:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Archive for September, 2011

Ketika Cinta Berbuah Surga

dari :Habiburrahman El Shirazy

Di tanah Kurdistan , ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia
memiliki seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas, dan pemberani.
Saat-saat paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika dia
mengajari anaknya itu membaca Al-Quran. Sang raja juga menceritakan
kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di
medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira
mendengar penuturan kisah ayahnya. Si kecil Said akan merasa jengkel
jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada orang yang
memutuskannya.

Terkadang, ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya tiba-tiba
pengawal masuk dan memberitahukan ada tamu penting yang harus ditemui
oleh raja. Sang raja tahu apa yang dirasakan anaknya.
Maka, dia memberi nasihat kepada anaknya, “Said, Anakku, sudah saatnya kamu mencari teman sejati yang
setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang
bisa kau ajak bercinta untuk surga.”
Said tersentak mendengar perkataan ayahnya.
“Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada
penasaran.
“Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tatapi karena
kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaiumu karena Allah. Dan Dengan dasar itu kau
pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuaan dahsyat
yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga.”
“Bagaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah?” tanya Said.
Sang raja menjawab, “Kamu harus menguji orang yang hendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik
untuk menguji mereka. Undanglah siapapun yang kau anggap cocok menjadi temanmu untuk makan pagi di sini, di
rumah kita. Jika sudah sampai di sini, ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar.
Lihatlah kemudian apa yang mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga buitr telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga
telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syukur jika kau
bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.”
Said sangat gembira mendengar nasihat ayahnya. Dia pun mempraktekkan cara mencari teman sejati yang cukup aneh
itu. Mula-mula ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian besar dari mereka marahmarah
karena hidangnya tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang
memukul-mukul meja, ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji, memaki-maki karena terlalu lama menunggu
hidangan.
Diantara teman anak raja itu, ada seorang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil anak
yang baik hati dan setia. Maka dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang menunggu
keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus.
Melihat itu, Adil berkata keras, “Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”
Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meniggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta
maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa
Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejati.
Hari berikutnya, dia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja anak saudagar itu sangat senang
mendapat undangan makan pagi dari anak raja. Malam harinya, sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar
paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan makanan anak raja pasti enak dan lezat.
Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia menunggu
waktu yang lama sampai makanan keluar. Akhirnya, Said membawa piring dengan tiga telur rebus di atasnya.
“Ini makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum.” Kata Said seraya meletakkkan piring itu di
atas meja.
Lalu, Said masuk kedalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung malahap satu persatu telur itu. Tidak
lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke arah meja ternyata tiga telur itu telah lenyap.
Ia kaget.
“Mana telurnya?” tanya Said pada anak saudagar.
“Telah aku makan.”
“Semuanya?”
“Ya, habis aku lapar sekali.”
Melihat hal itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia. Tidak
bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, Said juga belum makan apa-apa.
Said merasa jengkel kapada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan.
Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Akhirnya, Said meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman
sejati.
****
Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan,
ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik.
Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana.
Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubuknya. Rumah dan
pakaian anak itu menunjukkan bahwa dia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda
kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. Said memerhatikannya dari balik
rumpun pepohonan.
Selesai salat, Said datang dan menyapa, “Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau
tadi shalat apa?”
“Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.”
Lalu, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.
Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak orang kaya, malah mungkin anak
bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”
Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah
hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak
yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi
temanmu.”
“Baiklah kalau begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat hak dan kewajiban kita sama, sebagai teman
yang seia-sekata.”
Said menyepakati syarat yag diajukkan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama; pergi ke
hutan bersama ,memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di
sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang
cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan
di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.
Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya, sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat
lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang
mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.
Selesai makan, Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak
menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu dia diajari untuk
mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan,
yang bisa dijadikan obat, serta yang beracun.
“Dengan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat.
Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.
Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan ilmu ada di

Lalu, Said masuk kedalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung malahap satu persatu telur itu. Tidak
lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke arah meja ternyata tiga telur itu telah lenyap.
Ia kaget.
“Mana telurnya?” tanya Said pada anak saudagar.
“Telah aku makan.”
“Semuanya?”
“Ya, habis aku lapar sekali.”
Melihat hal itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia. Tidak
bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, Said juga belum makan apa-apa.
Said merasa jengkel kapada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan.
Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Akhirnya, Said meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman
sejati.
****
Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan,
ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik.
Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana.
Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubuknya. Rumah dan
pakaian anak itu menunjukkan bahwa dia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda
kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. Said memerhatikannya dari balik
rumpun pepohonan.
Selesai salat, Said datang dan menyapa, “Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau
tadi shalat apa?”
“Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.”
Lalu, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.
Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak orang kaya, malah mungkin anak
bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”
Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah
hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak
yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi
temanmu.”
“Baiklah kalau begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat hak dan kewajiban kita sama, sebagai teman
yang seia-sekata.”
Said menyepakati syarat yag diajukkan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama; pergi ke
hutan bersama ,memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di
sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang
cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan
di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.
Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya, sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat
lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang
mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.
Selesai makan, Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak
menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu dia diajari untuk
mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan,
yang bisa dijadikan obat, serta yang beracun.
“Dengan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat.
Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.
Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan ilmu ada di mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun. Hari itu, Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.
Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said
mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu.
“Pergilah ke ibu kota , berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui di sana . Dia akan mengantarkanmu ke
rumahku,” kata Said sambil tersenyum.
“Insya Alloh aku akan datang.” Jawab anak pencari kayu itu.
*****
Pagi harinya, anak pencari kayu sampai juga di istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja.
Mulanya, dia ragu untuk masuk istana. Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia
berani masuk juga.
Said menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang
makan itu. Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu itu
sudah terbiasa lapar. Bahkan, dia pernah tidak makan selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja.
Dia hanya berpikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tentram.
Selama ini, dia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang
anak raja yang santun dan shalih.
Akhirnya, tiga butir telur masak pun dihidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari
kayu bakar itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan
menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said mengambil yang ketiga, mengupasnya dengan cepat dan melahapnya.
Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebitur telur itu,
apakah akan dimakannya sendiri atau….?
Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang dan
yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu.
Lalu Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata. “Engkau teman sejatiku! Engkau
teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.”
Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan meraka melebihi saudara kandung.
Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Alloh swt.
Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru
kepada para ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.
Setelah berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang adil, ayah Said meninggal dunia.
Akhirnya, Said diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah,
anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya.
Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering malakukan shalat tahajud dan membaca Al-Quran
bersama. Kecerdasaan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur, dan jaya.—

baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.—

Dikutip dari sebuah karya Habiburrahman El Shirazy

DOA NUR NUBUWAT

dari : Abu Fauzan
Assalamu’alaikum Wr.Wb

Pembaca yang budiman, lk. 24 tahun yang lalu saya telah mengenal doa Nur-Nubuwat ini. Pertama kali saya tahu Namanya ketika setiap Malam Jumat selepas baca Surah Yasin bersama di surau tempat saya belajar ngaji pertama kali, guru saya (almarhum) dalam setiap doanya selalu menyertakan doa ini, hampir tidak pernah terlewatkan. Ketika itu saya penasaran dan mencari tahu tentang doa Nur-Nubuwat ini. Dan akhirnya saya dapat juga.
Setelah dapat duanya saya langsung menghapalnya, dan saya merasa heran, ketika saya menghapalkan doa ini, terasa sulit sekali. Padahal saya pernah menghafal doa yang lebih panjang dari doa ini tidak pernah merasakan kesulitan.
Selama lk. Satu bulan lamanya saya baru bisa mengamalkan doa ini tanpa harus melihat teksnya.
Dan alhamdulillah selama 24 tahun lebih doa ini bisa terus saya amalkan, dan tentu saja telah merasakan hikmah dan fadhilahnya…kalau tidak, saya pun tidak mau berbagi dengan anda.
Berangkat dari sanalah saya ingin doa ini juga diamalkan oleh saudara-saudara saya yang belum mengamalkannya. Semoga dengan wasilah tulisan saya ini anda pun bisa mengamalkan juga.
Doa Nur Nubuwah Sangat banyak faedahnya, di antarnya :
Apa yang dikehendaki Insya Allah dapat tercapai
Rasulallah SAW bersabda, setelah shalat subuh duduk di mesjid bersama para sahabat, datanglah Malaikat Jibril membawa Doa Nur Nubuwah seraya berkata :” Aku di utus Allah SWT membawa Doa Nur Nubuwah ini untuk diserahkan kepadamu”
Apabila dibaca :
1. Setelah Shalat 5 waktu insya allah akan terkabul semua hajtnya.
2. Jika dibaca ketika matahari akan terbenam maka Allah akan memberikan ampunan akan segala dosanya.
3. Jika kamu mempunyai musush, maka bacakanlah doa ini, maka musuh akan berubah jadi sayang.
4. Kemudian Rasullah saw, bersabda:”doa ini akan lebih berfaedah jika di baca, apabila tidak bisa membaca atau tidak hafal, tulisannya ditaruh di rumah, insya allah akan mendapat penjagaan dari Allah dan selamat dari sihir, santet dan guna-guna.
5. Apabila tulisannya diletakkan pada tanaman, insya allah bakal selamat dari hama.
6. Bila diletakkan pada tempat yang angker/menakutkan, atau pada tempat-tempat yang ditempati jin atau hantu dan segala maccam makhluk halus maka akan bubar.
7. Apabila dibaca tiap hari maka selamat dari siksanerak, selamat dunia akhirat, dan selamat dari godaan syetan.
8. Apabila dibaca pada malam jumat sebanyak 50 kali, insya allah terhindar dari kufur, bidah dan dijauhkan dari pekerjaan jelek.
9. Apabila ingin melihat barang-barng yang indah dalam mimpi, maka bacalah pada malam sabtu 100 kali.
10. Jika dalam pelayaran dan tidak membawa air tawar, maka bacalah doa ini pada air laut, dan tipukan. Insya Allah air lau akan menjadi tawar dengan idzin Allah.
11. Apabila dibaca pada malam sabtu maka akan awet muda
12. Jika dibaca pada setiap malam Senin akan diberikan keselamatan
13. Jka dibaca pada malam Selasa, maka akan jadi kuat.
14. Jika dibaca pada malam rabu, giginya akan kuat.
15. Apabila dibaca pada malam Kamis, akan menjadi keliahatan bagus wajahnya, cantik/tampan.
16. Jika dibacakan pada binatang galak/buas akan menjadi jinak.
17. Jika dibaca pada tengah malam, malaikat akan turun dan memintakan ampun untuk orang yang membacanya.
18. Jika dibaca pada Hari RAya, maka akan terkabul semua hanjatnya.
19. Rasul SAW bersabda, “Jika ingin bertemu dengan para Nabi dalam mimpi, maka bacalah sebelum tidur 100 kali. Insya Allah kan bertemu dengan para Nabi dalam mimpi.Dan siapa yang melihat akan merasa sayang padanya.
20. Jika ada orang yang sakit, bacalah pada minyak lalu usapkan pada orang tersebut.
21. Jika ada orang yang kesurupan, bacalah doa tersebut pada minyak, tau air lalu berikan pada orang yang kesurupan tersebut.
22. Jika ingin disayang oleh atasan atau para pejabat, maka bacalah doa ini.
23. Jika ingin kuat berjalan, maka bacalah doa tersebut pada telapak tangan, lalu usapkan pada kaki.
24. Jika akan turun hujan, sementara anda tanggung mau bepergian, bacalahdoa Nur Nubuwah ini, insya allah dengan izin Allah akan berhenti.
25. Jika ada yang mau melahirkan dan sulit bacalah doa ini pada air lalu berikan pada orang terebut, insya allah akan digampangkan.
26. Jika ada perkelahian, atau perselisihan, maka bacalah doa ini, maka akan jadi reda perselesihannya.
27. Jika ada orang sakit mata bacalah doa ini pada lalu kedip-kedipkan pada mata yang sakit.
28. Jika ada yang digigit ular bacalah doa ini pada tempat yang digigit, insya allah racunnya tidak akan berbahaya.
29. Rasul SAW bersabda'”Jika kami ingin dimuliakan atau disegani orang lain maka bacalah doa ini.
30. Dan masih banyak lagi fadhilahnya yang tidak sempat admin tulis.
Pesan dari saya, jika mau mengamalkan doa Nur Nubuwah, bacalah dengan penuh keyakinan dan keihlasan. Yakinlah bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa kita. Dan perlu kita ketahui, dan tekankan, doa apapun tidak mempunyai kekuatan kalau tidak dikehendaki oleh Allah. Allahlah sumber segala kekuatan. Doa hanyalah media saja.

Walau di atas tercantum beberapa fadhilahnya, tapi janganlah dijadikan tujuan. Amalkan doa ini karena mengharap ridha-Nya. Dan karena diperintah untuk berdoa.
Allah berfirman dalam Surah Albaqarah ayat 186 :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Yakinlah Allah dekat dan mendengar setiap permohonan kita dan akan mengabulkan permohonan kita dengan syarat mau memenuhi setiap perintah-Nya dengan dasar keimanan dan keikhlasan.

Inilah Doanya :

ALLAHUMMA DZIS SULTHOONIL AZHIM WA DZIL MANIL QODIM WA DZIL WAJHIL KARIIM WA WALIYYIL KALIMAATI TAAMMAATI WAD DA’AWAATIL MUSTAJAABATI ‘AAQILIL HASANI WAL HUSAINI MIN ANFUSIL HAQQI ‘AINIL QUDROTI WAN NAAZHIRIIN WA ‘AINIL INSI WAL JINNI WA IN YAKKADU LADZINA KAFAARUU LAYUZLIQUUNAKA BIABSHAARIHIM LAMMAA SAMI’UUDZIKRA WA YAQULUUNA INNAHU LAMAJNUN.WA MAA HUWA ILLAA DZIKRUN LIL ‘AALAMIIN WAMUSTAJAABU LUQMAMAANIL HAKIIM WA WARITSA SULAIMAANU DAAWUDA ALAIHIMASS SALAM, AL WADUU DZUL ‘ARSYIL MAJIID. THOWWIL UMRII WA SHAHHIH JASADII WAQDHI HAAJATI WA AKTSIR AMWAALII WA AULAADI WA HABBIB LIN NAASI AJMA’IIN. WA TABAA ‘ADIL ‘ADAAWATA KULLAHA MIN BANII AADAMA ‘ALAIHIS SALAM MAN KANA HAYYAN WA YAHIQQAL QOULU ‘ALAL KAAFIRINA WA QUL JAA AL HAAQQU WA ZAHAQAL BAATHILU INNAL BAATHILA KAANA ZAHUUQA WA NUNAZ ZILU MINAL QUR’AANI MA HUWA SYIFAA’UN WA RAHMATUN LIL MUM’MINIIN WA LAA YAZZIDUZH ZHAALIMIINA ILLAA KHASAARO.
SUBHAANA RABBIKA RABBIL ‘IZZATI ‘AMMA YASHIFUUN WA SALAAMUN ‘ALAL MURSALIIN WAL HAMDULILLAHI RABBIL’AALAMIIN.

Sumber : Mujarabat Lengkap
Ditulis oleh : ABU FAUZAN
Email : insya.allah.bisa.kaya@gmail.com