:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Archive for July, 2012

Siasat Bulan Puasa dan Lebaran

Saat bulan puasa dan menjelang lebaran, biasanya kebutuhan belanja keluarga cenderung meningkat. Jika tidak hati-hati mengatur pengeluaran, kas keluarga bisa jebol.

 

Ketika puasa, misalnya, menu makanan yang tak biasa dihidangkan di luar bulan puasa muncul. Begitu pula menjelang lebaran, para ibu akan mulai berbelanja kebutuhan yang tidak biasa mereka belanjakan saat bulan-bulan lain.

Agar tidak mengoyahkan keuangan keluarga, Perencana Keuangan Ahmad Gozali menganjurkan agar apa saja yang akan dilakukan selama masa-masa itu direncanakan dengan baik. Perencanaan yang baik, paling tidak harus dilakukan dua bulan sebelum hari “H”, untuk menghidari pengeluaran biaya yang tidak perlu.

 

Ada banyak cara menghindari boros saat puasa dan lebaran. Kuncinya, imbuh Gozali, adalah pengendalian diri. Puasa menurutnya, bukan sekadar mengendalikan lapar dan haus, tapi juga nafsu untuk berbelanja. Bagi kaum hawa mungkin ini agak sedikit berat untuk dilakukan. Karena itu, diperlukan strategi khusus untuk mengubah tradisi boros di dua kesempatan tersebut.

 

Langkah utamanya, memisahkan antara kebutuhan rutin hidup sehari-hari dengan kebutuhan tidak rutin saat puasa dan lebaran. Kemungkinan naik atau turunnya biaya saat puasa dan lebaran, harus diantisipasi. Menu harian keluarga juga harus diatur dengan bijak, dan upayakan agar tidak berbelanja saat hari puasa.

 

“Berdasarkan penelitian, keinginan belanja seseorang akan meningkat tinggi ketika ia sedang lapar,” ujar Gozali. Untuk itu sebaiknya biaya kebutuhan puasa dan lebaran dianggarkan sebelum puasa tiba, supaya jumlahnya lekas diketahui dan pengadaan dananya juga dapat dipenuhi sejak dini.

 

Menurut Gozali, banyak manfaat berbelanja sebelum puasa. Di antaranya: irit tenaga, dan harga-harga barang juga tidak setinggi saat puasa atau menjelang lebaran. Di samping itu, ketika menjalankan ibadah puasa, kita akan bisa lebih khusyu’ dan tidak terbebani kepentingan belanja.

 

Jika perhitungan telah ada, pendapatan bulanan, termasuk THR (Tunjangan Hari Raya) yang biasa didapat menjelang lebaran, sementara waktu bisa ditutupi dengan uang tabungan. Namun ketika uang bulanan didapat, harus bijak untuk lekas menggantinya. Karena, tabungan itu bisa digunakan sementara untuk memenuhi pembengkakan biaya kebutuhan sebelum THR diterima.

Advertisements

Rapat isbat terkait awal bulan puasa

Jakarta – Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali mengatakan pemerintah akan melakukan rapat isbat terkait awal bulan puasa. Suryadharma mengakui, perbedaan dalam penentuan puasa, kemungkinan bisa saja terjadi.

“Isbat mungkin tanggal 19 Juli 2012,” ujar Suryadharma di Jakarta, Sabtu, (7/7/2012). Suryadharma mengatakan, awal bulan puasa maupun Hari Raya Idul Fitri bisa saja mengalami perbedaan. Hal itu tidak bisa dipungkiri dan akan dimaklumi oleh pemerintah.

“Potensi perbedaan tetap ada, karena ketika diadakan pertemuan dengan ormas-ormas Islam kemudian ulama falaq serta ilmuan astronomi, itu tidak mencapai kesepakatan atau penyatuan kriteria,” ujarnya.

Pria yang kerap disapa SDA ini mengatakan, perbedaan ini pangkalnya adalah adanya perbedaan kriteria dalam melihat bulan. Yaitu, pada posisi berapa derajat itu yang berbeda-beda. Selama melihat dalam posisi berbeda, maka hasilnya akan berbeda. “Potensi perbedaan awal Ramadhan maupun Idul Fitri itu pasti ada potensinya, namun kita belum tahu, ini potensi nanti baru bisa diketahui setelah diambil keputusan melalui isbat,” terangnya.

Dia menjelaskan, pangkal dalam perbedaan itu kriteria bulan itu bisa dilihat. “Jadi ada beberapa kriteria di antaranya 6 derajat itu ideal, 4 derajat sudah bagus dan 2 derajat itu agak susah. Tetapi ada satu 0,1 derajat,” kata dia.

Dia memahami adanya perbedaan pendapat sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan awal puasa atau Idul Fitri. “Tetapi kalau ada keputusan berbeda maka berikanlah mandat melalui proses isbat itu, seharusnya yang berbeda itu bisa bersatu juga dengan pemerintah. Jadi, kalau bulan ramadhan dan syawal itu ada perbedaan harap dimaklumi,” tuturnya.

SDA melanjutkan, tidak sepatutnya perbedaan diributkan tetapi harus bersama-sama bersatu dan bijak dalam menentukan sikap. “Saya malu kok umat Islam tidak bisa bersatu menentukan awal bulan. Memang mungkin aneh, kok umat Islam melihat awal bulan saja masih saja ribut, padahal Amerika sudah menginjak bulan, tapi kita masih saja meributkan melihat bulan.”

“Karena, ini dampaknya berbagai macam, politik, ekonomi maupun dampaknya di dapur. Karena di dapur itu dampaknya seperti kemarin syawal itu terhangat, semua yang sudah tersedia lalu dihangati kembali,” imbuhnya kembali. [mvi]

 

http://m.inilah.com/read/detail/1880140/menag-ada-potensi-perbedaan-awal-puasa

Bulan Ramadhan Memang Ibadah

sumber: REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein

Sebentar lagi seluruh umat Islam akan menjalan ibadah puasa Ramadhan. Puasa di bulan Ramadhan memang ibadah yang paling banyak ditunggu-tunggu umat Islam. Karena itu, dalam beberapa hari kedepan, untaian kalimat Marhaban ya Ramadhan, selamat datang bulan suci Ramadhan patut kita kumandangkan.

Namun, marhaban ya Ramadhan sepatutnya bukan sekadar ucapan selamat datang yang terlontar dari mulut belaka. Bukan pula dengan berprilaku konsumtif, mengikuti ajakan iklan di tayangan televisi. Maklum, menjelang Ramadhan ini, berbagai komoditas yang diproduksi dengan sensibilitas keagamaan dilempar ke pasar dan diiklankan.

Tanpa kita sadari, umat Islam pada setiap momentum Ramadhan tiba selalu diposisikan sebagai konsumen potensial untuk meraup keuntungan bisnis. Sepertinya ibadah puasa nantinya kurang sempurna jika tidak mengkonsumsi makanan serta minuman tertentu yang diiklankan dengan mengatasnamakan agama.

Sungguh disayangkan jika kita termasuk ‘korban’ dan masuk kaum konsumtif. Subtansi penyambutan Ramadhan yang benar-benar diharuskan Islam telah kita tinggalkan. Yang ada hanya kita mengikuti ajakan konsumerisme, yang sebenarnya telah menjauh dari esensi penyambutan Ramadhan.

Marhaban ya Ramadhan, sepatunya kita menyambut bulan penuh keberkahan itu dengan berbenah diri. Perbuatan-perbuatan tercela, tidak terpuji, kebohongan, kemalasan dan perbuatan-perbuatan negatif yang (mungkin) kita telah lakukan sebelumnya harus segera ditinggalkan. Kita sambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan jernih. Berbenah diri untuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Ibadah puasa di bulan suci ini yang diwajibkan untuk orang-orang beriman di seluruh dunia bukan sekadar ibadah. Ibadah puasa di bulan Ramadhan sangat berbeda dengan ibadah lain. Sebab, puasa adalah ibadah ‘rahasia’. Artinya, orang itu berpuasa atau tidak hanyalah orang berpuasa itu sendiri dan Allah saja yang mengetahuinya.

Ramadhan adalah bulan penyemangat. Bulan yang mengisi kembali baterai jiwa setiap muslim. Ramadhan sebagai “Shahrul Ibadah” harus kita maknai dengan semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai “Shahrul Fath” (bulan kemenangan) harus kita maknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadhan sebagai “Shahrul Huda” (bulan petunjuk) harus kita implementasikan dengan semangat mengajak kepada jalan yang benar, kepada ajaran Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad Saw.

Ramadhan sebagai “Shahrus-Salam” harus kita maknai dengan mempromosikan perdamaian dan keteduhan. Ramadhan sebagai “Shahrul-Jihad” (bulan perjuangan) harus kita realisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di muka bumi ini. Ramadhan sebagai “Shahrul Maghfirah” harus kita hiasi dengan meminta dan memberiakan ampunan.

Ramadhan juga sebagai bulan kesabaran, maka kita harus melatih untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah ‘gigih dan ulet’ seperti yang dimaksud dalam (QS. Ali Imran/3: 146).

Semoga dengan mempersiapkan diri kita secara baik dan merencanakan aktivitas dan ibadah-ibadah dengan ihlas, serta berniat “liwajhillah wa limardlatillah”, karena Allah dan karena mencari ridha Allah, kita mendapatkan kedua kebahagiaan tersebut, yaitu “sa’adatud-daarain” kebahagiaan dunia dan akherat. Semoga kita bisa mengisi  Ramadhan tidak hanya dengan kuantitas harinya, namun lebih dari pada itu kita juga memperhatikan kualitas puasa kita.

Mengakhiri hikmah ini, ada baiknya kita mendengarkan kisah Khalifah Umar bin Khathab. Suatu ketika Umar pernah menghukum Amru bin Ash, sang gubernur Mesir kala itu yang berbuat semena-mena terhadap seorang rakyatnya yang miskin.

Seorang gubernur yang bertugas di Hamash, Abdullah bin Qathin pernah dilucuti pakaiannya oleh Umar. Sang khalifah menyuruh menggantinya dengan baju gembala. Bukan itu saja, si gubernur diminta menjadi penggembala domba sebenarnya untuk beberapa saat. Hal itu dilakukan Umar karena sang gubernur membangun rumah mewah buat dirinya.
“Aku tidak pernah menyuruhmu membangun rumah mewah!” ucap Umar begitu tegas.

Esensi puasa Ramadhan juga memberikan nilai ajaran agar orang yang beriman dan bertakwa mengikuti tuntunan Nabi saw yang hidupnya sangat sederhana. Dalam sebuah hadist, Rasulullah juga bersabda, “Berhentilah kamu makan sebelum kenyang.”

Semoga di bulan Ramadhan nanti, kita bisa mengambil hikmah untuk bisa menjalankan hidup sederhana. Aamiin.