:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

       
Secara umum, tantangan Gerakan Dakwah Masa Depan sangat banyak dan kompleks. Paling tidak terdapat enam tantangan besar yang dihadapi Harokah Islamiyah Masa Depan. Keenam tantangan tersebut ialah :
1. Tantangan internal
Tantangan internal Gerakan Dakwah itu terdiri dari :
A. Kejumudan (kebekuan) berfiikir.
Hampir semua Gerakan Dakwah mengalami kejumudan sehingga terhentinya pembaruan kendati sudah melewati perjalanannya berpuluh-puluh tahun. Keberanian dan kemauan melakukan tajdid al-manhaj al-haroki al-fikri (pembaruan konsep pemikiran harokah) dan al-manhaj al-haroki al-‘amali (konsep aktivitas harokah), hampir tidak ada, khususnya terkait dengan masalah-masalah ijtihadiyah para pendirinya sejak puluhan tahun yang lalu. Akibatnya, Gerakan Dakwah tidak bisa menampung al-‘uqul al-kabiroh (pemikiran-pemikiran besar) – meminjam Istilah Dr. Yususf Al-Qardhawi – yang datang dari para aktivisnya sendiri, apalagi dari luar. Tajdid tersebut amat diperlukan agar terjadi proses penyempurnaan dan akselarasi dengan perkembangan dan kebutuhan dakwah masa kini. Tajdid juga berfungsi melurusakn penyimpangan amaliyah maidaniyah, khususnya bila memasuki lapangan politik praktis. Di samping itu, tajdid melahirkan pemikiran-pemikiran, konsep-konsep dan rumusan-rumusan baru yang kontekstual, moderen dan futuristik, namun tetap komitmen dengan asholah (orisinilitas)-nya. Di samping itu, tidak ada keberanian merumuskan dan mendesain ulang format, strategi, perencanaan, program dan target-target Gerakan Dakwah masa kini untuk menjawab berbagai tantangan zaman, sehingga Gerakan Dakwah mampu menjelaskan nilai-nilai Islam dalam bentuk amal, alternatif dan keteladanan. Akhirnya, yang menonjol di lapangan adalah seruan-seruan moral dan penjelasan-penjelasan nilai yang sifatnya baku dan berulang-ulang.
B. Model dan dan gaya kepemimpinan.
Rata-rata dalam parkateknya, model kepemimpinan Gerakan Dakwah adalah model masyayikh (kekiayan tradisionil), kendati dalam konsep dan teorinya meniru gaya kepemimpinan Rasulullah dan para Sahabat. Model kepemimpinan masyayikh tradisionil itu di antara cirinya ialah tidak ada yang berani mengkritik dan memprotes keputusan atau keinginan sang pemimpin, kendati nyata-nyata berlawanan dengan nilai-nilai Islam. Akhirnya, pemimpin diposisikan pada posisi yang berlebihan, dan bahkan kadangkala melebihi Nabi, atau di Indonesia dikenal dengan wali. Kurangnya keberanian dan kemauan membenahi model dan gaya kepemimpinan yang tidak sesuai dengan spirit Islam itu sendiri, seperti model masyayikh tradisonal, secara otomatis membuka peluang bagi para aktivis harokah untuk mengkultuskan pemimpin, jama’ah dan partai mereka. Pada waktu yang sama tidak akan pernah membuka peluang lahirnya kepemimpinan yang lebih baik dan lebih berkualitas dari sebelumnya.
C. Ta’sh-shub jama’i, qiyadi dan Hizbi (Fanatink pada jama’ah. Pemimpin dan partai).
Ta’sh-shub tersebut menjadi ancaman serius bagi Gerakan Dakwah. Sebab, secara syar’i, ta’ash-shub adalah perbuatan jahiliyah yang sangat dibenci. Secara fakta di lapangan, ta’ash-shub pada ketiga hal tersebut juga telah melahirkan persaingan dan perpecahan di kalngan umat, khususnya di kalangan antar aktivis Gerakan Dakwah yang berbeda nama dan payung. Dengan demikian, Gerakan Dakwah akan kehilangan banyak peluang Dakwah dan interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk antar sesama aktivis Gerakan Dakwah yang berbeda nama dan warna. Ini juga merupakan salah satu penyebab yang memperlambat perkembangan dan pertumbuhan Gerakan Dakwah itu sendiri.
D. Keenggenan menjadi al-‘unshur al-jaami’, ( faktor perekat) bagi kalangan Gerakan Dakwah lainnya, juga bagi umat Islam secara luas, dan bahkan ironisnya dalam kalangan jamaah sendiri. Di antara penyebabnya ialah suburnya penyakit ta’ash-shub jama’i, qiyadi dan hizbi (fanatik buta terhadap jama’ah, pemimpin dan partai) serta pemikiran pemikiran masing-masing Gerakan Dakwah, seperti yang disebutkan pada poin 3 di atas. Bahkan terkadang lahir sebuah pendapat dan sikap yang keliru seperti “right or wrong is my jama’ah, may leader and my party”. Ironisnya, dalam lapangan politik praktis seringkali berkoalisi dengan tokoh, atau partai atau kelompok yang nyata-nyata musuh Islam atau paling tidak tidak menyukai tegaknya Islam sebagai the way of life di negeri mereka tinggal.
E. Kelemahan mawarid basyariyyah (sumber daya manusia) dalam berbagai bidang ilmu.
Kelemahan SDM tersebut mengakibatkan terjadinya kelemahan ruhiyah (mental) dan uswah (keteladanan) sebagai syarat mutlak menjadi khoiru ummatin ukhrijat linnas (umat terbaik dan berkualitas tinggi yang tampil di tengah-tengah manusia) dalam mengemban missi khalifatullah yang akan memakmurkan kehidupan umat manusia di atas muka bumi melalui nilai-nilai Islam yang amat adil danmanusiawi.
 

 

2. Tantangan Sesama Gerakan Dakwah.

 

Kalau kita cermati problema dan masalah-masalah yang terjadi sesama Gerakan Dakwah maka kita akan menemukannya sebagai berikut :
 

 

A. Kurangnya kesiapan dan kemauan membangun komunikasi yang baik dan intensif sehingga terjadi proses ta’aruf (perkenalan), kemudian ditersuskan dengan tafahum (saling mengerti) dan kemudian ta’awun (tolong menolong) serta berlanjut dengan takaful (saling menopang) dengan harapan kemuidan bersinerji untuk menuju wihdatul harokah (kesatuan pergerakan).

 

B. Kurangnya kesiapan dan kemauan untuk mehamai dan menerapkan kaedah-kaedah ilmiyah dan amaliyah dalam menyikapi perbedaan baju harokah seperti :
i. Perbedaan dalam masalah furu’ (cabang) dan lapangan ijtihadiyah adalah suatu kenyataan yang sudah terjadi sejak zaman Sahabat dan mustahil dapat dihindarkan dan juga berfungsi sebagai fleksibelitas ajaran Islam dalam rangka kemudahan bagi umat Islam.
ii. Menerapkan prinsip washothiyyah (pertengahan) dan meninggalkan sikap ghuluw (berlebihan) dalam penerapan ajaran Islam.
iii. Tidak bersikap reaktif (menerima atau menolak tanpa dipelajari dengan baik) terhadap masalah-masalah ijtihadiyyah, karena kemungkinan benar dan juga kemungkinan salah.
iv. Tidak mau belajar dari para Sahabat Rasulullah dan ulama-ulama besar Islam sepanjang sejarah dalam memenej ikhtilaf (perbedaan) pendapat di antara mereka.
v. Fokus terhadap masalah-masalah besar yang sedang dihadapi umat Islam dan umat manusia hari ini.
vi. Bekerjasama dalam masalah yang disepakati dan bertoleransi dalam masalah yang belum disepakati.
vii. Yakin bahwa Al-Islam sebagai agama Allah untuk semua manusia tidak mungkin mampu ditegakkan oleh satu kelompok Gerakan Dakwah saja. Bekerjasa sama dalam menjalankan amar ma’ruf dan nahi ‘anilmunkar merupakan suatu kebutuhan lapangan. Sebab itu, bersatu dan bekerjasama dalam menjalankan dan memperjuangkan agama Allah merupakan tuntutan dan kewajiban dari Allah.
C. Kesiapan dan kemauan memahami dan menerapkan kaedah-kaedah ruhiyah (spiritualitas) dalam menghadapi perbedaan baju harokah. Di antaranya :
i. Membebaskan diri dari nafsu dan syahwat ujub (bangga) pada diri, jama’ah, kelompok, partai dan pemimpin.
ii. Membebaskan diri dari fanatisme terhadap jama’ah, partai, kelompok, pemimpin, mazhab, pemikiran dan pendapat para Imam/pemimpin.
iii. Menghindari selalu dalam diri sifat su-uzh-zhon (buruk sangka) terhadap sesama Muslim.
iv. Menghindari pembicaraan mencela, perbuatan dan sikap yang dapat menyakiti perasaan sesama Muslim.
v. Menghindari jidal (debat kusir) dan permusuhan terhadap sesama Muslim.
vi. Belajar berdialog denagn cara yang lebih baik. 
vii. Tanamkan sifat dan sikap kasih sayang dan santun terhadap sesama Muslim.
viii. Selalu mendoakan kamum Muslimin agar mendapat hidayah dan ampunan Allah, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup.


3. Tantangan Para Tokoh Dakwah yang tidak atau belum tergabung dalam harokah.
Sebuah kenyataan dan fenomena menarik bahwa hampir di seluruh Dunia Islam selalu muncul tokoh-tokoh besar dakwah yang dalam menjalankan Dakwah Ilallah mengandalkan kemampuan dan kharismatik pribadi. Pengikut setia (anggota jama’ah) mereka sangat banyak. Pengaruh mereka di lapangan sangat terasa, termasuk dalam perubahan moral masyarakat. Kelebihan yang mereka miliki juga banyak, kendati kelemahan-kelemahannya juga tidak dapat dipungkiri karena disebabkan beramal secara infirodi (single fighter). Mereka harus dilihat sebagai asset umat yang berharga dan harus selalu berupaya menjalin silaturrahmi (komunikasi) yang baik dalam rangka menuju ta’aruf (berkenalan), tafahum (saling mengerti), ta’awun (kerjasama) dan selanjutnya takaful (saling menopang) serta berikutnya menuju tauhidul ummah (penyatuan potensi umat).
Secara umum, tantangan Harokah Islamiyah Masa Depan terhadap para tokoh Dakwah tersebut sama dengan yang dihadapi dengan sesama Gerakan Dakwah. Letak perbedaanya hanya pada struktur formal dan informal. Artinya, para tokoh Dakwah tersebut biasanya tidak memiliki struktur formal dan nizhom asasi (peraturan organisasi) sebagaimana Gerakan Dakwah lainnya. Kalupun ada hanya sebatas hubungan kuat antara seyekh dengan murid. Sikap yang dibangun juga sama dengan yang dibangun terhadap sesam Gerakan Dakwah yang terstruktur. Personal approache (pendekatan pribadi) insyaa Allah akan lebih banyak membantu. 
4. Tantangan kaum muslimin secara umum (‘Ammatul Muslimin).
Tantangan yang keempat ini juga cukup berat. Di mata banyak kaum Muslimin, Gerakan Dakwah terkesan ekslusif dan elitis. Hal tersebt mungkin diseabkan Gerakan Dakwah tidak memiliki kesungguhan atau kurang memiliki keahlian dalam membangun komunikasi yang baik dan efektif dengan masyarakat umum, atau mungkin juga sudah merasa cukup dengan kelompok dan jama’ahnya. Ada kecendrungan dari Gerakan Dakwah bahwa kemesraan ukhuwah (persaudaraan), penghormatan, penghargaan dan pelayanan seakan hanya milik sesama aktivisnya,`lupa bahwa sifat-sifat tersebut harus menjangkau semua kaum Muslimin dan tidak boleh tersekat oleh kotak-kotak kelompok, jama’ah atau partai.
Fenomena ini sangat menarik sehingga ada yang mengomentari seakan-akan Gerakan Dakwah tidak butuh pada masyarakat awam. Anehnya, ketika terbuka peluang PEMILU dan PILKADAl (Plesetan dari PILKADA) misalnya, mereka bekerja keras dan berlombo-lomba dengan berbagai cara membuka akses ke masayarakat umum untuk mendapatkan suara mereka, bahkan tanpa menghiraukan norma-norma Islam yang sudah baku, seperti dengan mengundang artis-artis seronok dalam acara-acara kampanye, saling mengecam dan caci mencaci antara satu partai dengan yang lain.
Lambatnya pertumbuhan dukungan masyarakat umum terhadap Gerakan Dakwah diberbagai penjuru dunia, khususnya di Indonesia, salah satu sebabnya ialah ketidakmampuan menjalin komunikasi yang baik dengan mereka sesuai kebutuhan dan tingkat intelektualitas mereka. Padahal mereka juga memiliki potensi dukungan terhadap Dakwah seperti dukungan mal (harta), ilmu pengetahuan dan sebagainya. Lain halnya dengan tokoh-tokoh Dakwah yang bekerja secara individu, mereka lebih mampu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat Muslim secara luas, terlepas kita setuju atau tidak dengan metode Dakwah yang mereka terapkan. Namun itu adalah sebuah realitas yang harus mendapatkan perhatian.
Masyarakat umum adalah salah satu segmentasi Dakwah yang perlu mendapat perhatian yang serius oleh Gerakan Dakwah Masa Depan. Gerakan Dakwah Masa Depan memliki kewajiban Dakwah terhadap mereka. Kewajiban yang utama ialah membantu mereka dalam memahami ajaran Islam yang bersifat fardhu ‘ain (kewajiban setiap individu Muslim). Kewajiban berikutnya memperlihatkan keteladanan yan baik dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian disusul dengan kewajiban membantu meringankan beban kehidupan duniawi, baik karena tidak punya atau kurang memahami nilai-nilai Islam terkait dengan manajemen (penataan) keluarga, ekonomi, pendidikan anak, seni, budaya dan sebaganya.
Kewajiban-kewajiban tersebut hendaklah dijalankan secara terus menerus tanpa ada target imbalan apapapun dari mereka seperti dukungan suara ketika menghadapi sebuah PEMILU misalnya, ataupun dukungan dalam bentuk mobilisasi infaq dan shodaqoh mereka secara besar-besaran untuk kepentingan sekelompok Gerakan Dakwah semata. Ketika mereka sudah memahami ajaran Islam dan melihat para aktivis Gerakan Dakwah dapat dicontoh dalam kehidupan sehari-hari, amanah dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap problematika social yang sedang merekka hadapi, kemudian mereka mearsakan manfaat keberadaan Gerakan Dakwah di lingkungan mereka, secara otomatis mereka akan mendukungnya dalam berbagai kegiatannya, termasuk juga kegiatan politiknya dengan sebuah keyakinan, kesadaran dan kepercayaan yang kuat. Kenyataannya, seperti yang selalu kita saksikan di lapangan, tidak sedikit masyarakat umum yang bukan hanya tidak mengenal Gerakan Dakwah, kalaupun mengenal dengan presepsi yang keliru.
Kondisi seperti tersebut di atas pada akhirnya akan menjadi tembok dan penghalang bagi kemajuan dan pertumbuhan Gerakan Dakwah itu sendiri. Padahal seharusnya, bisa menjadi pendukung dan pendukung Gerakan Dakwah dalam berbagai pemikiran, program dan aktivitasnya, jiaka Gerakan Dakwah mampu menjalin komunikasi yang baik dan pas dengan mereka.
Kita juga menyadari dan meyakini bahwa nyaris mustahil seratus persen kaum Muslimin akan mendukung Gerakan Dakwah. Namun juga menjadi pertanyaan besar jika Gerakan Dakwah sudah berumur hampir satu ababd , minimal puluhan tahun, namun pendukungnya masih minoritas. (Sebagai perbandingan, lihat Tabel 1. B. Peta Gerakan Dakwah di Indonesia)

Catatan :
1. Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa Gerakan Dakwah di Indonesia mayoritasnya belum memiliki Manhaj yang Syamil.
2. Kendati ada yang sudah memiliki Manhaj yang Syamil, namun implementasinya masih juz-iyyah (parsial)
3. Jika jumlah umat Islam 85 % dari total penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa, maka jumlah Umat Islam adalah sekitar 187 juta jiwa
4. Jika diasumsikan bahwa Umat Islam yang sudah intima’ Jama’i ke dalam berbagai gerakan dakwah dan keagamaan mencapai 100 juta atau sekitar 53,47 % dari total Umat Islam (187 juta), maka terdapat sekitar 46,52 % (87,000,000) orang yang belum tersentuh Gerakan Dakwah.
5. Jika diasumsikan prosentase umat Islam yang dewasa dari jumlah tersebut sekitar 50 %, maka ada sekitar 43,500,000 Muslim potensial yang belum tersentuh Gerakan Dakwah.
5. Tantangan terkait dengan pemerintahan dan penguasa setempat yang sma-sama Mulslim, namun belum meyakini Islam sebagai jawaban berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan negara.
Tantangan yang satu ini merupakan tantangan yang paling serius dan sangat rumit. Sejarah membuktikan, hubungan Gerakan Dakwah di berbagai belahan bumi Islam dengan pemerintahan dan penguasanya yang silih berganti pasaca penjajahan Eropa, penuh dengan percaturan sengit dan bahkan di banyak wilayah Islam seperti Mesir, Suriah, Jordania, Tunisia, Maroko, Al-jazair dan bahkan di Indonesia dapat dikatakan sampai ke tingkat “berdarah-darah”.
Untuk itu, Gerakan Dakwah Masa Depan memerlukan kecerdasan yang labih, kesungguhan yang tidak kenal lelah, ketajaman dan kekuatan pemikiran dan firasat dalam mengevaluasi dan mengoreksi sikap dan peristiwa-pewristiwa yang sudah terjadi serta mempunyai pemahaman yang detil dan akurat tentang kondisi ideologis dan psikologis pemerintahan dan penguasa sekkarang untuk dijadikan landasan berfikir, kebiajakan, bersikap dan berbuat di masa yang akan datang terkait dengan desain baru yang akan dijalankan dalam rangka menghadapi tantangan tersebut. Di samping itu, kemampuan mengasah pemikiran dan insting untuk belajar dari sejarah juga harus ditingkatkan. Orang Mukmin itu cerdas dan tidak boleh tersengat dua kali dalam satu lobang yang sama. Apa yang terjadi bagi Gerakan Dakwah di banyak kawasan negeri Islam, berkali-kali disengat dan jatuh ke dalam lobang yang sama, seakan sudah menjadi langganan priodik.
Dalam dunia bisnis ada sebuah kaedah yang popular yaitu “merubah tantangan menjadi peluang”. Kaedah tersebut bukan hanya rumusan filosofis yang mustahil diterapkan dalam kehidupan. Dalam dunia bisnis kaedah tersebut, khususnya di era hyper competitive (percaturan yang sangat dahsyat) sekarang ini merupakan pegangan dan patokan kesuksesan. Dunia Harokah seharusunya juga mampu menerapkan kaedah tersebut, tentu dengan dhowabith (patokan-patokan) syar’i dan akhlaq mulia. Pertanyannya ialah, mampukan Gerakan Dakwah merubah tantangan yang datang dari pemerintahan dan penguasa negerinya menjadi sebuah peluang? Jawabanya insyaa Allah mampu selama memiliki kekuatan bargaining position, strategi yang kuat, perencanmaan yang matang, dan persyaratan-persyaratan yang dimiliki oleh generasi Gerakan Dakwah Pertama yang dipimpin Rasul saw.

Tantangan Gerakan Dakwah Masa Depan (3)

6. Tantangan yang datang dari gerakan atau pemerintahan non Muslim yang nota bene tidak suka jika Islam dan umat Islam maju dan bersatu menjadikan Islam the way of life bagi kaum Muslimin.
Di masa penjajahan dan imperialis Eropa atas berbagai negeri Islam bahkan beberapa dekade sebelum kejatuhan Khilafah Usmaniyah di Turki, seluruh negara Eropa penjajah, seperti Inggris, Perancis, Italia, Belanda dan Portugis, – para penjajah tersebut – melakukan serangan terhadap Islam dan umat Islam dengan dua cara, yakni al-ghozwu al-‘askari (serangan militer / bersenjata) dan al-ghozwu al-fikri (serangan pemikiran / intelectual invation). Musuh utama mereka ketika itu adalah semua Harokah At-tahrir Al-Islamiyah (Gerakan Perlawan/Kemerdekaan Islam). Namun, keberhasilan umat Islam memerdekakan negeri mereka dari penajahan fisik tidak serta mereka mereka mampu membebasakn diri mereka dari penjajahan dan al-ghozwu al-fikri. Kendati kaum imperialis secara struktural pemerintahan dan militer telah angkat kaki dari negeri Islam sejak puluhan tahun yang lalu, namun pemikiran, budaya, hukum, perundang-undagan, sistem pendidikan dan lain sebagainya masih kokoh tegak berdiri di dalam system pemerintahan Duhnia Islam hari ini, termasuk Indonesia, serta tertanam kuat dalam benak dan pemikiran mayoritas kaum Muslimin di seluruh Dunia Islam hari ini. Serangan pemikran tersebut melahirkan tiga virus yang sangat berbahaya bagi umat Islam. Pertama, sekularisme. Kedua, nasionalisme. Ketiga, demokrasi.
Untuk menjamin kelangsungan jajahanya pasca angkat kaki dari neger-negeri Islam, kaum penjajah Eropa meninggalkan dan mewariskan tiga virus mematikan (sekularisme, nasionalisme dan demokrasi) melalui tiga wadah yang sangat efektif dan strategis. Pertama, tokoh-tokoh sekular yang akan menjadi penguasa dan yang akan punya pengaruh kuat di masyarakat. Kedua, sistem pemerintahan, termasuk sistem pendidikan, hukum dan perundang-undangan. Ketiga, kelompok-kelompok sempalan Islam yang akan mengaburkan dan mengobrak abrik ajaran Islam, bahkan di India termasuk Pakistan, Inggris sengaja melahirkan agama baru yang berkedok Islam, yakni Ahmadiyyah yang dipelopori oleh MirzaGhulam Ahmad yang mengklaim diri sebagai Nabi terakhir. Karena Ahmadiyah sudah dinayatakan terlarang di Pakistan, maka Inggris dengan serta merta memindahkan pusat kegiatannya ke Inggris.
Bersamaan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di seluruh penjuru dunia pasca peristiwa WTC dan Pentagon 11 Nopember 2001 yang lalu, keliahtannya Amerika sebagai komandan uatama anti Islam dan Gerakan Dakwah, menerapkan kembali pola penjajajahan Eropa di era imperialisme. Dua bentuk serangan (al-ghozwu al-fokri dan al-ghozwu al-‘askari), nyata-nayata diterpaknnya. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Amerika menghancurkan pemerintahan Thaliban di Afghanista tidak lama berselang kasus WTC tersebut. Di Irak, sampai hari ini kita masih menyaksikan kejahatan militer Amerika terhadap bangsa Irak Muslim. Di Phlipina Amerika juga terlibat membantu militer pemerintah Manila untuk menumpas umat Islam di Mimndano, selatan Philipina. Di Indonesia, Gerge W. Bush moncoba melobi Megawati Soekarno Putri, ketika menjabat Presiden RI beberapa tahun yang lalu agar menyerahkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ke pemerintahan Amerika Serikat. Dan sebelumnya berbagai rekayasa yang dilancarkan intelijen Amerika seperti kasus Umar Al-Faruq, dan bahkan menurut banyak pengamat intelijen dan militer, bom Bali, J.W. Meriot dan sebagainya besar kemungkinan keterlibatan tangan-tangan intelijen Amerika dalam peristiwa tersebut. Bahkan beberapa waktu yang lalu Amerika dan Ausrtalian selalu menyampaikan issu akan adanya serangan bom, seperti di WTC Mangga Dua, kendati tidak terjadi. Amerika melakukan manuver-manuver intelijens terhadap Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan mendominasi informasi intelijen di negeri ini sehingga dapat mengendalikan orientasi dan kinerja institusi keamanan (kepolisian) dan intileijen nasional (BIN).
Issu terosime yang dilontarkan Amerika tersebut sesunggunhnya adalah sebuah al-ghozwu al-fikri yang sangat berpengaruh terhadap pola fkir dan cara pandang umat Islam terhadap Islam dan Gerakan Dakwah. Dimasukkannya Dr. Hidayat Nur Wahid dan yayasannya Al-haromain oleh Amerika ke dalam daftar terorisme beberapa waktu yang lalu, kendati dibatalkan kembali, dan Amerika sama sekali tidak minta ma’af, dan juga rekayasa kasus Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan lain sebagainya merupakan bukti kongkrit bahwa Amerika telah, sedang dan akan menganggap Gerakan Dakwah sebagi musuh nomor wahid, khususnya setelah kekuatan komunisme Timur ambruk sejak satu decade yang lalu.
Bentuk lain dari al-ghozwu al-fikri yang dilancarkan Amerika ialah dengan memberikan berbagai bentuk dukungan terhadap kelompok-kelompok Islam “nyeleneh” seperti Jaringan Islam Liberal (JIL) – di Indonesia – dan kelompok-kelompok separatis di berbagai wilayah Islam, termasuk di Indonesia, agar umat Islam selalu disibukkan oleh pekerjaan rumah (PR) yang seakan tidak ada kesudahannya.
Sikap anti Islam Barat dan anti Gerakan Dakwah yang menyerukan keharusan kembali kepada ajalaran Islam secara syumul (konperehensif) pasca peristiwa WTC dikomandani oleh Amerika Serikat dan wakil komandan satu adalah Inggris dan wakil komandan dua-nya Australia. Amerika telah berupaya keras melobi pemerintahan Dunia Islam agara masuk dalam jaringannya dalam memerangi Gerakan Dakwah atau apa yang dinamakannya dengan “terorisme”. Berbagai peristiwa yang dituduhkan Amerika terhadap tokoh-tokoh Gerakan Dakwah seperti Ustazd Abu Bakar Ba’asyir dan campur tangannya terhadap proses pembukitian tuduhan tersebut, serta beruoaya keras untuk dihukum di Aerika jelas-jelas cerminan sikap permusuhannya terhadap Gerakan Dakwah.
Gerakan Dakwah Masa Depan khususnya di Indonesia harus waspada dan tidak boleh lalai terhadap ancaman tersebut, kendati Indonesia sekarang sedang dalam era keterbuakaan.Mereka pasti sadar betul bahwa era keterbukaan yan sedang dinikmati umat Islam Indonesia, pasti ibarat pisau bermata dua. Amerika akan mengambil langkah-langkah startegis dan mungkin ofensif untuk mengantisipasi perkembangan Gerakan Dakwah yang sudah terlanjur tumbuh dan berakar di masyarakat. Apalagi di Indonesi, Gerakan Dakwah sudah mulai memasuki dunia politik praktis yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem pemerintahan Indonesia dan politik luar negerinya. Tentu hal tersebut akan dianggap Amerika dan sekutunya sebagai ancaman masa depan yang tidak boleh diapndang remeh, apalagi Indonseia sebuah negeri Muslim kaya akan sumberdaya manusia dan alamnya. Kejahatan Amerika di Afghanista dan di Irak merupakan bukti tidak siapnya Amerika dan sekutunya untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan negeri Islam yang memiliki potensi kemajuan pemikiran keislaman dan persenjataan.
Pekerjaan Rumah (PR) Gerakan Dakwah Masa Depan dalam mengantisipasi ancaman tersebut tidak lain kecuali membangun soliditas organisai, konsolidasi sesama Gerakan Dakwah, dengan tokoh-tokoh Dakwah, membangun jaringan yang luas di masyarakat serta memilki lobi yang kuat di pemerintahan dengan membuktikan bahwa Gerakan Dakwah Masa Depan bukan ancaman bagi pemerintah negara-negara Muslim, melainkan mitra dan partner dalam membangun dan mengangkat dratjat dan martabat bangsa secara keseluruhan. Buktikan di masyarakat dan pemerintahan bahwa para aktivis Gerakan Dakwah Masa Depan adalah relawan-relawan yang tidak kenal pamrih dan menyerah demi untuk mewujudkan kebangkitan, kemajuan dan kemakmuran segenap masyarakat.
Upaya-upaya tersebut bukan berarti dapat memuskan semua kelompok masyarakat. Pasti ada saja kelompok msayarkat atau sebagian penguasa yang tidak mau memahami dan menerima kehadiran para relawan tersebut karena merasa keberadaan mereka terancam yang selama ini penuh dengan kecurangan dan kejahatan. “ Dan demikianlah Kami telah jadikan di setiap negeri itu pembesar-pembesar kejahatannya, agar mereka selalu melakukan maker di dalamnya, dan tidak akan (terkena) makar tersebut melainkan diri mereka sendiri sedangkan mereka tidak menyadarinya “ (Q.S Al-‘An’am / 6 : 123)
Tabel 1.C
Pola Hubungan/Interaksi Gerakan Dakwa Masa Depan dengan Para penguasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: