:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Archive for the ‘Dakwah’ Category

Tantangan Gerakan Dakwah Masa Depan

       
Secara umum, tantangan Gerakan Dakwah Masa Depan sangat banyak dan kompleks. Paling tidak terdapat enam tantangan besar yang dihadapi Harokah Islamiyah Masa Depan. Keenam tantangan tersebut ialah :
1. Tantangan internal
Tantangan internal Gerakan Dakwah itu terdiri dari :
A. Kejumudan (kebekuan) berfiikir.
Hampir semua Gerakan Dakwah mengalami kejumudan sehingga terhentinya pembaruan kendati sudah melewati perjalanannya berpuluh-puluh tahun. Keberanian dan kemauan melakukan tajdid al-manhaj al-haroki al-fikri (pembaruan konsep pemikiran harokah) dan al-manhaj al-haroki al-‘amali (konsep aktivitas harokah), hampir tidak ada, khususnya terkait dengan masalah-masalah ijtihadiyah para pendirinya sejak puluhan tahun yang lalu. Akibatnya, Gerakan Dakwah tidak bisa menampung al-‘uqul al-kabiroh (pemikiran-pemikiran besar) – meminjam Istilah Dr. Yususf Al-Qardhawi – yang datang dari para aktivisnya sendiri, apalagi dari luar. Tajdid tersebut amat diperlukan agar terjadi proses penyempurnaan dan akselarasi dengan perkembangan dan kebutuhan dakwah masa kini. Tajdid juga berfungsi melurusakn penyimpangan amaliyah maidaniyah, khususnya bila memasuki lapangan politik praktis. Di samping itu, tajdid melahirkan pemikiran-pemikiran, konsep-konsep dan rumusan-rumusan baru yang kontekstual, moderen dan futuristik, namun tetap komitmen dengan asholah (orisinilitas)-nya. Di samping itu, tidak ada keberanian merumuskan dan mendesain ulang format, strategi, perencanaan, program dan target-target Gerakan Dakwah masa kini untuk menjawab berbagai tantangan zaman, sehingga Gerakan Dakwah mampu menjelaskan nilai-nilai Islam dalam bentuk amal, alternatif dan keteladanan. Akhirnya, yang menonjol di lapangan adalah seruan-seruan moral dan penjelasan-penjelasan nilai yang sifatnya baku dan berulang-ulang.
B. Model dan dan gaya kepemimpinan.
Rata-rata dalam parkateknya, model kepemimpinan Gerakan Dakwah adalah model masyayikh (kekiayan tradisionil), kendati dalam konsep dan teorinya meniru gaya kepemimpinan Rasulullah dan para Sahabat. Model kepemimpinan masyayikh tradisionil itu di antara cirinya ialah tidak ada yang berani mengkritik dan memprotes keputusan atau keinginan sang pemimpin, kendati nyata-nyata berlawanan dengan nilai-nilai Islam. Akhirnya, pemimpin diposisikan pada posisi yang berlebihan, dan bahkan kadangkala melebihi Nabi, atau di Indonesia dikenal dengan wali. Kurangnya keberanian dan kemauan membenahi model dan gaya kepemimpinan yang tidak sesuai dengan spirit Islam itu sendiri, seperti model masyayikh tradisonal, secara otomatis membuka peluang bagi para aktivis harokah untuk mengkultuskan pemimpin, jama’ah dan partai mereka. Pada waktu yang sama tidak akan pernah membuka peluang lahirnya kepemimpinan yang lebih baik dan lebih berkualitas dari sebelumnya.
C. Ta’sh-shub jama’i, qiyadi dan Hizbi (Fanatink pada jama’ah. Pemimpin dan partai).
Ta’sh-shub tersebut menjadi ancaman serius bagi Gerakan Dakwah. Sebab, secara syar’i, ta’ash-shub adalah perbuatan jahiliyah yang sangat dibenci. Secara fakta di lapangan, ta’ash-shub pada ketiga hal tersebut juga telah melahirkan persaingan dan perpecahan di kalngan umat, khususnya di kalangan antar aktivis Gerakan Dakwah yang berbeda nama dan payung. Dengan demikian, Gerakan Dakwah akan kehilangan banyak peluang Dakwah dan interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk antar sesama aktivis Gerakan Dakwah yang berbeda nama dan warna. Ini juga merupakan salah satu penyebab yang memperlambat perkembangan dan pertumbuhan Gerakan Dakwah itu sendiri.
D. Keenggenan menjadi al-‘unshur al-jaami’, ( faktor perekat) bagi kalangan Gerakan Dakwah lainnya, juga bagi umat Islam secara luas, dan bahkan ironisnya dalam kalangan jamaah sendiri. Di antara penyebabnya ialah suburnya penyakit ta’ash-shub jama’i, qiyadi dan hizbi (fanatik buta terhadap jama’ah, pemimpin dan partai) serta pemikiran pemikiran masing-masing Gerakan Dakwah, seperti yang disebutkan pada poin 3 di atas. Bahkan terkadang lahir sebuah pendapat dan sikap yang keliru seperti “right or wrong is my jama’ah, may leader and my party”. Ironisnya, dalam lapangan politik praktis seringkali berkoalisi dengan tokoh, atau partai atau kelompok yang nyata-nyata musuh Islam atau paling tidak tidak menyukai tegaknya Islam sebagai the way of life di negeri mereka tinggal.
E. Kelemahan mawarid basyariyyah (sumber daya manusia) dalam berbagai bidang ilmu.
Kelemahan SDM tersebut mengakibatkan terjadinya kelemahan ruhiyah (mental) dan uswah (keteladanan) sebagai syarat mutlak menjadi khoiru ummatin ukhrijat linnas (umat terbaik dan berkualitas tinggi yang tampil di tengah-tengah manusia) dalam mengemban missi khalifatullah yang akan memakmurkan kehidupan umat manusia di atas muka bumi melalui nilai-nilai Islam yang amat adil danmanusiawi.
 

 

2. Tantangan Sesama Gerakan Dakwah.

 

Kalau kita cermati problema dan masalah-masalah yang terjadi sesama Gerakan Dakwah maka kita akan menemukannya sebagai berikut :
 

 

A. Kurangnya kesiapan dan kemauan membangun komunikasi yang baik dan intensif sehingga terjadi proses ta’aruf (perkenalan), kemudian ditersuskan dengan tafahum (saling mengerti) dan kemudian ta’awun (tolong menolong) serta berlanjut dengan takaful (saling menopang) dengan harapan kemuidan bersinerji untuk menuju wihdatul harokah (kesatuan pergerakan).

 

B. Kurangnya kesiapan dan kemauan untuk mehamai dan menerapkan kaedah-kaedah ilmiyah dan amaliyah dalam menyikapi perbedaan baju harokah seperti :
i. Perbedaan dalam masalah furu’ (cabang) dan lapangan ijtihadiyah adalah suatu kenyataan yang sudah terjadi sejak zaman Sahabat dan mustahil dapat dihindarkan dan juga berfungsi sebagai fleksibelitas ajaran Islam dalam rangka kemudahan bagi umat Islam.
ii. Menerapkan prinsip washothiyyah (pertengahan) dan meninggalkan sikap ghuluw (berlebihan) dalam penerapan ajaran Islam.
iii. Tidak bersikap reaktif (menerima atau menolak tanpa dipelajari dengan baik) terhadap masalah-masalah ijtihadiyyah, karena kemungkinan benar dan juga kemungkinan salah.
iv. Tidak mau belajar dari para Sahabat Rasulullah dan ulama-ulama besar Islam sepanjang sejarah dalam memenej ikhtilaf (perbedaan) pendapat di antara mereka.
v. Fokus terhadap masalah-masalah besar yang sedang dihadapi umat Islam dan umat manusia hari ini.
vi. Bekerjasama dalam masalah yang disepakati dan bertoleransi dalam masalah yang belum disepakati.
vii. Yakin bahwa Al-Islam sebagai agama Allah untuk semua manusia tidak mungkin mampu ditegakkan oleh satu kelompok Gerakan Dakwah saja. Bekerjasa sama dalam menjalankan amar ma’ruf dan nahi ‘anilmunkar merupakan suatu kebutuhan lapangan. Sebab itu, bersatu dan bekerjasama dalam menjalankan dan memperjuangkan agama Allah merupakan tuntutan dan kewajiban dari Allah.
C. Kesiapan dan kemauan memahami dan menerapkan kaedah-kaedah ruhiyah (spiritualitas) dalam menghadapi perbedaan baju harokah. Di antaranya :
i. Membebaskan diri dari nafsu dan syahwat ujub (bangga) pada diri, jama’ah, kelompok, partai dan pemimpin.
ii. Membebaskan diri dari fanatisme terhadap jama’ah, partai, kelompok, pemimpin, mazhab, pemikiran dan pendapat para Imam/pemimpin.
iii. Menghindari selalu dalam diri sifat su-uzh-zhon (buruk sangka) terhadap sesama Muslim.
iv. Menghindari pembicaraan mencela, perbuatan dan sikap yang dapat menyakiti perasaan sesama Muslim.
v. Menghindari jidal (debat kusir) dan permusuhan terhadap sesama Muslim.
vi. Belajar berdialog denagn cara yang lebih baik. 
vii. Tanamkan sifat dan sikap kasih sayang dan santun terhadap sesama Muslim.
viii. Selalu mendoakan kamum Muslimin agar mendapat hidayah dan ampunan Allah, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup.


3. Tantangan Para Tokoh Dakwah yang tidak atau belum tergabung dalam harokah.
Sebuah kenyataan dan fenomena menarik bahwa hampir di seluruh Dunia Islam selalu muncul tokoh-tokoh besar dakwah yang dalam menjalankan Dakwah Ilallah mengandalkan kemampuan dan kharismatik pribadi. Pengikut setia (anggota jama’ah) mereka sangat banyak. Pengaruh mereka di lapangan sangat terasa, termasuk dalam perubahan moral masyarakat. Kelebihan yang mereka miliki juga banyak, kendati kelemahan-kelemahannya juga tidak dapat dipungkiri karena disebabkan beramal secara infirodi (single fighter). Mereka harus dilihat sebagai asset umat yang berharga dan harus selalu berupaya menjalin silaturrahmi (komunikasi) yang baik dalam rangka menuju ta’aruf (berkenalan), tafahum (saling mengerti), ta’awun (kerjasama) dan selanjutnya takaful (saling menopang) serta berikutnya menuju tauhidul ummah (penyatuan potensi umat).
Secara umum, tantangan Harokah Islamiyah Masa Depan terhadap para tokoh Dakwah tersebut sama dengan yang dihadapi dengan sesama Gerakan Dakwah. Letak perbedaanya hanya pada struktur formal dan informal. Artinya, para tokoh Dakwah tersebut biasanya tidak memiliki struktur formal dan nizhom asasi (peraturan organisasi) sebagaimana Gerakan Dakwah lainnya. Kalupun ada hanya sebatas hubungan kuat antara seyekh dengan murid. Sikap yang dibangun juga sama dengan yang dibangun terhadap sesam Gerakan Dakwah yang terstruktur. Personal approache (pendekatan pribadi) insyaa Allah akan lebih banyak membantu. 
4. Tantangan kaum muslimin secara umum (‘Ammatul Muslimin).
Tantangan yang keempat ini juga cukup berat. Di mata banyak kaum Muslimin, Gerakan Dakwah terkesan ekslusif dan elitis. Hal tersebt mungkin diseabkan Gerakan Dakwah tidak memiliki kesungguhan atau kurang memiliki keahlian dalam membangun komunikasi yang baik dan efektif dengan masyarakat umum, atau mungkin juga sudah merasa cukup dengan kelompok dan jama’ahnya. Ada kecendrungan dari Gerakan Dakwah bahwa kemesraan ukhuwah (persaudaraan), penghormatan, penghargaan dan pelayanan seakan hanya milik sesama aktivisnya,`lupa bahwa sifat-sifat tersebut harus menjangkau semua kaum Muslimin dan tidak boleh tersekat oleh kotak-kotak kelompok, jama’ah atau partai.
Fenomena ini sangat menarik sehingga ada yang mengomentari seakan-akan Gerakan Dakwah tidak butuh pada masyarakat awam. Anehnya, ketika terbuka peluang PEMILU dan PILKADAl (Plesetan dari PILKADA) misalnya, mereka bekerja keras dan berlombo-lomba dengan berbagai cara membuka akses ke masayarakat umum untuk mendapatkan suara mereka, bahkan tanpa menghiraukan norma-norma Islam yang sudah baku, seperti dengan mengundang artis-artis seronok dalam acara-acara kampanye, saling mengecam dan caci mencaci antara satu partai dengan yang lain.
Lambatnya pertumbuhan dukungan masyarakat umum terhadap Gerakan Dakwah diberbagai penjuru dunia, khususnya di Indonesia, salah satu sebabnya ialah ketidakmampuan menjalin komunikasi yang baik dengan mereka sesuai kebutuhan dan tingkat intelektualitas mereka. Padahal mereka juga memiliki potensi dukungan terhadap Dakwah seperti dukungan mal (harta), ilmu pengetahuan dan sebagainya. Lain halnya dengan tokoh-tokoh Dakwah yang bekerja secara individu, mereka lebih mampu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat Muslim secara luas, terlepas kita setuju atau tidak dengan metode Dakwah yang mereka terapkan. Namun itu adalah sebuah realitas yang harus mendapatkan perhatian.
Masyarakat umum adalah salah satu segmentasi Dakwah yang perlu mendapat perhatian yang serius oleh Gerakan Dakwah Masa Depan. Gerakan Dakwah Masa Depan memliki kewajiban Dakwah terhadap mereka. Kewajiban yang utama ialah membantu mereka dalam memahami ajaran Islam yang bersifat fardhu ‘ain (kewajiban setiap individu Muslim). Kewajiban berikutnya memperlihatkan keteladanan yan baik dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian disusul dengan kewajiban membantu meringankan beban kehidupan duniawi, baik karena tidak punya atau kurang memahami nilai-nilai Islam terkait dengan manajemen (penataan) keluarga, ekonomi, pendidikan anak, seni, budaya dan sebaganya.
Kewajiban-kewajiban tersebut hendaklah dijalankan secara terus menerus tanpa ada target imbalan apapapun dari mereka seperti dukungan suara ketika menghadapi sebuah PEMILU misalnya, ataupun dukungan dalam bentuk mobilisasi infaq dan shodaqoh mereka secara besar-besaran untuk kepentingan sekelompok Gerakan Dakwah semata. Ketika mereka sudah memahami ajaran Islam dan melihat para aktivis Gerakan Dakwah dapat dicontoh dalam kehidupan sehari-hari, amanah dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap problematika social yang sedang merekka hadapi, kemudian mereka mearsakan manfaat keberadaan Gerakan Dakwah di lingkungan mereka, secara otomatis mereka akan mendukungnya dalam berbagai kegiatannya, termasuk juga kegiatan politiknya dengan sebuah keyakinan, kesadaran dan kepercayaan yang kuat. Kenyataannya, seperti yang selalu kita saksikan di lapangan, tidak sedikit masyarakat umum yang bukan hanya tidak mengenal Gerakan Dakwah, kalaupun mengenal dengan presepsi yang keliru.
Kondisi seperti tersebut di atas pada akhirnya akan menjadi tembok dan penghalang bagi kemajuan dan pertumbuhan Gerakan Dakwah itu sendiri. Padahal seharusnya, bisa menjadi pendukung dan pendukung Gerakan Dakwah dalam berbagai pemikiran, program dan aktivitasnya, jiaka Gerakan Dakwah mampu menjalin komunikasi yang baik dan pas dengan mereka.
Kita juga menyadari dan meyakini bahwa nyaris mustahil seratus persen kaum Muslimin akan mendukung Gerakan Dakwah. Namun juga menjadi pertanyaan besar jika Gerakan Dakwah sudah berumur hampir satu ababd , minimal puluhan tahun, namun pendukungnya masih minoritas. (Sebagai perbandingan, lihat Tabel 1. B. Peta Gerakan Dakwah di Indonesia)

Catatan :
1. Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa Gerakan Dakwah di Indonesia mayoritasnya belum memiliki Manhaj yang Syamil.
2. Kendati ada yang sudah memiliki Manhaj yang Syamil, namun implementasinya masih juz-iyyah (parsial)
3. Jika jumlah umat Islam 85 % dari total penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa, maka jumlah Umat Islam adalah sekitar 187 juta jiwa
4. Jika diasumsikan bahwa Umat Islam yang sudah intima’ Jama’i ke dalam berbagai gerakan dakwah dan keagamaan mencapai 100 juta atau sekitar 53,47 % dari total Umat Islam (187 juta), maka terdapat sekitar 46,52 % (87,000,000) orang yang belum tersentuh Gerakan Dakwah.
5. Jika diasumsikan prosentase umat Islam yang dewasa dari jumlah tersebut sekitar 50 %, maka ada sekitar 43,500,000 Muslim potensial yang belum tersentuh Gerakan Dakwah.
5. Tantangan terkait dengan pemerintahan dan penguasa setempat yang sma-sama Mulslim, namun belum meyakini Islam sebagai jawaban berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan negara.
Tantangan yang satu ini merupakan tantangan yang paling serius dan sangat rumit. Sejarah membuktikan, hubungan Gerakan Dakwah di berbagai belahan bumi Islam dengan pemerintahan dan penguasanya yang silih berganti pasaca penjajahan Eropa, penuh dengan percaturan sengit dan bahkan di banyak wilayah Islam seperti Mesir, Suriah, Jordania, Tunisia, Maroko, Al-jazair dan bahkan di Indonesia dapat dikatakan sampai ke tingkat “berdarah-darah”.
Untuk itu, Gerakan Dakwah Masa Depan memerlukan kecerdasan yang labih, kesungguhan yang tidak kenal lelah, ketajaman dan kekuatan pemikiran dan firasat dalam mengevaluasi dan mengoreksi sikap dan peristiwa-pewristiwa yang sudah terjadi serta mempunyai pemahaman yang detil dan akurat tentang kondisi ideologis dan psikologis pemerintahan dan penguasa sekkarang untuk dijadikan landasan berfikir, kebiajakan, bersikap dan berbuat di masa yang akan datang terkait dengan desain baru yang akan dijalankan dalam rangka menghadapi tantangan tersebut. Di samping itu, kemampuan mengasah pemikiran dan insting untuk belajar dari sejarah juga harus ditingkatkan. Orang Mukmin itu cerdas dan tidak boleh tersengat dua kali dalam satu lobang yang sama. Apa yang terjadi bagi Gerakan Dakwah di banyak kawasan negeri Islam, berkali-kali disengat dan jatuh ke dalam lobang yang sama, seakan sudah menjadi langganan priodik.
Dalam dunia bisnis ada sebuah kaedah yang popular yaitu “merubah tantangan menjadi peluang”. Kaedah tersebut bukan hanya rumusan filosofis yang mustahil diterapkan dalam kehidupan. Dalam dunia bisnis kaedah tersebut, khususnya di era hyper competitive (percaturan yang sangat dahsyat) sekarang ini merupakan pegangan dan patokan kesuksesan. Dunia Harokah seharusunya juga mampu menerapkan kaedah tersebut, tentu dengan dhowabith (patokan-patokan) syar’i dan akhlaq mulia. Pertanyannya ialah, mampukan Gerakan Dakwah merubah tantangan yang datang dari pemerintahan dan penguasa negerinya menjadi sebuah peluang? Jawabanya insyaa Allah mampu selama memiliki kekuatan bargaining position, strategi yang kuat, perencanmaan yang matang, dan persyaratan-persyaratan yang dimiliki oleh generasi Gerakan Dakwah Pertama yang dipimpin Rasul saw.

Tantangan Gerakan Dakwah Masa Depan (3)

6. Tantangan yang datang dari gerakan atau pemerintahan non Muslim yang nota bene tidak suka jika Islam dan umat Islam maju dan bersatu menjadikan Islam the way of life bagi kaum Muslimin.
Di masa penjajahan dan imperialis Eropa atas berbagai negeri Islam bahkan beberapa dekade sebelum kejatuhan Khilafah Usmaniyah di Turki, seluruh negara Eropa penjajah, seperti Inggris, Perancis, Italia, Belanda dan Portugis, – para penjajah tersebut – melakukan serangan terhadap Islam dan umat Islam dengan dua cara, yakni al-ghozwu al-‘askari (serangan militer / bersenjata) dan al-ghozwu al-fikri (serangan pemikiran / intelectual invation). Musuh utama mereka ketika itu adalah semua Harokah At-tahrir Al-Islamiyah (Gerakan Perlawan/Kemerdekaan Islam). Namun, keberhasilan umat Islam memerdekakan negeri mereka dari penajahan fisik tidak serta mereka mereka mampu membebasakn diri mereka dari penjajahan dan al-ghozwu al-fikri. Kendati kaum imperialis secara struktural pemerintahan dan militer telah angkat kaki dari negeri Islam sejak puluhan tahun yang lalu, namun pemikiran, budaya, hukum, perundang-undagan, sistem pendidikan dan lain sebagainya masih kokoh tegak berdiri di dalam system pemerintahan Duhnia Islam hari ini, termasuk Indonesia, serta tertanam kuat dalam benak dan pemikiran mayoritas kaum Muslimin di seluruh Dunia Islam hari ini. Serangan pemikran tersebut melahirkan tiga virus yang sangat berbahaya bagi umat Islam. Pertama, sekularisme. Kedua, nasionalisme. Ketiga, demokrasi.
Untuk menjamin kelangsungan jajahanya pasca angkat kaki dari neger-negeri Islam, kaum penjajah Eropa meninggalkan dan mewariskan tiga virus mematikan (sekularisme, nasionalisme dan demokrasi) melalui tiga wadah yang sangat efektif dan strategis. Pertama, tokoh-tokoh sekular yang akan menjadi penguasa dan yang akan punya pengaruh kuat di masyarakat. Kedua, sistem pemerintahan, termasuk sistem pendidikan, hukum dan perundang-undangan. Ketiga, kelompok-kelompok sempalan Islam yang akan mengaburkan dan mengobrak abrik ajaran Islam, bahkan di India termasuk Pakistan, Inggris sengaja melahirkan agama baru yang berkedok Islam, yakni Ahmadiyyah yang dipelopori oleh MirzaGhulam Ahmad yang mengklaim diri sebagai Nabi terakhir. Karena Ahmadiyah sudah dinayatakan terlarang di Pakistan, maka Inggris dengan serta merta memindahkan pusat kegiatannya ke Inggris.
Bersamaan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di seluruh penjuru dunia pasca peristiwa WTC dan Pentagon 11 Nopember 2001 yang lalu, keliahtannya Amerika sebagai komandan uatama anti Islam dan Gerakan Dakwah, menerapkan kembali pola penjajajahan Eropa di era imperialisme. Dua bentuk serangan (al-ghozwu al-fokri dan al-ghozwu al-‘askari), nyata-nayata diterpaknnya. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Amerika menghancurkan pemerintahan Thaliban di Afghanista tidak lama berselang kasus WTC tersebut. Di Irak, sampai hari ini kita masih menyaksikan kejahatan militer Amerika terhadap bangsa Irak Muslim. Di Phlipina Amerika juga terlibat membantu militer pemerintah Manila untuk menumpas umat Islam di Mimndano, selatan Philipina. Di Indonesia, Gerge W. Bush moncoba melobi Megawati Soekarno Putri, ketika menjabat Presiden RI beberapa tahun yang lalu agar menyerahkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ke pemerintahan Amerika Serikat. Dan sebelumnya berbagai rekayasa yang dilancarkan intelijen Amerika seperti kasus Umar Al-Faruq, dan bahkan menurut banyak pengamat intelijen dan militer, bom Bali, J.W. Meriot dan sebagainya besar kemungkinan keterlibatan tangan-tangan intelijen Amerika dalam peristiwa tersebut. Bahkan beberapa waktu yang lalu Amerika dan Ausrtalian selalu menyampaikan issu akan adanya serangan bom, seperti di WTC Mangga Dua, kendati tidak terjadi. Amerika melakukan manuver-manuver intelijens terhadap Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan mendominasi informasi intelijen di negeri ini sehingga dapat mengendalikan orientasi dan kinerja institusi keamanan (kepolisian) dan intileijen nasional (BIN).
Issu terosime yang dilontarkan Amerika tersebut sesunggunhnya adalah sebuah al-ghozwu al-fikri yang sangat berpengaruh terhadap pola fkir dan cara pandang umat Islam terhadap Islam dan Gerakan Dakwah. Dimasukkannya Dr. Hidayat Nur Wahid dan yayasannya Al-haromain oleh Amerika ke dalam daftar terorisme beberapa waktu yang lalu, kendati dibatalkan kembali, dan Amerika sama sekali tidak minta ma’af, dan juga rekayasa kasus Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan lain sebagainya merupakan bukti kongkrit bahwa Amerika telah, sedang dan akan menganggap Gerakan Dakwah sebagi musuh nomor wahid, khususnya setelah kekuatan komunisme Timur ambruk sejak satu decade yang lalu.
Bentuk lain dari al-ghozwu al-fikri yang dilancarkan Amerika ialah dengan memberikan berbagai bentuk dukungan terhadap kelompok-kelompok Islam “nyeleneh” seperti Jaringan Islam Liberal (JIL) – di Indonesia – dan kelompok-kelompok separatis di berbagai wilayah Islam, termasuk di Indonesia, agar umat Islam selalu disibukkan oleh pekerjaan rumah (PR) yang seakan tidak ada kesudahannya.
Sikap anti Islam Barat dan anti Gerakan Dakwah yang menyerukan keharusan kembali kepada ajalaran Islam secara syumul (konperehensif) pasca peristiwa WTC dikomandani oleh Amerika Serikat dan wakil komandan satu adalah Inggris dan wakil komandan dua-nya Australia. Amerika telah berupaya keras melobi pemerintahan Dunia Islam agara masuk dalam jaringannya dalam memerangi Gerakan Dakwah atau apa yang dinamakannya dengan “terorisme”. Berbagai peristiwa yang dituduhkan Amerika terhadap tokoh-tokoh Gerakan Dakwah seperti Ustazd Abu Bakar Ba’asyir dan campur tangannya terhadap proses pembukitian tuduhan tersebut, serta beruoaya keras untuk dihukum di Aerika jelas-jelas cerminan sikap permusuhannya terhadap Gerakan Dakwah.
Gerakan Dakwah Masa Depan khususnya di Indonesia harus waspada dan tidak boleh lalai terhadap ancaman tersebut, kendati Indonesia sekarang sedang dalam era keterbuakaan.Mereka pasti sadar betul bahwa era keterbukaan yan sedang dinikmati umat Islam Indonesia, pasti ibarat pisau bermata dua. Amerika akan mengambil langkah-langkah startegis dan mungkin ofensif untuk mengantisipasi perkembangan Gerakan Dakwah yang sudah terlanjur tumbuh dan berakar di masyarakat. Apalagi di Indonesi, Gerakan Dakwah sudah mulai memasuki dunia politik praktis yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem pemerintahan Indonesia dan politik luar negerinya. Tentu hal tersebut akan dianggap Amerika dan sekutunya sebagai ancaman masa depan yang tidak boleh diapndang remeh, apalagi Indonseia sebuah negeri Muslim kaya akan sumberdaya manusia dan alamnya. Kejahatan Amerika di Afghanista dan di Irak merupakan bukti tidak siapnya Amerika dan sekutunya untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan negeri Islam yang memiliki potensi kemajuan pemikiran keislaman dan persenjataan.
Pekerjaan Rumah (PR) Gerakan Dakwah Masa Depan dalam mengantisipasi ancaman tersebut tidak lain kecuali membangun soliditas organisai, konsolidasi sesama Gerakan Dakwah, dengan tokoh-tokoh Dakwah, membangun jaringan yang luas di masyarakat serta memilki lobi yang kuat di pemerintahan dengan membuktikan bahwa Gerakan Dakwah Masa Depan bukan ancaman bagi pemerintah negara-negara Muslim, melainkan mitra dan partner dalam membangun dan mengangkat dratjat dan martabat bangsa secara keseluruhan. Buktikan di masyarakat dan pemerintahan bahwa para aktivis Gerakan Dakwah Masa Depan adalah relawan-relawan yang tidak kenal pamrih dan menyerah demi untuk mewujudkan kebangkitan, kemajuan dan kemakmuran segenap masyarakat.
Upaya-upaya tersebut bukan berarti dapat memuskan semua kelompok masyarakat. Pasti ada saja kelompok msayarkat atau sebagian penguasa yang tidak mau memahami dan menerima kehadiran para relawan tersebut karena merasa keberadaan mereka terancam yang selama ini penuh dengan kecurangan dan kejahatan. “ Dan demikianlah Kami telah jadikan di setiap negeri itu pembesar-pembesar kejahatannya, agar mereka selalu melakukan maker di dalamnya, dan tidak akan (terkena) makar tersebut melainkan diri mereka sendiri sedangkan mereka tidak menyadarinya “ (Q.S Al-‘An’am / 6 : 123)
Tabel 1.C
Pola Hubungan/Interaksi Gerakan Dakwa Masa Depan dengan Para penguasa

Santri Tidak Pasti NU, Keluar dari NU: Santri yang tidak konsisten

Oleh :Ilzamul Wafik, pernah dimuat di buletin WAZAN April-Mei 2013

Menganut NU sebagai Faham Beragama Islam, seolah merupakan anugerah hidayah dari Alloh SWT yang tak bisa direncanakan. seperti kala manusia baru lahir ke dunia dalam fitrah Islam, maka orangtua merekalah yang dapat menjadikan yahudi, nasrani atau majusi.
Siapa yang menjamin kalau santri pesantren-pesantren Salaf pasti menjadi anggota jam’iyyah NU?. Memang, jika orangtua NU besar kemungkinan sang anak kelak menjadi NU, hanya kecil kemungkinanya menjadi penganut ormas lain. begitu juga jika orangtua penganut Ormas Muhammadiyah-misalnya, kecil kemungkin sang anak menjadi penganut NU.
Sebut saja KH. Mas Mansur, beliau merupakan tokoh-bahkan-pengurus NU di awal berkibar bendera talijagat berbintang sembilan bertuliskan Nahdlotul Oelama, kemudian “boyong” dan menjadi tokoh penting di Muhammadiyah. Serentetan aktivis GP Ansor juga menjadi tokoh Muhammadiyah di banyak wilayah. Konon Prof. DR. M. Din Syamsuddin, MA (Pimpinan Pusat Muhammadiyah-sekarang) juga lahir dan dibesarkan di linkungan keluarga Kyai NU, yang jelas beliau sekolah mulai dari MI-NU, MTS-NU, Kuliah IAIN -terus keluarnegeri.
Melihat kenyataan ini, NU yang merupakan organisasi terbesar dengan jamaah 80 Juta dari penduduk indonesia 300 juta-tidak bisa terus berbangga dengan besarnya jamaah. Hal ini tentu karena masih ada kemungkinan jamaah tersebut berpindah ke ormas lain, meskipun dengan jumlah yang sedikit. Justru dari yang sedikit itulah, lama-kelamaan akan menjadi banyak. Apalagi sangat disayangkan sekali apabila ternyata yang sedikit itu adalah  orang-orang NU yang berkualitas.
Barangkali kita ingat terhadap strategi sebuah lembaga/Ormas jika mau berpedoman pada maqolah sahabat A’li Karromallohu Wajhah “Kebathilan yang terorganisir dapat mengalahkan Kebenaran yang tidak terorganisir”. Jika orang-orang berkualitas dalam NU, Muhammadiyah maupun Ormas Islam yang lain sudah enggan lagi mengurus-indikatornya keluar dari Organisasi Masyarakat, ini artinya Islam di Indonesia sedang dalam kondisi tidak terorganisir.
Perpindahan seseorang dari satu lembaga ke lembaga lain menurut Dr. Nurul Yamin merupakan fenomena yang fantastis dan memang ada dampak-dampak positif bagi lembaga yang menerima kepindahan tersebut terutama tidak susah-susah membina bibit/kaderisasi. Banyak faktor yang mempengaruhi perpindahan, diantaranya ketidak puasan karir terhadap Lembaga/Organisani asal, mendapat tempat baru yang dinilai lebih prospek dan lain sebagainya.
Setelah kita mengetahui bahwa tidak ada jaminan 100% santri berkiprah di NU, maka bagi santri Pesantren Salaf-PP.Assslafiyyah misalnya,  harus berfikir jeli apabila kelak ada goncangan tidak nyaman dan ingin berpindah ke Ormas Lain. Cobalah pertimbangkan matang-matang. Jangan hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri. Fikirkan seandainya jadi berpindah, bagaimana kelanjutan hubungan persaudaraan atau jamaah bimbingan dan yang terpenting keluarga juga tetangga dimana kita tinggal.
Sebenarnya menganut NU atupun ormas lain bukanlah keharusan-jika dilihat dari sisi NU/Ormas sebagai organisasi. Contohnya, Muhammadiyah telah menyadari bahwa Lembaga pendidikan milik Muhhammadiyah sendiri yang jumlahnya sangat banyak, tidak menjamin dan mengharuskan anak didiknya menjadi Muhammadiyah. Namun apabila yang dimaksud NU bukan hanya sekedar Organisani, tetapi NU sebagai manhaj ber-islam(menurut KH. Said Agil Siradj), maka keluar dari Jam’iyyah NU -menurut penulis-menandakan santri tersebut adalah santri yang tidak konsisten dengan kerangka berfikir/sistem memahami(manhaj)Ulama Salaf yang dibangun ketika mengaji di pesantren. Seandainya ada fakta orang-orang NU berpindah ke Organisasi lain, sebaiknya kita tidak berburuk sangka-suuzdon, karena barangkali justru kepindahan tersebut adalah hasil pertimbangan matang yang berpedoman manhaj Ulama Salaf. Tidak sedikit, justru tokoh-tokoh Muhammadiyah yang aslinya NU-lah yang membesarkan dan memajukan Muhammadiyah.
Pertanyaan untuk mengakhiri tulisan ini adalah adakah cerita orang berpindah dari Muhammadiyah ke NU kemudian membesarkannya?seandainya tidak ada, barangkali belum. Terus, apakah kita akan menunggu kepindahan orang lain itu? jangan!, sekali lagi-jangan! seharusnya kitalah yang langsung membesarkan NU sejak sekarang. Bagaimana caranya? dengan ber-organisasi dan menjadi aktivis yang baik. Kalau masih belum bisa cukup menerima tugas sebagai pengurus kamar/Organisasi ditingkat santri, itu akan sangat besar manfaatnya.

Psikologi Dakwah

[dakwah tak hanya dengan berkata yang apabila didasari emosi akan mudah memancing emosi, kalau didasari dengan pikiran akan mudah masuk akal dan apabila didasari hati akan mudah dimengerti ::refdak)

Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Sebagai dai tentu saja kita ingin mencapai kesuksesan dalam mencapai tugas dakwah. Salah satu bentuk keberhasilan dalam dakwah adalah berubahnya sikap kejiwaan seseorang. Dari tidak cinta Islam menjadi cinta, dari tidak mau beramal saleh menjadi giat melakukannya, dari cinta kemaksiatan menjadi benci dan tertanam dalam jiwanya rasa senang terhadap kebenaran ajaran Islam, begitulah seterusnya.
Karena dakwha bermaksud mengubah sikap kejiwaan seorang madú (objek dakwah), maka pengetahuan tentang psikologi dakwah menjadi sesuatu yang sangat penting. Dengan pengetahuan tentang psikologi dakwah ini, diharapkan kita dapat melaksanakan tugas dakwah dengan pendekatan kejiwaan. Rasul Saw. Dalam dakwahnya memang sangat memperhatikan tingkat kesiapan jiwa orang yang didakwahinya dalam menerima pesan-pesan dakwah.

Pengertian
Secara harfiah, psikologi artinya ‘ilmu jiwa’ berasal dari kata yunani psyce ‘jiwa’ dan logos ‘ilmu’. Akan tetapi yang dimaksud bukanlah ilmu tentang jiwa. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai gambaran dari keadaan jiwanya. Adapun dakwah merupakan usaha mengajak manusia agar beriman kepada Allah Swt dan tunduk kepada-Nya dalam kehidupan di dunia ini, dimanapun ia berada dan bagaimana pun situasi serta kondisinya.
Dengan demikian, psikologi dakwah adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang merupakan gambaran dari kejiwaannya guna diarahkan kepada iman takwa kepada Allah Swt. Bila disederhanakan bisa juga dengan pengertian, dakwah dengan pendekatan kejiwaan.

SIKAP MENTAL DAI
Di atas sudah disebutkan bahwa dakwah merupakan usaha mengubah sikap kejiwaan seseorang dari tidak islami kepada sikap yang islami. Untuk itu, orang yang berdakwah harus memiliki sikap mental yang baik dan ini harus bertul-betul terealisasi dalam kehidupannya sehari-hari. Sikap mental ini antara lain sebagai berikut:
(1) Memiliki kecintaan kepada ajaran Islam, sehingga dalam kapasitasnya sebagai dai, seorang telah merealisasikan pesan-pesan dakwahnya dalam kehidupan nyata. Bila tidak, terdapat hambatan psikologis untuk diterimanya pesan-pesan dakwah oleh madú, bahkan bisa mengakibatkan hilangnya kewibawaan sebagai dai dan di hadapan Allah Swt, ia mendapatkan kemurkaan-Nya. Allah Swt berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (As-Shaff:2)
(2) Lemah lembut kepada madú-nya agar mereka senang dan mau menerima pesan-pesan dakwah serta mengikuti jalannya. Bila bersikap sebaliknya, yakni bengis dan kasar, kemungkinan besar yang terjadi adalah dai dijauhi madú nya. Ini pula yang dicontohkan oleh Rasul Saw dalam berbagai peristiwa, sehingga mereka yang semula memusuhi berubah menjadi pendukung-pendukung yang setia.
(3) Bersikap sabar dan optimis dalam dakwah
(4) Menggunakan cara yang baik dan benar dalam berdakwah, sehingga secara psikologis dakwah akan mendapat simpati mereka yang semula tidak suka dan tidak ada alasan untuk menuduh para dai dengan tuduhan yang tidak benar.

DAKWAH PSIKOLOGIS
Dakwah psikologis atau dakwah yang dilakukan dengan pendekatan jiwa memang sangat penting, turunnya ayat Al Quran secara bertahap merupakan suatu bukti bahwa pendekatan kejiwaan merupakan sesuatu yang tidak boleh diabaikan, begitu pula dengan berbagai peristiwa dakwah yang dialami oleh Rasul Saw. Mislanya dalam turunnya ayat dilarangnya minum khamar, Allah membuat tiga tahapan:
– peringatan tentang mudharat-nya (Qs. 2: 219)
– pelarangan sholat dalam keadaan mabuk (4:43)
– perintah menjauhi khamar (5:90)

Contoh dalam Dakwah Nabi
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan dakwah, ada beberapa contoh dari Rasul Saw yang menggunakan pendekatan kejiwaan, antara lain sebagai berikut:
1. Menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang mudah dipahami dan dihayati di dalam jiwa
Misalnya : ketika seorang yang suka berzina sementara ia punya istri dan menyatakan masuk Islam, tetapi tetap ingin berzina, maka Rasulullah hanya menyuruh orang tersebut bersikap jujur.
2. Bersikap lentur selama tidak menurunkan martabat kebenaran. Seperti yang dilakukan Musa dan Harun dengan tetap menghormati Firáun sebagai ayah yang mengangkat Musa a.s
3. Tidak menghina sesembahan selain Allah yang dilakukan orang-orang yang didakwahi. Hal ini hanya akan menyebabkan orang tersinggung perasaannya meskipun ia tahu yang dilakukannya adalah salah. (QS. 6:108)
4. Mempertimbangkan kapasitas penerima dakwah, sesuai dengan diturunkannya Al Quran secara bertahap. (Qs. 13:106)
5. Menggunakan bahawa kaum yang didakwahi, sehingga pesan-pesan dakwah lebih mudah dan lebih cepat diterima. (Qs. 14:4)
6. Berbicara sesuai dengan tingkat berfikir orang yang didakwahi. Berbicara kepada anak-anak tentu berbeda dengan bicara kepada dewasa. Begitu juga dengan berbicara kepada remaja tentu berbeda dengan kepada anak kecil.
7. Berbicara dengan ungkapan-ungkapan yang padat makna, sebab berbicara yang bertele-tele tidak hanya menjenuhkan pemikiran, tetapi juga menyebabkan orang tidak simpati dan menimbulkan kelelahan jiwa.
8. Guna menyentuh hati dan perasaan orang yang didakwahi, Rasul menyampaikan pesan dakwah dengan emosi dan semangat yang tinggi sesuai dengan tema pembicaraannya.
9. Menyampaikan pesan dengan menyentuh langsung perasaan orang yang didakwahi.

Maraji’: Bekal Menjadi Khatib dan Mubaligh, Drs. H. Ahmad Yani, 2005

Tg. Balai Karimun, Rajab 1427 H
Abu Fadhil Abdurrahman

Muludan Mlangi: Kojan dan Berjanjen

Pagi setelah subuh aku menyusuri mlangi tepatnya ke pundung, masjid awwab. ada dua orang jamaah yang masih berbincang. akupun turut larut dan asik mendengar secercah kisah agenda mauludan dari dulu sampai sekarang. ini adalah bagian penelitian karya ilmiahku.’ilmotz
mas nurul turut menulis: Muludan, Sebuah kata yang berasal dari kata Mulud, yaitu nama sebuah bulan dari 12 bulan yang ada pada hitungan kalender jawa tapi juga berasal dari bahasa Arab yang berarti kelahiran. Ada juga yang menamai bulan ini dengan bulan Sapar, Saphar, dan Robiul Awal….tapi itu semua tetep mengerucut dalam sebuah moment yang sangat indah….yaitu Bulan dimana Nabi Agung Muhammad SAW dilahirkan…
Dalam tradisi Islam sendiri hari kelahiran NAbi Muhammad menjadi moment yang sangat penting, Islam selalu merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad tentu sesuai dengan adat masing-masing dan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah yang berlaku.agar kita tidak keluar dari jalur yang sudah di tentukan…….
Di Yogyakarta bulan Mulud menjadi bulan yang sangat ramai, karena bulan tersebut menjadi tanda dimulainya sekatenan, atau pasar malem yang diadakan di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. Sekatenan berlangsung selama kurang lebih satu bulan, berbagai arena atau wahana permainan disediakan disana (tapi tetep mbayar lah…ora gratis) dari mulai Stream, Sangkar Burung, Sundul Puyuh, Tong Setan, Istana Hantu, dan yang paling di gandrungi anak-anak kecil adalah Arena Sirkus Lumba-Lumba(Saiki regane tiket Rp.35.000.-) yang berisi aneka tingkah polah hewan-hewan yang telah dilatih untuk tampil di arena sirkus.
Puncak dari acara tersebut tentunya adalah hari Grebeg. Keraton biasanya akan mengeluarkan seluruh bala tentaranya beserta pusaka-pusaka yang ada untuk di kirab, setelah itu prosesi Gunungan…nah disinilah hiruk pikuk mulai terjadi,,,karena memang dari seluruh prosesi acara muludan yang ada diKeraton Yogyakarta, prosesi Gunungan adalah prosesi yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga Yogyakarta. Gunungan adalah berupa Nasi Tumpeng super besar yang dilengkapi dengan segala macem makanan jadi satu, Gunungan itu sendiri dibawa dengan menggunakan tandu, dan memang Gunungan itu sendiri dibagi-bagikan untuk masyarakat yang ahadir di situ. Begitu Gunungan dibawa keluar masyarakat langsung menyerbu untuk memporak porandakan Gunungan tersebut, mereka akan mengambil apa yang bisa mereka ambil dari bagian-bagian yang ada diGunungan itu sendiri, ada yangdapat Apem,,,,ada yang dapat Telur…kacang panjang…seikat padi,,,kupat…dan lain-lain……(wuhhh Pokoke Udah Campur bawur kabeh…..)
Tidak beda dengan Keraton Yogyakarta, Desa Mlangi juga mempunyai agenda acara Muludan yang diselenggarakan untuk memeriahkan bulan Mulud bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masjid Mlangi merupakan salah satu Masjid yang dijadikan Masjid Pathok Negoro oleh Keraton Yogyakarta.
Agenda acara muludan di desa Mlangi dibagi menjadi dua Event. Event yang pertama adalah Sholawatan Ngelik. dan event yang kedua adalah Kojan dan Berjanjen.
Acara Sholawatan Ngelik ini diadakan pas atau bebarengan dengan acara Gunungan/Grebegan yang ada di Keraton. Acara ini diikuti oleh seluruh warga desa Mlangi mulai dari anak-anak, bapak-bapak, Para Pemuda, tapi yang jelas harus laki-laki….karena perempuan tidak di libatkan dalam acara di masjid ini. Acara Sholawatan Ngelik ini sendiri dimulai pada pagi hari sekitar pukul 06.30 wib-14.00 wib. Sholawatan itu berupa pujian-pujian untuk Nabi Muhammad SAW yang diberi irama dan dilantunkan oleh sejumlah laki-laki yang sudah dewasa dan memang bisa melantunkan sholawat itu sendiri. Karena sholawat ini dilantunkan dengan nada yang cukup tinggi dan dengan tempo yang cukup dinamis,mulai dari tempo pelan sampai tempo yang cepat..jadi tidak semua orang bisa melantukan sholawat ini, dan ada anggapan yang bilang bahwa orang yang bisa sholawatan ini sifatnya genetis, jadi yang bapaknya bisa sholawatan ngelik ini anaknya besar kemungkinan bisa ngelik, tapi kalo bapaknya tidak bisa sholawatan ngelik anaknya sedikit kemungkinan bisa sholawatan ngelik….pokoknya nadanya kayak orang teriak-teriak gitu deh……
Sembari sang ayah pada sholawatn di masjid, para ibu-ibu di rumah tidak mau ketinggalan dalam memeriahkan acara muludan ini, mereka masak masakan istimewa yang akan dibawa di masjid dan untuk dibagi-bagikan ke seluruh laki-laki yang berkunjung di masjid Mlangi. Makanan tersebut berisi nasi dan segala macam lauk pauk, mulai dari ayam, daging sapi, Ikan, Daging Kambing, dan semua dimasak serba enak dan istimewa, dan di masukkan dalam wadah yang sesuai dengan ukuran masing2, ada yang pakai besek (wadah anyaman dari bambu), Kardus, Baskom kecil, baskom besar, panci, dan ada juga yang dibentuk parcel. Dalam bungkusan tersebut sering ditambah dengan hadiah-hadiah dari pribadi pembuatnya ada yang diberi uang 50ribuan, Sarung, Baju Muslim, Sarung BHS, Magic Jar, Jam Dinding, Termos Air panas, dll…..pokoknya semua saling berlomba-lomba dalam menunjukkan kecintaan mereka terhadap Nabi Agung Muhammad SAW….(Saluuuuuutttt)…..
Adapun yang menerima bungksan2 tersebut juga tidak boleh sembarangan, kelas pertama atau bungkusan yang dinilai paling bagus biasanya diberikan untuk para kyai2 yang hadir di acara tersebut, kemudian yang kedua di berikan kepada yang bisa Sholawatan ngelik…dan yang seterusnya tergantung nasib anda masing2….karena setelah itu bungkusan akan dibagikan secara acak….acara ini biasanya dihadiri oleh ribuan orang, mulai dari warga Mlangi sendiri sampai warga sekitar kampung Mlangi.(Yang penting Laki-laki) karena kalo yang hadir perempuan tidak akan kebagian jatah bungkusan tersbut.
Acara atau Event yang kedua adalah Kojan dan Berjanjen. Acara ini diadakan pas malam harinya. acara ini diikuti oleh seluruh pemuda Warga Desa Mlangi. Sebenarnya acara ini juga berupa pujian-pujian untuk Nabi Muhammad, lafal yang diucapkan juga banyak yang sama dengan sholawatan ngelik. tapi sholawatan ini biasa dilakukan oleh anak muda dengan tempo yang sedang-cepat, dan jenis iringan gamelannya yang berbeda. kalau Sholawat ngelik menggunakan Gamelan berupa rebana yang besar2 dan bunyi yang dikeluarkan mirip gamelan keraton, tapi kalau sholawat kojan gamelannya berupa rebana ukuran sedang dan hanya 4 buah tanpa Gong. Adapun Kojan itu sendiri berupa gerakan-gerakan khusus yang dilakukan sambil bersholawat, mirip dengan gerakan tari Saman dari Aceh.
Acara sholawat Kojan dimulai dari jam 20.00-jam22.00.lebih singkat daripada sholawat ngelik.
Kedua tradisi tersebut merupakan tradisi yang turun-temurun dari para pendahulu desa Mlangi dalam memeriahkan dan menyambut hari lahir Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya keberagaman tradisi tersebut Desa Mlangi dijadikan salah satu daerah wisata oleh pemerintah setempat……..mari kita lestarikan kebudayaan daerah kita…karena negara yang maju adalah negara yang berbudaya………….http://nurulmasyriq.blogspot.com/2010/02/muludan.html

Muhammadiyah Dan NU

Muhammadiyah
Muhammadiyah merupakan salah satu orgnisasi Islam pembaharu di Indonesia. Gerakan Muhammadiyah yang dibangun oleh K.H. Ahmad Dahlan sesungguhnya merupakan salah satu mata rantai yang panjang dari gerakan pembaharuan Islam yang dimulai sejak tokoh pertamanya, yaitu Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Sayyid Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan sebagainya. Pengaruh gerakan pembaharuan tersebut terutama berasal dari Muhammad Abduh melalui tafsirnya, al-Manar, suntingan dari Rasyid Ridha serta majalah al-Urwatul Wustqa.

Tokoh Pendirinya

Pendiri Muhammadiyah adalah K.H. Ahmad Dahlan. Ia lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta, tahun 1868 M dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya adalah K.H. Abubakar, seorang Khotib masjid Besar Kesultanan Yogyakarta, yang apabila dilacak silsilahnya sampai kepada Maulana Malik Ibrahim. Ibunya bernama Siti Aminah, putri K.H. Ibrahim, Penghulu kesultanan Yogyakarta. Jadi, kedua orang tua K.H. Ahmad Dahlan juga merupakan keturunan ulama.

Meskipun Muhammad Darwis berasal dari kalangan keluarga yang cukup terkemuka, tetapi ia tidak sekolah di Gubernemen (waktu itu), melainkan diasuh dan dididik mengaji Alquran dan dasar-dasar ilmu agama Islam oleh ayahnya sendiri di rumah. Hal itu karena pada waktu itu ada suatu pendapat umum bahwa barangsiapa memasuki sekolah Gubernemen, maka dianggap kafir atau Kristen.

Pada usia delapan tahun ia telah lancar membaca Alquran hingga khatam. Kemudian ia belajar fikih kepada K.H. Muhammad Shaleh, dan nahwu kepada K.H. Muhsin. Keduanya adalah kakak ipar Muhammad Darwis sendiri. Ia juga berguru kepada K.H. Muhammad Nur dan K.H. Abdul Hamid dalam berbagai ilmu.

Pada tahun 1889 M ia dinikahkan dengan saudara sepupunya, Siti Walidah, putri K.H. Muhammad Fadil, Kepala Penghulu Kesultanan Yogyakarta. Beberapa bulan setelah pernikahannya, atas anjuran ayah bundanya, Muhammad Darwis menunaikan ibadah haji. Ia tiba di Mekah pada bulan Rajab 1308 H (1890 M). Setelah menunaikan umrah, Ia bersilaturahmi dengan para ulama, baik dari Indonesia maupun Arab. Di antaranya, ia mendatangi ulama mazhab Syafi’i Bakri Syata’ dan mendapat ijazah nama Haji Ahmad Dahlan. Ia telah berganti nama, dan juga bertamabah ilmunya. Sepulang dari ibadahnya itu, ia membantu ayahnya mengajar santri-santri remaja. Sehingga, ia mendapat sebutan K.H. Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1896 M ia diangkat menjadi khotib di masjid Besar oleh kesultanan Yogyakarta dengan gelar “khotib amin”. Ia juga berdagang batik ke kota-kota di Jawa. Ia pernah diberi modal oleh orang tuanya sebanyak F. 500,- pada tahun 1892, tetapi sebagian besar digunakan untuk membeli kitab-kitab Islam. Dalam perjalanan dagang itu, ia selalu bersilaturahmi kepada para ulama setempat dan membicarakan perihal agama Islam dan masyarakatnya. Perjalanan demikian bertujuan untuk mempelajari sebab-sebab kemunduran kaum muslimin dan mencari jalan keluar untuk mengatasinya.

Tahun 1909 K.H. Ahmad Dahlan bertemu dengan Dr. Wahidin Sudirohusodo di Ketandan, Yogyakarta. Ia menanyakan berbagai hal tentang perkumpulan Budi Utomo dan tujuannya. Setelah mendengarkan penjelasan darinya, ia ingin bergabung dengan organisasi tersebut. Ia mulai belajar berorganisasi. Pada tahun 1910, ia pun menjadi anggota ke-770 perkumpulan Jami’at Khair Jakarta. Ia tertarik kepada organisasi ini karena organisasi ini telah lebih awal membangun sekolah-sekolah agama dan bahasa Arab, disamping bergerak dalam bidang sosial dan giat membina hubungan dengan pemimpin-pemimpin di negara-negara Islam yang telah maju. Dari pengalamannnya yang ia dapatkan, ia menyadari bahwa usaha perbaikan masyarakat itu tidak mudah jika dilaksanakan sendirian, melainkan dengan berorganisasi bekerja sama dengan banyak orang.

Berdirinya Muhammadiyah

Suatu ketia Ia menyampaikan usaha pendidikan setalah selesai menyampaikan santapan rohani pada rapat pengurus Budi Utomo cabang Yogyakarta. Ia menyampaikan keinginan mengajarkan agama Islam kepada para siswa Kweekschool Gubernamen Jetis yang dikepalai oleh R. Boedihardjo, yang juga pengurus Budi Utomo. Usul itu disetujui, dengan syarat di luar pelajaran resmi. Lama-lama peminatnya banyak, hingga kemudian mendirikan sekolah sendiri. Di antara para siswa Kweekschool Jetis ada yang memperhatikan susunan bangku, meja, dan papan tulis. Lalu, mereka menanyakan untuk apa, dijawab untuk sekolah anak-anak Kauman dengan pelajaran agama Islam dan pengetahuan sekolah biasa. Mereka tertarik sekali, dan akhirnya menyarankan agar penyelelenggaraan ditangani oleh suatu organisasi agar berkelanjutan sepeninggal K.H. Ahmad Dahlan kelak.

Sebenarnya, mengenai pendirian sekolah itu telah dibicarakan dan dibantu oleh pengurus Budi Utomo. Setelah pelaksanaan penyelenggaraan sekolah itu sudah mulai teratur, kemudian dipikirkan tentang organisasi pendukung terselenggaranya kegiatan sekolah itu. Dipilihlah nama “Muhammadiyah” sebagai nama organisasi itu dengan harapan agar para anggotanya dapat hidup beragama dan bermasyarakat sesuai dengan pribadi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penyusunan anggaran dasar Muhamadiyah banyak mendapat bantuan dari R. Sosrosugondo, guru bahasa Melayu Kweekschool Jetis. Rumusannya dibuat dalam bahasa melayu dan Belanda. Kesepakatan bulat pendirian Muhamadiyah terjadi pada tanggal 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H. Tgl 20 Desember 1912 diajukanlah surat permohonan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, agar perserikatan ini diberi izin resmi dan diakui sebagai suatu badan hukum. Setelah memakan waktu sekitar 20 bulan, akhirnya pemerintah Hindia Belanda mengakui Muhammadiyah sebagai badan hukum, tertung dalam Gouvernement Besluit tanggal 22 Agustus 1914, No. 81, beserta alamporan statuennya.

Arti Muhammadiyah

1. Arti Bahasa (Etimologis)
Muhamadiyah berasal dari kata bahasa Arab “Muhamadiyah”, yaitu nama nabi dan rasul Allah yang terkhir. Kemudian mendapatkan “ya” nisbiyah, yang artinya menjeniskan. Jadi, Muhamadiyah berarti “umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam” atau “pengikut Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam”, yaitu semua orang Islam yang mengakui dan meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan pesuruh Allah yang terakhir.

2. Arti Istilah (Terminologi)
Secara istilah, Muhamadiyah merupakan gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar, berakidah Islam dan bersumber pada Alquran dan as-Sunnah, didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H, bertepatan 18 November 1912 Miladiyah di kota Yogyakarta.

Gerakan ini diberi nama Muhammadiyah oleh pendirinya dengan maksud untuk berpengharapan baik, dapat mencontoh dan meneladani jejak perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, semata-mata demi terwujudnya ‘Izzul Islam wal Muslimin, kejayaan Islam sebagai realita dan kemuliaan hidup umat Islam sebagai realita.

Maksud dan Tujuan Muhammadiyah

Rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah sejak berdiri hingga sekarang ini telah mengalami beberapa kali perubahan redaksional, perubahan susunan bahasa dan istilah. Tetapi, dari segi isi, maksud dan tujuan Muhammadiyah tidak berubah dari semula.

Pada waktu pertama berdirinya Muhamadiyah memiliki maksud dan tujuan sebagi berikut:

1. Menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk bumi-putra, di dalam residensi Yogyakarta.
2. Memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya.

Hingga tahun 2000, terjadi tujuh kali perubahan redaksional maksud dan tujuan Muhamadiyah. Dalam muktamarnya yang ke-44 yang diselenggarakan di Jakarta bulan Juli 2000 telah ditetapkan maksud dan tujuan Muhamadiyah, yaitu Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Amal Usaha Muhammadiyah

Usaha yang pertama melalui pendidikan, yaitu dengan mendirikan sekolah Muhammadiyah. Selain itu juga menekankan pentingnya pemurnian tauhid dan ibadah, seperti:

1. Meniadakan kebiasaan menujuhbulani (Jawa: tingkeban), yaitu selamatan bagi orang yang hamil pertama kali memasuki bulan ke tujuh. Kebiasaan ini merupakan peninggalan dari adat-istiadat Jawa kuno, biasanya diadakan dengan membuat rujak dari kelapa muda yang belum berdaging yang dikenal dengan nama cengkir dicampur dengan berbagai bahan lain, seperti buah delima, buah jeruk, dan lain-lain. Masing-masing daerah berbeda-beda cara dan macam upacara tujuh bulanan ini, tetapi pada dasarnya berjiwa sama, yaitu dengan maksud mendoakan bagi keselamatan calon bayi yang masih berada dalam kandungan itu.

2. Menghilangkan tradisi keagamaan yang tumbuh dari kepercayaan Islam sendiri, seperti selamatan untuk menghormati Syekh Abdul Qadir Jaelani, Syekh Saman, dll yang dikenal dengan manakiban. Selain itu, terdapat pula kebiasaan membaca barzanji, yaitu suatu karya puisi serta syair-syair yang mengandung banyak pujaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disalahartikan. Dalam acara-acara semacam ini, Muhammadiyah menilai, ada kecenderungan yang kuat untuk mengultusindividukan seornag wali atau nabi, sehingga hal itu dikhawatirkan dapat merusak kemurnian tauhid. Selain itu, ada juga acara yang disebut “khaul”, atau yang lebih populer disebut khal, yaitu memperingati hari dan tanggal kematian seseorang setiap tahun sekali, dengan melakukan ziarah dan penghormatan secara besar-besaran terhadap arwah orang-orang alim dengan upacara yang berlebih-lebihan. Acara seperti ini oleh Muhammadiyah juga dipandang dapat mengeruhkan tauhid.

3. Bacaan surat Yasin dan bermacam-macam zikir yang hanya khusus dibaca pada malam Jumat dan hari-hari tertentu adalah suatu bid’ah. Begia ziarah hanya pada waktu-waktu tertentu dan pada kuburan tertentu, ibadah yang tidak ada dasarnya dalam agama, juga harus ditinggalkan. Yang boleh adalah ziarah kubur dengan tujuan untuk mengingat adanya kematian pada setiap makhluk Allah.

Mendoakan kepada orang yang masih hidup atau yang sudah mati dalam Islam sangat dianjurkan. demikian juga berzikir dan membaca Alquran juga sangat dianjurkan dalam Islam. Akan tetapi, jika di dalam berzikir dan membaca Alquran itu diniatkan untuk mengirim pahala kepada orang yang sudah mati, hal itu tidak berdasa pada ajaran agama, oleh karena itu harus ditinggalkan. Demikian juga tahlilan dan selawatan pada hari kematian ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000 hari, hal itu merupakan bid’ah yang mesti ditinggalkan dari perbuatan Islam. Selain itu, masih banyak lagi hal-hal yang ingin diusahakan oleh Muhammadiyah dalam memurnikan tauhid.

Perkembangan Muhammadiyah

1. Perkembanngan secara Vertikal
Dari segi perkembangan secara vertikal, Muhammadiyah telah berkembang ke seluruh penjuru tanah air. Akan tetapi, dibandingkan dengan perkembangan organisasi NU, Muhammadiyah sedikit ketinggalan. Hal ini terlihat bahwa jamaah NU lebih banyak dengan jamaah Muhammadiyah. Faktor utama dapat dilihat dari segi usaha Muhammadiyah dalam mengikis adat-istiadat yang mendarah daging di kalangan masyarakat, sehingga banyak menemui tantangan dari masyarakat.

2. Perkembangan secara Horizontal
Dari segi perkembangan secara Horizontal, amal usaha Muhamadiyah telah banyak berkembang, yang meliputi berbagai bidang kehidupan.

Perkembangan Muhamadiyah dalam bidang keagamaan terlihat dalam upaya-upayanya, seperti terbentukanya Majlis Tarjih (1927), yaitu lembaga yang menghimpun ulama-ulama dalam Muhammadiyah yang secara tetap mengadakan permusyawaratan dan memberi fatwa-fatwa dalam bidang keagamaan, serta memberi tuntunan mengenai hukum. Majlis ini banyak telah bayak memberi manfaat bagi jamaah dengan usaha-usahanya yang telah dilakukan:

* Memberi tuntunan dan pedoman dalam bidang ubudiyah sesuai dengan contoh yang telah diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
* Memberi pedoman dalam penentuan ibadah puasa dan hari raya dengan jalan perhitungan “hisab” atau “astronomi” sesuai dengan jalan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
* Mendirikan mushalla khusus wanita, dan juga meluruskan arah kiblat yang ada pada amasjid-masjid dan mushalla-mushalla sesuai dengan arah yang benar menurut perhitungan garis lintang.
* Melaksanakan dan menyeponsori pengeluaran zakat pertanian, perikanan, peternakan, dan hasil perkebunan, serta amengatur pengumpulan dan pembagian zakat fitrah.
* Memberi fatwa dan tuntunan dalam bidang keluarga sejahtera dan keluarga berencana.
* Terbentuknya Departemen Agama Republik Indonesia juga termasuk peran dari kepeloporan pemimpin Muhammadiyah.
* Tersusunnya rumusan “Matan Keyakinan dan Cita-Cita hidup Muhammadiyah”, yaitu suatu rumusan pokok-pokok agama Islam secara sederhana, tetapi menyeluruh.

Dalam bidang pendidikan, usaha yang ditempuh Muhammadiyah meliputi:

* mendirikan sekolah-sekolah umum dengan memasukkan ke dalamnya ilmu-ilmu keagamaan, dan
* mendirikan madrasah-madrasah yang juga diberi pendidikan pengajaran ilmu-ilmu pengetahuan umum.

Dengan usaha perpaduan tersebut, tidak ada lagi pembedaan mana ilmu agama dan ilmu umum. Semuanya adalah perintah dan dalam naungan agama.

Dalam bidang kemasyarakatan, usaha-usaha yang telah dilakukan Muhammadiyah meliputi:

* Mendirikan rumah-rumah sakit modern, lengkap dengan segala peralatan, membangun balai-balai pengobatan, rumah bersalin, apotek, dan sebagainya.
* Mendirikan panti-panti asuhan anak yatim, baik putra maupun putri untuk menyantuni mereka.
* Mendirikan perusahaan percetakan, penerbitan, dan toko buku yang banyak memublikasikan majalah-majalah, brosur dan buku-buku yang sangat membantu penyebarluasan paham-paham keagamaan, ilmu, dan kebudayaan Islam.
* Pengusahaan dana bantuan hari tua, yaitu dana yang diberikan pada saat seseorang tidak lagi bisa abekerja karena usia telah tua atau cacat jasmani.
* Memberikan bimbingan dan penyuluhan keluarga mengenai hidup sepanjang tuntunan Ilahi.

Dalam bidang politik, usaha-usaha Muhammadiyah meliputi:

* Menentang pemerintah Hindia Belanda yang mewajibkan pajak atas ibadah kurban. Hal ini berhasil dibebaskan.
* Pengadilan agama di zaman kolonial berada dalam kekuasaan penjajah yang tentu saja beragama Kristen. Agar urusan agama di Indonesia, yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, juga dipegang oleh orang Islam, Muhammadiyah berjuang ke arah cita-cita itu.
* Ikut memelopori berdirinya Partai Islam Indonesia. Pada tahun 1945 termasuk menjadi pendukung utama berdirinya partai Islam Masyumi dengan gedung Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta sebagai tempat kelahirannya.
* Ikut menanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia di kalangan umat Islam Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam tabligh-tablighnya, dalam khotbah ataupun tulisan-tulisannya.
* Pada waktu Jepang berkuasa di Indonesia, pernah seluruh bangsa Indonesia diperintahkan untuk menyembah dewa matahari, tuhan bangsa Jepang. Muhammadiyah pun diperintah untuk melakukan Sei-kerei, membungkuk sebagai tanda hormat kepada Tenno Heika, tiap-tiap pagi sesaat matahari sedang terbit. Muhammadiyah menolak perintah itu.
* Ikut aktif dalam keanggotaan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan menyokong sepenuhnya tuntutan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) agar Indonesia mempunyai parlemen di zaman penjajahan. Begitu juga pada kegiatan-kegiatan Islam Internasional, seperti Konferensi Islam Asia Afrika, Muktamar Masjid se-Dunia, dan sebagainya, Muhammadiyah ikut aktif di dalamnya.
* Pada saat partai politik yang bisa amenyalurkan cita-cita perjuangan Muhammadiyah tidak ada, Muhammadiyah tampil sebagai gerakan dakwah Islam yang sekaligus mempunyai fungsi politik riil. Pada saat itu, tahun 1966/1967, Muhammadiyah dikenal sebagai ormaspol, yaitu organisasi kemasyarakatan yang juga berfungsi sebagai partai politik.

Dengan semakin luasnya usaha-usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah, dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang berkedudukan sebagai badan pembantu pemimpin persyarikatan. Kesatuan-kesatuan kerja tersebut berupa majelis-majelis dan badan-badan. Selain majelis dan lembaga, terdapat organisasi otonom, yaitu organisasi yang bernaung di bawah organisasi induk, dengan amasih tetap memiliki kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Dalam persyarikatan Muhammadiyah, organisasi otonom (Ortom) ini ada beberapa buah, yaitu:

* ‘Aisyiyah
* Nasyiatul ‘Aisyiyah
* Pemuda Muhammadiyah
* Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)
* Ikatan Mahasiswa Muhamadiyyah (IMM)
* Tapak Suci Putra Muhamadiyah
* Gerakan Kepanduan Hizbul-Wathan

Organisasi-organisasi otonom tersebut termasuk kelompok Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Keenam organisasi otonom ini berkewajiban mengemban fungsi sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah.

Periode Kepemimpinan Muhammadiyah

* K.H. Ahmad Dahlan (1912 — 1923)
* K.H. Ibrahim (1923 — 1932)
* K.H. Hisyam (1932 — 1936)
* K.H. Mas Mansur (1936 — 1942)
* Ki Bagus Hadikusumo (1942 — 1953)
* A.R. Sutan Mansyur (1952 — 1959)
* H.M. Yunus Anis (1959 — 1968)
* K.H. Ahmad Badawi (1962 — 1968)
* K.H. Fakih Usman/H.A.R. Fakhrudin (1968 — 1971)
* K.H. Abdur Razak Fakhruddin (1971 — 1990)
* K.H. A. Azhar Basyir, M.A. (1990 — 1995)
* Prof. Dr. H.M. Amien Rais/Prof. Dr. H.A. Syafi’i Maarif (1995 — 2000)
* Prof. Dr. H.A. Syafi’i Maarif (2000 — 2005)

Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah
(Keputusan Tanwir tahun 1969 di Ponorogo)

1. Muhammadiyah adalah gerakan berasas Islam, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, untuk melaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
2. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spirituil, duniawi dan ukhrawi.
3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan:
1. Alquran: kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Sunnah Rasul: penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran Alquran yang diberikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.
4. Muhammadiyah bekerja untuk teraksananya ajaran-ajaran Islam yang meliuti bidang-bidang:
1. Akidah
2. Akhlak
3. Ibadah
4. Muamalah Duniawiyah

1. Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya akidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah, dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.
2. Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Alquran dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia.
3. Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.
4. Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya muamalat duniawiyat (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran agama serta menjadikan semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.
5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia yang berfilsafat Pancasila, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil, makmur dan diridhai Allah SWT.
Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

(Catatan: Rumusan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah tersebut telah mendapat perubahan dan perbaikan oleh PP Muhammadiyah atas kuasa Tanwir tahun 1970 di Yogyakarta).

Sumber: Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dalam Perspektif Historis dan Idiologis, Drs. H. Musthafa Kamal Pasha, B.Ed dan Drs. H. Ahmad Adaby Darban, S.U.

Nu
Sejarah
Masjid Jombang, tempat kelahiran organisasi Nahdlatul Ulama

Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan “Kebangkitan Nasional”. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana – setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.

Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan “Nahdlatul Fikri” (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Suatu waktu Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab Wahabi di Mekkah, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermazhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut. Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta pada tahun 1925. Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah dan sesepuh NU lainnya melakukan walk out.

Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermazhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah.
K.H. Hasyim Asy’arie, Rais Akbar (ketua) pertama NU.

Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya, hingga saat ini di Mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermazhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah dan peradaban yang sangat berharga.

Berangkan komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.

Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy’ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
[sunting] Paham keagamaan

NU menganut paham Ahlussunah waljama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur’an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: imam Syafi’i dan mengakui tiga madzhab yang lain: imam Hanafi, imam Maliki,dan imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskankembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.
[sunting] Daftar pimpinan

Berikut ini adalah daftar Ketua Rais Aam (pimpinan tertinggi) Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama:
No Nama Awal Jabatan Akhir Jabatan
1 KH Mohammad Hasyim Asy’arie 1926 1947
2 KH Abdul Wahab Chasbullah 1947 1971
3 KH Bisri Syansuri 1972 1980
4 KH Muhammad Ali Maksum 1980 1984
5 KH Achmad Muhammad Hasan Siddiq 1984 1991
KH Ali Yafie (pjs) 1991 1992
6 KH Mohammad Ilyas Ruhiat 1992 1999
7 KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz 1999 sekarang
[sunting] Basis pendukung

Dalam menentukan basis pendukung atau warga NU ada beberapa istilah yang perlu diperjelas, yaitu: anggota, pendukung atau simpatisan, serta Muslim tradisionalis yang sepaham dengan NU. Jika istilah warga disamakan dengan istilah anggota, maka sampai hari ini tidak ada satu dokumen resmipun yang bisa dirujuk untuk itu. Hal ini karena sampai saat ini tidak ada upaya serius di tubuh NU di tingkat apapun untuk mengelola keanggotaannya.

Apabila dilihat dari segi pendukung atau simpatisan, ada dua cara melihatnya. Dari segi politik, bisa dilihat dari jumlah perolehan suara partai-partai yang berbasis atau diasosiasikan dengan NU, seperti PKBU, PNU, PKU, Partai SUNI, dan sebagian dari PPP. Sedangkan dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang mendukung dan mengikuti paham kegamaan NU. Maka dalam hal ini bisa dirujuk hasil penelitian Saiful Mujani (2002) yaitu berkisar 48% dari Muslim santri Indonesia. Suaidi Asyari[1] memperkirakan ada sekitar 51 juta dari Muslim santri Indonesia dapat dikatakan pendukung atau pengikut paham keagamaan NU. Jumlah keseluruhan Muslim santri yang disebut sampai 80 juta atau lebih, merupakan mereka yang sama paham keagamaannya dengan paham kegamaan NU. Namun belum tentu mereka ini semuanya warga atau mau disebut berafiliasi dengan NU.

Berdasarkan lokasi dan karakteristiknya, mayoritas pengikut NU terdapat di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra. Pada perkembangan terakhir terlihat bahwa pengikut NU mempunyai profesi beragam, meskipun sebagian besar di antara mereka adalah rakyat jelata baik di perkotaan maupun di pedesaan. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi, karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, serta selain itu juga sama-sama sangat menjiwai ajaran ahlus sunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.

Basis pendukung NU ini cenderung mengalami pergeseran. Sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi, maka penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini. Belakangan ini NU sudah memiliki sejumlah doktor atau magister dalam berbagai bidang ilmu selain dari ilmu ke-Islam-an baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk negara-negara Barat. Namun para doktor dan magister ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengurus NU hampir di setiap lapisan kepengurusan NU.
[sunting] Organisasi
[sunting] Tujuan

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
[sunting] Usaha

1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.
3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.
5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.

[sunting] Struktur

1. Pengurus Besar (tingkat Pusat)
2. Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi)
3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri
4. Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan)
5. Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan)

Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:

1. Mustayar (Penasihat)
2. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian)

Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:

1. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
2. Tanfidziyah (Pelaksana harian)

[sunting] Jaringan

Hingga akhir tahun 2000, jaringan organisasi NU meliputi:

* 33 Wilayah
* 439 Cabang
* 15 Cabang Istimewa yang berada di luar negeri
* 5.450 Majelis Wakil Cabang / MWC
* 47.125 Ranting

[sunting] NU dan politik

Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan merahil 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Sukarno. Setelah PKI memberontak, NU tampil sebagai salah satu golongan yang aktif menekan PKI, terutama lewat sayap pemudanya GP Ansor.

NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk ‘Kembali ke Khittah 1926’ yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi.

Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR.
[sunting] Lihat pula

waktu untuk berdakwah

MANAJEMEN WAKTU DALAM ISLAM

  Dalam ajaran Islam, disampaikan bahwa ciri-ciri seorang Muslim yang
diharapkan adalah pribadi yang menghargai waktu. Seorang Muslim tidak patut
menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya, sebab sudah
merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Ajaran Islam menganggap pemahaman
terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan
bukti ketaqwaan, sebagaimana tersirat dalam surah Al-Furqan/25 ayat 62 yang
berbunyi “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi
orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”

  Syiar Islam menempatkan ibadah ritual pada bagian-bagian waktu dalam sehari
dari siang hingga malam dan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Sholat
lima waktu diwajibkan dari memulai hingga mengakhiri aktivitas dalam sehari,
dan waktu-waktunya selaras dengan perjalanan hari. Dalam syariat Islam
dinyatakan, bahwa malaikat Jibril diutus oleh Allah untuk menetapkan
waktu-waktu awal dan akhir pelaksanaan sholat lima waktu, agar menjadi panduan
dan sistem yang baku dan cermat dalam menata kehidupan islami. Di samping itu,
juga berfungsi untuk mengukur detik-detik sejak terbitnya fajar hingga
terbenamnya matahari.

  Menurut Yusuf Qardhawi, mengapa begitu pentingnya umat Islam mempelajari
manajemen waktu, adalah karena hal-hal sebagai berikut::

   Ajaran Islam begitu besar perhatiannya terhadap waktu, baik yang diamanatkan
dalam Al Qur’an maupun As Sunnah;
   Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka
sangat memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka
mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang
mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi;
   Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan
generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-buang waktu,
sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam menyejahterakan dunia
sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana
harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan
akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.

  Jika kita sadar bahwa pentingya manajemen waktu, maka tentu kita akan berbuat
untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk akhirat
seolah-olah akan mati esok hari, dan tentunya doa ini akan menjadi semboyan
dalam hidup kita:
  “… Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
perliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah/2:201) 

  Di samping itu perlu kita sadari, bahwa Allah SWT telah bersumpah dengan
menggunakan waktu untuk menegaskan pentingnya waktu dan keagungan nilainya,
seperti yang tersurat dan tersirat dalam Al Qur’an Surah Al-Lail/92:1-2,
Al-Fajr/89:1-2, Adh-Dhuha/93:1-2, dan Al-‘Ashr/103:1-2.

  Oleh karena itu, harus kita sadari betapa pentingnya mempelajari manajemen
waktu bagi seorang Muslim. Namun sebelum kita mempelajari manajemen waktu, maka
perlu kita sadari terlebih dahulu beberapa tabiat waktu agar kita benar-benar
dapat memahami esensi dari waktu tersebut, yakni: Cepat berlalu; Tidak Mungkin
kembali; Harta termahal. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa waktu adalah
modal yang paling unik yang tidak mungkin dapat diganti dan tidak mungkin dapat
disimpan tanpa digunakan, serta tidak mungkin mendapatkan waktu yang dibutuhkan
meskipun dengan mengeluarkan biaya.

  Mengelola waktu berarti menata diri dan merupakan salah satu tanda keunggulan
dan kesuksesan. Oleh karena itu, bimbingan untuk mendalami masalah ini adalah
hal yang sangat penting dalam kehidupan kita semua, apapun jabatan dan profesi
kita serta tidak memandang tinggi rendahnya kedudukan seseorang.

  Dengan demikian, marilah kita mulai mempelajari manajemen waktu, karena
memang ajaran Islam menghendaki demikian, sehingga dengan mempunyai bekal
pengetahuan tentang waktu, kita dapat terampil mengelolanya. Dengan keinginan
yang kuat, maka kita akan dapat menjadikan sebuah kebiasaan dalam pemanfaatan
waktu. Namun, sebelum kita mempelajari manajemen waktu lebih lanjut, maka kita
harus menyadari urgensi dan nilai waktu dengan tulus. Apabila tanpa mengakui
secara tulus kebutuhan untuk mengorganisir dan mengelola waktu, maka sama saja
dengan menyia-nyiakan waktu. Sebab, apalah manfaat rambu-rambu jalan bagi orang
yang tidak memiliki keinginan untuk melintasi jalan tersebut.

  Perlu kita fahami bahwa, apabila seorang Muslim mampu mengelola waktu dengan
baik, maka akan memperoleh optimalisasi dalam kehidupannya. Namun, apabila
tidak mampu, maka seseorang tidak akan mampu mengelola sesuatu apapun karena
waktu merupakan modal dasar bagi kehidupan seorang Muslim yang bertaqwa,
sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu
dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Yunus: 6)

  Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)