:: www.ldnu.or.id :: Lembaga Dakwah NU :: Dokumen para Kyai, Ustadz dan Santri ::

Pagi setelah subuh aku menyusuri mlangi tepatnya ke pundung, masjid awwab. ada dua orang jamaah yang masih berbincang. akupun turut larut dan asik mendengar secercah kisah agenda mauludan dari dulu sampai sekarang. ini adalah bagian penelitian karya ilmiahku.’ilmotz
mas nurul turut menulis: Muludan, Sebuah kata yang berasal dari kata Mulud, yaitu nama sebuah bulan dari 12 bulan yang ada pada hitungan kalender jawa tapi juga berasal dari bahasa Arab yang berarti kelahiran. Ada juga yang menamai bulan ini dengan bulan Sapar, Saphar, dan Robiul Awal….tapi itu semua tetep mengerucut dalam sebuah moment yang sangat indah….yaitu Bulan dimana Nabi Agung Muhammad SAW dilahirkan…
Dalam tradisi Islam sendiri hari kelahiran NAbi Muhammad menjadi moment yang sangat penting, Islam selalu merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad tentu sesuai dengan adat masing-masing dan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah yang berlaku.agar kita tidak keluar dari jalur yang sudah di tentukan…….
Di Yogyakarta bulan Mulud menjadi bulan yang sangat ramai, karena bulan tersebut menjadi tanda dimulainya sekatenan, atau pasar malem yang diadakan di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. Sekatenan berlangsung selama kurang lebih satu bulan, berbagai arena atau wahana permainan disediakan disana (tapi tetep mbayar lah…ora gratis) dari mulai Stream, Sangkar Burung, Sundul Puyuh, Tong Setan, Istana Hantu, dan yang paling di gandrungi anak-anak kecil adalah Arena Sirkus Lumba-Lumba(Saiki regane tiket Rp.35.000.-) yang berisi aneka tingkah polah hewan-hewan yang telah dilatih untuk tampil di arena sirkus.
Puncak dari acara tersebut tentunya adalah hari Grebeg. Keraton biasanya akan mengeluarkan seluruh bala tentaranya beserta pusaka-pusaka yang ada untuk di kirab, setelah itu prosesi Gunungan…nah disinilah hiruk pikuk mulai terjadi,,,karena memang dari seluruh prosesi acara muludan yang ada diKeraton Yogyakarta, prosesi Gunungan adalah prosesi yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga Yogyakarta. Gunungan adalah berupa Nasi Tumpeng super besar yang dilengkapi dengan segala macem makanan jadi satu, Gunungan itu sendiri dibawa dengan menggunakan tandu, dan memang Gunungan itu sendiri dibagi-bagikan untuk masyarakat yang ahadir di situ. Begitu Gunungan dibawa keluar masyarakat langsung menyerbu untuk memporak porandakan Gunungan tersebut, mereka akan mengambil apa yang bisa mereka ambil dari bagian-bagian yang ada diGunungan itu sendiri, ada yangdapat Apem,,,,ada yang dapat Telur…kacang panjang…seikat padi,,,kupat…dan lain-lain……(wuhhh Pokoke Udah Campur bawur kabeh…..)
Tidak beda dengan Keraton Yogyakarta, Desa Mlangi juga mempunyai agenda acara Muludan yang diselenggarakan untuk memeriahkan bulan Mulud bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masjid Mlangi merupakan salah satu Masjid yang dijadikan Masjid Pathok Negoro oleh Keraton Yogyakarta.
Agenda acara muludan di desa Mlangi dibagi menjadi dua Event. Event yang pertama adalah Sholawatan Ngelik. dan event yang kedua adalah Kojan dan Berjanjen.
Acara Sholawatan Ngelik ini diadakan pas atau bebarengan dengan acara Gunungan/Grebegan yang ada di Keraton. Acara ini diikuti oleh seluruh warga desa Mlangi mulai dari anak-anak, bapak-bapak, Para Pemuda, tapi yang jelas harus laki-laki….karena perempuan tidak di libatkan dalam acara di masjid ini. Acara Sholawatan Ngelik ini sendiri dimulai pada pagi hari sekitar pukul 06.30 wib-14.00 wib. Sholawatan itu berupa pujian-pujian untuk Nabi Muhammad SAW yang diberi irama dan dilantunkan oleh sejumlah laki-laki yang sudah dewasa dan memang bisa melantunkan sholawat itu sendiri. Karena sholawat ini dilantunkan dengan nada yang cukup tinggi dan dengan tempo yang cukup dinamis,mulai dari tempo pelan sampai tempo yang cepat..jadi tidak semua orang bisa melantukan sholawat ini, dan ada anggapan yang bilang bahwa orang yang bisa sholawatan ini sifatnya genetis, jadi yang bapaknya bisa sholawatan ngelik ini anaknya besar kemungkinan bisa ngelik, tapi kalo bapaknya tidak bisa sholawatan ngelik anaknya sedikit kemungkinan bisa sholawatan ngelik….pokoknya nadanya kayak orang teriak-teriak gitu deh……
Sembari sang ayah pada sholawatn di masjid, para ibu-ibu di rumah tidak mau ketinggalan dalam memeriahkan acara muludan ini, mereka masak masakan istimewa yang akan dibawa di masjid dan untuk dibagi-bagikan ke seluruh laki-laki yang berkunjung di masjid Mlangi. Makanan tersebut berisi nasi dan segala macam lauk pauk, mulai dari ayam, daging sapi, Ikan, Daging Kambing, dan semua dimasak serba enak dan istimewa, dan di masukkan dalam wadah yang sesuai dengan ukuran masing2, ada yang pakai besek (wadah anyaman dari bambu), Kardus, Baskom kecil, baskom besar, panci, dan ada juga yang dibentuk parcel. Dalam bungkusan tersebut sering ditambah dengan hadiah-hadiah dari pribadi pembuatnya ada yang diberi uang 50ribuan, Sarung, Baju Muslim, Sarung BHS, Magic Jar, Jam Dinding, Termos Air panas, dll…..pokoknya semua saling berlomba-lomba dalam menunjukkan kecintaan mereka terhadap Nabi Agung Muhammad SAW….(Saluuuuuutttt)…..
Adapun yang menerima bungksan2 tersebut juga tidak boleh sembarangan, kelas pertama atau bungkusan yang dinilai paling bagus biasanya diberikan untuk para kyai2 yang hadir di acara tersebut, kemudian yang kedua di berikan kepada yang bisa Sholawatan ngelik…dan yang seterusnya tergantung nasib anda masing2….karena setelah itu bungkusan akan dibagikan secara acak….acara ini biasanya dihadiri oleh ribuan orang, mulai dari warga Mlangi sendiri sampai warga sekitar kampung Mlangi.(Yang penting Laki-laki) karena kalo yang hadir perempuan tidak akan kebagian jatah bungkusan tersbut.
Acara atau Event yang kedua adalah Kojan dan Berjanjen. Acara ini diadakan pas malam harinya. acara ini diikuti oleh seluruh pemuda Warga Desa Mlangi. Sebenarnya acara ini juga berupa pujian-pujian untuk Nabi Muhammad, lafal yang diucapkan juga banyak yang sama dengan sholawatan ngelik. tapi sholawatan ini biasa dilakukan oleh anak muda dengan tempo yang sedang-cepat, dan jenis iringan gamelannya yang berbeda. kalau Sholawat ngelik menggunakan Gamelan berupa rebana yang besar2 dan bunyi yang dikeluarkan mirip gamelan keraton, tapi kalau sholawat kojan gamelannya berupa rebana ukuran sedang dan hanya 4 buah tanpa Gong. Adapun Kojan itu sendiri berupa gerakan-gerakan khusus yang dilakukan sambil bersholawat, mirip dengan gerakan tari Saman dari Aceh.
Acara sholawat Kojan dimulai dari jam 20.00-jam22.00.lebih singkat daripada sholawat ngelik.
Kedua tradisi tersebut merupakan tradisi yang turun-temurun dari para pendahulu desa Mlangi dalam memeriahkan dan menyambut hari lahir Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya keberagaman tradisi tersebut Desa Mlangi dijadikan salah satu daerah wisata oleh pemerintah setempat……..mari kita lestarikan kebudayaan daerah kita…karena negara yang maju adalah negara yang berbudaya………….http://nurulmasyriq.blogspot.com/2010/02/muludan.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: