:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Archive for the ‘Sosial Research’ Category

TEKNIK ANALISIS KUALITATIF ANALISIS DATA KUALITATIF

Pengenalan Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif adalah aktivitas intensive yang memerlukan pengertian yang mendalam, kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, dan pekerjaan berat. Analisa kualitatif tidak berproses dalam suatu pertunjukan linier dan lebih sulit dan kompleks dibanding analisis kuantitatif sebab tidak diformulasi dan distandardisasi.
Analisis Kualitatif: Pertimbangan-pertimbangan Umum
Tujuan dari analisis data, dengan mengabaikan jenis data yang dimiliki dan mengabaikan tradisi yang sudah dipakai pada koleksinya, apakah untuk menentukan

beberapa pesanan dalam jumlah besar informasi sehingga data dapat disintesis, ditafsirkan, dan dikomunikasikan. Walaupun tujuan utama dari kedua data kualitatif dan kuantitatif adalah untuk mengorganisir, menyediakan struktur, dan memperoleh arti dari data riset. Satu perbedaan penting adalah, di dalam studi-studi kualitatif, pengumpulan data dan analisis data pada umumnya terjadi secara serempak, pencarian konsep-konsep dan tema-tema penting mulai dari pengumpulan data dimulai.
Tugas analisis data adalah selalu hebat, tetapi itu yang terutama sekali menantang untuk peneliti kualitatif, tiga pertimbangan utama, yaitu:
1. Tidak ada aturan-aturan sistematis untuk meneliti dan penyajian data kualitatif. Ketiadaan prosedur analitik sistematis, menjadi sulit bagi peneliti untuk menyajikan kesimpulan.
2. Aspek analisis kualitatif yang kedua yang menantang adalah jumlah besar pekerjaan. Analis kualitatif harus mengorganisir dan bisa dipertimbangkan dari halaman dan bahan-bahan naratif. Halaman itu harus dibaca ulang dan kemudian diorganisir, mengintegrasikan, dan menafsirkan.
3. Tantangan akhir adalah pengurangan data untuk tujuan-tujuan pelaporan. Hasil-hasil utama dari riset kuantitatif dapat diringkas. Jika satu data kualitatif dikompres terlalu banyak, inti dari integritas bahan-bahan naratif sepanjang tahap analisa menjadi hilang. Sebagai konsekuensi, adalah kadang sukar untuk melakukan satu presentasi hasil riset kualitatif dalam suatu format yang kompatibel dengan pembatasan ruang dalam jurnal professional.
Model-Model Analisa
Crabtree dan Miller (1992) mengamati ada banyak strategi analisis kualitatif. Mereka sudah mengenal empat pola analisa utama yang lebih tepat sasaran, sistematis, dan distandardisasi, dan pada ekstremum lain adalah satu model yang lebih yang intuitif, hubungan, dan interpretive. empat prototypical model-model yang mereka uraikan adalah sebagai berikut:
“Model Quasi-statistical”. Peneliti menggunakan statistik secara khas mulai dengan pertimbangan analisa, dan menggunakan ide-ide untuk memilih jenis data. Pendekatan ini adalah kadang dikenal sebagai analysis peneliti meninjau ulang isi dari data naratif, mencari-cari tema atau kata tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu codebook. Hasil pencarian adalah informasi yang dapat digerakkan secara statistik dan disebut Quasi statistik. Sebagai contoh, analis dapat menghitung frekwensi kejadian dari tema-tema spesifik. Model ini adalah serupa dengan pendekatan kwantitatif tradisional sampai melakukan analisa isi.
“Model Analisa Template”. Di model ini, peneliti mengkembangkan analisa cetakan untuk data naratif yang digunakan. Unit-unit template adalah secara khas perilaku-perilaku, kejadian, dan ungkapan ilmu bahasa. Template lebih mengalir dan dapat menyesuaikan diri dibanding suatu codebook di dalam model Quasi statistik. Peneliti dapat mulai dengan template bersifat elementer sebelum mengumpulkan data, template mengalami revisi tetap sebanyak data dikumpulkan. Analisa menghasilkan data. Model jenis ini adalah bisa dipastikan diadopsi oleh peneliti yang biasa meneliti etnografi, etologi, analisa ceramah, dan ethnoscience.
“Model Analisa Editing” . Peneliti menggunakan model editing bertindak sebagai interpreter yang membaca sampai habis data mencari segmen-segmen penuh arti dan unit-unit. Suatu ketika segmen ini dikenali dan ditinjau, interpreter dikembangkan satu rencana pengelompokan dan kode-kode sesuai yang dapat digunakan untuk memilih jenis dan mengorganisir data. Peneliti kemudian mencari-cari struktur dan pola-pola yang menghubungkan kategori-kategori pokok. Pendekatan teori yang khas menyertakan model ini. Peneliti-peneliti yang biasa meneliti fenomenologi, hermeneutics, dan ethnomethodology menggunakan prosedur pola analisa editing.
“Model Immersion/crystallisasi”. Model ini melibatkan pembaptisan total analis di dalam dan cerminan bahan-bahan teks, menghasilkan satu kristalisasi data yang intuitif. Terjemahan yang interpretive dan subjektif dicontohkan dalam laporan kasus pribadi dari semi anekdot dan jumlah sedikit ditemui di dalam literatur riset dibanding tiga model yang lain.

Proses Analisa
Analisa dari data kualitatif secara khas adalah satu proses yang interaktip dan aktif. Peneliti-peneliti kualitatif sering membaca data naratif mereka berulang-ulang dalam mencari arti dan pemahaman-pemahaman lebih dalam. Morse dan Field (1995) mencatat bahwa analisis kualitatif adalah proses tentang pencocokan data bersama-sama, bagaimana membuat yang samar menjadi nyata, menghubungkan akibat dengan sebab. Yang merupakan suatu proses verifikasi dan dugaan, koreksi dan modifikasi, usul dan pertahanan.
Beberapa kaum intelektual memainkan peran dalam analisis kualitatif. Morse dan Field (1995) mengenali empat proses-proses:

1. Memahami
Awal proses analitik, peneliti-peneliti kualitatif berusaha untuk bisa mempertimbangkan data dan belajar mencari ” apa yang terjadi.” Bila pemahaman dicapai, peneliti bisa menyiapkan cara deskripsi peristiwa, dan data baru tidak ditambahkan dalam uraian. Dengan kata lain, pemahaman diselesaikan bila kejenuhan telah dicapai.

2. Sintesis
Sintesis meliputi penyaringan data dan menyatukannya. `Pada langkah ini, peneliti mendapatkan pengertian dari apa yang “khas” mengenai suatu peristiwa dan apa variasi dan cakupannya. Pada akhir proses sintesis, peneliti dapat mulai membuat pernyataan umum tentang peristiwa mengenai peserta studi.

3. Teoritis
Meliputi sistem pemilihan data. Selama proses teori, peneliti mengembangkan penjelasan alternatif dari peristiwa dan kemudian menjaga penjelasan ini sampai menentukan apakah “cocok” dengan data. Proses teoritis dilanjutkan untuk dikembangkan sampai yang terbaik dan penjelasan paling hemat diperoleh.

4. Recontextualisasi
Proses dari recontextualisasi meliputi pengembangan teori lebih lanjut dan aplikabilitas untuk kelompok lain yang diselidiki. Di dalam pemeriksaan terakhir pengembangan teori, adalah teori harus generalisasi dan sesuai konteks.
Manajemen Dan Organisasi Data Kualitatif

Pengembangan skema pengelompokan
Langkah awal analisa data kualitatif penelitian adalah untuk mengorganisir, tanpa beberapa sistem dari organisasi, ada hanya kekacauan. Tugas utama di dalam mengorganisir data kualitatif mengembangkan metoda untuk menggolongkan dan memberi index. Yaitu, peneliti harus mendisain mekanisme untuk memperoleh akses sampai bagian-bagian data, tanpa harus berulang-kali membaca himpunan data keseluruhannya. Tahap ini sangat utama, suatu data harus dikonversi menjadi lebih kecil, lebih dapat dikendalikan, dan lebih banyak manipulatable unit-unit yang dapat dengan mudah didapat kembali dan review. Prosedur secara luas yang digunakan adalah mengembangkan skema pengelompokan dan kemudian mengkode data menurut kategori.

Kode topik digunakan di dalam penelitian Gagliardi’s ( I991) studi pengalaman keluarga tentang penyesuaian diri seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot. Ini adalah suatu contoh dari sistem pengelompokan konkrit dan deskriptif. Sebagai contoh, itu mengijinkan coders untuk mengkode hubungan-hubungan spesifik antar anggota-anggota keluarga, dan kejadian yang terjadi di dalam lokasi spesifik.
Dalam mengembangkan satu rencana kategori, konsep-konsep yang terkait sering dikelompokkan bersama-sama untuk memudahkan proses koding.. Sebagai contoh, semua kutipan yang menggambarkan bagaimana keluarga merasakan tentang menyesuaikan diri seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot dikelompokan sebagai “Kode perasaan.”

Studi-studi yang dirancang untuk mengembangkan teori lebih mungkin untuk pengembangan abstrak dan kategori konseptual. Dalam merancang kategori konseptual, peneliti harus merinci data ke dalam segmen-segmen, menguji dan membandingkan dengan segmen-segmen lain untuk perbedaan dan persamaan. Untuk menentukan apa tipe fenomena yang dicerminkan dan apa arti dari fenomena tersebut. Peneliti menanyakan pertanyaan tentang kejadian berbeda, peristiwa-peristiwa, atau pemikiran yang ditandai pernyataan, seperti berikut:
“Apakah ini?
“Apa yang terjadi?
“Untuk apa ini?
Diposkan oleh ARIEF. B (EBD.S.Comp)
=============

ANALISIS KUALITATIF DALAM PENELITIAN SOSIAL

ANALISIS KUALITATIF DALAM PENELITIAN SOSIAL
Penulis: S. Eko Putro Widoyoko, Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo

A. Pendahuluan
Berdasarkan aspek filosofi yang mendasarinya penelitian secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua dua macam, yaitu penelitian yang berlandaskan pada aliran atau paradigma filsafat positivisme dan aliran filsafat postpositivisme. Apabila penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan akhir menemukan kebenaran, maka ukuran maupun sifat kebenaran antara kedua paradigma filsafat tersebut berbeda satu dengan yang lain. Pada aliran atau paradigma positivisme ukuran kebenarannya adalah frekwensi tinggi atau sebagian besar dan bersifat probalistik. Kalau dalam sampel benar maka kebenaran tersebut mempunyai peluang berlaku juga untuk populasi yang lebih besar. Pada filsafat postpositivisme kebenaran didasarkan pada esensi (sesuai dengan hakekat obyek) dan kebenarannya bersifat holistik. Pengertian fakta maupun data dalam filsafat positivisme dan postpossitivisme juga memiliki cakupan yang berbeda. Dalam postivisme fakta dan data terbatas pada sesuatu yang empiri sensual (teramati secara indrawi), sedangkan dalam postpositivisme selain yang empiri sensual juga mencakup apa yang ada di balik yang empiri sensual (fenomena dan nomena). Menurut istilah Noeng Muhadjir (2000: 23) positivisme menganalisis berdasar data empirik sensual, postpositivisme mencari makna di balik yang empiri sensual.
Kedua aliran filsafat tersebut mendasari bentuk penelitian yang berbeda satu dengan yang lain. Aliran positivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kuantitatif. Sedangkan postpositivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kualitatif. Karakteristik utama penelitian kualitatif dalam paradigma postpositivisme adalah pencarian makna di balik data (Noeng Muhadjir. 2000: 79). Penelitian kualitatif dalam aliran postpositivisme dibedakan menjadi dua yaitu penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa. Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi bertujuan mencari esensi makna di balik fenomena, sedangkan dalam paradigma bahasa bertujuan mencari makna kata maupun makna kalimat serta makna tertentu yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
B. Konsep dan Ragam Penelitian Kualitatif
Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miler (1986: 9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya. Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas.
Di pihak lain kualitas menunjuk pada segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pemahaman yang demikian tidak selamanya benar, karena dalam perkembangannya ada juga penelitian kualitatif yang memerlukan bantuan angka-angka seperti untuk mendeskripsikan suatu fenomena maupun gejala yang diteliti.
Dalam perkembangan lebih lanjut ada sejumlah nama yang digunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif (Noeng Muhadjir. 2000: 17) seperti : interpretif grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik, yang kesemuanya itu tercakup dalam klasifikasi metodologi penelitian postpositivisme phenomenologik interpretif.
Berdasarkan beragam istilah maupun makna kualitatif, dalam dunia penelitian istilah penelitian kualitatif setidak-tidaknya memiliki dua makna, yakni makna dari aspek filosofi penelitian dan makna dari aspek desain penelitian.

1. Filosofi Penelitian
Dari aspek filosofi, penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Penelitian kualitatif dalam paradigma kuantitatif (positivisme)
Penelitian kualitatif jenis pertama ini menggunakan paradigma positivisme. Kriteria kebenaran menggunakan ukuran frekwensi tinggi. Data yang terkumpul bersifat kuantitatif kemudian dibuat kategorisasi baik dalam bentuk tabel, diagram maupun grafik. Hasil kategorisasi tersebut kemudian dideskripsikan, ditafsirkan dari berbagai aspek, baik dari segi latar belakang, karakteristik dan sebagainya. Dengan kata lain data yang bersifat kuantitatif ditafsirkan dan dimaknai lebih lanjut secara kualitatif. Penelitian di jenjang pendidikan strata satu (S1) istilah penelitian kualitatif lebih banyak menunjuk pada pengertian jenis pertama ini. Beberapa peneliti menyebut dengan istilah penelitian deskriptif kualitatif.
b. Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa
Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa (dan sastra) menggunakan paradigma post positisme. Penelitian kualitatif jenis kedua ini berusaha mencari makna, baik makna di balik kata, kalimat maupun karya sastra. Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa ini masih dapat dibendakan menjadi :
1) Sosiolinguistik yang berupaya mempelajari teori linguistik atau studi kebahasaan atau studi perkembangan bahasa.
2) Strukturalisme Linguistik yang berupaya mempelajari struktur dari suatu karya sasta. Pada awalnya strukturalisme linguist disebut struturalisme otonom atau struturalisme obyektif karena menganalisis karya sastra hanya dari struktur karya sastra itu sendiri, tidak dikaitkan dengan sesuatu di luar karya sastra. Strukturalisme linguist berkembang lebih lanjut menjadi strukturalisme genetik, strukturalisme dinamik dan strukturalisme semiotik.
3) Strukturalisme Genetik. Analisis karya sastra (dan bahasa) dalam strukturalisme genetik lebih menekankan makna sinkronik dari pada makna lain, seperti makna ikonik, simbolik, ataupun indeksikal. Oleh karena itu menurut Prof. Noeng Muhadjir (2000: 304) analis struturalisme genetik perlu mencakup tiga unsur kajian, yaitu: a) intrinsik karya sastra itu sendiri, b) latar belakang pengarangnya, dan c) latar belakang sosial serta latar belakang sejarah masyarakatnya.
4) Strukturalisme Dinamik. Strukturalisme dinamik mengakui kesadaran subyektif dari pengarang, mengakui peran sejarah serta lingkungan sosialnya, meski titik berat analisis harus tetap pada karya sastra itu sendiri. Analisis karya sastra menurut struturalisme dinamik mencakup dua hal, yaitu: a) karya sastra itu sendiri yang merupakan tampilan pikiran, pandangan dan konsep dunia dari pengarang itu sendiri dengan menggunakan bahasa sebagai tanda-tanda ikonik, simbolik, dan indeksikal dari beragam makna, dan b) analisis keterkaitan pengarang dengan realitas lingkungannya.
5) Strukturalisme Semiotik. Strukturalisme semiotik adalah struturalisme yang dalam membuat analisis pemaknaan suatu karya sastra mengacu pada semiologi. Semiologi atau semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda dalam bahasa dan karya sastra. Strukturalisme semiotik mengenal dua cara pembacaan, yaitu heuristik dan hermeneutik. Pembacaan heuristik mencoba menelaah mencari makna dari kata-kata, dari bagian- bagian, seperti Said Mahmud (Noeng Muhadjir. 2001: 101) mencari amal shaleh menurut Al-Qur’an dengan cara mencari kata-kata kunci dalam Al-Qur’an, dan dia menemukan 13 kata kunci. Berdasarkan 13 kata kunci tersebut dia mendeskripsikan karakteristik amal shaleh menurut Al-Qur’an. Pembacaan hermeneutik mencoba menelaah makna dengan melihat keseluruhan karya sastra. M. Radhi Al-Hafid (Noeng Muhadjir. 2001: 101) mencoba mengklasterkan kisah edukatif dalam Al- Qur’an, secara hermeneutik, dan menemukan tiga klaster, yaitu kisah sejumlah Nabi, kisah para kaum dan kisah sketsa kehidupan.

c. Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi
Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi berusaha memahami arti (mencari makna) dari peristiwa dan kaitan-kaitannya dengan orang-orang biasa dalam situasi tertentu (Moleong. 2001: 9). Dengan kata lain penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi adalah penelitian yang berusaha mengungkap makna terhadap fenomena perilaku kehidupan manusia, baik manusia dalam kapasitas sebagai individu, kelompok maupun masyarakat luas.
Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi telah mengalami perkembangan mulai dari model Interpretif Geertz, model grounded research, model Ethnographik, model paradigma naturalistik dari Guba dan model interaksi simbolik. Model paradigma naturalistik (the naturalistic method of inquiry, menurut istilah Guba) menurut Noeng Muhadjir (2000: 147) disebut sebagai model yang telah menemukan karakteristik kualitatif yang sempurna, artinya bahwa kerangka pemikiran, filsafat yang melandasinya, ataupun operasionalisasi metodologinya bukan reaktif atau sekedar merespons dan bukan sekedar menggunggat yang kuantitatif, melainkan membangun sendiri kerangka pemikirannya, filsafatnya dan operasionalisasi metodologinya. Para ahli metodologi penelitian kualitatif pada umumnya mengikuti konsep model naturalistik yang dikemukan oleh Guba. Begitu juga uraian lebih lanjut dalam tulisan ini pengertian penelitian kualitatif menunjuk pada makna kualitatif naturalistik. Moleong menggunakan istilah paradigma alamiah untuk menunjuk pada paradigma kualitatif naturalistik sebagai kebalikan dari paradigma ilmiah untuk menunjuk pada paradigma kuantitatif (Moleong. 2001: 15).
Guba (1985: 39 – 44) mengetengahkan empat belas karakteristik penelitian naturalistik, yaitu :
a. Konteks natural (alami), yaitu suatu konteks keutuhan (entity) yang tak akan dipahami dengan membuat isolasi atau eliminasi sehingga terlepas dari konteksnya.
b. Manusia sebagai instrumen. Hal ini dilakukan karena hanya manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai ragam realitas dan menangkap makna, sedangkan instrumen lain seperti tes dan angket tidak akan mampu melakukannya.
c. Pemanfaatan pengetahuan tak terkatakan. Sifat naturalistik memungkinkan mengungkap hal-hal yang tak terkatakan yang dapat memperkaya hal-hal yang diekspresikan oleh responden.
d. Metoda kualitatif. Sifat naturalistik lebih memilih metode kualitatif dari pada kuantitatif karena lebih mampu mengungkap realistas ganda, lebih sensitif dan adaptif terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
e. Pengambilan sample secara purposive.
f. Analisis data secara induktif, karena dengan cara tersebut konteksnya akan lebih mudah dideskripsikan. Yang dimaksud dengan analisis data induktif menurut paradigma kualitatif adalah analisis data spesifik dari lapangan menjadi unit-unit dan dilanjutkan dengan kategorisasi.
g. Grounded theory. Sifat naturalistik lebih mengarahkan penyusunan teori diangkat dari empiri, bukan dibangun secara apriori. Generalisasi apriorik nampak bagus sebagai ilmu nomothetik, tetapi lemah untuk dapat sesuai dengan konteks idiographik.
h. Desain bersifat sementara. Penelitian kualitatif naturalistik menyusun desain secara terus menerus disesuaikan dengan realita di lapangan tidak menggunakan desain yang telah disusun secara ketat. Hal ini terjadi karena realita di lapangan tidak dapat diramalkan sepenuhnya.
i. Hasil dirundingkan dan disepakati bersama antara peneliti dengan responden. Hal ini dilakukan untuk menghindari salah tafsir atas data yang diperoleh karena responden lebih memahami konteksnya daripada peneliti.
j. Lebih menyukai modus laporan studi kasus, karena dengan demikian deskripsi realitas ganda yang tampil dari interaksi peneliti dengan responden dapat terhindar dari bias. Laporan semacam itu dapat menjadi landasan transferabilitas pada kasus lain.
k. Penafsiran bersifat idiographik (dalam arti keberlakuan khusus), bukan ke nomothetik (dalam arti mencari hukum keberlakuan umum), karena penafsiran yang berbeda nampaknya lebih memberi makna untuk realitas yang berbeda konteksnya.
l. Aplikasi tentatif, karena realitas itu ganda dan berbeda.
m. Ikatan konteks terfokus. Dengan pengambilan fokus, ikatan keseluruhan tidak dihilangkan, tetap terjaga keberadaannya dalam konteks, tidak dilepaskan dari nilai lokalnya.
n. Kriteria keterpercayaan. Dalam penelitian kuantitatif keterpercayaan ditandai dengan adanya validitas dan reliabilitas, sedangkan dalam kualitatif naturalistik oleh Guba diganti dengan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas.

2. Desain Penelitian
Berdasarkan desain penelitian yang disusun, penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a. Desain penelitian kualitatif non standar
Desain penelitian dalam paradigma positivistik kuantitatif bersifat terstandar, artinya ada aturan yang sama yang harus dipenuhi oleh peneliti untuk mengadakan penelitian dalam bidang apapun juga. Pelaksanaan penelitian dimulai dari adanya masalah, membatasi obyek penelitian, mencari teori dan hasil penelitian yang relevan, mendesain metode penelitian, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, ada yang menambah dengan implikasi, saran dan atau rekomendasi. Sebelum data diolah, perlu diuji terlebih dulu validitas dan reliabilitasnya, baik dari segi konstrak teori, isi maupun empiriknya. Sistematika penulisan sudah terstandar, yaitu: Bab I. Pendahuluan (latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan/batasan masalah, dst.). Bab II. Kajian teori atau kajian pustaka (kajian teori yang sesuai dengan masalah yang diteliti, hasil penelitian yang relevan, kerangka pikir, hipotesis/pertanyaan penelitian). Bab III. Metode penelitian (Desain, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, variabel penelitian, instrumen dan teknik analisis data). Bab IV. Hasil penelitian. Bab V. Kesimpulan (ada yang menambah, implikasi, keterbatasan penelitian dan saran).
Desain penelitian kualitatif non standar sebetulnya menggunakan standar seperti kuantitatif tetapi bersifat flesibel (tidak kaku). Dengan kata lain model ini merupakan modifikasi dari model penelitian paradigma positivistik kuantitatif dengan menyederhanakan sistematika ataupun menyatukan bebarapa bagian dalam bab yang sama, misalnya memasukkan metode penelitian dalam bab I . Desain penelitian kualitatif non standar ini digunakan untuk penelitian kualitatif dalam paradigma positivistik dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa.
b. Desain penelitian kualitatif tentatif
Model ini sama sekali berbeda dari model-model di atas. Desain penelitian terstandar dan non standar disusun sebelum peneliti terjun ke lapangan dan dijadikan sebagai acuan dalam mengadakan penelitian, sedangkan desain penelitian tentatif disusun sebelum ke lapangan juga tetapi setelah peneliti memasuki lapangan penelitian, desain penelitian dapat berubah-ubah untuk menyesuaikan dengan kondisi realitas lapangan yang dihadapi. Acuan pelaksanaan penelitian tidak sepenuhnya tergantung pada desain yang telah disusun sebelumnya, tetapi lebih memperhatikan kondisi realitas yang dihadapi.

Dalam desain penelitian terstandar maupun non standar dapat dibakukan dengan istilah-istilah: masalah, kerangka teori, metode penelitian, analisis dan kesimpulan dan lainnya. Model tentatif menggunakan dasar sistematika yang berbeda. Sistematika model ini unit-unitnya atau bab-babnya disesuaikan dengan sistematika substantif obyeknya. Misalnya: penelitian tentang perilaku anak Bab I. Pendahuluan termasuk metode penelitian. Bab II. Fantasi. Bab III. Bermain. Bab IV. Sosialisasi, dst. Model ini digunakan dalam penelitian kualitatif naturalistik.

C. Analisis Penelitian Kualitatif
Pengertian penelitian kualitatif dalam uraian lebih lanjut menunjuk pada penelitian kualitatif naturalistik (naturalistic inquiry dari Guba)
1. Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan konsep yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) menurut versi positivisme dan disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan, kriteria dan paradigmanya sendiri. Penelitian kualitatif memiliki tiga kriteria untuk memeriksa keabsahan data, yaitu: credibility, trasferability, dan dependability .
a. Kredibilitas (kepercayaan), yang dapat dilakukan dengan cara :
· Memperpanjang waktu pengamatan (tinggal dengan responden)
· Pengamatan secara tekun dan terus menerus (untuk memperoleh data secara lebih mendalam).
· Triangulasi, yang dapat dilakukan dengan :
Ø Menggunakan sumber ganda (berbeda-beda).
Ø Menggunakan metode ganda (berbeda-beda).
Ø Menggunakan peneliti ganda (berbeda-beda).
· Peer debriefing (diskusi dengan teman sejawat)
· Member check (pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam pengumpulan data)
b. Transferabilitas (keteralihan). Analog dengan generalisasi bagi positivisme.
c. Dependabilitas atau auditabilitas, yang dapat dilakukan dengan:
· Pengamatan oleh dua atau lebih pengamat
· Checking data
· Audit trail atau menelusur dari data kasar (Sayekti. 2001: 2)

2. Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata data secara sistematis untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya. Catatan dibedakan menjadi dua, yaitu yang deskriptif dan yang reflektif (Noeng Muhadjir.2000: 139). Catatan deskriptif lebih menyajikan kejadian daripada ringkasan. Catatan reflektif lebih mengetengahkan kerangka pikiran, ide dan perhatian dari peneliti. Lebih menampilkan komentar peneliti terhadap fenomena yang dihadapi.
Setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusun dalam satuan-satuan dan kategorisasi dan langkah terakhir adalah menafsirkan dan atau memberikan makna terhadap data.
a. Pemrosesan Satuan (Unitying)
Satuan adalah bagian terkecil yang mengandung makna yang utuh dan dapat berdiri sendiri terlepas dari bagian yang lain. Satuan dapat berwujud kalimat faktual sederhana, misalnya: ”Responden menunjukkan bahwa ia menghabiskan sekitar sepuluh jam seminggu untuk melakukan perjalanan keliling dari satu sekolah ke sekolah lain sebagai pelaksanaan peranannya selaku guru lepas di beberapa sekolah”. Selain itu satuan dapat pula berupa paragraf penuh. Satuan ditemukan dalam catatan pengamatan, wawancara, dokumen, laporan dan sumber lainnya. Agar satuan-satuan tersebut mudah diidentifikasi perlu dimasukkan ke dalam kartu indeks dengan susunan satuan yang dapat dipahami oleh orang lain.
b. Kategorisasi
Kategorisasi disusun berdasarkan kriteria tertentu. Mengkategorisasikan kejadian-kejadian mungkin saja mulai dari berdasarkan namanya, fungsinya atau kriteria yang lain. Pada tahap kategorisasi peneliti sudah mulai melangkah mencari ciri-ciri setiap kategori. Pada tahap ini peneliti bukan sekedar memperbandingkan atas pertimbangan rasa-rasanya mirip atau sepertinya mirip, melainkan pada ada tidaknya muncul ciri berdasarkan kategori. Dalam hal ini ciri jangan didudukkan sebagai kriteria, melainkan ciri didudukkan tentatif, artinya pada waktu hendak memasukkan kejadian pada kategori berdasarkan cirinya, sekaligus diuji apakah ciri bagi setiap kategori sudah tepat.
c. Penafsiran /Pemaknaan Data
Langkah ketiga Moleong (2001: 197) menggunakan istilah penafsiran data,. Noeng Muhadjir (2000: 187) menggunakan istilah pemaknaan, karena penafsiran merupakan bagian dari proses menuju pemaknaan. Beliau membedakan antara 1) terjemah atau translation, 2) tafsir atau inerpretasi, 3) ekstrapolasi dan 4) pemaknaan atau meaning. Membuat terjemah berarti upaya mengemukakan materi atau substansi yang sama dengan media yang berbeda; media tersebut mungkin berupa bahasa satu ke bahasa lain, dari verbal ke gambar dan sebagainya. Pada penafsiran, peneliti tetap berpegang pada materi yang ada, dicari latar belakangnya, konsteksnya agar dapat dikemukakan konsep atau gagasannya lebih jelas. Ekstrapolasi lebih menekankan pada kemampuan daya pikir manusia untuk menangkap hal di balik yang tersajikan. Memberi makna merupakan upaya lebih jauh dari penafsiran dan mempunyai kesejajaran dengan ekstrapolasi. Pemaknaan lebih menuntut kemampuan integratif manusia: indriawinya, daya pikirnya dan akal budinya. Di balik yang tersajikan bagi ekstrapolasi terbatas dalam arti empirik logik, sedangkan pada pemaknaan menjangkau yang etik maupun yang transendental. Dari sesuatu yang muncul sebagai empiri dicoba dicari kesamaan, kemiripan, kesejajaran dalam arti individual, pola, proses, latar belakang, arah dinamika dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Dalam langkah kategorisari dilanjutkan dengan langkah menjadikan ciri kategori menjadi eksplisit, peneliti sekaligus mulai berupaya untuk mengintegrasikan kategori-kategori yang dibuatnya. Menafsirkan dan memberi makna hubungan antar kategori sehingga hubungan antar kategori menjadi semakin jelas. Itu berarti telah tersusun atribut-atribut teori.
d. Perumusan Teori
Perumusan teori dimulai dengan mereduksi jumlah kategori-kategori sekaligus memperbaiki rumusan dan integrasinya. Modifikasi rumusan semakin minimal, sekaligus isi data dapat terus semakin diperbanyak. Atribut terori yang tersusun dari hasil penafsiran/pemaknaan dilengkapi terus dengan data baru, dirumuskan kembali dalam arti diperluas cakupannya sekaligus dipersempit kategorinya. Jika hal itu sudah tercapai dan peneliti telah merasa yakin akan hasilnya, pada saat itu peneliti sudah dapat mempublikasikan hasil penelitiannya.

D. Kesimpulan
Penelitian untuk membuktikan atau menemukan sebuah kebenaran dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu kantitatif maupun kualitatif. Kebenaran yang di peroleh dari dua pendekatan tersebut memiliki ukuran dan sifat yang berbeda. Pendekatan kuantitatif lebih menitikberatkan pada frekwensi tinggi sedangkan pada pendekatan kualitatif lebih menekankan pada esensi dari fenomena yang diteliti. Kebenaran dari hasil analisis penelitian kuantitatif bersifat nomothetik dan dapat digeneralisasi sedangkan hasil analisis penelitian kualitatif lebih bersifat ideographik, tidak dapat digeneralisasi. Hasil analisis penelitian kualitatif naturalistik lebih bersifat membangun, mengembangkan maupun menemukan terori-teori sosial sedangkan hasil analisis kuantitatif cenderung membuktikan maupun memperkuat teori-teori yang sudah ada.

Daftar Pustaka :
· Guba, Egon G. & Lincoln, Yvonna S. (1981). Effective Evaluation. San Fransisco: Jossey-Bass Publishers

· Kirk, J. & Miller, M.I. (1986). Reability and Validity in Qualitative Research, Vol.1, Beverly Hills: Sage Publication

· Lincoln, Yvonna S. & Guba, Egon G. (1985). Naturalistic Inquiry. California, Beverly Hills: Sage Publications
· Moleong, L. J. (2001). Metologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosydakarya
· Noeng Muhadjir. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi IV. Yogyakarta: Rake Sarasin· Noeng Muhadjir. (2001). Filsafat Ilmu, Positivisme, Post Positivisme dan Post Modernisme. Edisi II. Yogyakarta: Rake Sarasin

INTERAKSI SOSIAL ANTAR KELOMPOK ISLAM

(Studi kasus NU dan Muhammadiyah di Desa Wisata Mlangi)

Skripsi
Diajukan sebagai syarat mendapatkan gelar Sarjana Komunikasi Islam
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh :
ILZAMUL WAFIK
NPM: 20070710006

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH :
Di Indonesia terdapat sejumlah agama dan aliran kepercayaan. Dalam interaksi sosial kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dihadapkan dengan kenyataan beragam perbedaan. Kusmadewi(2010), menyatakan bahwa kemajemukan masyarakat Indonesia termasuk faham agama dapat menjadi salah satu pemicu perbedaan /konflik.
Disisi lain perbedaan dapat juga memicu terjadinya persatuan/integrasi. Adanya berbagai wadah persatuan antar umat beragama menunjukan bukti kompromi, dimana kesemua agama menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Namun karena terdapat pemahaman agama yang berbeda-beda, konflik antarumat beragama maupun intern umat beragama selalu dapat muncul.
Ismail(dalam Mukaddimah, 2006), memaparkan bahwa maraknya konflik antarumat beragama di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari konstribusi penguasa Orde Baru. Sebab melalui politik SARA-nya penguasa, telah menekan semua perbedaan yang berbau kesukuan, keagamaan, ras, dan antargolongan. Semuanya dimasukkan dalam bingkai kesatuan, dan stabilitas politik dan kcamanan demi pertumbuhan ekonomi. Setelah Orde baru yakni era reformasi, potensi konflik lebih memungkinkan untuk terjadi.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kasus konflik antarumat beragama dan intern umat beragama terjadi diberbagai wilayah. Beberapa kasus berikut akan penulis sebutkan sebagai bukti, diantara konflik antarumat beragama yaitu; kasus konflik Islam-Kisten di Irian Jaya, kasus gereja di Jakarta, kasus pembakaran gereja di Wonosobo. Adapun beberapa konflik intern umat beragama yang terjadi yaitu; kasus dugaan sesat Ahamdiyah disejumlah wilayah, kasus penyerbuan markas FPI, kasus aliran sesat, misalnya pengakuan nabi dan lain-lain.
Kasus intern umat beragama yang disebutkan di atas semuanya terjadi pada internal umat Islam. Sebenarnya pada agama selain Islam juga terjadi konflik, seperti masalah sekte dan aliran Kristen. Salah satu faktor terjadinya konflik semacam ini adalah terjadinya pemahaman yang berbeda dan interpretasi yang beraneka ragam terhadap sumber-sumber ajaran agama/ teks suci, terutama sumber ajara Islam.
Islam di Indonesia tidak dapat terlepas dari Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama). Kedua ormas ini turut mewarnai sejarah Indonesia terutama pada masa pra-kemerdekaan. Sepanjang perjalanan kedua organisasi Islam terbesar ini, senantiasa diwarnai koorporasi, kompetisi, sekaligus konfrontasi. Kajian Muhammadiyah dan NU di Indonesia selalu melibatkan harapan dan kekhawatiran lama yang mencekam, karena wilayah pembahasan ini penuh romantisme masa lalu yang sarat emosi dan sentimen historis yang amat sensitif. Sekedar contoh, sering dinyatakan, kelahiran NU tahun 1926 merupakan reaksi defensif atas berbagai aktivitas kelompok reformis, Muhammadiyah (dan Serekat Islam), meski bukan satu-satunya alasan(Qodir, 2001).
Pandangan masyarakat pada umumnya terhadap warga Muhammadiyah dan NU di desa adalah terjadi polarisasi diantara keduanya. Bahkan ada beberapa data yang menyebutkan konflik diantara keduanya. Di Jogjakarta, kita dapat melihat interaksi sosial NU-Muhammadiyah di beberapa tempat. Salah satu tempat berinteraksi antar warga kedua ormas ini adalah Desa Wisata Mlangi .
Di Desa Wisata Mlangi telah lama hidup berdampingan antara Muhammadiyah dan NU. Keduanya telah mempunyai perangkat dakwah seperti tempat ibadah pendidikan dan berbagai usaha warga setempat yang lain. Perangkat dakwah yang ada di Mlangi berhubungan secara langsung dengan individu-individu masyarakat. Berbagai interaksi antar individu menyebabkan gejala polarisasi tidak begitu tampak. Kegiatan bersama antar warga yang sebenarnya berlainan organisasi kelompok Islam di Desa Wisata Mlangi, merupakan bukti adanya interaksi sosial antar kelompok.
Sejumlah peneliti tertarik untuk melakukan kajian dan penelitian di Mlangi. Ketertarikan mereka karena Mlangi termasuk tempat yang memiliki tingkat religiusitas tinggi, terdapat kaum yang menurut Gezt tergolong santri tradisionalis sekaligus berbaur dengan santri modernis. Daya tarik tersebut lebih didasari oleh keterkaitan Mlangi dengan Kraton Jogjakarta dalam hal menjadi pusat penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh salah seorang keluarga kraton bernama BPH. Sandiyo(Mbah Nur Iman).
Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan pokok untuk mengetahui betuk konflik maupun integrasi yang sudah terjadi dan kemungkinannya pada masa akan datang, kemudian setelah diketahui karakterisitik konfliknya maka akan memudahkan upaya yang mungkin dapat dilakukan untuk meredam dan menyelesaiakn konflik intern umat beragama khususnya Muhamadiyah-NU, sehingga tujuan dan upaya dakwah antara keduanya dapat tercapai bersama.

B. RUMUSAN MASALAH:
1. Bagaimana bentuk interaksi sosial warga NU dan Muhammadiyah yang ada di Desa wisata Mlangi?
2. Mengapa terjadi bentuk interaksi sosial tertentu dari warga NU dan Muhammadiyah di Desa wisata Mlangi?

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN:
Tujuan Penelitian ini adalah:
1. Mengetahui bentuk interaksi sosial warga NU dan Muhammadiyah yang ada di Desa wisata Mlangi.
2. Mengetahui penyebab terjadinya interaksi sosial tertentu dari warga NU dan Muhammadiyah di Desa wisata Mlangi.
Kegunaan Penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat menambah khasanah keilmuan, khususnya berkaitan dengan sosiologi dakwah.
2. Kegunaan secara praktis, sebagai acuan dalam melakukan kegiatan dakwah antar kelompok/organisasi Islam.

D. TINJAUAN PUSTAKA
Untuk mencapai suatu hasil penelitian ilmiah diharapkan data-data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini dapat menjawab secara komprehensif terhadap semua masalah yang ada. Hal ini dilakukan agar tidak ada duplikasi karya ilmiah atau pengulangan penelitian yang sudah pernah diteliti oleh pihak lain dengan permasalahan yang sama.
Penelitian tentang interaksi social antar ummat beragama, khususnya internal ummat islam sudah banyak dilakuakn oleh beberapa peneliti. Saifudin (1986) misalnya meneliti tentang konflik dan integrasi warga NU dan muhammadiyah di masyarakat Alabio Kalimantan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa konflik antara warga NU dan muhammadiyah di Masyarakat Alabio terjadi karena perbedaan intepretasi mengenai perangkat-perangkat ajaran agama.
Sementara itu Abidin(dalam Harmoni, Vol.VIII 2009), meneliti tindakan anarkis terhadap kelompok salafi dan non salafi di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor penyebab konflik antara kelompok Salafi dan Non Salafi adalah gerak dakwah eksklusif Salafi yang menyalahkan faham kelompok lain dan kurang menghargai perbedaan pendapat.
Kemudian Ismail(dalam Mukaddimah, Th. XII/2006), melakukan penelitian berkaitan dengan profil konflik antar ummat beragama studi kasus di lima daerah. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan sumber dan faktor penyebab konflik pada level budaya dan sosial pada tingkat lokal dan aturan perundangan. Hasil dari penelitin ter sebut menyatakan bahwa sumber konflik ada tiga aspek yaitu kesalahpahaman antar budaya, adanya identitas kelompok yang terancam dan karena adanya perjuangan pemenuhan kelompok dan penguasaan akses sumber daya maupun kesempatan.
Dilain kesempatan Syaukani(dalam Harmoni, Vol.VIII 2009), memfokuskan penelitiannya pertama, bagaimana posisi peristiwa resistensi sebagian masyarakat terhadap IJABI Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI). IJABI adalah orgaisasi sunni yang didirikan oleh Jalaludin Rakmat di Bondowoso. Fokus Kedua adalah mengapa terjadi resistensi sebagian masyarakat terhadap IJABI di Kab.Bondowoso. hasilnya bahwa perbedaan paham tentang Syiah antara pihak yang anti Syiah dan IJABI adalah salah satu sebab terjadinya konflik.

E. KERANGKA TEORI

1. INTERAKSI SOSIAL
Sebagai makhluk sosial manusia selalu hidup berkelompok atau senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lain, makhluk yang mampu berpikir untuk melakukan sesuatu, makhluk yang harus diajarkan sesuatu agar mampu melakukan sesuatu (sosialisasi). Dari proses berfikir muncul perilaku ataupun tindakan sosial. Kalau perilaku dan tindak sosial tersebut dilakukan dalam hubungan dengan orang lain maka terjadilah interaksi sosial(Tarik, 2002).
Upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya dilaksanakan melalui suatu proses sosial yang disebut interaksi sosial, yakni hubungan timbal balik antara orang perorangan, antara orang perorangan dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat. Di dalam bukunya Psychologi Social, Gerungan, mengutip H. Bonner dalam karyanya Social Psychology, mengemukakan interaksi sosial ialah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, di mana kelakuan Individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan mdividu yang lain, atau sebaliknya. Rumusan ini dengan tepat menggambarkan kelangsungan timbal baliknya interaksi sosial antara dua atau lebih manusia(Ishomudin, 2005).
Setiap komunitas memiliki struktur sosial yaitu jalinan hubungan antar individu atau kelompok sosial dalam masyarakat sesuai status dan peranan yang dimilikinya. Bentuk struktur sosial tersebut dapat berupa proses konflik dan integrasi dalam masyarakat. Hidup rukun-tidak rukun menunjukkan adanya interaksi sosial positif-negatif. Interaksi sosial positif merupakan proses interaksi yang menuju pada penyatuan. Interaksi tesebut dapat berupa akomodasi, kerja sama dan akhirnya integrasi. Apabila terjadi pertikaian dan konflik, munculah apa yang disebut Interaksi sosial negatif(Ismail, 2009).
Konflik dan integrasi merupakan sebuah pasangan yang melekat dalam kehidupan masyarakat (Simmel dalam Saifuddin, 1986). Jadi walaupun konflik merupakan bentuk kontradiktif dari integrasi, namun tidak selamanya kedua hal tersebut harus dipertentangkan. Dalam kehidupan nyata integrasi bisa saja hidup bersebelahan dengan konflik, bahkan melalui konflik, hubungan keseimbangan sebenarnya dapat ditata kembali. Karena itu mengkaji konflik pasti berhubungan dengan integrasi.

2. INTEGRASI SOSIAL
Integrasi sosial adalah penyatuan antar satuan atau kelompok yang tadinya terpisah satu sama lain dengan mengesampingkan perbedaan sosial dan kebudayaan yang ada. Bentuk integrasi sosial ada dua jenis, yaitu Akomodasi dan Kerja sama. Integrasi Akomodasi dapat dilihat sebagai suatu keadaan dan proses. Sebagai suatu keadaan artinya, kenyataan adanya keseimbangan dalam interaksi antar aktor/kelompok. Sedangkan sebagai suatu proses artinya, tindakan penyesuaian dengan saling memberikan imbalan tertentu antar aktor dari kelompok yang berbeda, baik berupa materi maupun sosial. Penyesuaian dan kerja sama dari aktor atau kelompok yang berbeda itu dimungkinkan walaupun diantara mereka ada perbedaan gender, suku-ras, kelas, agama dan kepercayaan, dan persaingan atau permusuhan tersembunyi(Ismail, 2009).
a. Akomodasi
Dalam sebuah masyarakat akomodasi biasanya tidak selamanya berlangsung, karena ada potensi konflik seperti prasangka atau stereotif dari tiap kelompok, sehingga melahirkan konflik.
Akomodasi adalah suatu proses dimana orang-orang atau kelompok yang saling bertentangan, berusaha mengadakan penyesuaian diri untuk meredakan atau mengatasi ketegangan (Tarik, 2002). Beberapa bentuk akomodasi dalam masyarakat dijelaskan berikut ini :
1) Toleransi, yaitu bentuk akomodasi, dimana masing-masing pihak yang berlawanan menerima perbedaan tanpa mempermasalahkan perbedaan yang dialami.
Seorang pemeluk agama x tentu mempunyai konsep yang berbeda dengan pemeluk agama y. Kedua pemeluk agama itu jelas mempunyai beberapa perbedaan, tetapi masing-masing individu tidak mempermasalahkan perbedaan agamanya. Mereka tetap bergaul dengan baik tanpa mempermasalahkan agama yang dianut. Oleh karena itu di Indonesia dikenal dengan istilah toleransi beragama.
Sebenarnya, toleransi tidak hanya dalam bentuk kehidupan beragama. Kehidupan antar etnis, antar parpol, organisasi, cita-cita, dan lain-lain bisa dijalankan dengan konsep toleransi.

2) Kompromi, yaitu suatu bentuk akomodasi di mana masing-masing pihak yang terlibat pertentangan saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
Sekelompok petani misalnya, yang bersengketa dengan sekelompok lain tentang iuran irigasi, kemudian masing-masing kelompok mengurangi tuntutan agar tercapai kesepakatan merupakan contoh proses kompromi. Kelompok petani berlahan luas menginginkan iuran irigasi sebesar Rp 20.000,-/bulan. Sementara sekelompok petani berlahan sempit menginginkan iuran irigasi hanya Rp10.000,-/bulan. Setelah melalui proses musyawarah disepakati agar masing-masing mengurangi tuntutannya. Usul petani luas dan petani sempit diambil jalan tengahnya yaitu hanya Rp 15.000,-/bulan.
3) Arbitrasi (perwasitan), yaitu suatu cara untuk mencapai penyelesaian antara dua pihak yang berselisih, dimana pihak-pihak yang berselisih tidak sanggup mencapai penyelesaian sendiri. Pertentangan kemudian diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua pihak atau suatu badan yang kedudukannya lebih tinggi dari kedua belah pihak yang bertentangan. itu.
Misalnya, kita menemui beberapa keluarga yang saling bertentangan karena masalah warisan (gono-gini). Bila keluarga-keluarga yang bertikai itu tidak dapat menyelesaikan secara musyawarah antar keluarga sendiri, maka mereka akan mencoba menyelesaikannya lewat proses pengadilan secara perdata. Penunjukan pengadilan sebagai pihak ketiga yang berkedudukan lebih tinggi dari keluarga, merupakan proses arbitrasi yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
4) Mediasi adalah cara yang dipakai untuk menyelesaikan perselisihan dengan menunjuk pihak ketiga untuk memberikan saran pernikiran bagi terselesaikannya perselisihan tadi. Pihak ketiga tidak mempunyai wewenang untuk memberikan keputusan penyelesaian akhir dari perselisihan yang terjadi.
Misalnya, sepasang suami isteri yang ingin bercerai karena suatu masalah meminta petunjuk BP4 untuk membantu mencarikan jalan keluar terbaik bagi keluarganya. BP4 tentu akan memberikan saran-saran dan pernikiran saja, ia tidak dapat memutuskan apakah suami istri tersebut perlu bercerai atau tidak.
b. Kerja sama
Sebenarnya para pelaku selalu berada dalam konflik dan kooperatif. Keduanya bagaikan dua sisi dalam satu keping uang logam. Pada hakikatnya dalam kerja sama tidak pernah ditemui betul-betul kerja sama yang menghilangkan kepentingan masing-masing, tersirat atapun tersurat. Artinya, dalam situasi kerja sama pun antarpihak akan ada upaya untuk lebih mempengaruhi pihak lain yang menjadi mitra kerja samanya. Jadi dalam situasi kerja sama itupun ada ruang persaingan juga, ini dapat dinamakan dengan ‘persaingan dalam kerja sama(Ismail, 2009).
Dalam situasi persaingan dalam kerja sama tersebut pada suatu waktu dan dalam aspek-aspek tertentu akan ada tindakan untuk saling mempengaruhi dan ‘menang’. Jadi, dalam kerja sama itu akan ada yang dominan (dominasi) juga di lingkungan internal pihak yang bekerja sama, seberapapun intensitasnya.
Dalam situasi apapun (konflik ataupun kooperatif) akan ada persaingan dan tindakan untuk mendominasi, dan karenanya ada ketidaksetaraan dalam relasi kuasa. Antara konflik dan kooperatif sangat tipis batasannya dan keduanya tidak bersifat statis karena kepentingan manusia yang juga tidak statis.
Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya integrasi adalah

3. KONFLIK SOSIAL

a. Pengertian
Konflik sosial adalah pertentangan antar satuan atau kelompok sosial atau lebih, atau potensialitas yang menyebabkan pertentangan. Pengertian ini berarti mencakup kasus konflik (konflik yang sudah terjadi) dan potensialitas konflik(Ismail, 2009).
Dengan demikian konflik dilihat dari bentuk penampakannya dapat dipilah ke dalam potensi konflik dan kasus konflik. Potensi konflik merupakan semua aspek atau kondisi yang dapat menjadi sumber munculnya kasus konflik, sedangkan kasus ‘konflik’ merupakan konflik yang sudah terjadi dan muncul ke permukaan dalam bentuk pemyataan atau tindakan nyata pihak-pihak yang berkonflik.
b. Bentuk-bentuk konflik
d
c. Sumber konflik
Pada hakikatnya semua sumber dan faktor muncuinya konflik merupakan bentuk dari potensi konflik. Sumber dan faktor tersebut meningkat menjadi konflik karena ketidakmampuan satu dan atau kedua belah pihak dalam mengendalikannya. Sumber dan potensi tersebut tetap akan menjadi potensi konflik jika tidak ada suatu individu atau kelompok yang bergerak secara aktif atau radikal serta adanya pengendalian yang dilakukan oleh berbagai pihak yang ada dalam masyarakat tersebut(Ismail, 2009).
Sebab-musabab atau akar-akar dari pertentangan antara lain sebagai berikut;
1) Perbedaan antara individu-individu
Perbedaan pendirian dan perasaan mungkin akan melahirkan bentrokan antara mereka
2) Perbedaan kebudayaan
Perbedaan kepribadian dari orang perorangan tergantung pula dari pola-pola kebudayaan yang menjadi latar belakang pembentukan serta perkembangan kepribadian tersebut. Seorang secara sadar maupun tidak sadar, sedikit banyak akan terpengaruh oleh pola-pola pemikiran dan pola-pola pendirian dari kelompoknya. Selanjutnya, keadaan tersebut dapat pula menyebabkan terjadinya pertentangan antara kelompok manusia.
3) Perbedaan kepentingan
Perbedaan kepentingan antarindividu maupun kelompok termasuk merupakan sumber pertentangan. Wujud kepentingan dapat bermacam-macam; ada kepentingan ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Majikan dan buruh, misalnya, mungkin bertentangan karena yang satu menginginkan upah kerja yang rendah, sedangkan buruh menginginkan sebaliknya.
4) Perubahan sosial
Perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Dan ini menyebabkan terjadinya golongan-golongan yang berbeda pendiriannya, umpama mengenai reorganisasi sistem nilai. Sebagaimana diketahui perubahan sosial mengakibatkan terjadinya disorganisasi pada struktur.

d. Akibat konflik

F. METODE PENELITIAN
1. Pemilihan Lokasi
Desa wisata Mlangi Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penelitian karena daerah ini menjadi tempat pengembangan dan pembaharuan yang dilakukan oleh kelompok organisasi Islam terutama NU dan juga Muhammadiyah.
2. Informan
Informasi dijaring dari informan yang paling banyak mengetahui masalah yang diteliti dan terlibat langsung sebagai pelaku dan tokoh organisasi kelompok Islam, seperti pimpinan ranting dan takmir masjid, para pengajar/guru, masyarakat, serta beberapa kyai pesantren di Mlangi. Informasi juga diperoleh melalui studi bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan kegiatan dakwah setempat.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan tiga teknik pengumpul data yaitu:
a. Teknik wawancara, yaitu penulis mengumpulkan data melalui wawancara dengan pihak-pihak yang bersangkutan yaitu perangkat desa/dusun, pimpinan ranting Muhammadiyah dan NU, takmir masjid, para pengajar/guru, masyarakat, serta beberapa kyai pesantren di Mlangi dengan menggunakan pedoman wawancara. Pedoman wawancara dimaksudkan untuk mengarahkan dan mempermudah pokok-pokok permasalahan yang diwawancarakan dengan sumber data langsung.
b. Observasi yaitu penulis secara langsung mengamati dan mengikuti kegiatan atau acara yang terkait dengan masalah penelitian ini.
c. Dokumentasi, yakni membuat dokumentasi data yang terkumpul, seperti data kondisi masyarakat, organisasi, kegiatan dakwah masjid dan sebagainya dalam bentuk gambar, monograf, arsip dan lain-lain.
4. Keabsahan Data
Dalam hal validitas data, penulis menganggap absah suatu data bila didukung paling kurang tiga sumber. Jadi maslah keabsahan data, penulis menggunakan teknik Tri angulasi.
5. Analisis Data
Analisis kualitatif.

G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Penyusunan skripsi ini terdiri dari empat Bab. Masing-masing Bab ini terdiri dari sub-sub pembahasan. Pembagian ini dimaksudkan untuk mempermudah penulisan ilmiah yang sistematis dan konsisten, terdiri dari pembahasan, analisis masalah, dan pemaparan bentuk-bentuk interaksi sosial antar kelompok Islam. Sebelum memasuki halaman pembahasan skripsi ini diawali dengan halaman judul, halaman nota dinas, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, dan daftar isi. Kemudian setelah Bab terakhir, disertakan pula daftar pustaka, curriculum vitae, dan lampiran-lampiran.
Adapun sistematika pembahasan skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab pertama, berisi tentang pendahuluan yang meliputi : Latar belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Kerangka Teoritik, Metode Penelitian, dan Sistematika Pembahasan.
Bab Kedua, berisi tentang gambaran umum masyarakat Mlangi Yogyakarta yang memuat letak geografis dan kependudukan, agama, ekonomi dan matapencaharian, lembaga pendidikan, tradisi dan budaya. Dalam bab ini juga membahas tentang Muhammadiyah dan NU di Mlangi
Bab ketiga. Bab ini merupakan tema yang menjadi kajian terpusat di mana pada bab ini akan disajikan deskripsi data yang diperoleh dan akan diadakan analisis data. Yaitu tentang integrasi sosial antara ummat Islam warga NU dan Muhammadiyah di Desa Wisata Mlangi Yogyakarta.
Bab Keempat, Bab ini menjadi Bab penutup yang menyangkut kesimpulan, saran-saran, daftar pustaka, curriculum vitae dan lampiran-lampiran.

BAB II
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT MLANGI YOGYAKARTA

A. Letak Geografis dan Kependudukan
Mlangi terletak di sebelah barat laut kota Yogyakarta tepatnya 48Lu 70 Ls. Secara administratif, Mlangi berada di desa Nogotirto, kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Seseorang dapat disebut sebagai orang Mlangi apabila ia tidak hanya tinggal di wilayah itu, melainkan karena masih memiliki hubungan genealogic dengan Mbah Kyai Nur Iman, atau anak keturunannya. Masyarakat Mlangi memaksudkan wilayah Mlangi terdiri dari dua dusun, yakni Mlangi dan Sawahan.
Selain dua dusun tersebut, desa Nogotirto memiliki beberapa dusun lain yakni: Cambahan, Nogosaren, Ponowaren, Karang Tengah, Kwarasan dan Kajor. Desa Nogotirto memiliki luas wilayah 349.000 ha, yang terdiri dari tanah sawah 210.119 ha, tanah pekarangan dan perumahan 134.281 ha, tanah kering 0, 98 ha, kolam 1,10 ha. Selebihnya digunakan untuk lapangan olah raga 1,43 ha, dan kuburan 3,02 ha. Tanah yang diperuntukkan bagi kuburan tersebar dibeberapa tempat, termasuk di daerah Ledok, Sawahan, namun sebagian besar terdapat disekitar masjid jami, atau lebih popular masjid patok negoro.
Penduduk desa ini berjumlah 11.361 jiwa, terdiri dari lakilaki 5.655 jiwa dan perempuan 5.706 jiwa. Jumlah penduduk tersebut tercakup ke dalam 2.191 kepala keluarga (KK), yang terdiri dari 1.751 KK laki-laki dan 440 KK perempuan.
Data-data diatas didapat dari dokumen desa nogotirto, penulis mengaksesnya melalui Pak Dukuh yang bertugas di wilayah Malngi bagian selatan.

B. Lembaga Pendidikan
1. Lembaga Pendidikan Formal
Di desa wisata Mlangi terdapat berbagai lembaga pendidikan formal dan non-formal, khususnya Pesantren. Lembaga pendidikan formal meliputi taman kanak-kanak (TK), berjumlah dua buah, yakni TK Bustanul Athfal dan Masyitoh, yang pertama milik organisasi Muhammadiyah, sedang berikutnya adalah milik NU. Selain TK di dusun yang sama masih ada sekolah dasar (SD) Muhammadiyah, yang didirikan awal 60-an, dengan tokoh perintisnya adalah H. Muhammad Yusuf, H. Yunad. SD Muhammadiyah Mlangi ini telah mencetak lulusan yang berasal dari keluarga kyai dan tokoh-tokoh agama di desa wisata Mlangi, berkat memperkenalkan pemikiran dan gerakan keagaman Muhammadiyah kepada masyarakat yang proporsi jumlah penduduknya lebih didominasi NU.
Ada dua Madrasah Ibtidaiyah di Mlangi. Pertama MI An-Nasyath yang didirikan pada tahun 2009. Sekolah ini berada dibawah naungan pondok pesantren An-Nasyath yang diasuh oleh K.H. sami’an. Kedua MI Al-Falahiyah yang didirikan pada tahun yang sama. Sekolah ini berada dibawah naungan pondok pesantren Al-Falahiyah.
Selain lembaga pendidikan formal yang telah disebut di atas, terdapat juga sekolah menengah pertama (SMP) Ma’arif yang bernaung di bawah yayasan pendidikan NU.

2. Lembaga Pendidikan Non Formal
Lembaga pendidikan non formal yang berupa pondok pesantren (ponpes) sangat menonjol di Mlangi, bahkan di wilayah Yogyakarta kampung ini cukup terkenal sebagai kampung pesantren. Jumlah keseluruhan pondok pesantren yang terdapat di desa wisata Mlangi adalah 16 pondok, yakni:
a. Pondok Pesantren Al-miftah. Menurut keterangan Ky. Hasan, pondok ini adalah pondok pesntren tertua di Mlangi. Sebutan awalnya adalah langgar Lor. Pondok Al-Miftah, dikelola oleh (alm) Kyai Serrudin yang masih memiliki hubungan saudara dengan Kyai Muhtar Dawam, pemilik pondok pesantren Al-Huda. Pondok ini didirikan pada tahun. 1950. dan dikelola oleh Kyai Munahar
b. Pondok Pesantren Assalafiyyah. Pondok ini berdiri tahun 1932 dan merupakan pondok yang sudah berusia tua setelah Al-miftah, sebutan untuk ponpes ini adalah Langgar Kidul. Awalnya diasuh Kyai Masduqi (alm), dan kini digantikan puteranya, Kyai Suja’i, yang dikenal sebagai mursyid tarekat Qodariyah-Naqsabandiyah.
c. Pondok Pesantren An-nasyath, diasuh Kyai Samingan, istrinya merupakan adik kandung Kyai Suja’i, pengasuh ponpes As-Salafiyah yang sekaligus mursyid tarekat Qadariyah-Naqsabandiyah, Mlangi .
d. Pondok Pesantren Hujjatul Islam, yang dikelola Kyai Qodrul Aziz. Dahulu Kyai Qodrul Aziz dikenal sebagai pengusaha batik yang sukses, dan ia pernah menjadi ketua takmir masjid Jami’, sebelum akhirnya digantikan kepengurusannya oleh para kyai yang diketuai oleh Kyai Muhtar Dawam. Kini ta’mir masjidnya adalah KH. Abdulloh.
e. Pondok Ar-Risalah, diasuh oleh KH. Abdullah. Pondok pesantren ini relatif masih muda usianya, dan pada saat ini jumlah santrinya baru mencapai 60 orang. H. Abdullah sebelum mendedikasikan waktunya untuk mengajar di ponpes yang didirikannya, ia dahulu dikenal sebagai pengusaha sukses.
f. Pondok Pesantren Al-Quran, pondok pesantren ini khusus puteri, diasuh oleh Kyai. Abdul Qorim. Selain fokus terhadap Tahfizdul-Qur’an, ponpes ini menjadi tempat ngaji bagi anak-anak kecil seusia TPA.
g. Pondok pesantren Al-Huda, diasuh oleh Kyai Mukhtar Dawam(Alm). Kyai Mukhtar Dawam adalah sosok kyai yang memiliki hubungan dengan sejumlah elit kekuasaan dan partai Golkar di jaman orde baru. Setelah beliau wafat, pondok pesantren ini kurang begitu terkelola.
h. Pondok Hidayatul Muttadiin, merupakan ponpes yang dimiliki oleh H. Nuriman Mukim.
i. Pondok Pesantren Al-Mahbubiyah.
j. Pondok Pesantren Darussalam. Ponpes ini diasuh oleh Ky. Wirdanudin.
k. Pondok Ledok, dahulu diasuh oleh (alm) Kyai Yamah Sari.
l. Pondok Pesantren Al-Falahiyyah. Dipintu masuk ke arah masjid Mlangi terdapat pondok pesantren Al-Falahiyyah, didirikan sekitar tahun 1965, milik (alm) Kyai. Zamroddin, di pesantren ini cukup banyak santri yang menghafalkan Al-Quran, selain mengaji kitab. Nyai Rubiyah, istri almarhum dikenal sebagai seorang penghafal Qur’an (hafizah), dan sekarang pondok tersebut dikelola putera-putera almarhum.
m. Pondok Pesantren Kuno, bertempat di Mbalong, dikelola oleh Kyai Asrori. Pondok Kuno sangat megah, dan memiliki bangunan berlantai tiga. Selain itu. Kyai Asrori dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat dengan BPH Joyokusumo, pengurus Golkar, dan adik Sri Sultan ke X. Selain itu sejumlah fungsionaris partai Golkar se-ring berkunjung ke rumah sang kyai.
n. Pondok Pesantren Kuno Mambaul irfan,berlokasi di belakang Ponpes Al-Falahiyyah.
o. Pondok Pesantren Al-Ikhsan, terletak di Pundung, dikelola oleh H. Baha’udin seorang tokoh muhammadiyah Mlangi. Menurut beberpa informan, pondok ini adalah satu-satunya pondok di Mlangi yang berfaham muhammadiyah.
p. Pondok Pesantren Al-Salimi, diasuh oleh Kyai Salimi. Meskipun letak pondok beberapa ratus meter di sebelah selatan Mlangi, namun Kyai Salimi adalah orang Mlangi

Seluruh pondok pesantren di atas bercorak tradisional, atau salafiyah yang mengajarkan kitab-kitab Islam kuning klasik sebagai ciri utamanya. Kitab klasik tersebut meliputi 8 kelompok: a. nahwu (syntax) dan saraf (morfologi); 2. fiqh; 3. usul fiqh; 4. hadis; 5. tafsir; 6. tauhid; 7. tasawuf dan etika, dan 8. cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghah.7
Dari seluruh pesantren yang tersebut di atas, ada beberapa yang mengelola Pendidikan kesetaraan Wajar Dikdas(setara SLTP) dan PAKET C (setara SLTA). Disamping sebagai bekal santri untuk diterima di masyarakat, pengelolaan ini merupakan wujud mensukseskan Pendidikan Nasional, karena banyak santri yang ternyata tidak sekolah di lembaga formal. Santri yang mengikuti program tersebut akan mendapatkan ijazah yang diakui Negara. Ijazah tersebut biasanya digunakan santri untuk memenuhi persaratan dan tuntutan kerja, namun ada beberapa sampel juga yang menggunakanya untuk melakukan studi lanjut ke Perguruan Tinggi baik memperoleh beasiswa maupun swadana.

C. Tradisi dan budaya
Tradisi dan budaya agamis dan amalan yang masih dilestarikan hingga saat ini, antara lain :
1. Jenang manggul
Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul. Tradisi ini bermula sejak Hamnegkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. Artinya sageto manggul ayahandanipun kyai Nur Iman dalam hajatnya menyebarkan ajaran slam. Semangat inilah yang terus menggelora. Menurut Kyai Nur Iman, dalam memperjuangkan Islam kita harus bersungguh-sungguh. Sebab itu, radisi “jenang manggul”, yang dilakukan dengan memasak bubur dalam jumlah umlah besar, dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini.
2. Merconan
Daerah ini juga dikenal dengan budaya mercon khususnya pada saat bulan Romadhon. Saat memasuki bulan romadhon, para pemuda akan membunyikan petasan. Pesta mercon yang paling ramai pada malam 17 ramadhan dan sebelum shalat Idul Fitri. Budaya ini diyakini oleh masyarakat Mlangi sebagai sarana minta maaf.”Unine mercon kanggo sarono njaluk ngapuro” (suara mercon sebagai sarana untuk meminta maaf). Semakin keras suara mercon dan jumlahnya banyak maka dosa yang diampuni juga semakin banyak. Kebiasaan ini memang telah berlangsung sejak dulu, hingga kini masih berlanjut. Namun mengingat resiko bahaya yang mungkin ditimbulkan, budaya ini pernah sedikit berkurang dan mulai tahun 2010 sudah tumbuh lagi bahkan lebih meriah.
3. Obat tradisional Singgul
Jamu singgul merupakan jamu khas Mlangi. Jamu ini berbahan dasar tanaman obat tradisional dlingo-bengle. Jamu ini memiliki beragam khasiat, diantaranya adalah obat sawan manten dan kepaten, sakit gatal, encok, biduran dan lain-lain.
4. Gladen
Gladen adalah kegiatan membaca kitab maulud dengan diiringi tabuhan rebana. Pelaksanya adalah sekumpulan warga yang ahli “Ngelik”. Kegiatan ini dilakukan pada acara-acara bahagia seperti pernikahan, sunatan dan Aqiqoh.
5. Ziaroh/ngirim Ahli Qubur dengan cara membaca tahlil dan Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas.
Kegiatan seperti ini rutin dilakukan mayoritas penduduk mlangi yang berfaham NU. Ziaroh warga di pemakaman dapat dilihat setiap usai sholat jum’at, malam jum’at terutama hari pasaran kliwon. Makam yang paling sering dikunjungi adalah Makam Mbah Kyai Nur Iman. Seperti makam para auliya’ dan ulama besar yang lain, Makam Mbah Kyai Nur Iman sebagai sentral wisata religi banyak dikunjungi tamu-tamu yang berziarah dari luar daerah, bahkan dari luar Pulau Jawa. Para Peziarah ada yang perorangan maupun berombongan.

6. Membaca Sholawat Tunjina (untuk memohon keselamatan di dalam hajatan-hajatan).
Membaca sholawat kepada nabi bagi warga NU di Mlangi dipercayai sebagai perantaraan untuk menjalani hidup baik disaat suka atau duka.
Disaat mereka dilanda kesusahan, membaca sholawat dapat memberikan ketentraman. Sedangkan disaat bahagia, membaca sholawat merupakan wujud syukur terhadap nikmat Alloh. Para kyai akan selalu membaca sholawat ini diawal do’a pada setiap akhir acara hajatan.

7. Membaca sholawat Nariyah (untuk selamatan orang hajat seperti orang hamil, dan lain-lain).
Pembacaan Sholawat Nariyah ini, bagi warga NU Mlangi lebih khusus dari pada Membaca Sholawat Tunjina. Mereka membaca sholawat ini biasanya untuk keselamatan isteri hamil, anggota keluarga yang sedang sakit, pencalonan kerja/jabatan seperti pilihan lurah dan juga sebagai sarana do’a untuk lepas dari jeratan hukum di peradilan.

8. Membaca Tibbil Qulub
Bagi warga, membaca tibbil sebagai upaya pegobatan sakit. Pembacaan do’a yang termasuk solawat ini kadang-kadang menggunakan tulisan yang difotokopi dan dibagikan kepada jamaah yang belum hafal.
9. Membaca Kalimah Thoyyibah Tahlil Pitung Lekso (Khususnya jika diperlukan untuk obat / tombo sapu jagad).
Tahlil Pitung Lekso artinya tahlil 70.000 kali. Hitungan sebanyak ini akan dibagi sejumlah jamaah yang hadir, sehingga saat dimulai kyai yang memandu acara akan menyampaikan jumlah jamaah dan kyai yang memimpin tahlil akan bertahlil bersama jamaah dan berhenti kira-kira setelah mencapai 70.000 kali totalnya. Acara seperti ini dilakukan saat ada warga yang sakit parah. Tahlil ini dipercayai sebagai penentu, jika memang Allah menghendaki masih hidup, maka diharapkan akan segera sembuh dari sakit. Sebaliknya jika Allah menghendaki untuk meninggal dunia, maka diharapkan segera mencabut nyawanya.
Awal kemunculan tahlil ini, karena dahulu di Mlangi pernah terjangkit wabah penyakit ganas. Atas petunjuk kyai, agar wabah tersebut reda, sejumlah warga harus melakukan “priatinan”dengan cara berjalan mengelilingi Mlangi sambil membaca tahlil 70.000 kali.
Pada tahun tahun 90-an, sebelum bacaan tahlil bersama selesai, dapat dilihat hasilnya di majlis itu. Kalau sampai akhir acara orang yang sakit parah masih hidup, berarti dia akan segera sembuh dan harus melaksanakan nazdarnya untuk meningkatkan ketakwaanya kepada Alloh. Sebaliknya, orang tersebut akan meninggal di majlis itu atau tidak lama setelah selesai pembacaan do’a. Kematian ini diharapkan sebagai kematian khusnul khotimah, karena diakhir khayat orang tersebut tertuntun untuk membaca kalimat Tahlil.
Pada tahun-tahun ini(2011), paling lama jarak kematian(jika meninggal) dan tahlil pitung lekso menurut kebanyakan santri adalah tiga hari.

10. Manaqiban / Abdul Qodiran.
Acara ini berisi pembacaan kitab biografi ulama terkenal, Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jailany. Biasanya acara tersebut dilakukan untuk do’a selamatan, sehari sebelum acara hajatan perikahan/khitanan. Harapan dari acara ini, agar acara yang diselenggarakan lancar, terutama agar tidak hujan pada saat acara.
Pembacaan kitab seperti dalam acara ini, dilakukan dengan lebih meriah pada saat sewelasan yaitu tanggal 11 Robiul Akhir tiap tahun oleh kumpulan jamaah Tarikat Qodiriyah An-Naqsabandiyah di Mlangi.

11. Membaca Maulud Syarful Anam
Biasanya pembacaan dilakukan saat seseorang ulang tahun atau hari kelahiran serta pasarannya. Tidak jarang acara ini juga dilakukan untuk syukuran, agar memperlancar rizqi.

12. Dalam bentuk kesenian :
o Barzanji / Rodadan
o Sholawatan / Kojan dan lain-lain.
BAB III
INTERAKSI SOSIAL ANTAR KELOMPOK ISLAM
DI DESA WISATA MLANGI NOGOTIRTO

A. Bentuk-bentuk integrasi sosial dan konflik warga NU dan Muhammadiyah
Setelah mengadakan wawancara dan pencarian data, penulis mendapatkan beberapa bentuk integrasi yang terjadi antara warga NU dan Muhammadiyah sebagai berikut;
1. Solat di majid Al-Awwab
Masjid awwab merupakan masjid muhammadiyah sejak mulai berdiri sekitar tahun 1987. Masjid ini menjadi pusat dakwah muhammadiyah di Mlangi. Sebelum ada masjid ini central muhammadiyah diawal kemunculanya adalah di masjid Ledok. Ummat islam yang melakukan solat di masjid ini bukan hanya warga muhammadiyah, tetapi justru warga NU lebih banyak. Hal ini karena muhammadiyah termasuk minoritas, sedangkan NU adalah mayoritas.
Berbeda dengan masjid Jami’ Mlangi, masjid Al-Awwab disetiap solat lima waktu, jumlah jamaah yang hadir seimbang antara kaum lelaki dan wanita, dan sering lebih banyak jamaah wanita. Apabila dibandingkan dengan masjid Mlangi yang tidak pernah ada penduduk kaum wanita sekitar yang berjamaah lima waktu. Jika ada jamaah wanita bisa dipastikan musafir atau peziarah kubur.

2. Acara Mauludan di Masjid Al-Awwab
Sebelum ada masjid Al-Awwab, seluruh penduduk Mlangi melaksanakan tradisi Mauludan di masjid Jami’ Mlangi. Mauludan yang dimaksud disini adalah tradisi membaca kitab yang bercerita seputar kelahiran nabi deangan cara dinyanyikan dengan gaya jawa pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Tiap kepala keluarga membuat sepuluh ‘besek makanan’, setelah selesai pembacaan kitab maulud ‘besek makanan’ tersebut dibagikan kepada seluruh orang yang hadir dan diprioritaskan kaum lelaki.
Setelah dibangunya masjid Al-Awwab, perayaan tradisi maulud ini terpisah menjadi dua. Yaitu penduduk Mlangi bagian Utara merayakan di Masjid Jami’ Mlangi. Sedangkan penduduk Mlangi bagian selatan merayakannya di Masjid Al-Awwab. Beberapa penduduk yang berdomisili di tengah-tengah membuat ‘besek makanan’ untuk perayaan kedua-duanya.
Pada perayaan ini, warga Muhammadiyah maupun NU melaksanakan kegiatan bersama-sama. Acara ini menghilangkan sekat antara golongan masyarakat yang merayakanya.

3. Sripah kematian
Kematian seseorang akan mengundang empati orang lain, terutama tetangga dekat dan kerabat. Secara tidak disadari keadaan ini merupakan ajang interaksi sosial antar warga. Pada saat-saat berkabung seperti ini orang tidak terlalu memikirkan tentang golongan termasuk Muhammadiyah atau NU. Kalaupun masih memikirkan golongannya, keadaan berkabung tetap lebih menonjol, sehingga antara warga Muhammadiyah dan NU nyaris tak terpisahkan.
Contoh nyata, pada tanggal 21 Maret 2011 Bapak Abdullah Wahab meninggal dunia. Beliau adalah seorang ustazd pesantren NU. Salah satu anaknya sekolah di SD Muhammadiyah Mlangi. Mulai dari orang yang membantu keluarga, berkunjung(layat) samapai acara pemberangkatan dan pemakaman jenazah, terjadi pembauran antara warga Muhammadiyah dan NU.
4. Sekolah Dasar Muhammadiyah Mlangi
SD Muhammadiyah, yang didirikan awal 60-an, dengan tokoh perintisnya adalah H. Muhammad Yusuf dan H. Yunad. SD Muhammadiyah Mlangi ini telah mencetak lulusan yang berasal dari keluarga kyai dan tokoh-tokoh agama di desa wisata Mlangi. H. Muhammad Yusuf dan H. Yunad telah memperkenalkan pemikiran dan gerakan keagaman Muhammadiyah kepada masyarakat yang proporsi jumlah penduduknya lebih didominasi NU.

5. Bisnis mori dan konveksi
Bisnis kain mori yang ditekuni oleh Gus Zar’an bekerja sama dengan Bapak Haji Mahrus telah berjalan kurang lebih tiga tahun(wawancara dengan karyawan kain mori,Syahir pada 10 mei 2011). Tujuan pasar kain ini adalah daerah Tuban Jawa Timur.
Bisnis yang dilakukan bersama antara warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi berjalan lancar. Sebagian bersar warga pengusaha di Mlangi melakukan bisnis kerja sama seperti ini. Mereka tidak mempermasalahkan perbedaan ormas.

Adapun bentuk-bentuk konflik yang terjadi penulis mendapatkan data beberapa kasus sebagai berikut;
a. Konflik takmir
Sekitar tahun 1980 dalam forum takmir Masjid Jami’ Mlangi mulai terjadi semacam persetruan antar takmir. Perbedaan pendapat dalam masalah bilangan sholat tarwih menjadikan pergolakan dan perkelahian di areal masjid. Melihat kondisi ini, para kyai sepuh memberikan solusi berupa pendirian masjid ledok sebagai tempat bagi jamaah tarwih 8 rokaat. Peletakan batu pertama pembangunan masjid itu dilakukan oleh Kyai Masduqi .
b. Penentuan Hari Raya
Pada tahun 1987 antara warga NU dan Muhammadiyah terjadi perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri. Takmir Masjid Jami’ Mlangi yang pada tahun ini afiliasi ormas Islamnya jelas NU berpatokan dengan hisab . Berbeda dengan Masjid Ledok yang afiliasinya Muhammadiyah, berpatokan dengan rukyat pada saat itu. Perbedaan ini memicu konflik antar warga, akan tetapi tidak sampai pada adu fisik.
c. Tanah wakaf
Setelah mempunyai cukup anggota perserikatan sekitar tahun 1985, tersebar isu bahwa Muhammadiyah di Mlangi berencana untuk mendirikan kantor Cabang Muhammadiyah, tepatnya di sebidang tanah depan Masjid Jami’ Mlangi. Kemunculan isu tersebut memicu sikap warga NU yang merupakan bentuk ungkapan menolak dengan dibangunya kantor Muhammadiyah. Tanah tersebut sampai sekarang terbengkelai.
d. Jum’atan Masjid Ledok
Berpisahnya jamaah tarwih di Masjid Jami’ Mlangi menumbuhkan sikap-sikap fanatik golongan. Khutbah jum’at yang dilakukan di Masjid Ledok beberapa kali pada tahun 1987 dan tahun-tahun berikutnya menyuarakan pendapat-pendapat yang dapat menyinggung warga NU. Dari kejadian inilah bentrok antar pemuda antar Ledok dan Mlangi mudah memanas dan acap kali menimbulkan aksi pelemparan batu .
e. Pemilu 1999
Pada Pemilu 1999 terjadi konflik antar warga NU dan Muhammadiyah. Konflik ini dapat dikatakan bersumber pada masalah perbedaan partai politik . Warga NU mayoritas mendukung PKB, sedangkan Muhammadiyah mendukung PAN.

B. Sebab-sebab integrasi sosial dan konflik warga NU dan Muhammadiyah
Setelah melakukan pengamatan, mengadakan wawancara dan pencarian data pendukung, penulis mendapatkan temuan beberapa sebab terrjadinya integrasi yang terjadi antara warga NU dan Muhammadiyah sebagai berikut;
1. Sebab integrasi dalam hal Solat di majid Al-Awwab
• Kedekatan warga NU dengan masjid itu
• Adanya kekerabatan antar pengikut dua ormas itu.
2. Sebab integrasi dalam hal Acara Sripah Kematian
• Berupa human interes
• Kegiatan berupa social yang tidak mengangkat masalah faham, walaupun men gunakan symbol-simbol tradisi yang menengarahi tradisi NU.
3. Acara Maulud di masjid Awwab
• Bingkai budaya dan tradisi yang sudah mengakar akan mudah sebagai media persatuan.
• Kegiatan ini dapat diartikan sebagai kegiatan tandingan dengan kegiatan serupa di Masjid Jami’ Mlangi
4. dff

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah mengadakan analisis terhadap masalah yang penulis teliti, dapat ditarik kesimpulan secara umum mengenai integrasi sosial antara ummat Islam warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil analisis tentang integrasi, pada umumnya relasi yang terjadi termasuk Integrasi sosial Akomodasi. Yaitu pada kegiatn acara yang bersifat umum seperti pernikahan dan kematian.
2. Berdasarkan analisis kebutuhan (weber), antara warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi memang ternyata saling membutuhkan terutama dalam hal ekonomi, pendidikan dan sosial.
3. Tidak terjadinya konflik antar kelompok islam khususnya Muhammadiyah dan NU di Mlangi adalah lebih karena globalisasi.

B. Saran
Berdasarkan hasil analisis masalah dan kesimpulan bahwa antara warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi ternyata saling membutuhkan terutama dalam hal ekonomi, pendidikan dan sosial, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai masukan dalam melakukan kegiatan bersama antar warga NU dan Muhammadiyah , sebagai berikut:
1. Memaksimalkan kerjasama dibidang Ekonomi. Apabila bisnis antara warga NU dan Muhammadiyah berjalan lancar, maka kemungkinan konflik antara keduanya kecil. Hal ini akan memperkuat Integrasi.
2. Meningkatkan faktor-faktor lain selain dibidang Ekonomi, yaitu faktor keta’miran masjid dengan cara membagi jatah imam rowatib dan khutbah di masjid Al-Awwab, faktor kekerabatan dengan mempertalikan warga NU dan Muhammadiyah untuk dinikahkan. Kedua faktor ini sangat signifikan untuk memperkuat integrasi antara warga NU dan Muhammadiyah di Mlangi.
3. Terus-menerus melakukan kegiatan bersama di tengah masayarakat dengan menentukan pendekatan yang tepat sesuai dengan kondisi dan tingkat kecerdasan kelompok sasaran sehingga akan meningkatkan pemahaman tentang wawasan organisasi dan kehadirannya di tengah-tengah mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Fedyani Saifudin, Konflik dan Integrasi, Jakarta: CV. Rajawali, 1986.
Ishomudin, Sosiologi Perspektif Islam, Malang: UMM Press, 2005.
Jabal Tarik Ibrahim, Sosiologi Pedesaan, Malang: UMM Press, 2002.
Lucia Ratih Kusmadewi, Relasi Sosial antar Kelompok Agama di Indonesia, FISIP UI: Bahan Ajar Mata Kuliah Sistem Sosial Indonesia, Semester Genap 2009/2010.
Nawari Ismail, Interaksi Sosial, KPI UMY: Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Dakwah, Semester Genap 2009/2010.
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: CV. Rajawali, 1982.
Zuly Qodir, “Mempersempit Jarak Muhammdiyah dan NU”, Jakarta: Artikel Kompas, 6 Juli 2001.
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA
Ke tokoh masyarakat Umum
1. Kapan dan siapa tokoh islam yang pertama mengembangkan islam di Mlangi?
2. Bagaimana Sejarah dan perkembanganya?
Ke tokoh dan warga Muhammadiyah
1. Menurut anda, dahulu mana antara muhammadiyah dan NU di Mlangi?
2. Pada tahun berapa kira-kira muhammadiyah mulai bergerak di mlangi dan bagaimana perkembanganya?
3. Pernah terjadi konflik antara muhammadiyah dan NU. Tapi akhir akhir ini terlihat warga Muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan bersama. Pernahkah bersosialisasi/bekerja sama dengan warga NU?
4. Pada Acara/hal apa saja antara orang Muhammadiyah dan NU dapat berjalan bersama?
5. Menurut anda, Apa sebabnya antara orang muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan tersebut secara bersama?
Ke tokoh dan warga NU
1. Menurut anda, dahulu mana antara muhammadiyah dan NU di Mlangi?
2. NU sulit dilihat, tapi kalau bisa disebutkan kira-kira pernah ada kantor cabang atau ranting NU di Mlangi. Bagaimana menurut anda kemunculan dan perkembangan NU di Mlangi?
3. Pernah terjadi konflik antara muhammadiyah dan NU. Tapi akhir akhir ini terlihat warga Muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan bersama. Pernahkah bersosialisasi/bekerja sama dengan warga Muhammadiyah?
4. Pada Acara/hal apa saja antara orang Muhammadiyah dan NU dapat berjalan bersama?
5. Menurut anda, Apa sebabnya antara orang muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan tersebut secara bersama?

Ke wali murid dan Guru SD Muhammadiyah
1. Apa alasan menyekolahkan anak anda di SD Muhammadiyah tidak di Negeri atau MI yang ada di Mlangi?
2. Pak/Bu Guru, kira-kira apa sebab orang NU menyekolahkan di sini?
Ke Murid dan Alumni SD Muhammadiyah
1. Bagaimana keakraban anda dengan teman sekolah anda yang Muhammadiyah?
Ke Intelek di Mlangi
1. Teori apa yang mungkin dapat digunakan untuk menganalisa depolarisasi NU dan Muhammadiyah yang sekarang terlihat terjadi di Mlangi?
2. Menurut anda, Apa sebabnya antara orang muhammadiyah dan NU dapat melakukan kegiatan bersama dalam ritual/acara tertentu?
Ke dukuh Mlangi dan Sawahan
1. Berapa jumlah peduduk, terus yang laki-lakinya dan perempuanya berapa?
2. Kira-kira kalau diprosentase, berapa PNS, wiraswasta, buruh?
3. Siapakah tokoh-tokoh organisasi/kelompok islam khususnya NU-Muhammadiyah?
4. Sebelum masa jabatan anda pernah terjadi konflik di Mlangi, misalnya tawuran mlangi-ledok, tawuran saat peletakan batu pertama tanah wakaf Muhammadiyah, tawuran masalah bilangan solat tarwih di Masjid Pathok Nagari. Adakah peristiwa konflik selain itu dan apakah ada proses damai dan hukum?
5. Selama masa jabatan anda pernahkah terjadi konflik di Mlangi, kalau ada berupa apa?
6. Apa saja kegiatan yang melibatkan kedua ormas dan terjadual secara rutin, atau barangkali pernah ada izin-izin kedukuh dari ormas islam dalam hal kegiatan?

PENGERTIAN, TEMPAT, FUNGSI DAN ALIRAN-ALIRAN SERTA METODE PENELITIAN DALAM SOSIOLOGI AGAMA

PENGERTIAN, TEMPAT, FUNGSI DAN ALIRAN-ALIRAN SERTA METODE PENELITIAN DALAM SOSIOLOGI AGAMA

February 13, 2010 by Rofiah

Pengertian Sosiologi Agama
Jika berbicara mengenai definisi sosiologi agama, maka ada beberapa hal lain yang tidak lupa kami singgung dalam pembahasan ini, di antaranya adalah mengenai pengertian sosiologi, agama, prinsip sosiologi, dan objek kajian sosiologi agama.
Sosiologi secara umum adalah ilmu pengetauan yang mempelajari masyarakat secara empiris untuk mencapai hokum kemasyarakatan yang seumum-umumnya.
Sosiologi juga dapat diartikan sebagai ilmu tentang perilaku social ditinjau dari kecenderungan individu dengan individu lain, dengan memperhatikan symbol-simbol interaksi.
Agama dalam arti sempit ialah seperangkat kepercayaan, dogma, pereturan etika, praktek penyembahan, amal ibadah, terhadap tuhan atau dewa-dewa tertentu. Dalam arti luas, agama adalah suatu kepercayaan atau seperangkat nilai yang minmbulkan ketaatan pada seseorang atau kelompok tertentu kepada sesuatu yang mereka kagumi, cita-citakan dan hargai.
Ada beberapa definisi sosiologi agama yang dapat kit ketahui, di antaranya adalah:
– Sosiologi agama adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara berbagai kesatuan masyarakat, perbedaan atau masyarakat secara utuh dengan berbagai system agama, tingkat dan jenis spesialisasi berbagai peranan agama dalam berbagai masyarakat dan system keagamaan yang berbeda.
– Sosiologi agama adalah studi tentang fenomena social, dan memandang agama sebagai fenomena social. Sosiologi agama selalu berusaha untuk menemukan pinsip-prinsip umum mengenai hubungan agama dengan masyarakat.
– Sosiologi agama aladah suatu cabang sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti, demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya.
Sosiologi agama menjadi disiplin ilmu tersendiri sejak munculnya karya Weber dan Durkheim. Jika tugas dari sosiologi umum adalah untuk mencapai hokum kemasyarakatan yang seluas-luasnya, maka tugas dari sosiologi agama adalah untuk mencapai keterangan-keterangan ilmiah tentang masyarakat agama khususnya.
Masyarakat agama tidak lain ialah suatu persekutuan hidup (baik dalam lingkup sempit maupun luas) yang unsure konstitutif utamanya adalah agama atau nilai-nilai keagamaan.
Jika teologi mempelajar agama dan masyarakat agama dari segi “supra-natural”, maka sosiologi agama mempelajarinya dari sudut empiris sosiologis. Dengan kata lain, yang akan dicari dalam fenomena agama itu adalah dimensi sosiologisnya. Sampai seberapa jauh agama dan nilai keagamaan memainkan peranan dan berpengaruh atas eksistensi dan operasi masyarakat. Lebih konkrit lagi, misalnya, seberapa jauh unsure kepercayaan mempengaruhi pembentukan kepribadian pemeluk-pemeluknya; ikut mengambil bagian dalam menciptakan jenis-jenis kebudayaan; mewarnai dasar-dasar haluan Negara; memainkan peranan dalam munculnya strata (lapisan) social; seberapa jauh agama ikut mempengaruhi proses social, perubahan social, fanatisme dan lain sebagainya.
Menurut Keith A. Roberts, sasaran (objek) kajian sosiologi agama adalah memfokuskan kajian paada 1). Kelompok-kelompok dan lemabaga keagamaan, yang meliputi pembentukannya, kegiatan demi kelangsungan hidupnya, pemeliharaannya dan pembaharuannya 2). Perilaku individu dalam kelompok-kelompok tersebut atau proses social yang mempengaruhi status keagamaan dan perilaku ritual 3). Konflik antar kelompok, misalnya Katolik lawan Protestan, Kristen dengan Islam dan sebagainya. Bagi sosiolog, kepercayaan hanyalah salah satu bagian kecil dari aspek agama yang menjadi perhatiannya.
Bila dikatakan bahwa yang menjadi sasaran sosiologi agama adalah masyarakat agama, sesungguhnya yang dimaksud bukanlah agama sebagai sutu system (dogma dan moral), tetapi agama sebagai fenomena social, sebagai fakta social yang dapat dilaksanakan dan dialami oleh banyak orang. Ilmu ini hanya mengkonstatasi akibat empiris kebenaran-kebenaran supra-empiris, yaitu yang disebut dengan istilah masyarakat agama, dan itulah sasaran langsung dari sosiologi agama.
Prinsip sosiologi ditandai dengan 2 prinsip dasar, yaitu: percaya kepada data empiric dan objektivitas. Sosiolog hanya berurusan dengan fakta-fakta yang dapat diukur, diobservasi dan diuji. Dalam prinsip objektivitas, bukan berarti bahwa sosiolog mengklaim bahwa tidak bias salah, atau bias mencapai kebenaran umum, sebab tidak ada satu disiplin ilmu pun yang berhak menyatakan dirinya maha tahu atau paling benar. Objektivitas berarti sosiolog berusaha mencegah kepercayaan agama pribadi masuk ke dalam bidang studinya. Ilmuan social harus sepenuh hati untuk mencari kebenaran. Sebagai warga Negara sosiolog mempunyai kepentingan dan preferensi nasional namun mereka harus terbuka terhadap data dan menghindarkan diri dari prejudgment (mengambil keputusan sebelum membuktikan kebenarannya) terhadap suatu kelompok atau proses keagamaan tertentu. Seorang sosiolog boleh tidak setuju dengan pandangan suatu kelompok yang sedang diteliti, tetapi harus berusaha untuk mengerti kelompok itu atas dasar penelitiannya menghindarkan bias dalam interpretasi proses-proses kelompok itu.
Talcott Parsons berpendapat, jika seorang sosiolog agama akan melakukan suatu analisis tentang sosiologi terhadap agama, maka ia harus memahami:
1. System fisiologis organisme
2. Sistm kepribadian individu
3. Sistem social kelompok
4. Sistem budaya
Tempat Sosiologi Agama
Tempat sosiologi agama sudah diterangkan dalam definisi sosiologi agama itu sendiri. Ia merupakan cabang dan juga vertical dari sosiologi umum. Maka, sosiologi agama merupakan ilmu yang menduduki tempat yang profan. Ia bukanlah ilmu yang sacral; ilmu yang dilakukan dan dibina oleh sarjana ilmu social, baik orangnya suci maupun tidak suci. Karena maksud ilmu tersebut bukanlah untuk membuktikan kebenaran (objektivitas) ajaran agama, melainkan untuk mencari keterangan teknis ilmiah mengenai hal ikhwal masyarakat agama.
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dikatakan bahwa sosiologi agama mempunyai kedudukan yang sama tingginya dengan rumpun ilmu social yang lain,dan ilmu ini lebih merupakan ilmu praktis (terpakai) daripada ilmu teoritis murni. Ia diciptakan untuk memecahkan masalah-masalah sosio-religius yang timbul waktu itu di Eropa akibat kurangnya pengetahuan tentang segi-segi sosiologis kehidupan beragama.
Fungsi Sosiologi Agama
Sosiologi agama memberikan kontribusi yang tidak kecil lagi bagi instansi keagamaan. Sebagai sosiologi positif ia telah membuktikan daya gunanya dalam hal mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam masyarakat serta menunjukkan cara-cara ilmiah untuk perbaikan dan pengembangan masyarakat, demikian juga sosiologi agama bermaksud membantu para pemimpin agama dalam mengatasi masalah-masalah sosio-religius yang tidak kalah beratnya dengan masalah-masalah social nonkeagamaan, memberikan pengetahuan tentang pola-pola interkasi social keberagamaan yang terjadi dalam masyarakat, membantu kita untuk mengontrol atau mengendalikan setiap tindakan dan perilaku keberagamaan kita dalam kehidupan bermasyarakat, dengan bantuan sosiologi agama, kita akan semakin memahami nilai-nilai, norma, tradisi dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat lain serta memahami perbedaan yang ada. Tanpa hal itu, mejadi alas an untuk timbulnya konflik di antara umat beragama, membuat kita lebih tanggap, kritis dan rasional untuk mengahadapi gejala-gejala social keberagamaan masyarakat, serta kita dapat mengambil tindakan yang tepat dan akurat terhadap setiap situasi social yang kita hadapi.
Menurut pandangan Durkheim, fungsi sosiologi agama adalah mendukung dan melestraikan masyarakat yang sudah ada. Djamari berpendapat bahwa ada 2 implikasi sosiologi agama bagi agama, yaitu:
1. Menambah pengertian tentang hakikat fenomena agama di beragai kelompok masyarakat, maupun pada tingkat individu;
2. Suatu kritik sosiologis tentang peran agama dalam mayarakat dapat membantu kita untuk menentukan masalah teologi yang mana yang paling berguna bagi masyarakat, baik dalam arti sekuler maupun religious.
Dengan cara ini, sosiologi agama memberikan sumbangan kepada dialog kegamaan di dalam masyarakat. Semua pelopor sosiologi Eropa, seperti Karl Marx, Weber, Durkheim, serta Simmel berpendapat bahwa untuk mengerti masyarakat modern, seseorang harus mengerti peran penting agama dalam masyarakat.

Metode Penelitian Dalam Sosiologi Agama
Sebagaimana penelaahan proses social lainnya, kajian sosiologi agama menggunakan metode ilmiah. Pengumpulan data dan metode yang digunakan antara lain dengan data sejarah, analisis komparatif lintas budaya, eksperimen yang terkontrol, observasi, survai samlpling dan content analisis.
a. Analisis Sejarah
Objek studi sosiologi adalah menerangkan realitas masa kini, yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia dan yang mempengaruhi gagasan serta perilaku manusia. Untuk mengerti persoalan yang dihadapi manusia saat ini, kita harus mngetahui sejarah masa silam. Meskipun terkadang metode ini tidak selalu dapat menjawab persoalan yang dihadapi karena agama tidak sama nilai maupun kepentingannya untuk setiap tempat dan waktu.
Sejarah dalam hal ini hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Karna itu, setiap kita harus menjelaskan fakta manusiawi yang berhubungan dengan sesuatu waktu, apakah itu masalah kepercayaan, hokum, moral, system ekonomi, teknologi, kita perlu melihat sejarah kejadian dan perkembangan eksistensinya dimulai dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang lebih kompleks yang tampak sekarang.
Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter agama dengan menelusuri sumber di masa lampau sebelim tercampuri tradisi lain. Pendekatan tersebut didasarkan kepada personal historis dan perkembangan kebudayaan umat manusia. Pendekatan yang didasarkan atas sejarah personal, berusaha menelusuri awal perkemabangan tokoh keagamaan secara individual, untuk menemukan sumber-sumber dan jejak perkembangan perilaku keagamaan sebagai hasil dialog dengan dunia sekitarnya.
Beberapa sosiolog menggunakan data historis untuk mencari pola-pola interaksi antara agama dan masyarakat. Pendekatan ini telah membimbing ke arah pengembangan teori tentang evolusi agama dan perkembangan tipologi kelompok-kelompok keagamaan. Analisis hisoris telah digunakan oleh Talcott Parson dan Bellah dalam rangka menjelaskan evolusi agama, Berger dalam uraian tentang memudarnya agama dalam masyarakat modern, Max Weber ketika menerangkan tentang sumbangan teologi Protestan dalam melahirkan kapitalisme dan sebagainya.
b. Analisis Lintas Budaya
Dengan membandingkan pola-pola sosioreligius di beberapa daerah kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran mengenai korelasi unsure budaya tertentu atau kondisi sosiokultural secara umum.
Talmon menggunakan data lintas budaya untuk menelaah pola-pola di antara gerakan millenarian, yaitu gerakan keagamaan yang menganggap akan adanya era baru di masa yang akan dating setelah jatuhnya penguasa yang lama. Salah satu kesulitan pelaksanaan analisis sosiologi agama melalui analisis lintas budaya yaitu sangat bervariasinya konsep agama pada daerah kebudayaan yang berlainan, juga sulit dalam mendapatkan ketepatan yang disyaratkan oleh para saintis.
c. Eksperimen
Metode eksperimen sulit dilaksanakan dalam bidang sosiologi agama. Namun, di dalam beberapa hal masih dapat dilalukan, misalnya untuk mengeevaluasi hasil pebedaan belajar dari beberapa model pendidikan agama.

d. Observasi Partisipatif
Dengan partisipasi dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks religious. Hal itu dapat dilakukan dengan terus terang, artinya orang yang dobservasi itu boleh mengetahui bahwa mereka sedang dipelajari. Keuntungan dari metode observasi partisipatif adalah:
1. Memungkinkan pengamatan interaksi simbolik antara anggota kelompok secara mendalam. Interaksi simbolik maksudnya adalah suatu perspektif teoritik sosiologi dan psikologi social. Dengan perspektif ini, indivudu tidak dilihat reponnya yang lahir, namun dipahami makna dari perilaku itu. Sering makna simbolik dan tata laku dielajari sejak dini secara menyeluruh dengan jalan individu berperan serta di dalam kelompok. Pakainan, pandangan mata, jarak antara orang yang sedang bicara dan gerak merupakan contoh fenomena yang sering secara simbolik sangat signifikan dalam rangka memperoleh pengertian suatu kebudayaan. Tipe-tipe anggota yang menjadi objek dalam interaksi simbolik itu digunakan sebagai dasar analisis;
2. Observasi peran serta berguna jika peneliti berpendapat bahwa ada kesenjangan antara apa yang dikatan dengan perilaku orang-orang yang sedang diteliti. Misalnya, responden menyatakan bahwa ia sangat komitmen dengan ajaran ortodoksi agama, namun perilakunya sehari-hari tidak relevan, perlu dipertanyakan;
3. Observasi peranserta memberikan kesempatan untuk mendapatkan data secara otentik, terutama mengenai perilaku atau karakteristik yag sifatnya pribadi. Dengan observasi peran serta dapat terungkap kualitas perilaku yang lebih dalam, yang mungkin tidak tercakup oleh kuesioner maupun interview singkat. Karena itu, observasi seperti ini sering dihubungkan dengan metode riset kualitatif.
Kelemahan dari metode ini antara lain adalah:
1. Mungkin data terbatas pada kemampuan observer dan apa yang dianggap benar dalam suatu kasus, belum tentu benar pada kasus lain;
2. Studi kasus member peluang bagi peneliti untuk mengumpulkan data secara mendalam, tetapi sering kurang meluas, terikat oleh sesuau aspek tertentu yang menjadi perhatian peneliti;
3. Diperlukan sejumlah besar kasus untuk menggenaralisasikan pola yang diidentifikasikan;
4. Data yang dilaporkan sering terikat oleh system penyaringan peneliti sendiri. Tidak semua observer tertarik pada pola yang sama. Apa yang dipilih dan dicatat oleh observer mungkin tidak lengkap.
e. Riset Survei dan Analisis Statistik
Peneliti menyusun kuesioner, melakukan interview dengan sampel dari sustu populasi. Sampel dan populasi bias berupa oganisasi keagamaan atau penduduk sustu kota atau desa. Responden misalnya ditanya tentang:
1. Afiliasi keagamaannya;
2. Frekuensi kehadiran ditempat-tempat peribadatan;
3. Frekuensi keteraturan sembahyangnya;
4. Pengetahuan tentang ajaran agama atau doktrin yang dikembangkan oleh sesuatu organisasi keagamaan;
5. Kepercayaan kepada sesuatu konsep keagamaan tertentu seperti tentang hidup setelah mati, eksistensi tuhan, tentang akan kembalinya nabi Isa (yesus) dan indicator religiousitas lainnya.
Prosedur ini sangat berguna untuk memperlihatkan korelasi dari karakteristik keagamaan tertentu dengan sesuatu sikap social, atau atribut religious tertentu. Kalau metode historis dan observasi memberi peluang kepada interpretasi data subjektif, maka data survey untuk mengidentifikasi sesuatu lebih cermat dari korelasi religious dengan sikap dan karakteristik social tertentu. Misalnya korelasi antara:
1. Fundamentalisme dengan anti semitisme
2. Frekuensi menghadiri acara kegerejaan atau pengajian dengan tradisionalisme peran wanita dan pria.
3. Afiliasi denominasi atau organisasi keagamaan tertentu dengan mobilitas social dan tingkat pendapatan.
Dengan kata lain, riset survey memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengendalikan variable dan identifikasi korelasi. Adapun kesukarannya antara lain adalah:
1. Analisis statistic tentang korelasi karakteristik keagamaan dengan atribut social belum tentu menunjukkan factor penyebab dari atribut tersebut, yang berarti interpretasi makna suatu event kadang-kadang hilang.
2. Data tidak menunjukkan proses yang dilalui oleh sesuatu subyek hanya bersifat statis atau non hirostik, tidak menunjukkan fase-fase perkembangan sebab akibat.
3. Kadang-kadang peneliti beranggapan jawaban yang negative terhadap sesuatu pertanyaan, diartikan”kurang religious atau kurang orthodox seseorang responden.
4. Pertanyaan-pertanyaan sering tidak memberikan peluang kepada orang untuk mengemukakan modes alternatif religiuisitas yang lainnya.
5. Apa yang dikatakan orang dikatakan orang tidak selaras dengan perilakunya.
6. Informasi survey tidak melibatkan kepada studi yang langsung mengenai pengalaman keagamaan itu sendiri, hanya menfokuskan pada laporan pengalaman keagamaan.
7. Informasi yang dikumpulkan melalui daftar pertanyaan “lebih lunak” dari pada hakikat informasi yang sebenarnya.
f. Analisis Isi
Peneliti mencoba mencari keterangan dari teman-tenman religious; baik berpa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin, deklarasi teks dan lain-lain. Misalnya:
1. Sikap suatu kelompok keagamaan dapat dianalisisdari isi khotbah yang diterbitkan oleh kelompok tersebut;
2. Pandangan hidup dari organisasi atau aliran agama dapat diidentifikasi dari tema atau isi lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di gereja, atau lagu qasidahan yang dilantunkan oleh senimannya;
3. Keterlibatan religious seorang Amerika misalnya, dianalisis dari buku-buku agama popular yang terbit di Negara tersebut;
4. Tentang eivil religion (sejenis agama bangsa) dipelajari melalui analisis isi referensi relegius, misalnya dalam Declaration of Independence, pidato pengukuhan presiden dan statement lain yang erat hubungannya dengan tujuan bangsa sesuatu Negara.
Content analisis bermanfaat, namun salah satu kesulitannyaadalah asumsinya bahwa asumsi tertulis dianggap sebagai gambaran tepat dari pandangan rakyat. Padahal pidato pengukuhan presiden misalnya, belum tentu mencerminkan sikap dan nilai yang demiliki dan disetujui oleh suatu penduduk suatu Negara tertentu. Sangat lakunya buku-buku agama belum tentu menggambarkan tingkat religiusitas penduduk.
2.5 ALIRAN-ALIRAN DALAM SOSIOLOGI AGAMA
Sosiologi agama bukan merupakan satu kesatuan yang seragam. Adapun perbedaan aliran dalam sosiologi agama dengan cirri-ciri tersendiri disebabkan oleh:
1. Perbedaan visi atas realitias masyarakat, khususnya mengenai kekuatan tertentu yang dianggap memerankan peranan dominan atas kehidupan masyarakat;
2. Akibat dari perbedaan visi tesebut, digunakan pula metode dan pendekatan yang berbeda.
A. Aliran Klasik
Aliran ini muncul pada pertengahan abad ke-19 dan belahan pertama dari abad ke-20 yang ditopang oleh sejumlah sarjana (kecuali Durkheinm dan Weber). Bagi mereka kedudukan sosiologi agama sangat dekat dengan sejarah dan filsafat dan merupakan suatu refleksi dan analisis sistematis terhadap masyarakat, kebudayaan dan agama.
Tujuan aliran ini adalah hendak mengungkap pola-pola social dasar dan peranannya dalam mencipatakan masyarakat. Instansi pemerintah dan kalangan agama yang berkonsultasi dengan pendukung aliran ini, akan mendapat jawaban panjang tentang sejarah dari masyarakat agama yang bersangkutan dan akan ditunjukkan kekuatan-kekuatan (social) yang mendorong berdirinya unsure-unsur budaya yang menopang kelangsungan hidup, disbanding dengan tuntutan-tuntutan modern dalam situasi yang sudah berubah, lantas mempersilakan instansi yang bersangkutan untuk mengadakan perubahan yang sesuai.
B. Aliran Positivisme
Aliran ini mengikuti sosiologi yang empiris-positivistis dan menyetarakan masyarakat agama dengan benda-benda alamiah. Ia menyibukkan diri dengan kuantifikasi dari dimensi masyarakat yang kualitatif dengan metode pengukuran yang eksak dan menarik kesimpulan yang dibuktikan dengan fakta-fakta. Dengan kata lain, kesimpulan yang sifatnya netral tanpa diwarnai pertimbangan teologis atau filosofis, dilepas dari konteks sejarah perkembangan yang dialami masyarakat itu dalam waktu yang lampau. Cara penganalisisan demikian itu dipegang ketat dan konsekuen demi tercapainya hasil yang diinginkan, yaitu hasil yang seobjektif mungkin.
Instansi pemerintah atau keagamaan yang berkonsultasi dengan pendukung aliran ini untuk mengadakan penelitian mengenai lembaganya atau organisasinya, akan mendapat keterangan banyak tentang struktur organisasinya, mengenai kualitas pemimpinnya dan reaksi (baik positif maupun negative) dari naggota-anggota lemaganya. Instansi yang berkonsultasi akan diyakinkan mengenai pentingnya keterangan (ilmiah) itu, tetapi kepadanya diserahkan sepenuhnya untuk menentukan sendiri bagaimana ia akan menggunakan informasi itu.
C. Aliran Teori Konflik (Teori Kritis)
Menurut ahli teori ini, masyarakat yang baik ialah masyarakat yang hidup dalam situasi konfliktual. Masyarakat yang hidup dalam keseimbangan (equilibrium) dianggap sebagai masyarakat yang tertidur dan berhenti dalam peruses kemajuannya. Karena konflik social dianggapnya sebagai kekuatan social utama dari perkembangan masyarakat yang ingin maju kepada tahap-tahap yang lebih sempurna. Gagasan ini dicetuskan oleh Hegel, Karl Marx dan Weber. Sebagai sarana mutlak (yang diberikan oleh alam sendiri) untuk memajukan masyarakat manusia.
Aliran ini tidak sepakat dengan para ahli aliran fungsionalisme yang melihat keseimbangan soosial masyarakat sebagai bentuk hidup yang ideal, karena dianggap kurang menyadari atau membiarkan adanya kekurangan dan ketidakadilan yang dibungkam oleh struktur kekuasaan yang bertahan. Aliran ini juga tidak menyetujui metode kuantitatif dari aliran positivism, karena dianggap sebagai suatu hal yang mengasingkan orang dari masyarakat.
Aliran ini tidak dapat memusatkan perhatiannya pada problem mikro saja, karena pengkajian masalah yang kecil akan mengundang persoalan yang lebih besar. Dan hal yang tidak boleh dilupakan dalam analisisnya adalah usaha menempatkan situasi yang dhadapi dalam kurun sejarah perkembangan yang telah dilewati yang tidak dapat dilepaskan dari masalah baru yang hendak dicari pemecahannya. Aliran sosiologi ini mempunyai persamaan dengan aliran sosiologi kalsik yang selalu tertarik pada problem-problem makro, dan masalah-masalah mikro hanya diperhatikan sejauh itu dapat memberikan keterangan bagi pemecahan masalah yang besar.
Jika salah satu instansi pemerintah dan keagamaan berkonsultasi dengan pendukung aliran ini, maka mereka akan mendapat seperangkat penjelasan tentang unsure-unsur pertentangan yang ada dalam tubuh organisasinya, dan yang berhasil digali dari keasadaran kelompok-kelompok yang saling bertentangan, lalu diberikan solusi yang dipandang tepat untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.
D. Airan Fungsionalisme
Para pendukung aliran ini bertolak belakang dari pendirian dasar bahwa masyarakat itu suatu system perimbangan, di mana setiap kelompok memberikan sumbangannya yang khas melalui peranannya masing-masing yang telah ditentukan demi lestarinya suatu masyarakat. Menurut mereka, timbulnya suatu bentrokan dalam organisasi dipandang berfungasi korektif untuk membenahi kesalahan-kesalahan yang telah terjadi, yang tidak berjalan baik. Penelitian yang dilakukan sebegaian besar bertujuan untuk mendapatkan keterangan-keterangan tentang apakah tugas-tugas yang dilaksanakan oleh pimpinan adan anggotanya berjalan dengan baik.
Aliran ini menerima prinsip kerja yang memperkecil penelitiannya pada suatu problem mikro, yang dianggap berguna sebagai sampel untuk mengetahui kedaan keseluruhannya sebagai system keseimbangan. Apabilapendukung aliran ini diminta untuk melakukan sebuah penelitian terhadap suatu masyarakat agama, maka ada 2 hal pokok yang menjadi perhatian utamanya: 1). Bagian mana dari lembaga tersebut yang berfungsi baik 2). Bagian mana dari lembaga tersebut yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Penelitian yang dilakukan oleh aliran fungsionalisme telah melahirkan kesimpulan-kesimpulanyang sangat berguna bagi instansi-instansi keagamaan/ pemerintah. Menurut aliran ini, baik masyarakat religious maupun masyarakat profan, keduanya mengembang fungsi bagi umat manusia, dan mempunyai kewajiban moril untuk menyadari sifat saling ketergantungannya.
Teori ini melihat agama sebagai suatu bentuk kebudayaan yang istimewa, yang pengaruhnya meresapi tingkah laku manusia penganutnya, baik lahiriyah maupun bathiniyah, sehingga system sosialnya untuk sebagian besar terdiri dari kaidah-kaidah yang dibentuk oleh agama.

http://orthevie.wordpress.com/2010/02/13/pengertian-tempat-fungsi-dan-aliran-aliran-serta-metode-penelitian-dalam-sosiologi-agama/

Sosiologi Agama Durkheim

Sosiologi Agama Durkheim
oleh Mohamad Zaki Hussein

A. Definisi Agama Menurut Durkheim

Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu “sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudusÉ kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.” Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu “sifat kudus” dari agama dan “praktek-praktek ritual” dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan agama lagi, ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya, yang melibatkan dua ciri tadi. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya, dan memiliki sifat yang historis.
B. Sifat Kudus Dari Agama

Sifat kudus yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama bukanlah dalam artian yang teologis, melainkan sosiologis. Sifat kudus itu dapat diartikan bahwa sesuatu yang “kudus” itu “dikelilingi oleh ketentuan-ketentuan tata cara keagamaan dan larangan-larangan, yang memaksakan pemisahan radikal dari yang duniawi.” Sifat kudus ini dibayangkan sebagai suatu kesatuan yang berada di atas segala-galanya. Durkheim menyambungkan lahirnya pengkudusan ini dengan perkembangan masyarakat, dan hal ini akan dibahas nanti.

Di dalam totemisme, ada tiga obyek yang dianggap kudus, yaitu totem, lambang totem dan para anggota suku itu sendiri. Pada totemisme Australia, benda-benda yang berada di dalam alam semesta dianggap sebagai bagian dari kelompok totem tertentu, sehingga memiliki tempat tertentu di dalam organisasi masyarakat. Karena itu semua benda di dalam totemisme Australia memiliki sifat yang kudus. Pada totemisme Australia ini tidak ada pemisahan yang jelas antara obyek-obyek totem dengan kekuatan kudusnya. Tetapi di Amerika Utara dan Melanesia, kekuatan kudus itu jelas terlihat berbeda dari obyek-obyek totemnya, dan disebut sebagai mana.

Dunia modern dengan moralitas rasionalnya juga tidak menghilangkan sifat kudus daripada moralitasnya sendiri. Ciri khas yang sama, yaitu kekudusan, tetap terdapat pada moralitas rasional. Ini terlihat dari rasa hormat dan perasaan tidak bisa diganggu-gugat yang diberikan oleh masyarakat kepada moralitas rasional tersebut. Sebuah aturan moral hanya bisa hidup apabila ia memiliki sifa “kudus” seperti di atas, sehingga setiap upaya untuk menghilangkan sifat “kudus” dari moralitas akan menjurus kepada penolakan dari setiap bentuk moral. Dengen demikian, “kekudusan”-pun merupakan prasyarat bagi suatu aturan moral untuk dapat hidup di masyarakat. Ini menunjukkan bahwa “kekudusan” suatu obyek itu tidak tergantung dari sifat-sifat obyek itu an sich tetapi tergantung dari pemberian sifat “kudus” itu oleh masyarakatnya.
C. Ritual Agama

Selain daripada melibatkan sifat “kudus”, suatu agama itu juga selalu melibatkan ritual tertentu. Praktek ritual ini ditentukan oleh suatu bentuk lembaga yang pasti. Ada dua jenis praktek ritual yang terjalin dengan sangat erat yaitu pertama, praktek ritual yang negatif, yang berwujud dalam bentuk pantangan-pantangan atau larangan-larangan dalam suatu upacara keagamaan, serta praktek ritual yang positif, yang berwujud dalam bentuk upacara-upacara keagamaan itu sendiri dan merupakan intinya.

Praktek-praktek ritual yang negatif itu memiliki fungsi untuk tetap membatasi antara yang kudus dan yang duniawi, dan pemisahan ini justru adalah dasar dari eksistensi “kekudusan” itu. Praktek ini menjamin agar kedua dunia, yaitu yang “kudus” dengan yang “profan” tidak saling mengganggu. Orang yang taat terhadap praktek negatif ini berarti telah menyucikan dan mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam lingkungan yang kudus. Contoh dari praktek negatif ini misalnya adalah dihentikannya semua pekerjaan ketika sedang berlangsung upacara keagamaan. Adapun praktek-praktek ritual yang positif, yang adalah upacara keagamaan itu sendiri, berupaya menyatukan diri dengan keimanan secara lebih khusyu, sehingga berfungsi untuk memperbaharui tanggung-jawab seseorang terhadap ideal-ideal keagamaan.
D. Hubungan Antara Agama Dengan Kondisi Masyarakat

Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang erat. Di sini perlu diketahui bahwa itu tidak mengimplikasikan pengertian bahwa “agama menciptakan masyarakat.” Tetapi hal itu mencerminkan bahwa agama adalah merupakan implikasi dari perkembangan masyarakat. Di dalam hal ini agama menurut Durkheim adalah sebuah fakta sosial yang penjelasannya memang harus diterangkan oleh fakta-fakta sosial lainnya.

Hal ini misalnya ditunjukkan oleh penjelasan Durkheim yang menyatakan bahwa konsep-konsep dan kategorisasi hierarkis terhadap konsep-konsep itu merupakan produk sosial. Menurut Durkheim totemisme mengimplikasikan adanya pengklasifikasian terhadap alam yang bersifat hierarkis. Obyek dari klasifikasi seperti “matahari”, “burung kakatua”, dll., itu memang timbul secara langsung dari pengamatan panca-indera, begitu pula dengan pemasukkan suatu obyek ke dalam bagian klasifikasi tertentu. Tetapi ide mengenai “klasifikasi” itu sendiri tidak merupakan hasil dari pengamatan panca-indera secara langsung. Menurut Durkheim ide tentang “klasifikasi yang hierarkis” muncul sebagai akibat dari adanya pembagian masyarakat menjadi suku-suku dan kelompok-kelompok analog.

Hal yang sama juga terjadi pada konsep “kudus”. Konsep “kudus” seperti yang sudah dibicarakan di atas tidak muncul karena sifat-sifat dari obyek yang dikuduskan itu, atau dengan kata lain sifat-sifat daripada obyek tersebut tidak mungkin bisa menimbulkan perasaan kekeramatan masyarakat terhadap obyek itu sendiri. Dengan demikian, walaupun di dalam buku Giddens tidak dijelaskan penjelasan Durkheim secara rinci mengenai asal-usul sosial dari konsep “kekudusan’, tetapi dapat kita lihat bahwa kesadaran akan yang kudus itu, beserta pemisahannya dengan dunia sehari-hari, menurut Durkheim dari pengatamannya terhadap totemisme, dilahirkan dari keadaan kolektif yang bergejolak. Upacara-upacara keagamaan, dengan demikian, memiliki suatu fungsi untuk tetap mereproduksi kesadaran ini dalam masyarakat. Di dalam suatu upacara, individu dibawa ke suatu alam yang baginya nampak berbeda dengan dunia sehari-hari. Di dalam totemisme juga, di mana totem pada saat yang sama merupakan lambang dari Tuhan dan masyarakat, maka Durkheim berpendapat bahwa sebenarnya totem itu, yang merupakan obyek kudus, melambangkan kelebihan daripada masyarakat dibandingkan dengan individu-individu.

Hubungan antara agama dengan masyarakat juga terlihat di dalam masalah ritual. Kesatuan masyarakat pada masyarakat tradisional itu sangat tergantung kepada conscience collective (hati nurani kolektif), dan agama nampak memainkan peran ini. Masyarakat menjadi “masyarakat” karena fakta bahwa para anggotanya taat kepada kepercayaan dan pendapat bersama. Ritual, yang terwujud dalam pengumpulan orang dalam upacara keagamaan, menekankan lagi kepercayaan mereka atas orde moral yang ada, di atas mana solidaritas mekanis itu bergantung. Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat, dan praktek ritual secara terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama, yang dengan begitu turut serta di dalam memainkan fungsi penguatan solidaritas.

Agama juga memiliki sifatnya yang historis. Menurut Durkheim totemisme adalah agama yang paling tua yang di kemudian hari menjadi sumber dari bentuk-bentuk agama lainnya. Seperti misalnya konsep kekuatan kekudusan pada totem itu jugalah yang di kemudian hari berkembang menjadi konsep dewa-dewa, dsb. Kemudian perubahan-perubahan sosial di masyarakat juga dapat merubah bentuk-bentuk gagasan di dalam sistem-sistem kepercayaan. Ini terlihat dalam transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, di mana diikuti perubahan dari “agama” ke moralitas rasional individual, yang memiliki ciri-ciri dan memainkan peran yang sama seperti agama.
E. Moralitas Individual Modern

Transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern –yang melibatkan pembagian kerja yang semakin kompleks– seperti yang telah disebutkan di atas melibatkan adanya perubahan otoritas moral dari agama ke moralitas individual yang rasional. Walaupun begitu, moralitas individual itu, seperti yang juga telah disebutkan di atas, menyimpan satu ciri khas dari agama yaitu “kekudusan”. Moralitas individual itu memiliki sifat kudus, karena moralitas itu hanya bisa hidup apabila orang memberikan rasa hormat kepadanya dan menganggap bahwa hal itu tidak bisa diganggu-gugat. Dan ini merupakan suatu bentuk “kekudusan” yang dinisbahkan oleh masyarakat kepada moralitas individual tersebut.

Durkheim menyebutkan bahwa sumber dari moralitas individual yang modern ini adalah agama Protestan. Demikian pula Revolusi Perancis telah mendorong tumbuhnya moralitas individual itu. Di sini perlu ditekankan bahwa moralitas individual tidak sama dengan egoisme. Moralitas individual, yang menekankan “kultus individu” tidak muncul dari egoisme, yang tidak memungkinkan bentuk solidaritas apapun. Adanya anggapan bahwa moralitas individual itu berada di atas individu itu sendiri, sehingga pantas untuk ditaati (sifat kudus dari moralitas individual), menunjukkan perbedaan antara moralitas individual dengan egoisme. Contoh konkrit dari hal ini adalah dalam bidang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan menekankan penelitian bebas yang merupakan salah satu bagian dari moralitas individual, tetapi ia tidak mengikutsertakan suatu bentuk anarki, suatu penelitian ilmiah dengan kebebasan penelitiannya justru hanya bisa berlangsung dalam kerangka peraturan-peraturan moral, seperti rasa hormat terhadap pendapat-pendapat orang lain dan publikasi hasil-hasil penelitian serta tukar menukar informasi.

Dengan demikian, otoritas moral dan kebebasan individual sebenarnya bukanlah dua hal yang saling berkontradiksi. Seseorang, yang pada hakekatnya adalah juga mahluk sosial, hanya bisa mendapatkan kebebasannya melalui masyarakat, melalui keanggotaannya dalam masyarakat, melalui perlindungan masyarakat, melalui pengambilan keuntungan dari masyarakatnya, yang berarti juga mengimplikasikan subordinasi dirinya oleh otoritas moral. Menurut Durkheim, tidak ada masyarakat yang bisa hidup tanpa aturan yang tetap, sehingga peraturan moral adalah syarat bagi adanya suatu kehidupan sosial. Di dalam hal ini, disiplin atau penguasaan gerak hati, merupakan komponen yang penting di dalam semua peraturan moral. Bagaimanakah dengan sisi egoistis manusia yang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia yang diakui oleh Durkheim sendiri? Setiap manusia memang memulai kehidupannya dengan dikuasai oleh kebutuhan akan rasa yang memiliki kecenderungan egoistis. Tetapi egoisme yang menjadi permasalahan kebanyakan adalah bukan egoisme jenis ini, melainkan adalah keinginan-keinginan egoistis yang merupakan produk sosial, yang dihasilkan oleh masyarakat. Individualisme masyarakat modern, sebagai hasil perkembangan sosial, pada tingkat tertentu merangsang keinginan-keinginan egoistis tertentu dan juga merangsang anomi. Hal ini dapat diselesaikan dengan konsolidasi moral dari pembagian kerja, melalui bentuk otoritas moral yang sesuai dengan individualisme itu sendiri, yaitu moralitas individual. Dari sini dapat dikatakan bahwa moralitas individual yang rasional itu dapat dijadikan sebagai otoritas pengganti agama pada masyarakat modern.

Sumber Acuan:
Anthony Giddens, Kapitalisme dan teori sosial modern: suatu analisis karya-tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata, Jakarta: UI-Press, 1986.

http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Etc/Durkheim.html

Struktural Fungsionalis

Struktural Fungsionalis

Oleh Hendri Ansori

Prakata

Jika kita akan melakukan analisa sosial, secara garis besar yang harus dipahami adalah tahapan tahapan yang tepat antara lain: pertama, unit analisa apa yang sedang kita amati, unit analisa disini konteksnya yang akan kita bicarakan, apakah masyarakat, individu, budaya, ekonomi, atau system politik. Dengan mengetahui unit analisa tersebut kita dapat memfokuskan pada satu unit saja, berikutnya kita harus menggunakan satu disiplin ilmu yang khusus menganalisa unit tersebut dan menempatkan disiplin ilmu tersebut sebagai alat analisa, sehingga kita tidak terjebak ke dalam konsep analisa yang menyesatkan.

Kedua, mengambil paradigma tertentu, paradigma dalam ilmu-ilmu social ,erupakan kesatuan cara pandang atau teori-teori dalam menganalisa unit sosial, semisal paradigma yang mengambil unit analisa struktur sosial masyarakat tentunya kita akan menggunakan paradigma strukturalis, dimana paradigme structural sendiri terdiri dari dua golongan yaitu struktural fungsionalis dan struktural konflik. Paradigma yang lain yaitu, tingkat individu, paradigma inter personal, paradigma yang pertama banyak digunakan oleh ilmuan psikologi, sedangkan yang kedua tersebut digunakan oleh psikolog social, atau sosiologi inter personal.

Dalam tulisan ini, akan diulas mengenai paradigma struktural Fungsionalis maupun konflik, tujuannya tidaklain adalah untuk menjadikan panduan berfikir atau sebagai pisau analisa untuk membaca realitas sosial.

Tentang Struktural Fungsionalis

Salah satu paradigma yang dominan dalam sosiologi sebagai alat analisa adalah pendekatan struktural fungsionalis, sebelum kita mengenal lebih dekat paradigma tersebut, akan lebih mudah jika kita memahami konteks social lahirnya paradigma tersebut.

Pada abad ke 18, di prancis semenjak tumbangnya kekaisaran raja louis XVI dengan dijatuhkannya penjara bestile oleh para budak, petani kecil, dan para borjuis, kondisi masyarakat prancis semakin tidak teratur, runtuhnya system yang Monarki dan penataan masyarakat yang feodalistik, hal ini ditambah dengan munculnya borjuis dengan industri-industri baru, yang menggantikan Guilde yang merupakan industri abad ke 15. mereka melakukan suatu perubahan dengan menggantikan tatanan social feodalistik tersebut.

Ditengah kondisi sosio-politik yang tidak teratur tersebut, August Comte menyususn formulasi Metodologi untuk mengamati realitas social di prancis waktu itum dengan meyakini bahwa bandul sejarah tidak dapat diputar ulang, artinya masyarakat yang stabil dan harmonis di zaman monarki Feodalistik tidak dapat dikontruksi, sejarah terus melaju tanpa diketahui benar masyarakat apa yang sedang dihadapinya.

Kemudian dia mengajukan suatu pendapat bahwa ilmu-ilmu social haruslah seperti ilmu-ilmu alam yang ketat atau dengan kata lain ilmu social haruslah mengikuti metodologi ilmu-ilmu alam, mulai dari melihat realitas atau kenyataan social maupun sampai merumuskan hokum-hukum yang melandasi realitas tersebut. Bagi Comte, ilmu social adalah fisika social, ini berarti realitas social memiliki dengan realitas obyek alam, sehingga ilmu social harus memandang realitas social sebagai obyek serta bersikap bebas nilai untuk menunjang obyektifitas suatu realitas dan bias diukur atau dikuantifikasikan untuk dapat diramalkan hokum-hukum social yang melandasi terjadinya realitas tersebut.

Metodologi yang diuraikan diatas disebut sebagai Positifistik netode positif menjadi tren baru dalam menganalisa kondisi social masyarakat, atas usahanya dalam meletakkan nilai-nilai keilmiahan dalam ilmu social ini adalah August Comte yang disebut bapak Sosiologi.

Salah satu murid August Comte yang berjasa memasukkan Sosiologi sebagai disiplin ilmu dan menempatkan sosiologi di tempat yang layak dalam Universitas adalah Emile Durkhaim. Sumbangannya yang bermanfaat bagi analisa social adalah penjelasan mengenai apa itu Fakta?. fakta menurutnya merupakan segala sesuatu yang berada di luar manusia. Fakta bersifat obyektif, manusia tidak akan menemukan obyektifitas fakta apabila tidak melepaskan subyektifitas pribadinya, ini berarti untuk menemukan fakta yang obyektif, manusia harus netral, tidak boleh berasumsi pribadi, hal inilah yang disebut dengan bebas nilai. Ketiadaan bebas nilai dalam memandang fakta akan berakibat mendistorsi fajta itu sendiri dan menyeret fakta yang obyektif ke dalam tafsiran-tafsiran subyektif manusia.

Beberapa karya terutama milik durkheim dalam sosiologi adalah analisanya mengenai bunuh diri (suicide) yang marak pada masyarakat eropa. Masyarakat baru yang ‘kapitalistik’ (definisi Marx untuk masyarakat yang kapital) dicirikan dengan semakin banyaknya buruh-buruh di pabrik dan semakin banyaknya budak bebas yang kemudian mangadu nasib ke pusat-pusat industri, tifak seimbangnya jumlah industri yang sedang bergeliat dengan kebutuhan pekerja dan jumlah tenaga pekerja, menyebabkan pengangguran disana-sini. Nasib yang tidak baik di masyarakat barupun terjadi di sector industri, karena mengimbangi permintaan yang semakin meningkat, para pemiliki modal meningkatkan jumlah produksinya, konsekwensinya jam kerja buruh harus ditingkatkan, mempekerjakan anak-anak dibawh umur atau perempuan dan menekan upah buruh seminim mungkin.

Selain itu masyarakat baru tersebut mengoyak tatanan sosial yang sidah mapan, system kasta, jalur kekerabatan mulai luntur. Kondisi masyarakat baru yang semakin tidak menentu tersebut, tidak adanya harapan dan kepastian hidup membuat sebagian masyarakat mengalami anomie dan mengakibatkan stress yang berkepanjangan yang pada gilirannya menimbulkan bunuh diri yang semakin marak di masyarakat eropa saat itu.

Bagi durkhaim, individu-individu yang tidak bisa survive dalam masyarakat baru tersebut pasti akan mengalami anomie dan patologis, individu tersebut mengganggu fungsi harmonisasi masyarakat. Dan tawaran dia atas kondisi ini adalah dibentuknya suatu pranata atau lembaga yang bertugas untuk menyediakan ruang-ruang pendidikan supaya individu yang anomie dapat dididik agar mampu beradaptasi dengan lingkungannya sehingga mampu menciptakan harmonisasi dalam masysarakat.

Melengkapi penjelasan structural-fungsionalis, Herbert Spencer seorang ilmuan social asal Inggris, mengatakan bahwa pada dasarnya msyarakat tersusun dalam suatu system social yang bekerja seperti organisme biologis, organ-organ tubuh memiliki fungsi-fungsi sendiri sesuai dengan posisi masing-masing yang saling bekerja secara harmoni, semisal pada suatu ketika, mata kita melihat gadis cantik, saraf mentransfer ke otak dan otak bekerja menganalisa dan mengirimkan hasilnya kepada saraf yang dimulut dan kita mengatakan “Aduh…Cantiknya”. Begitu pula system social, individu-individu sebagai actor memiliki posisi-posisi dalam masyarakat dan melakukan fungsi-fungsi yang sesuai dengan posisi tersebut. Hubungan-hubungan actor-aktor tersebut yang menciptakan struktur social.

Salah satu contoh dalam struktur masyarakat kapitalistik, buruh memiliki fungsi bekerja di pabrik untuk menghasilkan barang –barang produksi, pemiliki pabrik sebagai pemilik modal yang bertugas memutar surplus untuk diinvestasikan lagi, petani bertugas menyuplai barang atau bahan baku, rantai hubungan antara fungsi ini mencerminkan masyarakat yang kapitalistik.

Penjelasan yang mutahir mengenai structural-fungsionalis adalah seperti yang dirumuskan oleh talcott parson dalam bukunya yang terkenal Theory Sosial Action, dalam buku tersebut dia menjelaskan bahwa tindakan manusia dalam struktur social yang hidup, yakni adanya saling keterkaitan antara bagian-bagian yang merupakan system itu dan mencakup pertukaran dengan lingkungan, dan mempunyai ciri umum, yakni prasyarat dan fungsional imperative. Secara deduktif Talcott Parson mengatakan terdapat 4 kebutuhan fungsional , antara lain; latent pattern-maintenance (L) sbsistem budaya, integration (I) subsistem social, goal attainment (G) subsistem kepribadian, Adaptation (A) subsistem organisme perilaku, (Soeprapto, 2002). Adapun hubungan fungsional tersebut dapat dilihat dari bagian berikut.

Setiap gerak social adalah suatu system yang mencakup subsistem-subsistem tertentu yaitu budaya, kepribadian, social, dan organisme perilaku (Soeprapto, 2002)

Struktural konflik

Teori-teori structural konflik ini diidentikkan dengan karl Marx. Asumsi ini tidak kemudian menganggap bahwa mMarx-lah yang menciptakan teori structural konflik ini. Memang benar, Marx tidak pernah menyusun suatu argumentasi bahwa teori-teori yang dihasilkan berparadigmakan structural konflik, dan bahkan dia tidak pernah menganggap dirinya seorang strukturalis konflik. Namun, setelah Marx meninggal, para pemikir-pemikir Marxis-lah yang kemudian menyebut bahwa teri-teori Marx berparadigmakan strukturalis konflik dan mereka yang menyebut dirinya marxis memiliki paradigma strukturalis konflik.

Dimulai oleh Karl Marx dan rekan sejawatnya Fredrich Engels dalam tulisan mereka Communist Manifesto yang mencoba menganalisa hokum-hukum perkembangan masyarakat semenjak zaman komunisme purba, berburu, berladang, bertani, hingga zaman capital. Dalam menganalisa perkembangan masyarakat tersebut, mereka menemukan bahwa dalam suatu perkembangan masyarakat terjadi dan melewati kontradiksi yang disebut revolusi, yang pada kontradiksi tersebut memutasi kuantitas menuju kualitas yang menjadi embrio dan akan melahirkan masyarakat baru yang berbeda sama sekali dengan masyarakat sebelumnya. Prasyarat melahirkan masyarakat baru tersebut, sudah terkandung dalam masyarakat lama dan menunggu fragmentasi kelas tertindas untuk melawan kelas penindas.

Marx dewasa dalam alam yang kacau dan belum diketahui betul masyarakat apa yang sedang dihadapinya, dia hidup sezaman dengan Durkhaim, namun memiliki perbedaan yang khas dalam cara pandang untuk melihat masyarakat. Marx merupakan seorang Sarjana Ekonomi dan Doktornya pada keahlian Filsafat dan dia dididik dalam khasanah Jerman yang memiliki tradisi keilmuan History (Historis) yang gagasan besar keilmuan tersebut, bahwa suatu kejadian memiliki runtutan sejarah dengan kondisi sebelumnya, secara sederhananya suatu kejadian tidak berada dalam ruang dan waktu yang hampa, kejadian yang merupakan suatu hasil dari dialektika yang terjadi dikarenakan unteraksi anatar factor atau unsure yang saling berhubungan.

Progresifitas dalam memandang masyarakat yang berarti masyarakat akan mengalami perkembangan atau evolusi kearah yang lebih maju dari masyarakat sebelumnya, tidak dipungkiri hal ini merupakan sumbangan dari positivisme Prancis. Pada abad 18 di prancis berkembang aliran-aliran sosialisme, dari sini pula Marx berkenalan dengan beragam aliran sosialisme mulai dari yang utopis, idealis maupun aliran sosialisme yang lain.

Perpaduan Materialisme, Historis German, dan Positivisme prancis serta realitas masyarakat baru yang dilihat oleh Marx. Industri-industri baru hanya mengeruk keuntungan bagi pemilik pabrik, camp-camp buruh yang tidak layak huni, mempekerjakan anak-anak dan perempuan, jam kerja yang tidak manusiawi, kesehatan yang tidak terjamin serta upah buruh yang rendah membawanya untuk melihat ke dalam masyarakat baru tersebut.

Penemuannya mengenai surplus value atau teorinya mengenai nilai lebih, membongkar realitas masyarakat baru yang kemudian diberi nama Masyarakat Kapitalis. Surplus value sederhananya, merupakan harga suatu produk sama dengan (=) teknologi ditambah (+) barang modal ditambah (+) upah buruh, harga yang diproduksi berbeda dengan harga yang dijual ke pasar, ini artinya terdapat profit, keuntungan inilah yang kemudian tidak dibagi secara merata dengan para buruh, tetapi terakumulasikan ke tangan pemilik pabrik (alat produksi).

Pencurian secara sitematis inilah, yang bagi Marx menjadi kontradiksi pokok dalam masyarakat kapitalis, penindasan yang semakin tersistematis pada buruh dengan akumulasi yang semakin besar pada pemilik modal, yang pada waktunya menciptakan fragmentasi yang secara tegas membedakan kelas0kelas dalam masyarakat, yaitu kelas kapitalis dengan kelas buruh (proletar).

Masyarakat kapitalistik menciptakan tatanan superstruktur (ideology, budaya, system nilai, agama, hokum, ilmu, dan lain-lain). Yang meng-Alienasi (bahasa Durkhaim Anomie) individu-individu, artinya kelas capital menciptakan seperangkat ideology yang meninabobokkan kesadaran kritis masyarakat, kelas penindas tersebut sangatlah canggih menciptakan kesadaran palsu pada buruh. Jadi disini, beda antara Marx dengan Durkhaim, bahwa alienasi atau anomie atau patologis, bagi Marx tidak disebabkan oleh ketidakmampuan individu untuk survive, tapi kondisi structural masyarakat kapitalis-lah yang menyebabkan semua itu, masyarakat kapitalis-lah yang sakit dan perlu dirubah.

Baginya membuka tabir kesadaran palsu akan membuka kesadaran kritis buruh atas kondisi social yang dialaminya dan akan menciptakan fragmentasi kelas yang permanent dalam masyarakat kapitalistik tersebut akan tumbang dan digantikan oleh masyarakat yang sosialistik, jika terjadi revolusi yang dipimpin oleh kelas proletar dan melakukan penguasaan atas alat produksi, serta membagi secara adil dan merata keuntungan dari hasil produksinya.

Dari ulasan mengenai cara pandang Marx terhadap masyarakat kapitalis, Marx melihat secara structural bagaimana masyarakat kapitalis terbagi dalam fungsi-fungsi dari posisi yang ditempati oleh buruh atau kapitalis, namun pembagian posisi tersebut menguntungkan satu kelas dan merugikan kelas yang lainnya. Kondisi inilah yang secara structural akan menciptakan konflik yang permanent dalam masyarakat kapitalistik. Konflik tersebut akan terselesaikan jika kelas yang tertindas (proletar) memegang kendali atas penguasaan alat produksi.

Penutup

Dalam akhiran kata ini, akan sedikit disimpulkan bagi para aktivis mahasiswa, yang akan melakukan analisa masyarakat, seperti yang telah ditulis lebih awal, paradigma ini hanya sebagai microskop, sebagai kaca mata, atau panduan untuk melihat masyarakat. Tentunya, yang perlu digarisbawahi dalam tulisan ini, panduan tersebut adalah metodologi bukan hasil yang ditulis Augusty Comte, Emeil Durkhaim, ataupun Karl Marx.

Konteks Historis, structural masyarakat Indonesia berbeda dengan masyarakat Eropa saat pemikir social itu hidup maupun saat ini. Analog microskop bagi metodologi sangatlah tepat, semisal kita menggunakan microskop/strukturalk konfliknya Marx untuk menganalisa kondisi masyarakat Indonesia. Tentunya, perbedaan kondisi materi (kondisi social, politik, ekonomi, maupun budaya) semasa Marx hidup dengan zaman kita sekarang, maka tentunya akan menciptakan perbedaan hasil analisa pula. Jika, kita membaca hasil yang dirumuskan oleh Marx untuk membaca kondisi masyarakat sekarang tentunya akan terjadi kesesatan berfikir, dan tentunya jika dengan hasil kita menganalisa maysarakat, tentunya kita bukan seorang Marxis !!!.

Selamat belajar ….!

Terima kasih …!