:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Oleh :Ilzamul Wafik, pernah dimuat di buletin WAZAN April-Mei 2013

Menganut NU sebagai Faham Beragama Islam, seolah merupakan anugerah hidayah dari Alloh SWT yang tak bisa direncanakan. seperti kala manusia baru lahir ke dunia dalam fitrah Islam, maka orangtua merekalah yang dapat menjadikan yahudi, nasrani atau majusi.
Siapa yang menjamin kalau santri pesantren-pesantren Salaf pasti menjadi anggota jam’iyyah NU?. Memang, jika orangtua NU besar kemungkinan sang anak kelak menjadi NU, hanya kecil kemungkinanya menjadi penganut ormas lain. begitu juga jika orangtua penganut Ormas Muhammadiyah-misalnya, kecil kemungkin sang anak menjadi penganut NU.
Sebut saja KH. Mas Mansur, beliau merupakan tokoh-bahkan-pengurus NU di awal berkibar bendera talijagat berbintang sembilan bertuliskan Nahdlotul Oelama, kemudian “boyong” dan menjadi tokoh penting di Muhammadiyah. Serentetan aktivis GP Ansor juga menjadi tokoh Muhammadiyah di banyak wilayah. Konon Prof. DR. M. Din Syamsuddin, MA (Pimpinan Pusat Muhammadiyah-sekarang) juga lahir dan dibesarkan di linkungan keluarga Kyai NU, yang jelas beliau sekolah mulai dari MI-NU, MTS-NU, Kuliah IAIN -terus keluarnegeri.
Melihat kenyataan ini, NU yang merupakan organisasi terbesar dengan jamaah 80 Juta dari penduduk indonesia 300 juta-tidak bisa terus berbangga dengan besarnya jamaah. Hal ini tentu karena masih ada kemungkinan jamaah tersebut berpindah ke ormas lain, meskipun dengan jumlah yang sedikit. Justru dari yang sedikit itulah, lama-kelamaan akan menjadi banyak. Apalagi sangat disayangkan sekali apabila ternyata yang sedikit itu adalah  orang-orang NU yang berkualitas.
Barangkali kita ingat terhadap strategi sebuah lembaga/Ormas jika mau berpedoman pada maqolah sahabat A’li Karromallohu Wajhah “Kebathilan yang terorganisir dapat mengalahkan Kebenaran yang tidak terorganisir”. Jika orang-orang berkualitas dalam NU, Muhammadiyah maupun Ormas Islam yang lain sudah enggan lagi mengurus-indikatornya keluar dari Organisasi Masyarakat, ini artinya Islam di Indonesia sedang dalam kondisi tidak terorganisir.
Perpindahan seseorang dari satu lembaga ke lembaga lain menurut Dr. Nurul Yamin merupakan fenomena yang fantastis dan memang ada dampak-dampak positif bagi lembaga yang menerima kepindahan tersebut terutama tidak susah-susah membina bibit/kaderisasi. Banyak faktor yang mempengaruhi perpindahan, diantaranya ketidak puasan karir terhadap Lembaga/Organisani asal, mendapat tempat baru yang dinilai lebih prospek dan lain sebagainya.
Setelah kita mengetahui bahwa tidak ada jaminan 100% santri berkiprah di NU, maka bagi santri Pesantren Salaf-PP.Assslafiyyah misalnya,  harus berfikir jeli apabila kelak ada goncangan tidak nyaman dan ingin berpindah ke Ormas Lain. Cobalah pertimbangkan matang-matang. Jangan hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri. Fikirkan seandainya jadi berpindah, bagaimana kelanjutan hubungan persaudaraan atau jamaah bimbingan dan yang terpenting keluarga juga tetangga dimana kita tinggal.
Sebenarnya menganut NU atupun ormas lain bukanlah keharusan-jika dilihat dari sisi NU/Ormas sebagai organisasi. Contohnya, Muhammadiyah telah menyadari bahwa Lembaga pendidikan milik Muhhammadiyah sendiri yang jumlahnya sangat banyak, tidak menjamin dan mengharuskan anak didiknya menjadi Muhammadiyah. Namun apabila yang dimaksud NU bukan hanya sekedar Organisani, tetapi NU sebagai manhaj ber-islam(menurut KH. Said Agil Siradj), maka keluar dari Jam’iyyah NU -menurut penulis-menandakan santri tersebut adalah santri yang tidak konsisten dengan kerangka berfikir/sistem memahami(manhaj)Ulama Salaf yang dibangun ketika mengaji di pesantren. Seandainya ada fakta orang-orang NU berpindah ke Organisasi lain, sebaiknya kita tidak berburuk sangka-suuzdon, karena barangkali justru kepindahan tersebut adalah hasil pertimbangan matang yang berpedoman manhaj Ulama Salaf. Tidak sedikit, justru tokoh-tokoh Muhammadiyah yang aslinya NU-lah yang membesarkan dan memajukan Muhammadiyah.
Pertanyaan untuk mengakhiri tulisan ini adalah adakah cerita orang berpindah dari Muhammadiyah ke NU kemudian membesarkannya?seandainya tidak ada, barangkali belum. Terus, apakah kita akan menunggu kepindahan orang lain itu? jangan!, sekali lagi-jangan! seharusnya kitalah yang langsung membesarkan NU sejak sekarang. Bagaimana caranya? dengan ber-organisasi dan menjadi aktivis yang baik. Kalau masih belum bisa cukup menerima tugas sebagai pengurus kamar/Organisasi ditingkat santri, itu akan sangat besar manfaatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: