:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Archive for February, 2013

Jual Beli On-Line

Pilih Kategori Toko Bagus

Advertisements

Kamus Digital di android

Download Android Application Kamus Inggris-Indonesia v5.0 Pro

 
Kali ini saya akan membagikan aplikasi yang berguna bagi yang masi duduk di bangku sekolah atau pelajar yang ingin mengetahui kata demi kata dalam bahasa inggris yang mungkin sudah di mengerti, menurut saya kamus ini cukup lengkap sampai-sampai bahasa jawa pun ada sediki2. Kamus ini bisa menerjemahkan dari bahasa inggris-indonesia dan sebaliknya indonesia-inggris, Jika kamu tertarik silahkan untuk mendownloadnya untuk HP android kamu.

 

Screenshot:

 

Info:
Dictionary English-Indonesia, Cracked!.

Install:
Install file apk and have fun!

Download Kamus Inggris-Indonesia v5.0 Pro:
Download : 2.3MB
 

kamus arab indonesia android

Kamus arab indonesia android

at Software Informer

 
 
Kamus Bergambar Indonesia Mandarin

Kamus Bergambar Indonesia Mandarin

 PT. Elex Media Komputindo  18

Kamus Arab Al-Mufid

 TODO: <Company name>

Kamus Toba-Indonesia

 BatakToba  3

Kamus Inggris-Indonesia Linguist

Kamus Inggris-Indonesia Linguist

 unknown  2

Kamus Bahasa Indonesia

Kamus Bahasa Indonesia

 RPUP SimpleSoft.  9
 

More Kamus arab indonesia android

 

kamus arab indonesia android

in introduction

Radio Indonesia Toolbar 6.4

Radio Indonesia Toolbar 6.4

 Radio Indonesia  16  Freeware
Radio indonesia Toolbar is a free toolbar dedicated to indonesia radio.

UnLock Root 2.3

UnLock Root 2.3

6  unlockroot.com  8,708  Freeware  159.52 KB
It’s a android root tool that support android 2.1 , 2.2 and 2.3.

Android Manager 2.1

2  Mobile Action Technology, Inc.  538  19.32 MB
android Manager WiFi is the first Wireless PC Sync Tool in android Market.

SnowFox Android Video Converter Pro 2.9

SnowFox Android Video Converter Pro 2.9

 SnowFox Software  162  Shareware  31.86 MB
SnowFox android Video Converter pro is a professional android video converter.

kamus 2.0

kamus 2.0

83  Ebta Setiawan  29,810  Freeware  2.65 MB
kamus is an English-Indonesian Dictionary.

kamus arab indonesia android

in title

Kamus Bahasa Arab 2.0

Kamus Bahasa Arab 2.0

5  Kamus Bahasa Arab v2.0  1,126

Android SDK Tools 0.7

Android SDK Tools 0.7

25  Google  25,600  35.68 MB

Cross Fire Indonesia 1.0

Cross Fire Indonesia 1.0

34  TODO:  2,072

Android SDK Tools 0.7 beta

Android SDK Tools 0.7 beta

25  Google  25,600  35.68 MB

Peribahasa Indonesia 1.0

Peribahasa Indonesia 1.0

3  InVirCom  737
 

kamus arab indonesia android

in description

IndoDic E-Kamus 1.2

IndoDic E-Kamus 1.2

12  IndoDic Media  3,316  Freeware  9.81 MB
The IndoDic E-kamus (“kamus” means “dictionary” in Indonesian) is a electronic dictionary and translating tool which lets you…

GET Android Converter 5.6

GET Android Converter 5.6

 GetVideoSoft,Inc.  13  Shareware  25.45 MB
android Converter is a android video converter that can help you convert videos, DVDs, Blu-ray discs, HD videos, youtube videos, hulu videos, movies…

Arab Instruments Toolbar 6.5

Arab Instruments Toolbar 6.5

 Arab Instruments  15  Freeware
Get arab Instruments freshest content delivered directly to your browser, no matter where you are on the Web. Check out all of arab Instruments…

GET DVD to Android 6.2

GET DVD to Android 6.2

 GetVideoSoft,Inc.  7  Shareware  25.45 MB
DVD to android is the combination of android DVD Ripper and android Video Converter. As an android DVD ripper, Any DVD Converter for android can rip…

Kingsoft Clip 1.0 beta

 Kingsoft Software  Freeware
If you are one of the people, who have been bothered for a long time by having to carry a USB cable or other connection kits to transfer between PC…

Forum Bebas Indonesia Toolbar 6.4

Forum Bebas Indonesia Toolbar 6.4

 Forum Bebas Indonesia  Freeware
Forum Bebas indonesia Toolbar is a browser tool that provides you great and useful news, announcements, updated links and information about Forum…

Wondershare MobileGo 1.0

Wondershare MobileGo 1.0

1  Wondershare Software Co., Ltd.  1,500  Freeware  25.36 MB
Wondershare MobileGo is a one-stop android phone manager installed on PC. With this handy and smart android manager, you can manage your android

DRPU Bulk SMS - Android Mobile Phones 6.0

DRPU Bulk SMS – Android Mobile Phones 6.0

 DRPU Software Pvt. Ltd.  5  Shareware  3.04 MB
DRPU Bulk SMS – android Mobile Phones is an sms messaging app for android technology based mobile phone to compose and send bulk sms android phone…

Dewan Eja Pro 1.0

Dewan Eja Pro 1.0

2  The Name Technology Sdn. Bhd.  163  Shareware  88.21 MB
Dewan Eja Pro is the #1 proofing and reference suite for Malaysian languages that helps you write better and learn faster. Officially endorsed by…

Any DVD Converter for Android 4.2

Any DVD Converter for Android 4.2

 Any-DVD-Converter.com  180  Shareware  28.41 MB
Any DVD Converter for android is the combination of android DVD Ripper and android Video Converter. As an android DVD ripper, the application can rip…

Tips Installing Windows 8

Bagi (terutama santri) yang masih belum tahu langkah2 menginstall windows 8, baik memakai CD/DVD ataupun memakai USB flahdisk, berikut langkah2 untuk menginstall edisi pratinjau pengembang windows 8 dari microsoft. Windows 8 edisi Pengembang adalah versi pra-beta dari microsoft untuk pengujian dan tujuan pengembangan. ini tidak dianjurkan di install pada pc yang masih aktif digunakan.

Jika ada rencana untuk membuat dual booting, pastikan anda menyediakan partisi primer lebih dari 20GB. dan jika ada rencana untuk instalasi bersih, pastikan backup dahulu file2nya kemudian baru diformat harddisk C nya, lalu install bersih windows 8 nya.

    1. Boot komputer anda dengan media instalasi windows 8 Developer.
    2. Mungkin butuh beberapa menit untuk memuat file-file, dan kemudian akan membawa Anda ke layar instalasi. Pilih pilihan yang sesuai dan klik Next.

    1. Sekarang klik pada “Install Now” untuk melanjutkan

    1. centang “Accept the terms and conditions” dan kemudian klik “Next”.

    1. Disini kita bisa memilih opsi apakah ingin meng-upgrade windows kita ke windows 8 Edisi Developer atau ingin melakukan instalasi bersih. Pilih Custom (Advanced) untuk melanjutkan instalasi bersih.

    1. Pada layar ini Anda dapat memilih drive yang ingin Anda instal, di sini kita memiliki kemampuan untuk mengelola disk, format, membuat partisi dll Jika Anda berencana untuk men-setup Dual boot maka Anda dapat memilih drive yang berbeda. Setelah Anda mengkonfigurasi drive klik “Next”

    1. Itu saja sekarang akan dimulai proses instalasi, tunggu sampai selesai yang mengambil waktu 10 menit sampai 1 jam tergantung pada konfigurasi Hardware.

    1. Setelah itu menyelesaikan instalasi Komputer Anda akan reboot dan akan mempersiapkan pengaturan2. Jadi silahkan menunggu beberapa saat.

    1. Sekarang akan membawa Anda untuk mempersonalisasi pengaturan desktop Anda. Silahkan pilih “Express settings” yang pada layarnya tertera keterangan tentang apa saja settingan akan dilakukan.

    1. Tidak seperti sistem operasi lain, pada Windows 8 Anda dapat login menggunakan account Windows Live. Jadi, Anda dapat memasukkan informasi account Windows Live Anda.


Jika tidak ingin menggunakan metode login ini, silahkan klik pada “I don’t want to log in with a Windows Live ID”.

Anda dapat memilih “Local account” untuk membuat Username dan Password untuk login ke Windows Anda.

Setelah semua informasi telah dimasukkan, klik “Next”.

    1. Sekarang Windows akan mengkonfigurasi pengaturan Anda



Setelah semuanya di setup, maka kita akan disuguhkan tampilan Desktop Windows 8.

Selamat! Anda sekarang telah berhasil menginstal Windows 8 edisi Pengembang di komputer Anda.

Menatap Masa Depan

Hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu, siapapun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang. Banyak yang bilang kalau hidup itu merupakan pilihan, tetapi kalau memang ada pilihan berarti kita bisa memilih yang terbaik, jadi berikanlah hidup anda sebaik-baiknya.

Orang paling rugi di dunia ini adalah orang yang diberikan modal, tapi modal itu ia hamburkan sia-sia. Dan, modal termahal dalam hidup adalah waktu. Dalam QS Al-’Asher [103] ayat 1-3, Allah SWT berfirman bahwa untung ruginya manusia dapat diukur dari sikapnya terhadap waktu. Kalau ia berani menghamburkan waktunya, maka ia tergolong orang yang menyia-nyiakan kehidupan. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Ada tiga jenis waktu. Pertama, masa lalu. Ia sudah lewat, sehingga ada di luar kontrol kita. Banyak orang sengsara hari ini gara-gara masa lalunya yang memalukan. Karena itu, kita harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari kita. Kedua, masa depan. Kita sering panik menghadapi masa depan. Tanah kian mahal, pekerjaan semakin sulit, dan lainnya. Walau demikian, masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Inilah bentuk waktu yang ketiga.

Seburuk apa pun masa lalu kita, kalau hari ini kita benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri, insya Allah semua keburukan itu akan terhapuskan. Demikian pula dengan masa datang. Maka sungguh mengherankan melihat orang yang bercita-cita tapi tidak melakukan apa pun untuk meraihnya. Padahal hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu, siapapun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang.

Belajar Menghitung

Saudaraku, kita harus mulai menghitung semua yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang adalah sebuah jaminan. Kita bisa terpuruk hanya dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan dengan kata-kata. Uang yang kita dapatkan sekarang adalah tabungan masa depan. Bila kita dapatkan dengan cara tidak halal, niscaya aibnya akan segera kita rasakan.

Karena itu, terlalu bodoh andai kita melakukan hal yang sia-sia. Detik demi detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit yang buahnya akan kita petik di masa depan. Kalau kita terbiasa berhati-hati dalam berbicara, dalam bersikap, dalam mengambil keputusan, dalam menjaga pikiran dan hati, maka kapan pun malaikat maut menjemput, kita akan selalu siap. Tapi kalau kita bicara sepuasnya, berpikir sebebasnya, tak usah heran bila saat kematian menjadi saat paling menakutkan.

Menyongsong Masa Depan Cerah

Ada tiga cara agar masa depan kita cerah. Pertama, pastikanlah hari-hari kita menjadi sarana penambah keyakinan pada Allah. Kita tidak akan pernah tenteram dalam hidup kecuali dengan keyakinan pada Allah SWT. Pupuk dari keyakinan adalah ilmu. Orang-orang yang tidak suka menuntut ilmu, maka imannya tidak akan bertambah. Bila iman tidak bertambah, maka hidup pun akan mudah goyah.

Kedua, tiada hari berlalu kecuali jadi amal. Di mana pun kita berada lakukan yang terbaik. Segala sesuatu harus menjadi amal. Dilihat atau tidak dilihat kita jalan terus.

Ketiga, terus melatih diri agar mampu menasihati orang lain dalam kebenaran dan kesabaran, dan terus melatih diri untuk mampu menerima nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Kita akan mampu memberi nasihat, kalau kita senang diberi nasihat. Wallahu a’lam.

sopan santun jawa

Tata krama, etika dan sopan santun Jawa

Tata krama adalah suatu aturan yang diwariskan turun temurun untuk mengatur hubungan antara individu satu dengan individu lainnya. Tata krama bertujuan untuk menimbulkan saling pengertian, hormat-menghormati dan penghargaan menurut adat yang berlaku di suatu masyarakat. Tata krama umumnya mengandung nilai lokal, yaitu hanya berlaku pada daerah tertentu saja. Untuk itulah tata krama satu suku bangsa dan yang lainnya bisa berbeda-beda.

tata krama sopan santun orang jawa

foto orang jawa – mbah marijan

Tata krama yang akan kita bahas adalah tata krama Jawa. Dalam tata krama Jawa, ada etika dan sopan santun yang harus dipenuhi. Ini tidak terlepas dari sifat halus dan kasar. Tata krama jawa mengatur semua hubungan mencakup antara manusia dengan Tuhan, manuia dengan lingkungan dan manusia dengan manusia yang lainnya.

Etika yang ada antara manusia dan manusia dibedakan dalam tata krama Jawa. Antara orang muda kepada orang tua memiliki etika tersendiri, berbeda dengan etika yang ada antar orang yang sebaya atau antara orang yang lebih tua ke orang yang lebih muda. Dengan pengelompokan ini membuat manusia Jawa diharuskan berbicara dan berperilaku dengan melihat posisi, peran serta kedudukan dirinya di hadapan orang lain.

 

Tata krama ini tidak hanya tampak pada tiga jenis bahasa yang digunakan yakni Krama Alus, Krama Madya dan Ngoko. Tata krama ini juga diwujudkan dalam gerakan dan bahasa tubuh merupakan isyarat yang dipahami secara universal. Dengan melihat dari kejauhan saja kita bisa tahu posisi seseorang terhadap orang lainnya dari gesture atau gerak badannya cara berbicaranya. Tata krama yang menonjol dalam keluarga Jawa adalah adanya perbedaan dalam percakapan sehari-hari dengan keragaman bahasa yang digunakan.

Krama inggil adalah bahasa yang digunakan untuk menghormati seseorang yang diajak bicara, termasuk juga di dalamnya dari tingkah laku, cara duduk, raut muka, pandangan, dan lain sebagainya. Umumnya tata krama Jawa diajarkan sejak kecil sehingga dapat menjadi sebuah kebiasaan yang tidak akan dilupakan sampai seseorang tua. Tentu saja dalam penggunaannya, tata krama Jawa sangat fleksibel mengikuti keadaan yang ada pada saat seseorang berada di suatu tempat dan kondisi.

Namun sayangnya tata krama Jawa ini mulai luntur dan tidak lagi diajarkan dengan baik kepada generasi muda. Generasi muda yang mengaku orang Jawa sudah jarang yang mengerti mengenai hakekat dan makna tata krama Jawa. Orang Jawa yang lahir di luar komunitas Jawa, misalnya di Jakarta atau di luar pulau bahkan hampir tidak bisa berbahasa Jawa. Padahal esensi tata krama Jawa itu ada pada bahasanya. Olah gerak tubuh yang baik, sikap yang sopan tidak akan lengkap dan bermakna tanpa bahasa yang halus dan sopan. Oleh karena itu perlu adanya gerakan untuk kembali memahami hakekat tata krama dan budaya Jawa sebagai sebuah jati diri, bukan hanya sebagai peninggalan nenek moyang yang perlu dilestarikan. (iwan)

PENELITIAN DAN TEKNIK ANALISIS KUALITATIFA SERTA ANALISIS DATA KUALITATIF

Pengenalan Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif adalah aktivitas intensive yang memerlukan pengertian yang mendalam, kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, dan pekerjaan berat. Analisa kualitatif tidak berproses dalam suatu pertunjukan linier dan lebih sulit dan kompleks dibanding analisis kuantitatif sebab tidak diformulasi dan distandardisasi.
Analisis Kualitatif: Pertimbangan-pertimbangan Umum
Tujuan dari analisis data, dengan mengabaikan jenis data yang dimiliki dan mengabaikan tradisi yang sudah dipakai pada koleksinya, apakah untuk menentukan

beberapa pesanan dalam jumlah besar informasi sehingga data dapat disintesis, ditafsirkan, dan dikomunikasikan. Walaupun tujuan utama dari kedua data kualitatif dan kuantitatif adalah untuk mengorganisir, menyediakan struktur, dan memperoleh arti dari data riset. Satu perbedaan penting adalah, di dalam studi-studi kualitatif, pengumpulan data dan analisis data pada umumnya terjadi secara serempak, pencarian konsep-konsep dan tema-tema penting mulai dari pengumpulan data dimulai.
Tugas analisis data adalah selalu hebat, tetapi itu yang terutama sekali menantang untuk peneliti kualitatif, tiga pertimbangan utama, yaitu:
1. Tidak ada aturan-aturan sistematis untuk meneliti dan penyajian data kualitatif. Ketiadaan prosedur analitik sistematis, menjadi sulit bagi peneliti untuk menyajikan kesimpulan.
2. Aspek analisis kualitatif yang kedua yang menantang adalah jumlah besar pekerjaan. Analis kualitatif harus mengorganisir dan bisa dipertimbangkan dari halaman dan bahan-bahan naratif. Halaman itu harus dibaca ulang dan kemudian diorganisir, mengintegrasikan, dan menafsirkan.
3. Tantangan akhir adalah pengurangan data untuk tujuan-tujuan pelaporan. Hasil-hasil utama dari riset kuantitatif dapat diringkas. Jika satu data kualitatif dikompres terlalu banyak, inti dari integritas bahan-bahan naratif sepanjang tahap analisa menjadi hilang. Sebagai konsekuensi, adalah kadang sukar untuk melakukan satu presentasi hasil riset kualitatif dalam suatu format yang kompatibel dengan pembatasan ruang dalam jurnal professional.
Model-Model Analisa
Crabtree dan Miller (1992) mengamati ada banyak strategi analisis kualitatif. Mereka sudah mengenal empat pola analisa utama yang lebih tepat sasaran, sistematis, dan distandardisasi, dan pada ekstremum lain adalah satu model yang lebih yang intuitif, hubungan, dan interpretive. empat prototypical model-model yang mereka uraikan adalah sebagai berikut:
“Model Quasi-statistical”. Peneliti menggunakan statistik secara khas mulai dengan pertimbangan analisa, dan menggunakan ide-ide untuk memilih jenis data. Pendekatan ini adalah kadang dikenal sebagai analysis peneliti meninjau ulang isi dari data naratif, mencari-cari tema atau kata tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu codebook. Hasil pencarian adalah informasi yang dapat digerakkan secara statistik dan disebut Quasi statistik. Sebagai contoh, analis dapat menghitung frekwensi kejadian dari tema-tema spesifik. Model ini adalah serupa dengan pendekatan kwantitatif tradisional sampai melakukan analisa isi.
“Model Analisa Template”. Di model ini, peneliti mengkembangkan analisa cetakan untuk data naratif yang digunakan. Unit-unit template adalah secara khas perilaku-perilaku, kejadian, dan ungkapan ilmu bahasa. Template lebih mengalir dan dapat menyesuaikan diri dibanding suatu codebook di dalam model Quasi statistik. Peneliti dapat mulai dengan template bersifat elementer sebelum mengumpulkan data, template mengalami revisi tetap sebanyak data dikumpulkan. Analisa menghasilkan data. Model jenis ini adalah bisa dipastikan diadopsi oleh peneliti yang biasa meneliti etnografi, etologi, analisa ceramah, dan ethnoscience.
“Model Analisa Editing” . Peneliti menggunakan model editing bertindak sebagai interpreter yang membaca sampai habis data mencari segmen-segmen penuh arti dan unit-unit. Suatu ketika segmen ini dikenali dan ditinjau, interpreter dikembangkan satu rencana pengelompokan dan kode-kode sesuai yang dapat digunakan untuk memilih jenis dan mengorganisir data. Peneliti kemudian mencari-cari struktur dan pola-pola yang menghubungkan kategori-kategori pokok. Pendekatan teori yang khas menyertakan model ini. Peneliti-peneliti yang biasa meneliti fenomenologi, hermeneutics, dan ethnomethodology menggunakan prosedur pola analisa editing.
“Model Immersion/crystallisasi”. Model ini melibatkan pembaptisan total analis di dalam dan cerminan bahan-bahan teks, menghasilkan satu kristalisasi data yang intuitif. Terjemahan yang interpretive dan subjektif dicontohkan dalam laporan kasus pribadi dari semi anekdot dan jumlah sedikit ditemui di dalam literatur riset dibanding tiga model yang lain.

Proses Analisa
Analisa dari data kualitatif secara khas adalah satu proses yang interaktip dan aktif. Peneliti-peneliti kualitatif sering membaca data naratif mereka berulang-ulang dalam mencari arti dan pemahaman-pemahaman lebih dalam. Morse dan Field (1995) mencatat bahwa analisis kualitatif adalah proses tentang pencocokan data bersama-sama, bagaimana membuat yang samar menjadi nyata, menghubungkan akibat dengan sebab. Yang merupakan suatu proses verifikasi dan dugaan, koreksi dan modifikasi, usul dan pertahanan.
Beberapa kaum intelektual memainkan peran dalam analisis kualitatif. Morse dan Field (1995) mengenali empat proses-proses:

1. Memahami
Awal proses analitik, peneliti-peneliti kualitatif berusaha untuk bisa mempertimbangkan data dan belajar mencari ” apa yang terjadi.” Bila pemahaman dicapai, peneliti bisa menyiapkan cara deskripsi peristiwa, dan data baru tidak ditambahkan dalam uraian. Dengan kata lain, pemahaman diselesaikan bila kejenuhan telah dicapai.

2. Sintesis
Sintesis meliputi penyaringan data dan menyatukannya. `Pada langkah ini, peneliti mendapatkan pengertian dari apa yang “khas” mengenai suatu peristiwa dan apa variasi dan cakupannya. Pada akhir proses sintesis, peneliti dapat mulai membuat pernyataan umum tentang peristiwa mengenai peserta studi.

3. Teoritis
Meliputi sistem pemilihan data. Selama proses teori, peneliti mengembangkan penjelasan alternatif dari peristiwa dan kemudian menjaga penjelasan ini sampai menentukan apakah “cocok” dengan data. Proses teoritis dilanjutkan untuk dikembangkan sampai yang terbaik dan penjelasan paling hemat diperoleh.

4. Recontextualisasi
Proses dari recontextualisasi meliputi pengembangan teori lebih lanjut dan aplikabilitas untuk kelompok lain yang diselidiki. Di dalam pemeriksaan terakhir pengembangan teori, adalah teori harus generalisasi dan sesuai konteks.
Manajemen Dan Organisasi Data Kualitatif

Pengembangan skema pengelompokan
Langkah awal analisa data kualitatif penelitian adalah untuk mengorganisir, tanpa beberapa sistem dari organisasi, ada hanya kekacauan. Tugas utama di dalam mengorganisir data kualitatif mengembangkan metoda untuk menggolongkan dan memberi index. Yaitu, peneliti harus mendisain mekanisme untuk memperoleh akses sampai bagian-bagian data, tanpa harus berulang-kali membaca himpunan data keseluruhannya. Tahap ini sangat utama, suatu data harus dikonversi menjadi lebih kecil, lebih dapat dikendalikan, dan lebih banyak manipulatable unit-unit yang dapat dengan mudah didapat kembali dan review. Prosedur secara luas yang digunakan adalah mengembangkan skema pengelompokan dan kemudian mengkode data menurut kategori.

Kode topik digunakan di dalam penelitian Gagliardi’s ( I991) studi pengalaman keluarga tentang penyesuaian diri seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot. Ini adalah suatu contoh dari sistem pengelompokan konkrit dan deskriptif. Sebagai contoh, itu mengijinkan coders untuk mengkode hubungan-hubungan spesifik antar anggota-anggota keluarga, dan kejadian yang terjadi di dalam lokasi spesifik.
Dalam mengembangkan satu rencana kategori, konsep-konsep yang terkait sering dikelompokkan bersama-sama untuk memudahkan proses koding.. Sebagai contoh, semua kutipan yang menggambarkan bagaimana keluarga merasakan tentang menyesuaikan diri seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot dikelompokan sebagai “Kode perasaan.”

Studi-studi yang dirancang untuk mengembangkan teori lebih mungkin untuk pengembangan abstrak dan kategori konseptual. Dalam merancang kategori konseptual, peneliti harus merinci data ke dalam segmen-segmen, menguji dan membandingkan dengan segmen-segmen lain untuk perbedaan dan persamaan. Untuk menentukan apa tipe fenomena yang dicerminkan dan apa arti dari fenomena tersebut. Peneliti menanyakan pertanyaan tentang kejadian berbeda, peristiwa-peristiwa, atau pemikiran yang ditandai pernyataan, seperti berikut:
“Apakah ini?
“Apa yang terjadi?
“Untuk apa ini?

Penelitian Kuantitatif

TEKNIK ANALISIS DATA KUANTITATIF

Posted by mabadik on July 10, 2010 · 1 Comment 

Oleh: Ubaidillah*)

 

Tindak lanjut kegiatan peneliti sesudah pengumpulan data sangat bervariasi bentuknya tergantung dari bagaimana data yang terkumpul akan diorganisasikan. Agar peneliti tidak terhenti langkahnya dengan kebingungan tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya, sebaiknya pada waktu menyusun proposal penelitian langkah-langkah tersebut sudah tercermin di dalamnya.

Di sisi lain, perolehan  data dalam kancah penelitian sering dibicarakan kadar kevaliditasan dan kereabilitasannya. Pembicaraan masalah ini termasuk hal hal urgen dalam dunia penelitian, mengingat kualitas data yang bersumber dari hasil pengukuran akan ikut menentukan terhadap bagaimana kualitas kegiatan dan hasil suatu penelitian. Pada sisi lain pada persoalan tersebut juga terkait dengan masalah generalisasi, sehingga kualitas hasil data sangat bergantung pada kualitas alat ukurnya. Oleh karena kesahihan dan keterandalam alat ukut merupakan standar mutlak yang tak dapat ditawar lagi oleh seorang peneliti, jika ia menginginkan hasil penelitiannya memiliki kadar kualitas yang memadai. Alasan cukup sederhana, alat ukur yang baik (valid dan reliabel) akan mampu merekam data secara baik; sehingga data yang diperoleh akan memiliki kualitas yang baik pula. Data ini apabila ditindak lanjuti dengan suatu analisis, maka akan dihasilkan suatu kesimpulan (temuan) yang dapat dipercaya.

Persoalan bagaimana teknik membuat alat ukur yang handal dan dapat dipercaya tampaknya sudah ada wilayah pembahasan sediri, termasuk pula bagaiamana penggunaannya. Pembahasan makalah ini akan dibatasi hanya pada persoalan    bagaimana  tindak  lanjut  dari  perolehan  data setelah data terkumpul

melalui alat ukurnya sebab bagaimanapun lengkapnya data, validitas dan reliabilitasnya terpenuhi, jika ternyata tidak ditindak lanjuti dengan suatu analisis, maka data tersebut tidak akan memiliki sedikitpun arti bagi sebuah penelitian kecuali sebuah pemborosan tenaga, waktu, dan bahkan mungkin biaya. Sehubungan dengan hal tersebut, uraian berikut akan mencoba menindak lanjuti data yang terkumpul supaya bisa memiliki fungsi sebagaimana yang diharapkan oleh peneliti dalam aktivitas penelitiannya. Fokus pembahasan makalah ini akan dibatasi pada analisis kuantitatif  (data yang berupa angka-angka).

B. Pendekatan Analisis Kuantitatif

Analisis kuantitatif dalam suatu penelitian dapat didekati dari dua sudut pendekatan, yaitu analisis kuantitatif secara deskriptif, dan analisis kuantitatif secara inferensial. Masing-masing pendekatan ini melibatkan pemakaian dua jenis statistik yang berbeda. Yang pertama menggunakan statistik deskriptif dan yang kedua menggunakan stastistik inferensial. Kedua jenis statistik ini memiliki karakteristik yang berbeda, baik dalam hal teknik analisis maupun tujuan yang akan dihasilkannya dari analisisnya itu (lihat Sudijono:1987:4).

Sesuai dengan namanya, deskriptif hanya akan mendeskripsikan keadaan suatu gejala yang telah direkam melalui alat ukur kemudian diolah sesuai dengan fungsinya. Hasil pengolahan tersebut selanjutnya dipaparkan dalam bentuk angka-angka sehingga memberikan suatu kesan lebih mudah ditangkap maknanya oleh siapapun yang membutuhkan informasi tentang keberadaan gejala tersebut. Dengan demikian hasil olahan data dengan statistik ini hanya sampai pada tahap deskripsi, belum sampai pada tahap generalisasi. Dengan kata lain, statistik deskriptif adalah statistik yang mempunyai tugas mengorganisasi dan menganalisa data angka, agar dapat memberikan gambaran secara teratur, ringkas dan jelas, mengenai suatu gejala, peristiwa atau keadaan, sehingga dapat ditarik pengertian atau makna tertentu.

Statistik inferensial fungsinya lebih luas lagi, sebab dilihat dari analisisnya, hasil yang diperoleh tidak sekedar menggambarkan keadaan atau fenomena yang dijadikan obyek penelitian, melainkan dapat pula digeneralisasikan secara lebih luas kedalam wilayah populasi. Karena itu, penggunaan statistik inferensial menuntut persyaratan yang ketat dalam masalah sampling, sebab dari persyaratan yang ketat itulah bisa diperoleh sampel yang representatif; sampel yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dimiliki populasinya. Dengan sampel yang representatif maka hasil analisis inferensial dapat digeneralisasikan ke dalam wilayah populasi.

C. Jenis Data Statistik

Sudah dikenal bahwa statistik merupakan salah satu cara yang banyak manfaatnya bagi peneliti untuk menganilis data. Satu modal penting yang harus dikuasai terlebih dahulu oleh peneliti yang akan menggunakan teknik statistik adalah pengertian mengenai jenis data yang akan dianalisis, agar penggunaan data kuantitatif untuk keperluan analisis statistik tepat sasaran. Atau sebaliknya, pemilihan jenis teknik statistik dapat dipilih secara tepat sesuai dengan sifat-sifat atau jenis-jenis data yang dihadapi.

Dalam dunia statistik dikenal setidaknya terdapat empat jenis data hasil pengukuran, yaitu data Nominal, Ordinal, Interval dan Rasio. Masing-masing data hasil pengukuran  ini memiliki karaktristik tersendiri yang berbeda antara satu dengan lainnya.

1. Data Nominal

Data ini juga sering disebut data diskrit, kategorik, atau dikhotomi. Disebut diskrit karena ini data ini memiliki sifat terpisah antara satu sama lainnya, baik pemisahan itu terdiri dari dua bagian atau lebih; dan di dalam pemisahan itu tidak terdapat hubungan sama sekali. Masing-masing kategori memiliki sifat tersendiri yang tidak ada hubungannya dengan kategori lainnya. Sebagai misal data hasil penelitian dikategorikan kedalam kelompok “ya” dan “tidak” saja misalnya  laki-laki/wanita (laki-laki adalah ya laki-laki; dan wanita adalah “tidak laki-laki”), kawin /tidak kawin; janda/duda, dan lainnya.

Data nominal selain contoh di atas terdapat pula yang berupa angka-angka. Akan tetapi angka-angka tersebut bukan merupakan suatu atribut, oleh sebab itu pada angka tersebut tidak berlaku hitungan matematis. Contoh data ini misalnya nomor punggung pemain sepak bola, nomor rumah, nomor plat mobil dan lainnya. Nomor-nomor tersebut semata-semata hanya menunjukkan simbol, tanda, atau stribut saja.

2. Data Ordinal

Data ordinal adalah data yang menunjuk pada tingkatan atau penjenjangan pada sesuatu keadaan. Berbeda  dengan data nominal yang menunjukkan adanya perbedaan secara kategorik, data ordinal juga memiliki sifat adanya perbedaan di antara obyek yang dijenjangkan. Namun dalam perbedaan tersebut terdapat suatu kedudukan yang dinyatakan sebagai suatu urutan bahwa yang satu lebih besar atau lebih tinggi daripada yang lainnya.Kriteria urutan dari yang paling tinggi ke yang yang paling rendah dinyatakan dalam bentuk posisi relatif atau kedudukan suatu kelompok. Contoh dari data ini misalnya: prestasi belajar siswa diklasifikasikan menjadi kelompok “baik”, “cukup”, dan “kurang”, atau ukuran tinggi seseorang  dengan “tinggi”, “sedang”, dan “pendek”.

Dalam kaitannya dengan analisis data, terhadap data ordinal seringkali diberikan “skor’ sesuai dengan tingkatannya. Istilah “skor” diberi tanda petik karena skor tersebut bukan skor sebenarnya, tetapi sebagai “tanda” yang menunjukkan tingkatan.

Contoh:           “Baik”             ……..  diberi tanda 3

“Cukup”          ……..  diberi tanda 2

“Kurang”        ……..  diberi tanda 1

Contoh lain data ordinal misalnya hasil ujian mahasiswa peserta kuliah Statistik Pendidikan Budiman memperoleh skor 90, Rahmat 85, Musyafak 75, dan Mahsunah 65. Berdasarkan skor-skor tersebut dibuatlah suatu jenjang  (rangking), sehingga terjadilah urutan jenjang ke 1 (90), ke 2 (85), ke 3 (75), dan ke 4 (65).Data ordinal memiliki harga mutlak (dapat diperbandingkan) dan selisih perbedaan antara urut-urutan yang berdekatan bisa tidak sama.

Data ordinal mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan data diskrit karena mempunyai tingkatan yang lebih banyak daripada data diskrit yang hanya mempunyai dua kategori yaitu “ya” dan “tidak”.

3. Data Interval

Data interval tergolong data kontinum yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi lagi dibandingkan dengan data ordinal karena mempunyai tingkatan yang lebih banyak lagi. Data interval menunjukkan adanya jarak antara data yang satu dengan yang lainnya.Contoh data interval misalnya hasil ujian, hasil pengukuran tinggi badan, dan lainnya. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa data interval tidak dikenal adanya nilai 0 (nol) mutlak. Dalam hasil pengukuran (tes) misalnya mahasiswa mendapat nilai 0. Angka nol ini tidak dapat diartikan bahwa mahasiswa tersebut benar-benar tidak bisa apa-apa. Meskipun ia memperoleh nilai nol ia memiliki suatu pengetahuan atau kemampuan dalam matakuliah yang bersangkutan. Nilai nol yang diberikan oleh dosen sebetulnya hanya merupakan atribut belaka hanya saja pada saat ujian, pertanyaan yang diujikan tidak pas seperti yang dipersiapkannya. Atau jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan yang dikehendaki soal.

4. Data Rasio

Data rasio merupakan data yang tergolong ke dalam data kontinum juga tetapi yang mempunyai ciri atau sifat tertentu. Data ini memiliki sifat interval atau jarak yang sama seperti halnya dalam skala interval. Namun demikian, skala rasio masih memiliki ciri lain. Pertama harga rasio memiliki harga nol mutlak,  artinya titik nol benar-benar menunjukkan tidak adanya suatu ciri atau sifat. Misalnya titik nol pada skala sentimeter menunjukkan tidakadanya panjang atau tinggi sesuatu. Kedua angka skala rasio memiliki kualitas bilangan riel yang berlaku perhitungan matematis. Misalnya berat badan Rudi  70 kg, sedangkan Saifullah 35 kg. Keadaan ini dapat dirasiokan bahwa berat badan Rudi dua kali berat badan Saifullah. Atau berat badan Saifullah separuh dari berat badan Rudi. Berbeda dengan data interval misalnya Rudi  ujian dapat 70 sementara Saifullah memperoleh 30. Hal ini tidak dapat diartikan  bahwa kepandaian Rudi  dua kali lipat kepandaian Saifullah.

Data rasio dalam ilmu-ilmu sosial jarang dipergunakan, bahkan hampir tidak pernah dipergunakan. Lapangan penggunaan data berskala rasio ini lebih banyak berada dalam bidang ilmu-ilmu eksakta terutama fisika.

D. Teknik Analisis Kuantitatif

Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa analisis kuantitatif dapat didekati dari dua sudut pendekatan, yaitu analisis kuantitatif deskriptif dan analisis kuantitatif inferensial. Bagaimana teknik penggunaan masing-masing pendekatan tersebut berikut disajikan contoh penggunaannya.

1. Analisis Kuantitatif Deskriptif

Mengenai data dengan statistik deskriptif peneliti perlu memperhatikan terlebih dahulu jenis datanya. Jika peneliti mempunyai data diskrit, penyajian data yang dapat dilakukan adalah mencari frekuensi mutlak, frekuensi relatif (mencari persentase), serta mencari ukuran tendensi sentralnya yaitu: mode, median dan mean (lebih lanjut lihat Arikunto, 1993: 363).

Fungsi statistik deskriptif antara lain mengklasifikasikan suatu data variabel berdasarkan kelompoknya masing-masing dari semula belum teratur dan mudah diinterpretasikan maksudnya oleh orang yang membutuhkan informasi tentang keadaan variabel tersebut. Selain itu statistik deskriptif juga berfungsi menyajikan informasi sedemikian rupa, sehingga data yang dihasilkan dari penelitian dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkan.

Ciri analisis kuantitatif adalah selalu berhubungan dengan angka, baik angka yang diperoleh dari pencacahan maupun penghitungan. Data yang telah diperoleh dari pencacahan selanjutnya diolah dan disajikan dalam bentuk yang lebih mudah dimengerti oleh pengguna data tersebut. Sajian data kuantitatif sebagai hasil analisis kuantitatif dapat berupa angka-angka maupun gambar-gambar grafik.

Seorang dosen Statistik Pendidikan tertarik untuk meneliti Kemampuan Statistik Pendidikan  mahasiswa. Untuk keperluan  tersebut peneliti melihat nilai  Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Semester dalam matakuliah yang diberikannya kepada 14 mahasiswa semester 4 di salah satu perguruan tinggi. Setelah melakukan studi dokumenter diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 1

Skor Ujian Statistik Pendidikan Mahasiswa Semester V

Nama Mahasiswa Nilai U T S Nilai U A S Statistik Pendidikan
A 65 70 67,5
B 70 73 71,5
C 75 80 77,7
D 73 71 72
E 60 75 67,5
F 65 72 68,5
G 74 80 77
H 68 74 71
I 67 78 72,5
J 65 78 71,5
K 80 82 81
L 78 81 79,5
M 76 78 77
N 72 80 76
N = 14      

Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana kualifikasi kemampuan mahasiswa tersebut dalam mata kuliah Statistik pendidikan, baik ditinjau dari nilai Ujian Tengah Semester  maupun Ujian Semester, skor-skor tersebut dikonversi menjadi nilai. Pengkonversian skor menjadi nilai dapat dipergunakan pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) atau Penilaian Acuan Patokan (PAP). Jika pendekatan pertama (PAN) yang dipergunakan, maka norma yang dijadikan standar adalah nilai Rata-rata (Mean) dan Standar Deviasi (SD) masing-masing nilai variabel. Namun, jika yang dipergunakan pendekatan kedua (PAP), maka standarnya adalah standar nilai yang dimiliki oleh lembaga yang bersangkutan. Misalnya STAIN Jember memiliki standar nilai prestasi hasil belajar mahasiswa sebagai berikut:

Tabel 2

Standar Konversi dan Kualifikasinya

NO SKOR NILAI KODE KUALIFIKASI
1

2

3

4

5

80 – 100

70 – 79

60 – 69

50 – 59

0 – 49

4

3

2

1

0

A

B

C

D

E

Baik Sekali

Baik

Cukup

Kurang

Sangat Kurang

Dengan berpedoman pada standar di atas, maka skor hasil pengukuran kemampuan Statistik Pendidikan yang terdapat pada tabel 1 dapat dilakukan konversi. Melalui cara ini dapat diketahui distribusi nilai berikut kualifikasinya. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3

Kualifikasi Nilai Ujian Statistik Pendidikan Mahasiswa Semester V

Jurusan Tarbiyah STAIN Jember TH. 2001/2002

Nama Mhs Nilai UTS Nilai Ujian Semester Statistik Pendidikan
Skor Kw Skor Kw Skor Kw.
A 65 C 70 B 67,5 C
B 70 B 73 B 71,5 B
C 75 B 80 A 77,5 B
D 73 B 71 B 72 B
E 60 C 75 B 67,5 C
F 65 C 72 B 68,5 C
G 74 B 80 A 77 B
H 68 C 74 B 71 B
I 67 C 78 B 72,5 B
J 65 C 78 B 71,5 B
K 80 A 82 A 81 A
L 78 B 81 A 79,5 B
M 76 B 78 B 77 B
N 72 B 80 A 76 B
N = 14         1030  

Langkah selanjutnya agar hasil konversi nilai memiliki makna lebih jelas, maka dilakukan kualifikasi berdasarkan jenis-jenis variabel beserta kualifikasinya. Tabel-tabel  berikut merupakan hasil dari prosedur pengerjaan ini. Dari tabel-tabel tersebut peneliti mulai bisa bicara sesuai dengan keadaan yang termuat di dalamnya. Misalnya pada tabel 4 peneliti mulai mendeskripsikan bahwa nilai Statistik Pendidikan mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Jember Semeter V, tidak tampak (0%) yang berkategori/berkualifikasi Kurang  (D) dan Sangat Kurang (E) tidak tampak (0%). Kualifikasi nilai mereka berkisar antara nilai Baik Sekali 7%, Baik  sebesar 71,43%, dan selebihnya berkualifikasi Cukup 21,43%. Secara umum dapat dikatakan bahwa nilai Statistik Pendidikan  yang diperoleh mahasiswa Jurusan Tarbiyah termasuk Baik. Hal ini dapat dilihat pula dari nilai rata-ratanya, yaitu sebesar 73.57.

Tabel 4

Nilai Statistik Pendidikan Mahasiswa Jurusan Tarbiyah

Nilai

Ujian Teng. Sem. Ujian Semester Statistik Pend.
F % F % F %
A

B

C

D

E

1

7

6

0

0

7

50

42,86

0

0

5

9

0

0

0

35,71

64,29

0

0

0

1

10

3

0

0

7

71,43

21,43

0

0

2. Analisis Kuantitatif Inferensial

Pemakaian analisis inferensial bertujuan untuk menghasilkan suatu temuan yang dapat digeneralisasikan  secara lebih luas ke dalam wilayah populasi. Di sini seorang peneliti akan selalu berhadapan dengan hipotesis nihil (Ho) sebagai dasar penelitiannya untuk diuji secara empirik dengan statistik inferensial.

Jenis statistik inferensial cukup banyak ragamnya,Peneliti diberikan peluang sebebas-bebasnya untuk memilih teknik mana yang paling sesuai (bukan yang paling disukai) dengan sifat/jenis data yang dikumpulkan. Secara garis besar jenis analisis ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama untuk jenis penelitian korelasional dan kedua untuk komparasi dan/atau eksperimen. Perhatikan tabel berikut:

Tabel 5

Jenis Data dan teknik Analisis Korelasi yang Tepat

Variabel 1 Variabel 2 Teknik Analisis Korelasi
  1. Interval
  2. Ordinal (rangking)
  3. Rangking
  1. Dikhotomi buatan
  2. Dikhotomi
  3. Dikhotomi asli
  4. Dikhotomi buatan
  5. Dikhotomi asli
  6. Kategorik asli atau buatan
Interval

Ordinal (rangking)

Rangking

Interval

Interval

Interval

Dikhotomi buatan

Dikhotomi asli

Kategorik asli atau buatan

Product Moment

Tata jenjang (lebih tepat untuk N kurang dari 30

Tau dari Kendall (lebih tepat untuk N kurang dari 10)

Biserial

Wide Spread biserial

Point biserial

Tetrachoric

Korelasi Phi

Chi Kuadrat dilanjutkan Koefisien Kontingensi

(Suharsimi Arikunto, 1993: 422)

Untuk jenis penelitian Komparasi dan/atau eksperimen, jika hanya dua variabel yang diperbandingkan, maka penggunaan t-tes lebih tepat dengan memperhatikan besar kecilnya data serta sifat hubungan variabelnya. Namun apabila lebih dari dua variabel, maka penggunaan analisis varians akan lebih efektif dan efisien. Apalagi sekarang sudah cukup memasyarakat penggunaan komputer sebagai sarana analisis data.

Mengingat waktu yang sangat terbatas, tentu tidak mungkin semua teknik statistik tersebut akan dibahas. Pada bagian ini hanya akan diberikan contoh analisis dengan teknik korelasi Tata Jenjang. Teknik korelasi ini dipergunakan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara dua variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Persyaratan yang harus dipenuhi di dalam mempergunakan teknik ini selain datanya harus berskala ordinal, baik variabel X maupun variabel Y, dan jumlah kasusnya kurang dari 30 kasus.

Data pada tabel 1 (mahasiswa Jurusan Tarbiyah) dapat dipergunakan sebagai contoh analisis kuantitatif inferensial. Nilai Ujian Tengah Semester dianggap variabel bebas (X) dan Nilai Ujian Semester sebagai variabel terikat (Y). Berhubung teknik statistik inferensial selalu berhubungan dengan hipotesis nihil (H0), maka terlebih dahulu harus dipersiapkan hipotesis ujinya berupa hipotesis nihil. Misalnya sebagai berikut:

Tidak ada hubungan antara nilai Ujian Tengah Semester dengan nilai Ujian Semester pada mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Jember dalam mata kuliah Statistik Pendidikan”

Selanjutnya dengan mempergunakan  data dari tabel 1  (mahasiswa Jurusan Tarbiyah) dibuatkan tabel kerja sebagai  berikut:

Tabel 1

Tabel Kerja Untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Nilai Ujian Tengah Semester (X) dan Ujian  Semester (Y)

Dalam Matakuliah Statistik Pendidikan

Nama Mahasiswa Nilai Rangking

D

2

D

X Y X Y
A 65 70 12 14 ­­­­- 2 4
B 70 73 8 11 – 3 9
C 75 80 4 4 0 0
D 73 71 6 13 – 7 49
E 60 75 14 9 5 25
F 65 72 12 12 0 0
G 74 80 5 4 1 1
H 68 74 9 10 – 1 1
I 67 78 10 7 3 9
J 65 78 12 7 5 25
K 80 82 1 1 0 0
L 78 81 2 2 0 0
M 76 78 3 7 – 4 16
N 72 80 7 4 3 9
N = 14 0 148

=

=

=

=

=

= 0,675

Bagaimana melakukan tes signifikansi terhadap hasil di atas?  Sama seperti korelasi Product Moment, maka koefisien korelasi hasil perhitungan tersebut harus dikonsultasikan atau dibandingkan dengan nilai r dalam tabel. Bedanya jika r product moment  mempergunakan tabel product moment, maka rho mempergunakan tabel Spearman. Tabel ini terdapat pada lampiran buku-buku statistik. Jadi koefisien korelasi dari hasil perhitungan di atas (rho = 0,675), jika dikonsultasikan dengan harga kritiknya ( r tabel).  Dengan N sebanyak 14 , dan tingkat signifikansi 5 % , maka harga r tabel didapat sebesar 0,544. Berarti  re > rt, sehingga  hasil uji tersebut membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara Nilai ujian Tengah Semester dengan Nilai Ujian Semester. Jadi andaikata berbunyi:

Tidak ada hubungan antara nilai Ujian Tengah Semester dengan nilai Ujian Semester pada mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Jember dalam mata kuliah Statistik Pendidikan”

Maka berdasarkan hasil uji  di atas ditolak. Kita tidak mempunyai alasan untuk menerimanyanya. Jadi kesimpulannya ialah kita menerima , yaitu ada ada hubungan yang positif  antara nilai Ujian Tengah Semester dengan nilai Ujian Semester pada mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Jember dalam mata kuliah Statistik Pendidikan”

Artinya semakin baik nilai Ujian Tengah Semester, akan semakin baik pula Nilai Ujian Semester Mata kuliah Statistik Pendidikan Mahasiswa jurusan Tarbiyah STAIN Jember, dan sebaliknya semakin rendah nilai Ujian Tengah Semester, semakin rendah nilai Ujian Semesternya.

E. Tes Signifikansi

Tes signifikansi artinya melakukan perbandingan antara nilai hasil perhitungan dengan nilai yang ada di dalam tabel statistik. Perlu diingat bahwa setiap jenis teknik statistik. Selalu disertai dengan angka-angka tabel, sehingga ada yang berpendapat bahwa keterampilan statistik itu sebenarnya hanya keterampilan membandingkan angka-angka perhitungan dengan angka-angka tabelnya.

Di dalam pembandingan tersebut jika nilai hasil perhitungan  nilai tabel, berarti signifikan (ditolak dan diterima). Sebaliknya jika hasil perhitungan  nilai tabel berarti non signifikan ( diterima dan  ditolak).

F. Penutup

Makalah ini sebenarnya masih tergolong elementer, sehingga bagi mereka yang telah banyak makan garam, tentu tulisan ini kurang bermakna. Namun, bagi pemula atau yang belum banyak mempraktekkan analisis statistik, makalah ini akan sedikit membantu dan merangsang untuk mencoba menjelajahi lebih jauh lagi.

Harapannya semoga makalah ini ada manfaatnya untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan mahasiswa dalam mempraktekkan sebagian teknik analisis statistik dalam bidang yang akan digelutinya, terutama ketika akan menulis skripsi di mana teknik analisisnya menggunakan teknik analisis kuantitatif, baik deskriptif maupun inferensial. Amin……..

 

*)Dosen Tetap STAIN Jember dan Universitas Yudharta Pasuruan

REFERENSI

A. Latif, Misno, 2000, Teknik Analisis Data Kuantitatif, Makalah diklat Action Research Mahasiswa STAIN Jember.

Arikunto, Suharsimi, 1993, Manajemen Penelitian,  Jakarta: Rineka Cipta.

Maqsun Arr. Sofwan, Misno A. Latif, 1991, Pengantar Statistik Pendidikan, Jember, FKIP.

Sudijono, Anas, 1987, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers.

Wayan Ardana, 1982, Beberapa Metode Statistik Untuk Penelitian Pendidikan, Surabaya: Usaha Nsional.