi Dakwah

[dakwah tak hanya dengan berkata yang apabila didasari emosi akan mudah memancing emosi, kalau didasari dengan pikiran akan mudah masuk akal dan apabila didasari hati akan mudah dimengerti ::refdak)

Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Sebagai dai tentu saja kita ingin mencapai kesuksesan dalam mencapai tugas dakwah. Salah satu bentuk keberhasilan dalam dakwah adalah berubahnya sikap kejiwaan seseorang. Dari tidak cinta Islam menjadi cinta, dari tidak mau beramal saleh menjadi giat melakukannya, dari cinta kemaksiatan menjadi benci dan tertanam dalam jiwanya rasa senang terhadap kebenaran ajaran Islam, begitulah seterusnya.
Karena dakwha bermaksud mengubah sikap kejiwaan seorang madú (objek dakwah), maka pengetahuan tentang psikologi dakwah menjadi sesuatu yang sangat penting. Dengan pengetahuan tentang psikologi dakwah ini, diharapkan kita dapat melaksanakan tugas dakwah dengan pendekatan kejiwaan. Rasul Saw. Dalam dakwahnya memang sangat memperhatikan tingkat kesiapan jiwa orang yang didakwahinya dalam menerima pesan-pesan dakwah.

Pengertian
Secara harfiah, psikologi artinya ‘ilmu jiwa’ berasal dari kata yunani psyce ‘jiwa’ dan logos ‘ilmu’. Akan tetapi yang dimaksud bukanlah ilmu tentang jiwa. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai gambaran dari keadaan jiwanya. Adapun dakwah merupakan usaha mengajak manusia agar beriman kepada Allah Swt dan tunduk kepada-Nya dalam kehidupan di dunia ini, dimanapun ia berada dan bagaimana pun situasi serta kondisinya.
Dengan demikian, psikologi dakwah adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang merupakan gambaran dari kejiwaannya guna diarahkan kepada iman takwa kepada Allah Swt. Bila disederhanakan bisa juga dengan pengertian, dakwah dengan pendekatan kejiwaan.

SIKAP MENTAL DAI
Di atas sudah disebutkan bahwa dakwah merupakan usaha mengubah sikap kejiwaan seseorang dari tidak islami kepada sikap yang islami. Untuk itu, orang yang berdakwah harus memiliki sikap mental yang baik dan ini harus bertul-betul terealisasi dalam kehidupannya sehari-hari. Sikap mental ini antara lain sebagai berikut:
(1) Memiliki kecintaan kepada ajaran Islam, sehingga dalam kapasitasnya sebagai dai, seorang telah merealisasikan pesan-pesan dakwahnya dalam kehidupan nyata. Bila tidak, terdapat hambatan psikologis untuk diterimanya pesan-pesan dakwah oleh madú, bahkan bisa mengakibatkan hilangnya kewibawaan sebagai dai dan di hadapan Allah Swt, ia mendapatkan kemurkaan-Nya. Allah Swt berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (As-Shaff:2)
(2) Lemah lembut kepada madú-nya agar mereka senang dan mau menerima pesan-pesan dakwah serta mengikuti jalannya. Bila bersikap sebaliknya, yakni bengis dan kasar, kemungkinan besar yang terjadi adalah dai dijauhi madú nya. Ini pula yang dicontohkan oleh Rasul Saw dalam berbagai peristiwa, sehingga mereka yang semula memusuhi berubah menjadi pendukung-pendukung yang setia.
(3) Bersikap sabar dan optimis dalam dakwah
(4) Menggunakan cara yang baik dan benar dalam berdakwah, sehingga secara psikologis dakwah akan mendapat simpati mereka yang semula tidak suka dan tidak ada alasan untuk menuduh para dai dengan tuduhan yang tidak benar.

DAKWAH PSIKOLOGIS
Dakwah psikologis atau dakwah yang dilakukan dengan pendekatan jiwa memang sangat penting, turunnya ayat Al Quran secara bertahap merupakan suatu bukti bahwa pendekatan kejiwaan merupakan sesuatu yang tidak boleh diabaikan, begitu pula dengan berbagai peristiwa dakwah yang dialami oleh Rasul Saw. Mislanya dalam turunnya ayat dilarangnya minum khamar, Allah membuat tiga tahapan:
– peringatan tentang mudharat-nya (Qs. 2: 219)
– pelarangan sholat dalam keadaan mabuk (4:43)
– perintah menjauhi khamar (5:90)

Contoh dalam Dakwah Nabi
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan dakwah, ada beberapa contoh dari Rasul Saw yang menggunakan pendekatan kejiwaan, antara lain sebagai berikut:
1. Menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang mudah dipahami dan dihayati di dalam jiwa
Misalnya : ketika seorang yang suka berzina sementara ia punya istri dan menyatakan masuk Islam, tetapi tetap ingin berzina, maka Rasulullah hanya menyuruh orang tersebut bersikap jujur.
2. Bersikap lentur selama tidak menurunkan martabat kebenaran. Seperti yang dilakukan Musa dan Harun dengan tetap menghormati Firáun sebagai ayah yang mengangkat Musa a.s
3. Tidak menghina sesembahan selain Allah yang dilakukan orang-orang yang didakwahi. Hal ini hanya akan menyebabkan orang tersinggung perasaannya meskipun ia tahu yang dilakukannya adalah salah. (QS. 6:108)
4. Mempertimbangkan kapasitas penerima dakwah, sesuai dengan diturunkannya Al Quran secara bertahap. (Qs. 13:106)
5. Menggunakan bahawa kaum yang didakwahi, sehingga pesan-pesan dakwah lebih mudah dan lebih cepat diterima. (Qs. 14:4)
6. Berbicara sesuai dengan tingkat berfikir orang yang didakwahi. Berbicara kepada anak-anak tentu berbeda dengan bicara kepada dewasa. Begitu juga dengan berbicara kepada remaja tentu berbeda dengan kepada anak kecil.
7. Berbicara dengan ungkapan-ungkapan yang padat makna, sebab berbicara yang bertele-tele tidak hanya menjenuhkan pemikiran, tetapi juga menyebabkan orang tidak simpati dan menimbulkan kelelahan jiwa.
8. Guna menyentuh hati dan perasaan orang yang didakwahi, Rasul menyampaikan pesan dakwah dengan emosi dan semangat yang tinggi sesuai dengan tema pembicaraannya.
9. Menyampaikan pesan dengan menyentuh langsung perasaan orang yang didakwahi.

Maraji’: Bekal Menjadi Khatib dan Mubaligh, Drs. H. Ahmad Yani, 2005

Tg. Balai Karimun, Rajab 1427 H
Abu Fadhil Abdurrahman

Advertisements

Kekuatan Sebuah Doa

(kecerdasan seorang ahli ibadah dapat dilihat dari redaksi doanya ::refdak::)

“Ya Allah, jangan kembalikan aku ke keluargakau, dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan.”

Doa itu keluar dari mulut `Amru bin Jamuh, ketika ia bersiap-siap mengenakan baju perang dan bermaksud berangkat bersama kaum Muslimin ke medan Uhud. Ini adalah kali pertama bagi `Amru terjun ke medan perang, karena dia kakinya pincang. Di dalam Al-Quran disebutkan: “Tiada dosa atas orang-orang buta, atas orang-orang pincang dan atas orang sakit untuk tidak ikut berperang.” (Qs Al-Fath:17)

Karena kepincangannya itu maka `Amru tidak wajib ikut berperang, di samping keempat anaknya telah pergi ke medan perang. Tidak seorangpun menduga `Amru dengan keadaannya yang seperti itu akan memanggul senjata dan bergabung dengan kaum Muslimin lainnya untuk berperang.

Sebenarnya, kaumnya telah mencegah dia dengan mengatakan: “Sadarilah hai `Amru, bahwa engkau pincang. Tak usahlah ikut berperang bersama Nabi saw.”

Namun `Amru menjawab: “Mereka semua pergi ke surga, apakah aku harus duduk-duduk bersama kalian?”

Meski `Amru berkeras, kaumnya tetap mencegahnya pergi ke medan perang. Karena itu `Amru kemudian menghadap Rasulullah Saw dan berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah. Kaumku mencegahku pergi berperang bersama Tuan. Demi Allah, aku ingin menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini.”

“Engkau dimaafkan. Berperang tidak wajib atas dirimu.” Kata Nabi mengingatkan.

“Aku tahu itu, wahai Rasulullah. Tetapi aku ingin berangkat ke sana.” Kata `Amru tetap berkeras.

Melihat semangat yang begitu kuat, Rasulullah kemudian bersabda kepada kaum `Amru: “Biarlah dia pergi. Semoga Allah menganugerahkan kesyahidan kepadanya.”

Dengan terpincang-pincang `Amru akhirnya ikut juga berperang di barisan depan bersama seorang anaknya. Mereka berperang dengan gagah berani, seakan-akan berteriak: “Aku mendambakan surga, aku mendambakan mati: sampai akhirnya ajal menemui mereka.

Setelah perang usai, kaum wanita yang ikut ke medan perang semuanya pulang. Di antara mereka adalah “Aisyah. Di tengah perjalanan pulang itu `Aisyah melihat Hindun, istri `Amru bin Jamuh sedang menuntun unta ke arah Madinah. `Aisyah bertanya: “Bagaimana beritanya?”

“Baik-baik , Rasulullah selamat Musibah yang ada ringan-ringan saja. Sedang orang-orang kafir pulang dengan kemarahan, “jawab Hindun.

“Mayat siapakah di atas unta itu?”
“Saudaraku, anakku dan suamiku.”
“Akan dibawa ke mana?”
“Akan dikubur di Madinah.”

Setelah itu Hindun melanjutkan perjalanan sambil menuntun untanya ke arah Madinah. Namun untanya berjalan terseot-seot lalu merebah.

“Barangkali terlalu berat,” kata `Aisyah.
“Tidak. Unta ini kuat sekali. Mungkin ada sebab lain.” Jawab Hindun.

Ia kemudian memukul unta tersebut sampai berdiri dan berjalan kembali, namun binatang itu berjalan dengan cepat ke arah Uhud dan lagi-lagi merebah ketika di belokkan ke arah Madinah. Menyaksikan pemandangan aneh itu, Hindun kemudian menghadap kepada Rasulullah dan menyampaikan peristiwa yang dialaminya: “Hai Rasulullah. Jasad saudaraku, anakku dan suamiku akan kubawa dengan unta ini untuk dikuburkan di Madinah. Tapi binatang ini tak mau berjalan bahkan berbalik ke Uhud dengan cepat.”

Rasulullah berkata kepada Hindun: “Sungguh unta ini sangat kuat. Apakah suamimu tidak berkata apa-apa ketika hendak ke Uhud?”

“Benar ya Rasulullah. Ketika hendak berangkat dia menghadap ke kiblat dan berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau kembalikan aku ke keluargaku dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan.”

“Karena itulah unta ini tidak mau berangkat ke Medinah. Allah SWT tidak mau mengembalikan jasad ini ke Madinah” kata beliau lagi.

“Sesungguhnya diantara kamu sekalian ada orang-orang jika berdoa kepada Allah benar-benar dikabulkan. Diantara mereka itu adalah suamimu, `Amru bin Jumuh,” sambung Nabi.

Setelah itu Rasulullah memerintahkan agar ketiga jasad itu dikuburkan di Uhud. Selanjutnya beliau berkata kepada Hindun: “Mereka akan bertemu di surga. `Amru bin Jumuh, suamimu; Khulad, anakmu; dan Abdullah, saudaramu.”

“Ya Rasulullah. Doakan aku agar Allah mengumpulkan aku bersama mereka,: kata Hindun memohon kepada Nabi.

ADAB PENUNTUT ILMU

(carilah ilmu walaupun menggunakan peralatan china ::refdak)

Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.
Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:
1. Ikhlas karena Allah I .

Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerena Allah I dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya e :
“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya karena Allah I sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat”.( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu Majah

Tetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini – insya Allah – termasuk niat yang benar.
2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.

Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk meng-hilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faidah dari ilmu kita.

Apakah disyaratkan untuk memberi mamfaat pada orang lain itu kita duduk dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi mamfa’at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena Rasulullah e bersabda :
“Sampaikanlah dariku walupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)
Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.
3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari’at.

Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari’at. Karena kedudukan syari’at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid’ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah e. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor’an dan As-Sunnah.
4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat.

Apabila ada perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan persoalaan aqidah, karena persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan salaf. Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah e masih hidup. Karena itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat dengan kita.
5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.

Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).
6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.

Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama.
7. Mencari kebenaran dan sabar

Termasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut.

Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting karena sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.Wallahu ‘Alam.
Dikutip dari ” Kitabul ilmi” Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin
.(Abu Luthfi)

sumber: kumpulan kultu di 4srared

Jangan menunda Bahagia di Dunia

(tidak ada kata libur dalam islam, boleh saja berbahagia::refdak::)

7 Indikator Kebahagiaan Dunia
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.
Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.
Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.

Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

sumber:materi ceramah dan kultum di 4shared.com

Arti Sebuah Cinta

(biarlah cinta terungkap tanpa dikatakan ::refdak::)

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, ¡§Kami sama-sama cinta, suka sama suka.¡¨ Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad . Allah berfirman:
¡§Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.¡¨ (Ali ¡¥Imran: 14)
Rasulullah ƒâ dalam haditsnya dari shahabat Tsauban ƒê mengatakan: ¡¥Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.¡¦ Seseorang berkata: ¡¥Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?¡¦ Rasulullah ƒâ berkata: ¡¥Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.¡¦ Seseorang bertanya: ¡¥Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?¡¦ Rasulullah ƒâ menjawab: ¡¥Cinta dunia dan takut mati.¡¦ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)
Asy-Syaikh ¡¥Abdurrahman As-Sa¡¦di dalam tafsirnya mengatakan: ¡§Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ¡¥Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah ƒ¹ memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.¡¨

Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: ¡§Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.¡¨ (Madarijus Salikin, 3/9)

Hakikat Cinta
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.

Cinta kepada Allah
Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ¡¨Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:

¡§Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.¡¨ (Ali ¡¥Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata: ¡§(firman Allah) ¡¥Niscaya Allah akan mencintai kalian¡¦, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah ƒâ, faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah ƒâ maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.¡¨
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah ĉ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Đ:
¡§Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.¡¨ (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur¡¦an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah ƒ¹.
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah ƒ¹. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)

Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah ƒ¹ berfirman:

¡§Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.¡¨ (Al-Hujurat: 7)

¡§Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.¡¨ (Al-Baqarah: 165)

¡§Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.¡¨ (Al-Maidah: 54)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah ƒâ adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: ¡§Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.¡¨

Macam-macam cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ¡¥Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua, cinta syirik.
Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah ƒ¹ƒnberfirman:

¡§Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.¡¨ (Al-Baqarah: 165)

Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah ƒ¹ƒnberfirman:

¡§Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.¡¨ (Al-Fajr: 20)
Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah ƒ¹ berfirman:ƒn

¡§Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ¡¥alaihis salam) berkata: ¡¥Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.¡¨ (Yusuf: 8)
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.

Buah cinta
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ƒä mengatakan: ¡§Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.¡¨ (Majmu¡¦ Fatawa, 1/95)
Asy-Syaikh ¡¥Abdurrahman As-Sa¡¦di ƒä menyatakan: ¡§Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.¡¨ (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
Wallahu a¡¦lam. ƒ¯

Bila hati dimabuk cinta

Mabuk cinta biasanya terjadi dari dua belah pihak antara yang mencintai dan yang dicintai, terkadang kedua belah pihak saling mencintai satu sama lainnya, namun adakalanya gejolak cinta itu bertepuk sebelah tangan.

Orang yang terkena panah asmara ini adalah orang yang paling celaka hidupnya, paling hina, paling gelisah dan paling jauh dari Rabb mereka.

Ibnu Taimiyah berkata :”mabuk asmara dapat membuat penderitanya kurang akal dan ilmu, rusak agama dan akhlaknya, lalai akan seluruh kebaikan agama dan dunia. Dan akibat buruknya bisa menjadi berlipat ganda”.

Orang yang dimabuk asmara akan selalu mengkhayalkan kekasih hatinya tidak sesuai dengam keadaan yang sebenarnya, hingga akhirnya penyakit ini akan menimpa dirinya. Kalaulah dia tau secara mendalam orang yang dikaguminya, ia tidak akan sampai dimabuk cinta, walaupun sudah terjalin rasa cinta dan hubungan dalam dirinya.

Kasmaran adalah penyakit kronis yang akan merusak jiwa, menghilangkan katentraman, bahkan penyakit ini ibarat lautan berombak yang akan menenggelamkan siapapun yang mengarunginya. Penyakit ini laksana samudra yang tak bertepi. hampir tidak ada seorangpun yang dapat selamat darinya.

Jika kita tanya kepada nikmat “apa yang menyebabkanmu sirna?” kita Tanya pada bencana “apa yang menyebabkanmu datang menghampiri?” kita Tanya pada kesedihan dan penderitaan “apa yang menyebabkanmu tertarik mendatangiku?” kita Tanya pada keselamatan “apa yang menyebabkanmu menjauh?” kita Tanya pada aib “apa yang menyebabkanmu tersingkap?” kita Tanya pada wajah “apa yang menyebabkan hilangnya cahayamu?” kita Tanya pada kehidupan “apa yang membuatmu menjadi keruh?” kita Tanya pada cahaya keimanan “apa yang menyebabkan cahayamu redup?” kita Tanya pada kehormatan diri ” apa yang menyebabkanmu hina?” kita Tanya pada diri yang dihinakan setelah dimuliakan ” apa yang telah merubah keadaanmu ini?” seluruhnya pasti akan menjawab ” ini adalah buah dari penyakit asmara”

Jika kita melihat cinta yang melintas di dalam hati dan bagaimana denyutnya, anda pasti akan dapati bahwa mengalirnya cinta dalam hati lebih lembut daripada mengalirnya nyawa dalam jasadnya.

Seorang yang dimabuk asmara akan binasa di tangan orang yang dicintainya. Dia akan menjadi hamba yang hina. Jika kekasih hati yang ia cintai memanggilnya maka akan segera memenuhi panggilan itu. Jika ditanyakan padanya “apa yang engkau harapkan?” maka kekasih yang ia cintai itulah yang menjadi tumpuan dan harapannya. Ia tak akan hidup tenang dan tenteram tanpa kekasihnya.

Layakkah bagi orang yang berakal menggadaikan seorang raja yang dipatuhi dengan orang yang akan menggiringnya ke dalam adzab yang pedih???

Penyakit ini akan menghilangkan rasa malu, padahal malu adalah materi hidupnya hati. Hal itu juga kan berpengaruh pada penyimpangan amal dan hidayah, keadaan yang jelek akan ia anggap baik. Juga akan menimbulkan perangai buruk yang tidak terdapat dalam kejahatan laen. Akan menimbulkan kemurkaan Allah pada dirinya.

Yach banyak sekali kerugian yang akan kita dapatkan Karena mabuk asmara ini, coba kita tengok sebentar, apa sebenarnya penyebab dari mabuk asmara itu?

Berpaling dari Allah ; barangsiapa yang mengenal Allah akan menautkan hatinya pada-Nya, dan tidak akan mungkin berpaling mencari kekasih selain-Nya.

Kejahilan seseorang tentang bahaya yang muncul karena mabuk cinta.

Kekosongan hati ; “tidaklah mungkin penyakit ini muncul kecuali atas orang yang suka melamun dan menganggur”

ibnul qoyyim berkata “perkara yang paling berbahaya bagi seorang hamba adalah kehampaan hati dan jiwa. Karena sesungguhnya jiwa itu tidak akan pernah kosong. Jika tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat pasti akan terisi dengan hal-hal yang membahayakan”

Media informasi

Media informasi sangat berperan besar terhadap penyebaran penyakit ini. Lihatlah betapa vulgarnya acara-acara televisi, Koran, majalah, buku-buku, internet, VCD dan sebagainya meng

Taklid buta

Membaca kisah-kisah percintaan, puisi-puisi, syair, dan mendengarkan lagu-lagu tentang cinta akan menjerumuskan seseorang untuk mengekspresikan apa yg dia rasa dengan hal serupa. Dia akan mudah mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang disekelilingnya, tanpa tau itu hak atau batil.

Keliru dalam memahami makna cinta dan mabuk asmara

Persepsi yang salah dalam memaknai cinta , yaitu anggapan bahwa hakikat cinta itu adalah cinta yang dapat membutakan mata hati, membuatnya terombang-ambing dalam kesesatan. Siapa saja yang tergelincir ke dalamnya akan menjadi lembut, penih perasaan, menjadi mulia, dan sebainya. Mereka beranggapan barangsiapa tidak pernah merasakannya akan menjadi orang yang keras hati, tidak memiliki perasaan dan tidak memiliki sedikitpun kemuliaan.

Tertipu dengan ungkapan-ungkapan orang-orang yang membolehkan mabuk asmara

Sebagian orang membolehkan mabuk asmara dengan berdalil pada hadits “Barangsiapa yang jatuh cinta kemudian menahan dirinya, menyembunyikannya dan bersabar, setelah itu dia meninggal, maka dianggap mati syahid”.

Ibnu Qoyyim berkata, hadits ini diriwayatkan oleh Suwaid bin Sa’id, dan telah diingkari oleh para ulama islam. Hadits ini batil dan palsu.

Syahid terbagi menjadi syahid khusus dan umum. Syahid khusus yaitu mati terbunuh di jalan Allah. Adapun syahid umum tersebut dalam hadits shahih dan tidak terdapat didalamnya yang mati karena menahan cinta.

Pamer kecantikan, tabaruj, dan membuka penutup wajah

Mengumbar pandangan mata

Terlalu bebas mengumbar pandangan akan melahirkan kebinasaan. Ketika seseorang leluasa memandang maka ia telah membuka hati untuk melampiaskan syahwatnya.

Percakapan melalui telpon, chatting, dsb

Taubat dari mabuk asmara

Bagi siapa saja yang telah terjerumus dalam cinta terlarang hendaklah ia bertaubat kepada Allah, baik dirinya sebagai orang yang mencintai, dicintai, ataupun pihak-pihak lain yang turut membantunya.

Caranya adalah dengan meninggalkannya, jangan menampakkan kepada orang yang dicintai, berusaha melupakannya, tidak menemuinya, dan tidak memandangnya. Serta memutuskan segala bentuk hubungan yang dapat membangkitkan kenangan lamanya.

Terapi penyakit mabuk asmara

• Ikhlas karena Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “sesungguhnya apabila hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, maka tidak ada yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik darinya”

Jika seorang hamba ikhlas kepada Allah, maka Allah akan memilihnya, menghidupkan hatinya, menariknya kepada-Nya. Maka sagala keburukan dan kekejian akan berpaling darinya dan ia sangat takut bila terjadi yang sebaliknya. Sedangkan hati yang tidak ikhlas, pada dasarnya terbuka secara mutlak untuk segala bentuk tuntutan, keinginan, dan cinta. Hati akan menerima segala sesuatu yang mendatanginya. Ibarat ranting kecil yang meliuk-liuk kesana kemari mengikuti kemana aarah angin.

Berdo’a : merendahkan diri kepada Allah

Seseorang yang diuji dengan penyakit ini berarti dalam keadaan terjepit, dan Allah berjani akan memenuhi do’a hamba-Nya yang dalam kondisi terjepit.

• Menahan pandangan

Ketika seorang hamba menahan pandangannya maka hati turut menahan syahwat serta keinginannya. Allah menjadikan menahan pandangan dan menjaga kemaluan sebagai kunci utama penyucian jiwa. Dan kesucian jiwa mengandung pengertian hilangnyaa segala macam bentuk kejahatan seperti perbuatan keji, kezhaliman, syirik, dusta, dan sebagainya.

• Banyak berfikir dan berdzikir

Harusnya ia ingat bahwa seluruh langkahnya dicatat dan ia akan dimintai pertangggungjawaban. Seharusnya ia berfikir bahwa ungkapan perasaan dan perbincangan dengan kekasihnya akan ditanyakan nanti pada hari kiamat. Ingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian, dan betapa sakitnya sakarotul maut. Berpikir bahwa dirinya tidak rela jika ada mahramnya yang diincar dan dipacari, jika ia masih memiliki rasa cemburu, bagaimana ia tega berbuat hal yang sama kepada orang lain?

• Menjauh dari orang yang dicintainya

Memisahkan diri dan menjauh akan mengusir bayangan orang yang dicintai. Hendaklah ia bersabar menanggung perpisahan beberapa saat meski awalnya sulit. Jangan sampai ia melihatnya, mendengar suaranya dan melihat sesuatu yang dapat mengingatkannya kepada kekasihnya.

• Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat

Sebabnya asmara adalah kekosongan hati, oleh karena itu sibukkan diri dengan bekerja, belajar, dan berkarya.

• Menikah

Meski bukan dengan orang yang dicintainya, sebab menikah mencukupi segalanya, penuh berkah dan menjadi solusi. Jika telah menikah maka hendaklah sering melakukan jima’, sebab jima’ dapat meredam gejolak syahwat yang tersimpan. Jika orang yang dicintainya adalah orang yang mungkin dinikahinya maka hendaklah ia menikah dengannya. Jika sulit menikahnya hendaklah memohon kepada Allah untuk memudahkannya.

menengok orang sakit, mengiringi jenazah, menziarahi kubur, melihat orang mati, berfikir tentang kematian dan kehidupan setelahnya

Senantiasa menghadiri majelis ilmu, duduk bersama orang-orang zuhud dan mendengar kisah-kisah orang sholih.

Memangkas habis ambisi dengan membuang putus asa disertai dengan keinginan keras untuk dapat menundukkan hawa nafsu

Sesungguhnya pangkal terjadinya al-isyq adalah menganggap indah sesuatu yang dikagumi, baik melalui pandangan ataupun pendengaran. Jika tidak diikuti dengan keinginan keras untuk bertemu lalu disertai dengan usaha untuk mendapatkannya niscaya mabuk asmara dapat dihindari.

Selalu konsisten menjaga sholat dengan sempurna, menjaga kewaajiban-keajiban sholat, baik berupa kekhusukan dan kesempurnaannya secara lahir maupun batin.

Menjaga kharisma agar tidak jatuh kepada kedudukan yang hina dina

Orang yang punya wibawa dan harga diri tidak mau terikat menjadi budak sesuatu.

Memelihara kemuliaan diri, kesucian dan menjaga kehormatannya

Harga diri seseorang itu akan tinggi dan kedudukannya akan muliaa sesuai dengan kadar kemuliaan dan kesucian dirinya.

Membayangkan cela yang terdapat pada diri orang yang dicintainya

Orang yang engkau cintai tidak identik dengan apa yang engkau khayalkan dalam hatimu. Maka carilah aibnya niscaya engkau akan dapat melepaskannya.

Memikirkan akan ditinggal pergi oleh orang yang dicintainya

Dengan itu akan hilanglah segala perkara yang mendatangkan ujian yang lebih berat dari batas kewajaran yang dapat merugikan kedudukannya di dunia maupun di akhirat.

Memikirkan akibat perbuatannya

Cinta itu selalu diselimuti kesedihan, kecemasan, takut berpisah, kehinaan di dunia dan penyesalan di akhirat.

Memikirkan betapa banyak hal-hal yang bermanfaat menjadi luput disebabkan menyibukkan diri dengan cinta seperti ini

Melihat kondisi para pemabuk cinta

Bagaimana derita yang mereka tanggung, bagaimana hidup mereka yang dikucilkan oleh masyarakat, betapa berantakan segala urusan dunia dan akhirat mereka, dsb. Hal ini akan membuat orang yang berakal berpikir dua kali untuk lebih jauh mengarungi samudera asmara.

Siapa saja yang mengambil obat penawar ini, mudah-mudahan ia mendapat pertolongan dan taufik. Jika ia telah bermujahadah dan bersabar namun masih sedikit tersisa dalam hatinya, maka hal itu tidaklah tercela.

Junaid berkata “Manusia tidak dicela karena tabi’at yang tercipta dalam dirinya, yang dicela adalah jika ia melakukannya”.

Ibnu Hazm berkata “tidak ada cela bagi orang yang tabiat dalam dirinya cenderung kepada kejelekan walaupun sangat tercela dan hina sekalipun selama ia tidak menampakkannya dalam perkataan maupun perbuatan. Bahkan bisa jadi akan lebih terpuji dibandingkan orang yang tabi’at dasarnya selalu mengajaknya untuk berbuat hal-hal yang mulia. Sebab tidak mungkin dapat mengalahkan tabi’at yang rusak kecuali jika ia memiliki akal yang utama.

Laa Haula Walaa Quwwata illaa billaahi

Smoga Allah berkenan membebaskan hati kita dari Al ‘Isyqu, amin

Semarang, 05102004, 00:25

Persiapan menyambut Romadhon, kita jelang Romadhon dengan hati yang bersih

DOA UNTUK KEKASIH HATI

>

> Allah Yang Maha Pemurah, terimakasih Engkau telah menciptakan dia dan

> mempertemukan saya dengannya.

>

> Terimakasih untuk saat-saat indah yang boleh kami nikmati

> bersama.Terimakasih untuk setiap pertemuan yang boleh kami lalui bersama.

> Terimakasih untuk setiap saat-saat yang lalu. Saya datang bersujud

> dihadapan-Mu, Sucikan hati saya yaa Allah, sehingga dapat melaksanakan

> kehendak dan rencana-Mu dalam hidup saya.

>

> Yaa Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan

> saya merindukan kehadirannya. Janganlah biarkan saya melabuhkan hati

> saya di hatinya. Kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya dan usirlah

> dia dari relung hati saya. Gantilah damba kerinduan dan cinta yang

> bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan pada-Mu yang tulus dan

> murni. Tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

>

> Tetapi jika Kau ciptakan dia untuk saya, yaa Allah, tolong satukan

> hati kami. Bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya.

> Berikan saya kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan untuk memenangkan

> hatinya.

> Urapilah dia agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya

> dengan segala kelebihan dan kekurangan saya sebagaimana saya telah Kau

> ciptakan.

> Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh-sungguh mencintai dan rela membagi

> suka dan duka saya dengan dia.

>

> Yaa Allah Maha Pengasih, dengarlah doa saya ini. Lepaskanlah saya dari

> keraguan ini menurut kasih dan kehendak-Mu.

>

> Allah Yang Maha Kekal, saya tahu Engkau senantiasa memberikan yang

> terbaik buat saya. Luka dan keraguan yang saya alami pasti ada hikmahnya.

> Pergumulan ini mengajar saya untuk hidup makin dekat pada-Mu, untuk

> lebih peka terhadap suara-Mu yang membimbing saya menuju terang-Mu.

> Ajarlah saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang

> telah Engkau tentukan.

>

> Jadilah kehendak-Mu dan bukan kehendak saya yang jadi dalam setiap

> bagian hidup saya, yaa Allah.

>

 Amin.

Hapuslah Air Mata di Pipi, Hilangkan Lara di Hati

Penulis: Abu Aufa*

alhikmah.com – Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada.Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.

Duhai…

Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumah tangganya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta’atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

Letih…

Sungguh amat letih jiwa dan raga. Sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa yang menunggu di sana.

Duhai ukhti sholehah…

Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri, duhai ukhti. Taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia

Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Tak usah membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.

Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya

di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa. Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tausyiah – lah

selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.

Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.

Sabarlah ukhti sholehah…

Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.

Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini. Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani. Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri.

Semoga.

WaLlahua’lam bi shawab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*

Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,

Abu Aufa *

(* Penulis buku Diari Kehidupan 2, telah diterbitkan oleh PT Syaamil Cipta Media, Bandung, 2004, Catatan: Tulisan ini adalah hasil editing dari tulisan lamanya Abu Aufa yang berjudul Usah Kau Lara Sendiri.

> Ya, ALLAH,
>
> Aku berdoa untuk seorang wanita,
> yang akan menjadi bagian dari hidupku.
> Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.
> Seorang wanita yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya
> setelah Engkau.
> Seorang wanita yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.
>
> Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas.
> Seorang wanita yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.
> Seorang wanita yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati
> ketika
> aku berbuat salah.
> Seorang yang mencintaiku bukan karena ketampananku tetapi karena hatiku.
> Seorang wanita yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu
> dan situasi.
> Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang pria ketika
> berada disebelahnya.
>
> Aku tidak meminta seorang yang sempurna,
> Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna,
> sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.
> Seorang wanita yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
> Seorang wanita yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
> Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya.
> Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
>
> Dan aku juga meminta:
> Jadikanlah aku menjadi seorang pria yang dapat membuat wanita itu bangga.
> Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU,
> sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU,
> bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.
>
> Berikanlah SifatMU yang lembut sehingga ketampananku datang dariMU
> bukan dari luar diriku.
> Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.
> Berikanlah aku penglihatanMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik
> dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.
> Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU
> dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari,
> dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi.
>
> Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat
> mengatakaan “betapa besarnya Tuhan itu karena Engkau telah memberikan
> kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna”.
>
> Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang
> tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang
> Kautentukan.

sumber :4shared.com

Kiat Membuat Novel Romantik

(yang membangun cinta adalah akad religi jelita, bukan tatapan manis yang renta ::refdak::)

How to Write a Romance Novel

“Know the romance market,” says Sheri McGregor, author of “Under One Roof.” Romance novels made up more than 50 percent of mass market fiction sold in 1997. “Read in the genre and find where you think your story ideas fit. Get the guidelines. Then write your story with the market in mind, without letting go of your story’s heart,” McGregor says.
Step 1 – Know the story you want to tell, and know your characters.
Step 2 – Join a writer’s critique group, either online or face-to-face.
Step 3 – Write, write and write more. Nothing helps more than practicing your craft.
Step 4 – Develop a thick skin. No one writes a masterpiece the first time.
Step 5 – Learn from criticism, but don’t lose the voice that makes your writing unique.
Step 6 – Read books about writing, such as Anne Lamott’s “Bird by Bird,” Natalie Goldberg’s “Writing Down the Bones,” or Evan Marshall’s “The Marshall Plan for Writing a Novel.”
Step 7 – Study your market, and be prepared to write for a specific genre.
Step 8 – Become familiar with the publishers in your genre and subgenre.
Step 9 – Join a romance writers’ club and attend writers’ conferences. Make sure to schmooze with agents at these conferences.
Step 10 – Submit your book to an agent to make the rounds of publishers.

Tips & Warnings
• “Emotion,” stresses McGregor. “Don’t back away from it, because these stories need it. To me, romances are character stories. They may have a complex plot, but it’s the characters the readers want to love and get involved with.”
• Subgenres can range from historical to contemporary to fantasy. Inspirational and multicultural or ethnic romances are also popular.
• “It’s not as simple as it looks,” McGregor says. “I have heard a lot of people say that they thought they’d write romance because it looks like it would be easy. They often find it much more difficult than they thought. Keeping focused on a romance within the context of a larger plot can be difficult.”
• Remember the audience is largely feminine. More than 90 percent of regular readers of romance novels are women.
• No legitimate agent or publisher expects payment from an author to read a submission.

How to Write a Romance Novel – http://www.mahalo.com/how-to-write-a-romance-novel
If you’re a romantic at heart and have a story to tell, why not consider writing a romance novel? With the romance market expanding to accommodate on-the-go readers with eBooks and a wider array of stories than ever, now is the perfect time to write one.
• Romance Writing Tips
1. Read a lot of romance novels.
2. Study the market.
3. Learn publisher guidelines before starting.
4. Craft a realistic hero and heroine.
5. Research your plot and setting.
6. Make sure your intimate scenes are believable.
7. Begin writing.
8. Avoid distractions.
9. Workshop your finished manuscript.
10. Make revisions.
11. Put together a submissions packet.

Introduction
o Romance novels are a treasured pastime for millions of readers. According to a 2005 survey, 64.6 million Americans admitted to having read a romance novel. Romance Writers of America: Romance Literature Statistics From paranormal encounters with hot vampires to historical journeys with armor-clad knights, romance offers an escape for the romantic in everyone.
o The romance market is more competitive than ever, and many publishers have tried to take risk out of the equation by devising specific plot formulas for their writers to follow. If you’re ready to try your hand at romance novel writing, read on for some tips that will both familiarize you with the market and ensure that your writing adheres to romance publishers’ (and readers’) expectations.

• Step 1: The Romantic Reader
1. If you are considering writing a romance novel, chances are you’ve read a few. Reading is important for writers no matter what genre you write in. Here are a few reasons why it is especially important for romance writers to stay on top of their market:
2. Reading current romance will give you an idea of what editors are looking for right now. Romance Factor: Romance Writing 101
3. You can get an idea of how the plots are structured. How To Do Things.com: How to Write a Romance Novel
4. You’ll be able to understand the emotional execution involved in seeing a hero and heroine through to the end. Write Place, Write Time: Writing the Romance Novel (May 21, 2008)
5. Exposure to believable love scenes will make writing your own that much easier. Romance Factor: Writing the Love Scene
6. Inspiration may lie in the pages of a well-loved story.
7. You can get a basic idea of what has been overdone. How To Do Things.com: How to Write a Romance Novel

Step 2: Basic Elements of Storytelling
1. Think back on the romance novels you’ve read in the past. The similarities between them all are the elements the storyteller used to orchestrate the plot. Before you can begin writing, you’ll need to know what comprises a successful story.
2. Theme: The central, driving force of the story. It is often a reflection on life or human nature. ThinkQuest: Parts of a Story In romance novels, the reflection will likely fall back on the development of a romantic relationship between two people. Wikipedia: Romance Novel
3. Plot: Consists of the setting and conflict and drives the story from one point to the next. ThinkQuest: Parts of a Story
4. Characters/Protagonist: The person or persons affected by the central action of the story. Arcanum-Butler Local School: Creative Writing
 In a romance, the protagonist is usually the heroine or hero, sometimes both, working against forces keeping them apart.
5. Setting: The place and time during which the plot of the story is set. Wikipedia: Setting
6. Conflict/Antagonist: The conflict is the force that works against the characters.
1. Conflict is usually established in the beginning. ThinkQuest: Parts of a Story
2. The action in the plot rises naturally as the conflict builds up.
3. The antagonist is often another character working against the protagonist. Arcanum-Butler Local School: Creative Writing
 Sometimes this will be the hero or heroine working against each other despite their mutual attraction.
7. Climax: Turning point in the plot. The action and conflict reach a boiling point, and there is no turning back. ThinkQuest: Parts of a Story
8. Falling Action: Begins to wrap up the loose ends through the story. ThinkQuest: Parts of a Story
9. Resolution: All major points of conflict are concluded. ThinkQuest: Parts of a Story
o Both the conflict and the climax of the story should heavily revolve around two people going through the stages of developing a relationship. Wikipedia: Romance Novel

Step 3: Researching the Market
1. In most other genres this is something you are more likely to do after you have your manuscript finished. In romance, it is imperative that you take a look at the market before you even begin so you are aware of any set guidelines that the publishers have in place.
2. Each publisher will have a different formula and set of guidelines. How To Do Things.com: How to Write a Romance Novel
 Some will have several sub-genres of romance that they publish. Each of those sub-genres will have a set of guidelines.
3. The sensuality requirements will be different for each publisher. Romance Factor: Romance Writing 101
4. Many will have happily ever after standards. The Boston Phoenix: How to Become a Romance Novelist
5. Most will have a list of taboo subjects that they will never publish. How To Do Things.com: How to Write a Romance Novel
6. Hot topics like STDs and un-planned pregnancies have pushed many editors to include safe-sex practices in their formulas. WikiHow: How to Write a Romance Novel
o Even if you go into your romance novel with a basic idea of what you’d like to write, take some time to look at publishers’ formulas and guidelines before you start writing. When you’ve finished your novel and are ready to submit, you are already one step ahead of the writer who didn’t bother to look at the market.

Step 4: The Hero and Heroine
1. Nowhere is the character-driven plot more essential than in romance novels. As the romance genre has evolved, the character roles have as well. Heroines were once portrayed as vulnerable, lonely women in desperate need of a man to complete them, and the heroes tended to be dominant, social climbers intrigued by the conquest of a woman beneath them. The Boston Phoenix: How to Become a Romance Novelist
2. Today the characters are more in tune with current societal roles. Whether you are writing about a futuristic vampire or one of Queen Guinevere’s handmaidens, the people in your story need to be real enough for your readers to identify with them.
3. When creating your hero make sure he is:
4. Strong, exciting and bold. Romance Factor: Romance Writing 101
5. Sensitive. How To Do Things.com: How To Write a Romance Novel
6. Attractive. WikiHow: How to Write a Romance Novel
7. Sensual and sexy. Eclectics.com: Six Ingredients of a Sensual Romance Novel
8. Realistically flawed. WikiHow: How to Write a Romance Novel If he is 100% perfect, there is no way he’ll be believable.
9. Everything your heroine fantasizes about in a man. Eclectics.com: Six Ingredients of a Sensual Romance Novel
o You’ll want heroines who are:
11. Attractive, even if she doesn’t know or believe she is attractive. Romance Factor: Romance Writing 101
12. Independent and self-reliant. Eclectics.com: Six Ingredients of a Sensual Romance Novel
13. Smart and spunky. How To Do Things.com: How To Write a Romance Novel
14. Sensitive, but not vulnerable. How To Do Things.com: How To Write a Romance Novel
15. Not too desperate to have a man in her life. How To Do Things.com: How To Write a Romance Novel
16. Unafraid to speak her mind when needed. Eclectics.com: Six Ingredients of a Sensual Romance Novel
17. Motivated by an inner-drive. Romance Factor: Romance Writing 101
18. Imperfect, as long as it doesn’t detract from her character.
19. Someone the hero is willing to do anything to get. Romance Factor: Romance Writing 101
o On top of your main characters, you’ll want to add in a few secondary characters like friends and family members. Always remember that your secondary characters should never outshine your main characters. Romance Factor: Romance Writing 101

Step 5: The Intimate Parts
1. Romance doesn’t start off slow. The sparks between your hero and heroine need to fly from the very first moment they come in contact, whether they are attracted to each other or they hate each other’s guts. Eclectics.com: Six Ingredients of a Sensual Romance Novel These scenes will increase the romantic tension until it explodes, and the intimacy follows. Here are some tips to keep in mind while crafting the intimate moments between your characters:
2. If you are writing for a specific publisher, make sure you know their sensuality limits. All About Romance: Sensuality ratings
3. Exaggerate the awareness of the sexual tension between your characters from the start. Romance Factor: 20 Steps to Writing Great Love Scenes Part 1
4. Explore the connection between your characters; the more emotionally-charged the better. Eclectics.com: Six Ingredients of a Sensual Romance Novel
5. Passion doesn’t have to be all about sexual attraction. Write Place, Write Time: Writing the Romance Novel (May 21, 2008)
6. Let your characters determine the level of intimacy they achieve, and how quickly they achieve it. Romance Factor: 20 Steps to Writing Great Love Scenes Part 1
7. Don’t just dive into an intimate scene, draw it out slowly so the reader can savor it. Romance Factor: Writing the Love Scene
8. Avoid well-known taboos, like rape, incest, terrorism, terminal illness and anything else that draws away from the romance factor. Romance Factor: Romance Writing 101
9. Draw from your characters’ experiences and background during intimate scenes. Romance Factor: 20 Steps to Writing Great Love Scenes Part 1
 If your character is a virgin, she’s not going to dive right into the moment uninhibited.
 If your character has never connected emotionally before during intimacy, draw on that.
 If you’re writing about a man who is good with his hands, use that to his advantage.
10. Hardcore erotic romance editors do require that you use natural terms for parts of the body. This could make some writers uncomfortable. In time, it will feel natural to you and your characters. Romance Factor: 20 Steps to Writing Great Love Scenes Part 1
o The possibilities are unlimited. After all romantic scenes are reality-based moments of fantasy, but keep reality in the back of your mind at all times. If it’s physically impossible, don’t try to pull it off just because it’s fiction.
Step 6: Research and Outlining
• Research
1. There are a lot of reasons you might need to do research for your romance novel. If you are planning a period romance, something with a hint of suspense or a paranormal twist, you will want to make sure your setting and plot are credible.
2. Take advantage of your local library.
3. Use the Internet, but don’t rely on just any old page.
 Make sure the information comes from a reliable source.
 You can also cross-reference information with several different sites to see if it matches up.
4. Take care not to jumble the creative process as you research. Remember, writing is a creative endeavor, and you should be making up the most interesting parts on your own. Pohangina Pete: How Thoroughly Should You Research Your Novel? (May 9, 2004)
Outlining
o A basic outline is a great way to keep track of where you want the story to go, while still allowing you the flexibility to be spontaneous and creative.
1. Having a basic idea of the plot structure will help you finish your novel. Deep Genre: How to write a Novel (Part 1) (January 15, 2008)
2. Think of an outline like a map of your story. It will allow you to check all alternative routes to make sure they still wind up at the end you planned. HollyLisle.com: How to Finish a Novel
3. Try storyboarding (writing things down scene by scene) on note cards that you can flip through whenever you need a refresher. Steampunk: Advice on Novel Writing by Crawford Kilian

Step 7: The Writing Process
1. If this is your first novel, you may want to take some time to familiarize yourself with some of the tools of writing, such as point-of-view, dialogue, grammar and showing versus telling.
2. Visit Mahalo’s page on How to Write a Novel for a detailed look at each of these important tools.
3. Here are some tips that will help you see your romance novel through to the final page:
4. Once you decide on a basic plot build on it by asking yourself Who? What? Why? When? Where? How?. Romance Factor: Develop a Kick-Ass Plot
5. Make a commitment to writing so you see your novel through until the end.
6. Avoid as many distractions as you can while writing.
7. Set aside time to write every day. WikiHow: How to Write Romance Novels
8. Find a place to write where you won’t be disturbed.
9. Know your characters and plot well. eHow: How to Write a Romance Novel
10. Keep your research handy at all times in case you need to reference something.
11. Beware of simple plot solutions like:
 Waking from a dream to find none of it was real.
 Killing off a frustrating character suddenly instead of confronting them.
 Relying on coincidence instead of establishing an actual cause for events. Romance Factor: Techniques to Make Your Romance Zing
12. Don’t try to get everything right the first time through.
 Remind yourself that this is just the first draft, and your main goal now is to get the basics of the story out on paper. Victory Page for Writers: Writing Your First Novel (2003)
o If you find yourself getting stuck while writing, check out Mahalo’s page on How to Beat Writer’s Block.
Step 8: The Revision Process
1. Congratulations! You’ve finished the first draft of your romance novel. Pat yourself on the back and take a break while you get it printed out. Once you’re ready to start the revision process, here are a few things to keep in mind:
2. Read over the first draft and take notes you can refer to later when revising.
 Does it adhere to editorial guidelines?
 Are your plot and characters consistent?
3. If you haven’t already, join a writers group that can give you feedback on your novel. eHow: How to Write a Romance Novel
4. Print out copies and ask your writers group for some feedback. Deep Genre: How to Write a Novel (Part 2) (January 21, 2008)
5. Listen with an open mind to all criticism. Deep Genre: How to Write a Novel (Part 2) (January 21, 2008)
6. Compare their notes with yours and begin making revisions.
7. Once you have a second draft, start the process over again, this time also allowing yourself to note any spelling and grammar mistakes.
8. Don’t be afraid to make changes or even cut out entire sections if they don’t fit into your vision. Deep Genre: How to Write a Novel (Part 2) (January 21, 2008)
o It could take three or more draft revisions before you feel confident enough with the end-result to send it on to an editor.
Conclusion
o Once you’re sure that you’ve met all of the editorial requirements, it’s time for you to dive into the market and try to get published. Don’t be afraid. If you’ve done your homework well and paid special attention to all of the publisher’s detailed instructions, you may stand out above the rest and find yourself moving on to the next round. Good luck, and happy writing!

Subgenres In Romance Novels – http://www.suite101.com/article.cfm/how_to_write_a_romance_novel/114083
Florence U. Cardinal
The different types of romance (subgenera) are as varied as the people who read romances. Even young adult romance has its place. These stories are light on intimacy, usually nothing heavier than a few kisses and holding hands. They deal with topics like problems with teachers, sports, bullying and shyness but sometimes move into more serious areas – bullying, parental divorce or even abuse.
A short step above the young adult romance is the sweet romance – books like Harlequin or Silhouette Romance. Graphic sex is a no-no here. Story lines are simple and usually revolve around issues of courtship.
From there, books gradually become larger and more complex and, yes, contain larger and steamier love scenes. But, beyond these confines, romance has branched out to encompass other genres.
Contemporary indicates stories set in the here and now, books about the sort of people we see every day. They can range from the sweet, discussed above, to varying degrees of sensuality.
Inspirational romances, again light on the love scenes, are books aimed at the Christian market, stories of faith and how it helps couples through difficult periods in their lives.
The fantasy subgenre has become popular over the past few years. These are stories of dragons and wizards, castles and magic kingdoms. They often require the creation of an entire fantasy world. think Harry Potter all grown up.
Futuristic romances are much like the fantasies, only they’re set in this world, hundreds or thousands of years in the future. These books need a writer who can take things in this world – travel, weapons, government, etc., and imagine what they will be like in this future world.
Multicultural romances are another new subgenre. These are “romances of color” and have heroes and heroines of Latino, African American or Asian culture. Most have their own trade name, like Kensington’s Arabesque and Genesis.
Time travel has several variations. Sometimes a character from the past ends up in the present, or a character from the present goes back to the past. Or, they can travel the other way, with someone from the present journeying into the future or vice versa. To take this to the extreme, how about someone from the future travelling into the past. I believe Star Trek did a segment on this, when Captain Kirk and members of the Enterprise crew traveled back to the old west.

The Foundation of a Great Romance Novel – http://www.suite101.com/article.cfm/how_to_write_a_romance_novel/99944/1
Suzanne James
The world romance writing has changed drastically in the last few years. This genre consistently claims more than 55% of the market, steadily gaining more respect, and earning a more savvy reader. The old ideas of formula writing are giving way to new, dynamic sub-genres, and bold new publishing companies, who are willing to gamble on new authors. As an editor for one of those companies, I’m constantly asked the one question which is on every writer’s mind, ‘How do I get published.’
The new markets make it hard to find an answer to that question. One which enables a single manuscript to shine above the rest. However, weave character and conflict together, and a good writer can write a story which does just that. While I never advocate writing without preplanning, I will admit that plotting is not important, when these two elements are the story’s foundation.
When an editor picks up a submission, they are only concerned with how it makes them feel as they read. The story, characters, and plot are second to the emotions they incite in the reader. Characters are pawns; A writer uses them to arouse feelings in the reader. They are not the object of the romance story.
First, single out the emotions you want the reader to experience. Then use these to create a heroine everyone can cheer for. The hero shouldn’t be a ‘to die for hunk,’ but a soul mate who forces the heroine out of her comfort zone. Each create tension, which fuels their passion and love. This creates emotions so strong the reader can feel them on every page. But, this is not enough if you want to write a great romance story. You need to have things get in the way of their perfect courtship.
Conflict is not ‘bad things happening to good people.’ Putting opposites together is amateurish in the romance genre. Today’s character’s actions create situations which force them to face things they would normally avoid. This is a powerful writing tool, especially if your heroine and hero’s desires or needs create the conflicts. Beware of the temptation to add a situation which a character did not cause. We call this an author accident, and it flaws many romance stories. Instead of playing god, let the characters choose their own destiny. If you want the heroine to move, then she must do something which causes a series of events that force her to relocate. Don’t have her boss walk in one day and fire her.
You can create dynamic hooks, and introduce intimate scenes, with this technique. A good romance writer will create a series of events that leads the characters, and the reader, to the moment when the hero and heroine commit to each other. These events can be built on a character’s inability to control their lust, their desire for intimacy, a need for acceptance, or any other personal motive. This is called, cause and effect, or action and reaction. These create scenes which build toward the climax, and black moment, but not the resolution.
Before you sit at the computer to write the story, you must measure the character’s growth. It is this maturity which leads to a satisfying resolution. Most people hate reading a romance novel where two people, who don’t deserve it, win ‘the brass ring.’ The characters in a well-written novel will mature, heal, and grow. These changes will be strong, deep, and make them worthy of having all their dreams come true, and catching the perfect mate to boot.
The sole purpose of the romance story is to entertain. The avid romance reader wants an emotional escape, and a happy ending from all their books. There are many ways to meet the reader’s demands. The smart writer knows this, and uses it to become a published author.

Female Archetypes – http://www.suite101.com/article.cfm/how_to_write_a_romance_novel/101775/1
Suzanne James
This month I will spend more time studying characters. The heroine is the heartbeat of a romance novel. Her goals, desires, dreams, troubles, and strengths drive the story forward. Her motives give the story strength, and her weaknesses cause us to cheer for her. The author promises the reader they will read about two people who are made for each other. These people will fall in-love, but not all women have the temperament to love deeply, express themselves passionately. Not all women enjoy to lose themselves reading a romance novel. A good romance author knows what types of women fit into a romance novel, and what types don’t. You, the author, needs to understand the market, and why certain readers are drawn to a particular story before you can pick the perfect heroine. Let’s say you write about a woman whose nurturing side enables her to defeat a large corporation that wants to take over her hometown. At first glance the heroine should fit the Amazon archetype. However, the Amazon may be willing to die before she surrenders her independence, but will not risk everything to save others. You also need to ask yourself if the Amazon personality is the type of woman who reads stories like the one you are writing. Problems are created when the author puts her wants and desires before the reader’s. The romance reader wants a story that touches her heart. But, to do this she must bond, and relate to the heroine. When the reader, the main character, and the story are all focused on the same things, the author has written a balanced novel. When this doesn’t happen, the reader feels let down. The nurturing woman, who wants to read about a woman who takes care of the entire town, won’t understand the Amazon’s motives and goals. Readers want to read about someone like them. This doesn’t mean the Amazon character can’t fit into this story, with some small changes. If the company is a foreign one, that is exploiting our natural resources, and dumping toxic waste, and the heroine is a federal agent, you’ve created a balanced concept. This book won’t appeal to the first reader mentioned in this article, but words like federal agent, conglomerate, and exploiting will work like bait to attract a reader who understands and admires the Amazon personality. In the last article we mentioned making the character for the story, or plot. This article is going to take that one step further and suggest that you make both fit the reader’s desires. Every time you read a book you should ask yourself why you liked it, or don’t like it. Authors study character archetypes and human personalities soon find a link between the reader and the books they like best.
Knowing your own personality may explain why your books lack strength. If you are the Amazon type, but write about characters who are nurturing, you’ll only be able to write two dimensional characters. Especially if you haven’t studied human nature. This doesn’t mean you need to spend weeks reading psychology books. There are many good character books on the market. Some deal with archetypes and others deal with personality types. Each one breaks the characters down by their wants, desires, needs, fears, and typical goals. They explain how a character will react in certain situations, and some even suggest at the types of men this woman will be attracted to. Some of the female archetypes are listed here, and with a brief explanation of how they will move a romance forward. I’ve also given a brief explanation of the types of man that they will fall instantly in-love with. The Seducer is not an immoral woman, although conflict can arise when others see her this way. She is a strong woman who won’t let others tell her what she wants and needs. She enjoys life and makes the most out of everything. She is never the beauty who doesn’t know it in a novel. This woman would have experimented until she found her own beauty. She won’t be the little mouse who wastes years of her life in a corner either. She is the problem solver, who sees all of life’s problems as mere bumps in the road. She needs a man, a connection to fill her life, but is so afraid of ending up with the wrong one that she gets won’t make a commitment. She isn’t callous. She’s a healer. Society may now slander her, but her heart is true, and she will shine in the end. So, if you want your heroine to fall in love at first sight then don’t choose this heroine. When creating this character think of the girl who flirted with all the boys, was the president of all the ‘cool’ clubs, and ended up as the homecoming queen. At the school reunion she is still single, but lacks the trodden down look of defeat we think she should wear. To challenge this woman, and cause conflicts, you might want to pull the rug out from under her. She hasn’t planned for the future, so she will be unprepared. She works with others, so is a typical con artist’s victim. She often, impulsively, gets into situations she later regrets. When all is said and done, she needs to be loved, and she needs to stop using other people as a gauge to measure her own worth. If you are thinking of a Taming of the Shrew story, then pick a man who is today’s ideal of a loving nurturer, and you just might have a hit.
The Feminist, or Amazon, is the nurturer of the sisterhood. Surrounded by horses and dogs, she becomes one with nature. If anyone can hear the wind whisper it will be her. There is nothing to fear in her world. She will walk alone at night, and keep the doors unlocked. She is the last primal woman, so in-touch with her basic instincts that she remembers numbers and facts by making information fit a pattern. This woman does fit our example of the federal agent because she hates authority, and its lack of concern for the lives it destroys. This makes her seek out jobs that give her the chance to defend others. Don’t underestimate her, she will win at all costs. Her only fear is losing her freedom, or the ability to care for herself. You cannot make her the victim, because she will chose to die – or kill. She is strong, both physically and mentally, so she will escape in such a way that her attackers implode and destroy themselves. This irrational and stubborn woman seems to go out of her way to avoid convention at all cost. But, don’t ask her to champion the weak, or the vulnerable, they repel her, because she fears becoming one of them. Many readers dream of being this woman. We envy her freedom, and power but when all is said and done she a man will need to prove himself before she will consider loving him. Even if she does fall for a man, it will be a friendship, an alliance. Maybe, several years from now, she will love him passionately and with abandon, but not within the confines of your novel. Societies Favored causes the rest of us grief because she perfect. It doesn’t matter what role destiny gives her, she will strive to do it better than the rest of us. She will stand beside her man against the feminist, even wearing an apron and high heels to make her point. Her strength comes from the men she makes alliances with. She will not sleep with a man because of lust, and she will never fall in-love quickly. Her hero must become a trusted friend, and the relationship’s boundaries must be well marked. She will know what she must give, and what she will get, before she risks a relationship. This woman is smart. You will find her in the courtroom, and in the corporate office. She believes she belongs to the boys club, and is devastated when they backstab her. Give her a challenge that can be mastered, and she is happy. Don’t be surprised if she solves a problem no one else can. In return she wants to live the good life. Her goal is to enjoy the best of everything.
Forcing this woman out of her comfort zone is easiest if you ruin her perfect, orderly home and life. Have the men in her life cross the boarder and demand a payment she didn’t expect, or have them leash her and treat her like those women she sees are below her. The man in her life will be self made, or a man of the earth. He will not change his mind, and doesn’t need a woman’s support to define his masculinity. The Mother type is motivated by a sense of duty. Unlike Societies Favored, she keeps her house and home a warm and nurturing place, because this is her goal. Having a family has been her goal since childhood. The mother can become a martyr if others are in danger. She will fall in love quickly if the man is strong and expresses his loves her. She wants someone to take care of her, and is happiest if her support makes him a success. If you match her with a man who can open her world, and show her how to be an equal with others, without making her feel like a doormat, she will fall hopelessly in love. The Queen is powerful because she is the twine that holds her world together. She is in control, but totally dependent on the other players in her world. This woman is loyal to a fault. She needs to be the focus of everyone’s attention, which is the source of most of her conflicts. She will fall in love with a man who needs a strong woman at his side to reach his full potential. The duties that fall on her will be done perfectly, no one can fault her. She will thrive on her roll in society, but her children may feel alienated unless her husband values children. Taking her husband, or children away is the same as killing her. She cannot cope alone, or out of control. Don’t put her with a king or dictator or he will steal her roll and she will leave him. If you introduce a hero who doesn’t need to marry, but feels pressured by society or business to marry, then you will have instant sparks. The Loner doesn’t need anyone, in fact, she is happy to be alone. She makes life look easy, and is scorned by both Societies Favored and the Feminist because she is seen as weak. Her response is to laugh. She doesn’t care what they say, and may even pity them.
Aroma therapy, herbal medicines, feeling in-touch with the paranormal, and ancient wisdom are the norm for her. She understands concepts of balance and harmony, although she can’t always make us understand And, if we feel a sense of fear because she appears to read our mind, or can offer a prophecy, it is only because she is so sensitive to her surroundings. You won’t find her in crowds, but not because her expressive gestures and manners are inappropriate. She is safe in her own environment, where nothing can intrude and there is nothing to fear. A strong man who doesn’t demand her attention, and is a bulwark between her and society, will steal this woman’s heart. You can match her with a similar man and they will become soul mates. Or, you can match her with the male equivalent of the seducer. She will fall in-love with both quickly because they won’t force her into places she doesn’t want to go. The Teacher is the thermostat of society. She strives to enlighten us all and bring us into our own places of peace and happiness. She is the mediator. She has a link with the spiritual world that far outshines the theories of any religion that society tries to create. You won’t sway her judgement. She won’t make a move, or decision until she hears the whole story. People feel upset because she always wins fights, or is always right. This happens because she doesn’t make a move until all the facts are on the table, and every side of the story has been told. Don’t be surprised if the educated, and religious resent her. They can see her unexplainable knowledge and peace and will see it as a threat. Put the Teacher with a man who wants to love her, but doesn’t need to love her, and she will give freely of herself. Put her with a man that ties to ‘take’ from her, whether it is love, sex, or power, and she will destroy him. She cares about the same things the feminist does, but sees the weak and hurt as humanities problem, not a woman’s problem. She will pick any quest, or destiny and carry the torch until the end. Her heart yearns to connect to something greater. Her choice of a hero would be a human activist, or someone who fought for the helpless. The Innocent will remain a child forever. She will stay close to her parents, and when they are absent will seek a parent figure to take their place. But, don’t expect passive submission, a teenagers rebellious streak lurks beneath the surface. The search for security, and freedom from societies demands will motivate all her decisions. A strong man, similar to the Amazon woman, can release her to become more like the Teacher. She will follow him because he is capable of making decisions, but releases her to be free, and at the same time he is strong enough to fix things when she makes mistakes.
These are the basic female archetypes. Use them to create growth, and to pick the right man for your heroine. Put the right woman with the right male, and no critique partner will claim your character’s motives are weak. Give her the right cause to fight for, and create conflict using her fears and you will touch a deep cord in the readers. If you write the type of romance that requires a woman to go to bed with a man after a couple of meetings, then don’t pick the Feminist or Amazon. The Seducer or Innocent would be your best bet. They have clearly defined needs, but also, the right man can help them grow into a stronger woman. Take a look at your story, and pick a heroine. If they fit together smoothly, like they were made for each other, then you have balance. This is not wasted time, you will be rewarded by the number of readers who love your book and praise your skills.

Character Motivations – http://www.suite101.com/article.cfm/how_to_write_a_romance_novel/102604
Suzanne James
In the last article I wrote about Heroines. It seemed natural that the next article would be about heros. I asked the students in my courses at universalclass what character traits made a hero. The answers were amazing. Most people still think a hero is kind, responsible, and brave. Why? This limits the types men who can fill the role, because not every male archetype can make the perfect hero. Actually, only three archetypes meet the demands of the current romance market.
If the romance genre focusses on just three male character types, or personalities, then readers would lose interest quickly.
It did not take me long to realize that a hero’s motivations are more important than their personality type. This is why I decided to rewrite this article on character motivation.
Why do people fall in love? Why would a paraplegic climb a mountain? Why would a man run into a burning building for a child? Why would a woman risk prison to expose a government conspiracy? Why would a woman fall in love quickly when she has not healed from the pain of a betrayal? Why would a hero fight the odds, and risk everything for a woman’s love? The answers are found in a basic understanding of our human motivations.
Many writers do not understand what true motivation is. It has little to do with a character’s history. Simply put, motivation is the urge to act in a specific way, at a particular time, to fulfill a basic need.
When a person is well motivated they show three characteristics:
1. They are energized. These characters do not think about doing something, or plan, they do. They move, act, react, and work hard to reach their goal.
2. They direct their energies toward reaching their goal.
3. They have differing intensities of feelings. The stronger a person’s desire to be loved grows, the more they are willing to sacrifice to reach that goal. There comes a time when their passion climaxes because they finally have what they needed.
When the hero and heroine decide to take their relationship to the next level, they should express these three characteristics.
However, creating strongly motivated characters requires more than just making the characters act well motivated. A writer can build strongly motivated characters by including the four basic motivations: instinct, drive-need, incentive, cognitive. When all four motives are woven together, the character will be well motivated, no matter how the odds are stacked against them.
A writer only needs to look at the world around them to learn some of the Basic Human Instincts. We have all seen the following examples. Woman over eat and withdrawal when rejected. This same woman might take extra care of her body, become animated, and social when in a relationship. Men will be protective in a relationship, but if their girlfriend does not meet their needs they become suspicious. Couples cling to each other, but if one person in the relationship takes the love and affection without giving back the couple drawes apart. These instincts are not things we consciously think about, they just happen.
The next motivation is based on the Human Drives and Needs. Everyone can list the needs: food, water, safety, oxygen. There are other needs the characters must have. Every romance author weaves their story around a character’s need to be loved. The need the belong to a social group, a family, is a strong one. Characters will also have the need to be safe, comfortable, happy, and contented.
The second part of the third motivation is the character’s drives. The ‘need’ produces a ‘drive.’ This is a tension the character must act upon to reduce or relieve. All romance writers are tempted to eliminate tension by allowing the couple to engage in different levels of sexual activity. But, there are more motives that can be used to create twists and climaxes. ‘Fear’ and ‘excitement’ are powerful. They will force a character to take chances. ‘Power’ and ‘wealth’ keep young lawyers in the office for eighty hours a week, even at the cost of their relationships. A writer should use more than sexual gratification and desire drive the hero into a relationship. Despite what our father’s told us, men want more than one thing. The Incentive Motivation is easy to explain, and incorporate into a romance novel. The character will receive external stimuli, rewards, and other perks that motivate their behavior. This one causes several problems. These incentives must match a character’s archetype, if not, the character is poorly motivated. An Amazon archetype character will not be motivated to work harder for a raise, but she will work harder for a corner office. This same character will not fall for the boss’s son. What does he have to offer her? However, a rancher may offer her all the freedom she can manage.
At the same time, a writer who is motivated by the need to be nurtured will write about this without realizing that not all women want that from a man. Another woman might might want safety or prestige. A writer must carefully mould the character’s motivations to fit the character’s archetype.
The fourth motivation explains why people enjoy being in relationships. The Cognitive Motivation makes the characters engage in an activity because it is fun. A character might work dawn to dusk on a ranch because they love working outdoors. Another character may love mountain climbing, or sky diving. These do not fulfill a basic need, but characters are driven to do them because they find enjoyment in the act. This is a good one to include. It will show characters who are emotionally healthy enough to enter into a relationship.
Marriage, or belonging in a solid relationship satisfies several of our needs: to excel, social bonds, to nourish and protect others, independence, to influence others, orderliness, and for fun. These are all satisfied by belonging in a strong relationship, but only as long as the hero is a true hero. When writing romance, make sure the couple satisfies these needs in each other. In Maslow’s Hierarchy of Needs, the need to be loved is number three out of five. But, the top two are met by people in love. The fourth level is the need for achievements, gaining approval, and recognition. A good relationship comes with its own cheering section. Both people work together to meet this need in the other person. The fifth level is the need to fulfill one’s unique potential. When writing romance a these needs can be met by ensuring that each character’s success is dependent on the other one. The readers do not need to have this information spoonfeed to them. As the heroine’s needs are met, the reader will feel a sense of satisfaction. So, don’t waste time trying to narrate this into the story, just let it happen.
Writing a character outline is only useful if it includes the character’s needs, and how these will be met in the story. Check the character’s motivation. Keep them strong and consistent throughout the entire novel.
Why is all this technical jargon important to romance writers? Simple. A man who does not meet the heroine’s needs is not her hero.

Flirting: Part 1- http://www.suite101.com/article.cfm/how_to_write_a_romance_novel/103742
Suzanne James
Flirting is an art, a primal instinct. People express their willingness to accept another’s advances with their body language. Understanding this will improve a writer’s ability to touch the reader’s emotions. Not understanding what are normal, instinctive responses to attraction, can put a writer in a difficult place. All writers complain about ambiguous critiques that claim a character’s actions are unmotivated. This happens in the romance novel when the writer doesn’t take the character’s body movements into consideration. Looking at flirting can have a double benefit for romance writers. It can be used to improve the character’s motivations, and it can be used as an editing tool to correct relationship problems in the story.
Lets use the example of two characters who meet at a restaurant, both are high powered executives. It is natural, and flirtatious, for them to appear confident and self-assured. But, if they start to argue, the heat is turned off. If the writer has this couple arguing and then has the heroine thinking about how handsome this man is a critique partner may consider her poorly motivated because she sent him a clear ‘back off’ signal. Her determination to make her point was a clear, she is not interested.
So, what is flirting, and how can a writer use it to subtly ‘push the reader’s buttons?’ To start we need to break the act of flirting into categories.
The first meeting between two people is usually awkward. A woman’s signals are subtle. A man’s ego is fragile. He would rather she made the first move, but women are turned off by men who stand back and wait. Rightly so, because a man who doesn’t have the courage to make the first move is probably not a good provider and nurturer. This man is definitely not hero material. This is what the flirting game is all about, finding a good, responsible mate.
The first indication that a person wants another’s attention is their eye contact. Eye contact and a smile will reassure the other person that it is indeed their attention, and not someone else’s, that is being sought. Often a woman can set a man at ease by shaking his hand. To men, this is intimate and friendly. If a woman wants to attract a man, but he isn’t catching her signals, she can separate herself from her group of friends. This leaves her in a more vulnerable position, which does two things to put a man at ease. The danger of being humiliated in front of her friends is eliminated, and the illusion of separation suggests an element of trust. A writer can do this in the office by having the woman leave a board meeting to retrieve some files and running into the hero. Many writers make the mistake of putting everything in an intimate setting, which is clumsy, and totally not necessary.
If they are interested in becoming intimate they will also whisper to the other person. This can also be done at a board meeting. Our couple may not like each other yet, but if she has to whisper into his ear, explaining some point of the company’s presentation, the reader will pick up on the hints.
There are several things a woman may do unconsciously that will attract a man. She might cross her legs, or wear interesting jewelry, especially earing, which draw attention to the jaw line and the neck. These are erogenous zones. The writer may only suggest that the female character removed her earing to answer the phone, but this is enough to stir something deep in the reader, especially if told from the man’s point of view.
A woman looking over her shoulder and smiling is making a movement that is considered flirtatious. A writer can utilize this by having the woman in a restaurant, waiting for a business meeting. She hears the head waiter welcome the man by name, so she turns her head, and smiles hoping to make a good first impression. A writer who includes enough detail to fully exploit the flirt will ‘trigger’ the appropriate emotional response in the reader.
Keeping with the restaurant theme, a good attraction for any man is to watch a woman politely, but firmly, reject the advances from a male. Especially if the hero feels that other man is inferior. A woman with enough confidence, and poise, to reject a man without hurting his feelings is very attractive to a man. The fact that she has just proven to be very selective is extremely desirable to men.
Flattery is a definite no-no. While many people suggest making coy remarks and suggestive comments, it is considered immature. Remember, the heroine must always remain above reproach. She must have grace, and with that comes good manners and good posture. Both attract men of the hero variety. She will be honest and sincere, politely holding her own and setting her own boundaries. This will let the hero know she can be trusted.
A couple who are interested in each other, even if they do not know it, will move toward the next step. They will ask questions that require answers, and that express an interest in the other person. They will also focus their attention on the other person. Our couple in the restaurant will stop looking at their surroundings, paying attention to the waiter, or listening to the music as they become more focused on the other person.
A good writer will not have them noticing the other character’s beauty at this point, but they will become deeply involved in the conversation. A romance writer must remember not to blatantly spell everything out for the reader. Subtle clues, like having the heroine borrow the hero’s pen, or having him offer her his last donut, are enough to trigger an emotional response in the reader.
The next step would be the validation of the other person. Whether this couple rejected each other years ago, and are in competing businesses, here is the place where they admit the other is good at their work, competent, and well suited for their lifestyle. This is done even if it is done reluctantly. This affirmation may be offered in a brief comment, but it will foreshadow the coming relationship, and prepare the reader emotionally.
This is only part of what is involved in the flirting process. We have not touched on the first touch, or the acknowledgment. I’ll finish this article in next month’s instalment to Suite 101, which will come out in a couple of weeks. I would appreciate any questions that might help guide the next article. Now, here comes the fun part, go try these tips on your spouse and let me know how well they work.

The Art of Flirting: Part 2 – http://www.suite101.com/article.cfm/how_to_write_a_romance_novel/103825
Katherine McBride
There is a pattern followed in the way people flirt. First, there is eye contact. This is followed by an indication that the attention is wanted. Third is a conversation that may lead the couple toward close physical contact. The two people will then start to lean into each other’s space. They may lean forward when talking, and let their personal ‘space’ overlap with the other person’s. The woman may take a more relaxed position, while the man will sit up, move closer, and become more attentive and animated. As they become comfortable physcially they will ask personal questions. These open ended questions will encourage the other person to respond by giving intimate details about themselves. However, if either is nervous they may ask questions that challenge the other person. They are testing for a defensive, aggressive, or hostile reaction.
Next is the accidental touch. Both parties know this will happen, because they are moving closer, but when it does they often step back and assess the other’s reaction. This is the stage when humour will enter the conversation. It is at this stage that a person will make the first mistake. They will start to follow the other person around, acting needy, or demanding, or they will say/do something that is insincere.
Flattery may be the norm among the rich, or those looking for a fun night out, but it is frowned on by the down to earth man. He will not flatter the heroine, nor will he want to here empty praise offered him, or anyone else. The problem at this point is not that one of the people are being rejected. It is that they are starting to act rejected when they didn’t have anything solid to be rejected from. In simpler words, you can’t be rejected from a non-existent relationship. If the couple make it past this stage than mirroring occurs. This is easy to do in the romance story. Both the hero and heroine may signal the waiter at the same time. They may both rise when another person approaches. It may be even something awkward. They both reach for a file spilling the contents on the floor.
This is where they discover what the other person really wants. A truly romantic encounter is growing and maturing slowly. The couple will be in no hurry to delve into a more vulnerable area. This is not the time to let the characters kiss. Do not make the mistake man writers do and write the obvious. This is the time to have the hero return the heroin’s portfolio, only to find that she lives in a small apartment by the park. Now he must decide whether to let her know that he has seen the poor woman behind the corporate mask. Maybe, the heroine returns the hero’s portfolio and learns that he isn’t a cowboy, but a wealthy rancher.
The next step moves the couple toward a serious relationship. Their social network expands as they meet people from the other’s life. That is if everything is going smoothly.
There are many subtle things that can stop a relationship before it starts. Today, many writers use a wounded or tormented heroine in their stories. However, the vibes a woman like this puts off will warn away most heros, because they are gentlemen, or have a sense of honor. So, how should the heroine and hero act so they do not give off the wrong ‘vibes?’ They should greet each other strongly, with a positive attitude, and a handshake. They should make eye contact and repeat the other person’s name. If they are meeting at for a business meeting, they will mention something about the other’s business. This is called validation. If the couple meet accidentally, they may ask questions, or chat about the circumstances that brought them together. The woman may distract herself by playing with a piece of her clothing, or another prop. This indicates that she is not willing to become personal yet. Although, the male may find it intriguing.
As the relationship progresses the couple will whisper. All couples have secrets that they share. This is often overlooked in the romance novel. Another thing that romance writers overlook is nicknames. The hero may not create a nickname for the heroine, but he will call her by one that she is familiar with.
There are some ‘Don’ts’ of flirting etiquette. When one character decides they like the other, or are infatuated, don’t have them sit around and wait for the next chance meeting, nor should they sit back and make the other person approach them. Never let the heroine cling to the hero. Many times in a romance the heroine has no life away from the hero. This is almost as bad as having her flirt or tease him. If she is thinking lustfully, and ogling him, she accept any intimate advances he may offer. Make sure that your character outlines indicate that the characters are physically and emotionally ready for this relationship.
Don’t forget to use the sense of touch touch. Psychology studies have shown that a casual touch will impact the moment in the couples memory, and the reader’s. There are also visual things that are attractive. A man who can sit still without drinking or smoking is attractive to a woman. A woman who plays with her hair is attractive. A relaxed man is attractive, while a woman who is dressed nicely catches a man’s attention. A man who gives a woman a quick glance will attract her. This can be done while the man is reading. He glances up and catches her attention, then returns to his reading. This is usually done in a succession of three glances, the third bolder, and diverts his attention from his reading to his companion.
When writing, keep erogenous zones in mind. The instep of the foot is more alluring than the heal. The wrist is more attractive than the palm or fingers. The nape more stimulating than the neck. The eyes are always a safe bet, especially if the hero is taller than the heroine.
The position a character takes in a room can say a lot about their personality, and their willingness to engage in a relationship. A man who picks a corner booth in a restaurant, and than takes the seat by the wall is making a very dominant, confident statement. A woman who takes the same seat may be seen as timid, insecure. Also, when men walk they move in a straight line. When women walk they zig-zag, moving around things. This is done instinctively, without thinking. A heroine who marches into an office, makes a straight line to the hero’s desk and sits without making eye contact or smiling is making a very aggressive statement. This woman is not going to think, about how handsome the hero is, at least not at this encounter.
The writer should keep in mind that flirting is a natural instinctive part of our human nature. We all do it, or chose not to do it, for our own reasons. Just make sure the character stays in character when flirting. The woman who appears to be a ‘loner’ will not flirt. Give her a male neighbour with whom she is friends and the reader will believe that she can flirt. The heroine can also do things that indicate an unwillingness to engage in a relationship. In my novel, The Pledge, my heroine rubbed her palm when she was nervous. She rubbed her palm, and spoke in short sentences. This was all the reader needed to understand the message.
Whether the heroine does, or doesn’t want a relationship at the beginning of the story, keep her behaviour and attitudes consistent. Make sure, if she needs to learn to trust, that flirting comes after the trust.
Make sure that both characters share a lot of things in common. The truth is, we flirt with people who look like we do, and who share our interests. Both characters must be impressed with the other person. A hero may be enamoured by the heroine’s innocence and beauty, but unless she has other qualities that he finds impressive, the relationship will not continue. To do so would create a set of ‘negative critiques’ that will be hard to correct.
This is the basics of flirting. There are more things we do to attract a mate, like verbal tones, and facial expressions that are harder to include in a romance story. It is easy to continue studying this topic. The time will not be wasted. It will create an emotional bond between the heroine and reader who will connect, because they understand each other. Then, when the hero puts his hands around the heroine’s waist and kisses her, the reader will sigh a breath of satisfaction, instead of asking ‘where’d that come from.’

Falling in love – http://www.suite101.com/article.cfm/how_to_write_a_romance_novel/101778
Suzanne James
There is a pattern to the act of falling in love. Express this pattern by using the five expressions of love and you’ll write a dramatic romance that will sweep the reader away. Not all people feel love in the same way. One person in a relationship can feel unloved, even when the other person is trying hard to make things work. When writing a romance novel it is important to tap into the elements of love. In real life, a person has one type of expression for their love, but in a novel you need to include all five. If you eliminate one or two of these elements of love then some reader’s can’t feel the love come through, no matter how well written the story is. Have you ever heard someone complain because your characters jumped into bed too soon? All authors try hard to set this up well and make it realistic. So, what goes wrong? First, the reader needs to feel the emotions. You need to trigger their emotions. This is done by following the characters through the act of falling in love. The first step is the promise. The character has strong feelings, needs, that the other character seems capable of fulfilling. People falling in love start to set ourselves aside and make compromises for the other person. If we are too needy, and go too far, then we risk making a commitment to the wrong person. This is also true in a novel. Be careful if you are writing about a woman who jumps in bed with the man she’s just met. Yes, this happens every day, but you are not writing about real life, you are writing a romance. Authors accidentally trigger memories of all the reader’s failed relationships by concentrating on the acts and not the method of falling in love. The next steps enables the couple to start dreaming about being loved. This is where they touch for the first time. This leads to the first kiss. The characters may think about what they want, and are pleasantly surprised when the other person gives them what they need. In this step the other person promises, unconsciously, to make up for the pain the other one has endured. If the heroine has been betrayed, the hero must be loyal to a fault. If the heroine has been abused, this new man must live by a strict code of honor. In a good romance novel the dreams slowly become reality.
This leads to the next step where the characters bond. This is where one character’s strengths make up for the other’s weaknesses. There is no commitment yet, but they start to explore their ability to become one in spirit. As this strengthens they make a decision to commit but they haven’t acted on it yet. After this step the reader will believe the couple can have emotional, passionate sex without suffering any emotional scars. If the characters made love before this point, then their love making must change. The intimacy and trust will increase. Now the couple start to blind themselves to the other person’s faults. They want, and maybe need the other person in their life. The similar traits they share will be emphasised, and the negative ones are overlooked. An author who masters this can set the couple up for a blockbuster ‘black moment.’ Those overlooked negative personality traits explode and almost destroy both people. The last step is where the couple act on their decision. One person’s good traits and characteristics heal the other’s bad traits and pain. This is the commitment stage. Both start to work dependently. The person who is truly in love will see everything they consider a good person embodied in their partner. It doesn’t matter what the reader feels about the hero, as long as they understand why the heroine admires him, they will believe the story is true, and will be stirred emotionally. There are some quick and easy ways to do this. Having your characters feel compassion for their mate is an easy way to hook the reader. The trust and attachment must grow, and as it does, so will admiration. Your heroine must be impressed with the hero before the reader can be. Intimacy is expressed in more places than the bedroom. It is expressed in a shared secret, while anxiously waiting, allowing another person to invade our personal space, and tolerating another person’s physical closeness. Yes, there is an amazing amount of tolerance in every intimate act, so make sure your heroine allows an invasive touch. The reader will bond with the feelings your heroine feels. Making one character show concern for the other is another way to hook the reader. Sex on the other hand is not intimate. We build walls and only allow the other person so far. We are more concerned with pleasure than who the other person is. There is a feeling of possession, but at the same time we drive the other person away when they try to take too much. Often it is either sex, or love, but rarely both. This is why most romance writers fail. They try to make sex turn into love, and it can’t be done.
A person will look for a lover who shares character traits with them, and more importantly they must share ‘needs.’ Conflicts can arise if they don’t share similar ‘wants,’ but these will be overcome. Don’t ever make your heroine sacrifice a ‘need’ for a mate, this will make her appear like a doormat. When you create a couple, pay attention to their differences. Opposites attract, but only when one person admires the traits that make the other different. To make a believable romance story these traits must be linked to the character’s archetype and needs. The emotional bond between the characters and reader will break if the attraction is based on the character’s wants. The five ways to express heartfelt commitment are listed below. It is these that will trigger emotions in the reader. The first is words. This person needs constant, verbal affirmation. Yet, romance authors often stab this reader in the heart. The couple has sex, it’s awesome, then they separate to relive the experience alone. We don’t even see the couple say goodbye. This reader won’t believe the hero, and heroine love each other. But, if they share a simple compliment this reader’s attitude will change. Another way we cheat this reader is by never having one character appreciate what the other does for them. A simple ‘thank you’ would go a long way to touching the heart of this reader. The next method of showing love is through quality time. This is a hard one. A lot of romance novels put the couple together only long enough for them to have sex, or solve a problem. Some readers will see this couple as indifferent, and wonder why they keep seeing each other. When they decide to fall in love this reader will cry, ‘contrite, fabricated, and lame.’ For this reader, the characters should start the story by working together, then sharing their off time together, and finally spending time together that should be spent elsewhere. Receiving gifts has always been an expression of love but can be a two edged sword. Some readers will feel the hero is trying to buy the heroine when he gives her diamonds. Another reader will melt into tears at this genuine expression of love. Play it cool, set it up, and include other elements of love to strengthen the motives behind the gift. This would be a great way to foreshadow the lovemaking scene. Helping with the work is one expression that most women understand. Your heroine may have made the perfect supper, but did the hero help with the dishes? Authors who use dominant males should make sure they express love by taking out the trash. This will create balance, and show the hero as a strong man and not a user.
Physical touch is not the end-all expression of love that our society would have us believe it is. There are many excellent inspirational writers who never write a sex scene, but the sensuality is stronger than most books on the market. These writers know how to build intimacy from first glance, first accidental touch, first touch, through to where the couple are comfortable totally immersed in the other’s personal space. This will work for any author when each touch is explored thoroughly allowing the reader’s senses to be triggered so they feel it to. These five expressions of love should be the foundation of every romance novel. They will trigger emotions in all readers and touch our primal need to be loved. All great love stories weave these together to create a believable climax and satisfying resolution. Read a few of the classic love stories to see this method of writing romance in action.
Contact me for more information, or to discuss this topic.

http://www.ehow.com/how_16733_write-romance-novel.html
By eHow Contributing Writer

KISAH 25 NABI dan ROSUL